Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ragu yang Berujung Temu

Ragu yang Berujung Temu

Mikha terjebak dilema antara Khalil, cinta lamanya selama sedekade, dan Malik, pria baru yang memikat hatinya. Saat keduanya melamar, Mikha harus memilih demi menghindari luka yang lebih dalam. Namun, pernikahan yang ia jalani justru hambar tanpa kasih sayang sejak malam pertama. Di tengah ancaman perceraian dan badai rumah tangga, muncul wanita lain yang mencoba merebut suaminya. Mikha kini berjuang mempertahankan komitmennya sambil menanti sebuah keajaiban muncul.
Bab
Bagikan

Bab 1

Mikha duduk di ranjang dengan kedua telapak tangan bertumpu pada paha. Bulir bening masih melekat pada pipi meronanya. Dia terguguk mendengar omelan lelaki kurus berkopiah hitam yang baru saja menyelesaikan salatnya. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu hingga selepas ibadah pun dia tetap bermuram durja.

Mikha masih menunggu apa yang akan lelaki tersebut ucapkan setelah berulang kali menuduhnya menduakan cinta. Akan tetapi isakan Mikha tidak kunjung mereda, walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin dia lakukan. Dia tahu, seorang istri seharusnya menjelma sebagai bidadari surga ketika berada di dalam rumahnya. Sayangnya kali ini Mikha tidak dapat berbuat banyak selain menunduk untuk menyembunyikan air matanya sembari menanti apa pun yang akan suaminya lakukan atau pun katakan.

“Mikha, bisakah kamu mendengarkanku?” tanyanya sembari melirik ke arah Mikha.

Mikha lantas mendongak, menatap kedua mata lelaki yang tengah membenahi kopiahnya itu. Benar yang telah dia duga, hal seperti ini pasti akan terjadi. “Ada apa, Mas?” jawabnya lirih, degup jantungnya seperti saling berkejaran hingga menimbulkan sesak pada dada.

“Dengarkan aku, Mikha. Apa yang akan aku katakan ini adalah sebuah peringatan untukmu.” Lelaki itu terlihat menahan napasnya untuk sesaat. “Aku tidak akan menggaulimu selama hatimu belum bersih dari laki-laki lain!” lanjutnya terus terang, lalu beranjak menuju ruang tengah.

Sungguh perkataan itu sangat melukai perasaan Mikha. Air mata perempuan berhijab itu semakin tidak terbendung. Jilbabnya yang panjang, basah. Bibirnya bergetar, ingin menjawab tetapi mulutnya tidak kuasa bersuara. Sia-sia sudah usahanya untuk meluluhkan hati suaminya. Padahal, dia telah menghabiskan waktu hampir setengah hari untuk menyulap kamarnya serapi dan seindah mungkin mengingat mereka adalah pengantin baru. Sayangnya lelaki yang sudah menikahinya itu tidak akan tinggal di dalam kamar mereka lagi mungkin untuk hari itu, atau juga dengan hari-hari berikutnya. Entahlah! Mikha tidak bisa menduganya.

Akan tetapi Mikha merasa dirinya perlu kembali memperjuangkan rumah tangganya. Bagaimana pun dia baru saja memulai kehidupan barunya.

Karena tidak ingin keadaan semakin buruk, Mikha memutuskan untuk lekas bangkit, lalu mengusap air mata dan menyusul suaminya yang kini sudah berkacak pinggang membelakanginya.

“Mas, aku ingin menjelaskan—”

“Tidak, Mikha! Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun lagi kepadaku,” potongnya dengan cepat dan tegas.

Setelah mendapatkan bentakan, Mikha segera merendahkan tubuh di belakang punggung lelaki yang terbalut kemeja biru itu, lalu tangannya memeluk erat kedua lutut suaminya. “Apa aku terlihat seperti perempuan yang sudah menduakan suaminya?” Mikha berusaha membuat pernyataan di balik pertanyaannya. Dia berharap ada seutas tali kepercayaan yang akan suaminya berikan.

“Menurutmu sendiri bagaimana? Sudahlah Mikha, aku tidak sebegitu membencimu hingga harus membuatmu memohon di kakiku. Yang kuminta hanyalah kesucian hatimu. Jangan pikir aku tidak tahu. Sekarang berdirilah! Aku tidak akan kasihan padamu.” Lelaki kurus itu mencoba mengentakkan kakinya agar terlepas dari dekapan Mikha.

Perasaan Mikha seperti tercabik-cabik. Bagaimana bisa suaminya tidak memiliki belas kasih seperti itu? Bahu Mikha semakin berguncang naik turun seiring menetesnya air mata, dia menyerah untuk yang kesekian kalinya setelah mendengar ultimatum suaminya. Mikha tidak mau berdebat. Dengan berat hati disudahinya permohonan yang terabaikan itu, lalu menjauh dari kedua kaki suaminya dan segera beranjak pergi.

“Aku ingin sendiri di sini, masuklah ke kamar! Tidak perlu menyelimutiku jika aku tertidur di sofa,” pintanya dengan nada memperingati.

“Baiklah, Mas. Aku akan menurutimu,” jawab Mikha lirih, walaupun hatinya enggan menyetujui.

Mikha memang harus menurut dan mengabaikan perasaannya yang sakit. Bagaimana bisa suami istri pisah ranjang sejak malam pertama. Bagaimana Mikha bisa hamil dan memberikan cucu seperti yang kedua orang tuanya harapkan sedangkan setiap malam suaminya tidak pernah menyentuhnya? Padahal, dia berharap pada malam pertama pernikahan, keningnya akan dikecup dengan lembut, lalu pakaian yang membalut tubuhnya akan terlepas satu per satu dengan penuh gelora cinta. Sesungguhnya hal tersebut merupakan harapan yang wajar bagi pengantin baru, terlebih karena usia pernikahan mereka baru tiga minggu. Namun, kenyataan manis yang selama ini dia dambakan hanya berbalas kepahitan.

“Mengapa kamu berubah, Mas? Bukankah dulu kamu berjanji akan memuliakanku sebagai seorang istri setelah kita menikah? Apa salahku kepadamu?” tanya Mikha pada dirinya sendiri. Kini dia kembali menginjakkan kakinya pada ruangan beraroma mawar itu—kamar pengantin, tanpa suaminya lagi. Entah sampai kapan akan seperti itu.

Kini tubuh langsing yang terbalut gamis berwarna merah muda itu terbaring di kasur. “Aku tidak bisa begini, seorang istri seharusnya tidak cengeng, aku harus kuat!” tuturnya, menguatkan hati yang masih teriris pilu.

Mikha mengusap pipinya yang basah. Kemudian, dia meraih pigura berisi foto pernikahan yang terletak di atas nakas. Sepasang mempelai berbusana hijau toska tampak serasi di sana. Mikha ingat betul bagaimana dia berjalan dengan iringan selawat Mahalul Qiyam. Saat itu kedua lengannya digandeng oleh orang tuanya, sedangkan keluarga yang lain berjalan iring-iringan di belakangnya. Mereka berjalan menuju musala yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah. Dari arah yang berlawanan, keluarga mempelai pria berjalan dengan binar kebahagiaan yang serupa. Beberapa di antara mereka membawa oleh-oleh yang akan diberikan kepada keluarga mempelai perempuan. Momen yang sangat manis.

Mereka dipertemukan di dalam musala dengan kedua mempelai duduk bersisihan di hadapan penghulu. Mereka melangsungkan prosesi ijab kabul dengan khidmat. Sampai pada akhirnya para saksi berkata “sah” resmilah sudah keduanya menjadi suami istri. Rona bahagia terpancar dengan jelas. Saat itulah Mikha merasakan kecupan pada keningnya untuk yang pertama kalinya.

Hari itu kebahagiaan seolah-olah tidak akan pernah berakhir. Doa-doa dari para tamu undangan terucap silih berganti. Senyum semringah tiada pudar. Tatapan hangat terihat jelas, mereka bahkan sempat mengucap janji untuk saling mencintai seumur hidup di antara lelahnya berpose untuk foto. Namun, siapa sangka jika kebahagiaan yang tampak akan langgeng itu hanya berlangsung sehari saja. Malam pertama pengantin yang katanya akan penuh dengan gelora asmara ternyata malah berubah menjadi menakutkan. Bukan pelukan hangat yang Mikha dapat setelah selesai membersihkan diri, melainkan sebuah pertanyaan yang lebih condong pada penuduhan. Dan pada malam pertama itu pula suaminya mulai memilih tidur di sofa dibandingkan harus berada satu ranjang dengannya. Seolah-olah dia telah melakukan perbuatan zina hingga terlihat kotor di hadapan suaminya.

“Ya Allah, apakah aku sudah berbuat kesalahan yang sangat hina hingga Engkau memberi ujian seperti ini?” Mikha meneteskan air mata. Dia tidak kuasa lagi untuk mengingat kebahagiaan singkat itu. “Apakah masih ada cinta untukku di hatinya setelah dia mempertanyakan siapa lelaki yang ada dalam hatiku?” Mikha semakin terguguk. Tubuhnya terasa lelah hingga akhirnya dia terlelap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI DALAM HIDUPKU
9.6
Dalam balutan kisah remaja yang penuh emosi, seorang pemuda harus menghadapi kerasnya realita saat ia memulai perjalanan panjang untuk menemukan keberadaan sang ibu yang telah lama hilang. Di tengah gejolak masa muda dan pencarian jati diri, ia berjuang menelusuri jejak masa lalu demi sebuah pertemuan yang sangat ia dambakan. Inilah perjuangan batin seorang anak dalam misi pencarian penuh haru untuk menyatukan kembali kepingan keluarganya yang terpisah.
Sampul Novel Dokter, Aku Cinta Kamu
8.0
Kehidupan tenang Raka, seorang dokter spesialis penyakit dalam, mendadak terusik sejak menangani operasi usus buntu Dea. Gadis itu terobsesi mengejarnya, bahkan berani mengaku sebagai kekasihnya di depan orang tua. Meski awalnya Raka merasa terganggu oleh perhatian Dea, segalanya berubah saat Dea bertunangan dengan pria lain bernama Rafa. Merasa kehilangan, Raka baru menyadari perasaannya. Begitu tahu pertunangan itu batal, ia kini berbalik mengejar cinta Dea.
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Rino Rahman, seorang pemuda yang baru menyelesaikan studinya di Bandung, mendambakan pengalaman asmara yang selama ini belum pernah ia rasakan. Di tengah kesendiriannya, sosok misterius hadir menawarkan bantuan untuk mewujudkan keinginan Rino melalui alam mimpi. Akankah janji pria tersebut menjadi kenyataan indah bagi Rino, ataukah tawaran itu hanyalah bualan kosong belaka? Ikuti perjalanan unik Rino dalam mencari cinta di antara realita dan imajinasi.
Sampul Novel Gairah Suami Perkasa
8.0
Marvin Rock adalah sosok lelaki yang memiliki segalanya, mulai dari kekayaan melimpah hingga kekuasaan besar. Meski dikelilingi oleh banyak wanita hebat yang memuja statusnya, Marvin tetap mengutamakan ketulusan hati di atas segalanya. Kehidupannya penuh dengan gairah dan dominasi, bahkan sang istri sendiri mengakui keperkasaan suaminya dengan penuh rasa bangga. Inilah kisah tentang kekuatan, harta, dan pesona seorang pria yang tak tertandingi di dunianya.
Sampul Novel PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN  (Seni Untuk Merawat Luka)
8.3
Kisah cinta ini menguji sepasang kekasih yang mendamba bahagia, namun justru dihantam badai masa lalu yang kelam. Kekhawatiran yang mendalam memicu krisis kepercayaan dan dilema cinta segitiga yang rumit. Sang protagonis harus memilih antara bertahan demi harapan masa depan atau menyerah pada konsekuensi masa lalu. Baginya, cinta bukan sekadar memuja keindahan pasangan, melainkan seni merawat luka dan komitmen untuk terus melangkah maju bersama.
Sampul Novel ISTRI YANG KUCAMPAKAN TERNYATA WANITA SUKSES
9.6
Dira harus menelan kenyataan pahit saat mendapati suaminya berselingkuh. Namun, pengkhianatan itu terasa jauh lebih menyakitkan karena sang suami menjalin hubungan gelap dengan adik kandungnya sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan dan mahligai rumah tangga, mampukah Dira bangkit untuk bertahan? Simaklah perjuangan Dira dalam menghadapi babak baru kehidupannya yang penuh tantangan demi meraih kesuksesan setelah dicampakkan begitu saja.