
Racun Dokter Hancurkan Hidupku
Bab 3
Saskia Tumanggor POV:
Dr. Victor menghela napas, seolah kasusku ini sangat rumit dan membebani pikirannya.
"Situasinya cukup kompleks, Bu Saskia," katanya, suaranya tetap tenang tapi ada nada serius yang membuatku semakin cemas. "Karena kondisi peradangan yang parah dan ketidakseimbangan flora bakteri, area sensitif Ibu jadi sangat reaktif. Oleh karena itu, kita perlu melakukan desensitisasi. Dengan kata lain, menurunkan tingkat sensitivitasnya."
Aku hanya mengangguk, mencoba menyerap setiap kata. Apa pun. Aku akan melakukan apa pun.
"Untuk itu," lanjutnya, "kita akan menggunakan alat bantu. Tapi sebelumnya, saya perlu memeriksa seberapa banyak titik sensitif yang Ibu miliki." Dia menunjuk ke kursi periksa. "Silakan berbaring kembali, Bu. Kali ini, saya butuh posisi yang lebih rileks dan terbuka."
Dia menatapku dengan tatapan intens. Aku mengunci napas.
"Jika titik sensitifnya terlalu banyak, dosis obat yang kita gunakan untuk desensitisasi harus lebih tinggi," jelasnya. "Jadi kita harus tahu persis."
Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Ada rasa malu yang menusuk, tetapi juga dorongan kuat untuk sembuh. Aku mengangguk pelan.
"Baik, Dokter."
Aku kembali berbaring di kursi, mencoba menenangkan diri.
"Sekarang, Bu Saskia, tolong buka kaki Anda lebih lebar lagi," perintahnya dengan tenang. "Saya perlu melihat dengan jelas."
Aku mencoba, tetapi terasa sangat canggung. Aku merasa telanjang dan rentan.
Dr. Victor berlutut di samping kursi, matanya fokus. Dia tidak memakai sarung tangan. Ini aneh. Tapi mungkin ini bagian dari prosedur? Aku tidak tahu.
Dia mengulurkan tangannya. Jari-jarinya terasa dingin saat menyentuh kulitku. Aku tersentak. Tubuhku gemetar tak terkendali.
"Tenang, Bu Saskia," katanya, suaranya lembut. "Jangan tegang. Jika tegang, saya tidak bisa mendiagnosis dengan akurat. Ini akan memakan waktu lebih lama."
Aku segera menutup mata. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan detak jantungku yang menggila. Aku harus rileks. Aku harus percaya pada dokter. Ini demi kesembuhanku.
Aku merasakan jari-jarinya yang dingin dengan lembut menyentuh area yang paling pribadi. Sensasi itu, meskipun dingin, segera berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebuah getaran aneh merayapi tubuhku.
Jari-jarinya mulai bergerak, menyelidik. Tidak ada rasa sakit, hanya tekanan. Tapi tekanan itu memicu sesuatu yang tak terduga. Sebuah gairah yang terlarang, yang selama ini aku tekan. Aku merasa panas di dalam.
Aku merasakan sensasi yang semakin kuat, semakin dalam. Aku tidak menyukainya, tapi sekaligus, aku tidak bisa menyangkal bahwa ada bagian dariku yang merespons. Aku benci diriku sendiri karena ini.
Firasat buruk merayapi pikiranku. Jangan sampai aku seperti tadi lagi. Jangan sampai aku kehilangan kendali lagi. Aku berulang kali mencoba mengatakan pada diriku untuk berhenti, untuk menolak.
Tapi tubuhku, oh, tubuhku… Ia tidak mendengarkan. Ia merespons setiap sentuhan dengan cara yang memalukan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang terbangun di dalam diriku, sesuatu yang liar dan tak terkendali.
"Apakah area ini sensitif, Bu Saskia?" Suara Dr. Victor menyentakku dari lamunanku. Matanya menatapku lekat-lekat.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa mengangguk kecil, wajahku terasa panas.
Dia menggeser jari-jarinya lagi. "Bagaimana dengan ini? Dan ini?"
Setiap sentuhan, setiap tekanan, semakin dalam. Aku merasakan jari-jarinya menekan jauh di dalam diriku, mencari sesuatu. Sensasinya semakin kuat, semakin mendalam. Aku merasa kesadaran mulai meninggalkanku.
Anda Mungkin Juga Suka





