Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUTRI YANG TERTUKAR

PUTRI YANG TERTUKAR

Dipaksa menggantikan posisi sang putri dalam pernikahan politik, pelayan dapur bernama Ana Merwin harus menikahi Pangeran Leonhart, sosok misterius berjuluk The Black Phantom yang dikenal dingin dan buruk rupa. Namun, setelah resmi mengenakan mahkota, misteri besar istana mulai tersingkap. Ketakutan sang ratu dan tanda lahir pada tubuh Ana membangkitkan kenangan kelam masa lalu. Siapa sebenarnya identitas asli pelayan ini, dan mengapa kehadirannya mampu mengguncang fondasi takhta kerajaan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ana menunduk dalam-dalam saat pangeran itu mendekat. Sial, justru langkah pria bertubuh tinggi besar itu berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Ana bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang beraroma mint campur rosemary. Aneh, katanya wangi nafasnya bau bawang putih dan telur busuk. Tapi aroma nafasnya harum. Apalagi … ciumannya.

Beberapa detik Ana mengusik pikiran itu.

“Angkat wajahmu,” suaranya dalam dan dingin.

Ana mendongak—hanya setengah. Sungguh, mendadak ia diserbu rasa takut bercampur gugup yang tinggi. Ada banyak ketakutan yang menyelimuti dirinya. Bagaimana kalau ia ketahuan bukan Putri Clarissa? Mungkin jasadnya akan berakhir di balairung eksekusi kerajaan.

Pangeran Leonhart menatap gadis itu seperti ingin menyelami isi kepalanya. “Lebih tinggi.”

Dengan ragu, Ana menengadah, menatap matanya. Seketika keheningan turun. Ana bisa melihat jelas tatapan gelap milik pangeran itu. Manik matanya berwarna hitam pekat seperti batu obsidian. Indah namun terlihat seperti penuh luka.

“Buka veil itu!” kata Pangeran Leonhart dengan suara tegas.

Ana meremat gaunnya. Memberanikan diri, ia menjawab dengan sopan meski tak bisa menutupi rasa gugup sepenuhnya. “Sesuai adat, wajahku hanya akan kau lihat sepenuhnya di hari pernikahan nanti, Tuanku…” suaranya lembut meniru logat Putri Clarissa.

“Apa kau mungkin bukan Putri Clarissa,” bisik Leonhart pelan tapi menusuk.

Ana menahan nafas. Peluh sudah membanjiri tubuhnya. “Saya… saya—”

“Terlalu gugup,” lanjut sang pangeran, suaranya sedikit menurun nadanya.

Ana membeku. Pangeran itu mengitarinya perlahan.

“Tapi mungkin itu lebih baik. Karena aku juga bukan seperti yang mereka ceritakan.” Ia mendekat, dan membisik di telinga Ana. “Mungkin kita berdua… sedang berpura-pura jadi orang lain.”

Lalu ia berjalan pergi, meninggalkan Ana yang mematung dengan jantung berdentum.

Pangeran Leonhart berjalan menghampiri Raja Alric dan Ratu Seraphina yang duduk di singgasana bertepatan lantunan lembut suara lute berhenti.

Ia menghentikan langkah kakinya beberapa meter dari singgasana. Ia membungkuk dalam dengan satu tangan di dada dan mata menunduk. “Yang Mulia Raja Alric, Yang Mulia Ratu Seraphina, dengan segala hormat, hamba datang sebagai utusan kerajaan Ravensel, membawa ikatan janji dan itikad baik dari keluarga kami.”

Tak lama kemudian dua pengawal kehormatan mengangsurkan seserahan ke hadapan mereka.

Pangeran Leonhart berkata dengan suara dingin dan penuh kharismatik. “Sebagai lambang penghormatan dan permintaan restu, izinkan hamba mempersembahkan tanda ikatan ini,” imbuhnya kemudian membuka salah satu kotak seserahan berisi gulungan perkamen.

Raja Alric menatapnya dalam dengan perasaan yang berkecamuk sedangkan Ratu Seraphina berusaha tersenyum menyembunyikan kegelisahan hatinya. Secara resmi mereka menerima lamaran Pangeran Leonhart untuk Putri Clarissa.

Tak berselang lama, prosesi tunangan pun selesai.

Penasihat istana berkata dengan suara yang nyaring. “Dengan ini, pertunangan resmi antara Pangeran Leonhart dan Putri Clarissa telah ditetapkan. Sumpah telah diucapkan di hadapan mahkota dan para bangsawan.”

Gemuruh tepuk tangan sopan menggema di udara. Raja Alric diam tanpa banyak kata. Sementara itu Ratu Seraphina melirik ke arah koki istana yang menggantikan putrinya. Tatapannya rumit, tak bisa ditebak.

Ratu Seraphina berkata lirih, dingin. “Kau hanya pion, gadis kecil! Semoga kau bisa menjalankan peranmu dengan baik.”

Sisi lain, Ana merasa sedang menggali kuburannya sendiri. Tatapan tajam Pangeran Leonhart terpacak padanya.

.

.

.

Acara pesta telah usai, untuk beberapa saat Ana merasa lega. Ia pun langsung bersiap-siap akan pergi menuju tempatnya berasal, dapur istana. Ia sudah melepaskan atributnya sebagai Putri Clarissa. Dengan langkah mendugas ia berjalan menuju lorong ke dapur istana.

Sebelum keinginannya terwujud, Madam Mia memanggilnya. “Ana Merwin, siapa yang menyuruhmu pulang?”

Ana berhenti, menoleh ke arah kepala pelayan itu dengan tatapan ingin tahu. “Madam, bukankah tugasku sudah selesai?” katanya dengan hati-hati. Ia memilin jadi jemarinya karena dilanda gugup. Bagaimanapun, Madam Mia adalah salah satu orang kepercayaan Ratu Seraphina. Oleh karena itu ia harus bersikap waspada dan berhati-hati terhadapnya.

Wanita itu menatap lurus Ana lalu mendesah pelan. “Ratu Seraphina ingin bicara. Ayo!”

Dengan langkah tertatih-tatih, ia mengikuti langkah Madam Mia menuju ruang tamu istana yang megah. Kini istana sudah sepi setelah acara pesta.

Tepat kaki Ana mendarat di atas lantai marmer mewah ruang tamu, terdengar percakapan yang masih berlangsung di antara Ratu Seraphina dan orang kepercayaan sang raja.

“Itu keputusan sembrono, Yang Mulia,” suara itu milik Penasehat Duke Arvin, si tua berambut abu yang terkenal bijak namun keras.

“Ia bukan Putri Clarissa! Jika identitasnya terbongkar sebelum pernikahan, kita bisa menghadapi perang diplomatik!”

Ana menahan nafas. Jantungnya berdegup. Ia mendekat, bersembunyi di balik tiang marmer tinggi, mendengarkan. Madam Mia sudah pergi meninggalkannya begitu saja.

“Justru karena itu kita tak bisa mundur sekarang,” tukas Ratu Seraphina dengan tenang, namun nadanya mengandung baja. “Gadis itu telah melakukan perannya lebih baik dari Clarissa sendiri. Ia bisa menundukkan Leonhart tanpa paksaan. Kita hanya perlu waktu… sampai pesta pernikahan.”

“Dan setelahnya? Bagaimana jika Ravensel menuntut darah kerajaan yang asli?” sergah Duke Arvin, memperingati sang Ratu. Ia mengatur rencana calon pengantin pengganti itu berdasarkan ide dari Ratu Seraphina karena keterpaksaan.

Ratu Seraphina terkekeh pelan dengan bersedekap tangan di dada. “Tidak mungkin! Dia bukan putra mahkota. Dia hanya pangeran biasa di kerajaan Ravensel. Sedangkan Clarissa … akan aku persiapkan untuk menikah dengan putra mahkota, Raja pewaris Kerajaan Ravensel.”

Ana merasa darahnya membeku. Ia bukan sekadar pengganti—ia adalah alat, bidak dalam permainan politik kerajaan. Tapi lebih mengejutkan lagi adalah Ratu sendiri yang mengaturnya.

“Dia hanya gadis biasa, Yang Mulia,” tukas Duke Arvin merasa bersalah. Bukan tanpa alasan, ia mendengar dari informan, kalau pangeran Leonhart telah membakar sepupunya karena menolak permintaannya.

Ia mengira sandiwara itu hanya berlangsung sampai acara pertunangan saja. Putri Clarissa kabur dari istana karena menolak mentah-mentah pertunangan politik itu. Ternyata, Ana Merwin akan ditumbalkan demi kepentingan kerajaan.

Duke Arvin kembali menyuarakan isi hatinya. “Saya sedikit khawatir jika Pangeran Leonhart akan mengeksekusinya. Anda tidak boleh meremehkan pria itu. Dia kejam sekali,”

Ratu Seraphina menatap tajam pria tua itu. Aura dingin begitu terasa, menguar dari tubuhnya. “Kau peduli pada pelayan istana? Dia hanya seorang koki dapur.”

Deg,

Duke Arvin menelan salivanya. “Hamba tidak bermaksud lancang, Yang Mulia,” katanya dengan membungkukan badannya.

“Sekarang, dia harapan terakhir,” jawab sang Ratu, lalu menoleh, mendapati sosok gadis dalam seragam pelayan istana—yang mematung kaki di belakangnya. “Dari tadi kau di sana?”

Sontak, Ana langsung mendongak, menatap Ratu yang terlihat anggun dalam gaun mewahnya.

“Ampun, Yang Mulia, hamba tidak bermaksud menguping,” kata Ana dengan membungkuk hormat, bergegas menundukan tatapannya. Keringat dingin sudah menetes di pelipisnya.

Ratu Seraphina menatap Ana Merwin dari dekat. Namun saat mata mereka bertemu, dunia seolah membeku. Nafasnya tercekat.

Ratu Seraphina mundur setapak, wajahnya memucat. Gadis itu mirip seseorang yang ia kenal! Matanya mirip sekali dengan mata pria yang dulu singgah di hatinya ...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil yang polos menemukan sebuah patung beruang di jalanan dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia merawat benda itu dengan penuh kasih sayang tanpa menyadari identitas aslinya. Tak disangka, patung tersebut merupakan inkarnasi sosok pria muda yang perkasa. Hingga Melinda tumbuh menjadi gadis cantik, wujud beruang itu tetap bertahan sampai muncul ketegangan yang mengubah segalanya. Akankah hubungan unik antara manusia dan dewa ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Dikhianati oleh Alpha-ku, Bangkit sebagai Luna
9.7
Bertahun-tahun mencintai sang Alpha, aku justru dikhianati saat ia memilih wanita lain demi kekuasaan. Ia menggunakan darahku untuk ritual ikatan politik dan menolakku secara brutal di depan kawanan. Setelah difitnah dan disiksa, aku menolak tawaran menjadi simpanannya lalu melarikan diri. Aku bangkit menjadi Luna bagi Alpha sejati, namun obsesi sang mantan belum berakhir. Ia menjebakku kembali dan berbisik dingin bahwa sudah waktunya aku pulang bersamanya.
Sampul Novel Kitab sihir kristal biru
8.9
Fatima menjaga rahasia Perpustakaan Empat Kunci di Murra Kish hingga kedatangan Alfonso mengubah segalanya. Pria misterius itu mencari sebuah grimoire kuno, memicu benih cinta sekaligus kecurigaan di hati Fatima. Ternyata, Alfonso menyimpan rahasia besar kerajaan, sementara Fatima sendiri adalah pewaris permata legendaris yang diincar banyak pihak. Di tengah pengkhianatan dan ambisi gelap, ia harus memilih antara rasa cintanya atau bertahan dari kebohongan yang mengancam.
Sampul Novel Legenda Tombak Halilintar
9.7
Riki awalnya hanyalah pemain pemburu terlemah, namun takdirnya berubah drastis setelah meraih Dragon Spear, senjata legendaris tingkat tertinggi. Kini, ia bertekad melindungi keluarganya dari hinaan sambil mengejar ambisi menjadi legenda di realitas Sky Legend. Namun, tanggung jawab besar menantinya saat bumi terancam bahaya yang tersembunyi di balik sistem gim. Riki pun berjuang demi kehormatan keluarga, Indonesia, dan dunia untuk mencapai puncak kejayaan.
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun aku bersabar menghadapi Marco, Alpha yang dingin dan selalu beralasan menjagaku yang rapuh. Di hari jadi kami, ia justru pergi demi serigala betina lain bernama Sarah. Marco meninggalkan aku sendirian di jalanan gelap saat badai demi mengejar cinta sejatinya. Di titik kehancuran itu, muncul sosok Alpha misterius dengan kekuatan luar biasa. Tatapan peraknya mengunci mataku, lalu ia mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.
Sampul Novel Pemalas Penantang Dewi
7.9
Ken dikutuk dan dibuang ke sarang monster setelah menolak perintah Dewi Aria sebagai Pahlawan. Meski terpuruk, kecerdasannya membuat Ken mampu mengubah kutukan tersebut menjadi sumber kekuatan baru. Namun, ia kembali terjebak dalam konflik besar antara manusia dan iblis. Situasi kian rumit saat Ken menyadari bahwa Raja Iblis adalah sahabat lamanya. Kini ia harus memilih pihak sambil menyusun rencana matang demi menuntut balas pada sang Dewi.