
Putri Yang Ditukar
Bab 2
"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta. Aku jamin kalau dia benar-benar masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Jadi, kau tidak akan rugi, bukan?" Dengan entengnya Tamara menyebutkan nominal harga yang ia inginkan. Ia seperti sedang menawarkan barang dagangan saja. Padahal yang ia jual adalah keperawanan anak gadisnya sendiri.
"Apaa?! Lima Ratus juta? Apa kau sudah gila?" Tentu saja Bram sangat terkejut mendengarnya. Dan ia terlihat sangat kesal dengan nominal yang disebutkan Tamara. Nominal itu terlalu besar buat membayar anak seorang pelacur. Walau putrinya masih perawan, tetapi bagi Bram itu angka fantastis yang tidak masuk akal. "Kau meminta uang bayaran, atau malah mau memerasku, hah?"
Dengan cueknya Tamara mengangkat kedua bahu. Tanda ia tidak perduli dengan rèspon Bram yang sedang meneriakinya.
"Itu sih, terserah kau saja, Bang. Kalau setuju, silahkan. Kalau gak, ya udah sana-sana kau pergi saja deh sekarang!" Tamara mengibas-ibaskan tangannya tanda mengusir Bram dari rumahnya itu.
"Lagi pula jika kau tak mau, masih banyak kok, orang yang mengantri demi mendapatkan putriku yang masih ting-ting itu," lanjut Tamara seraya tersenyum sinis padanya.
Bram terdiam sesaat, ia tampak sedang berfikir. Sungguh ia sangat menginginkan dan tergiur dengan gadis itu. Apabila ia tak bertindak cepat, benar kata Tamara, pasti ada banya laki-laki lain yang juga menginginkan gadis tersebut.
Hingga pada akhirnya ia pun berkata, "Ok, aku setuju. Tapi, uang yang lima ratus juta itu akan kuberikan setelah aku menikah dengannya nanti."
"Ok, deal." Dengan senang hati Tamara langsung menyetujui tawaran itu. "Tapi, tidak terpotong sama hutangku itu loh, Bang. Jadi besok aku mau terima utuh uang lima ratus juta itu."
Bram tersenyum bahagia karena merasa senang sebentar lagi ia akan segera memiliki gadis itu.Tetapi ia juga sedikit kesal dengan cara licik Tamara yang memanfaatkan keadaan ini untuk bisa terbebas dari hutang-hutangnya itu. "Ok, tapi, aku ingin membawa gadis itu malam ini juga. Dan besok pagi aku akan langsung menikahinya."
"Eh tunggu, sabar dululah, Bang! Gak sabar banget, sih," sungut Tamara.
"Yah, karena kalau nunggu besok, takut ia tidak mau dan malah kabur dari sini bagaimana?"
"Oh, jadi Abang takut, kalau aku akan menipumu gitu, Bang?"
"Ya, siapa tau bisa begitu, 'kan?"
"Ok, tapi beneran ya, Bang. Setelah kalian menikah besok, Abang akan langsung memberikan uang itu?"
Bram mengngguk menyakinkannya. "Ya ya ya ... pasti akan langsung aku tranfer besok."
"Baiklah, kalian tunggulah sebentar! Aku akan memanggilnya." Kemudian wanita paruh baya itu langsung pergi menuju kamar sang anak. Sementara ke tiga pria itu dengan sabar menunggu di ruang tamu.
Syaqilla yang semula akan merebahkan tubuhnya di atas kasur, merasa kaget ketika mendengar ada suara ketukan pintu. Sehingga ia terpaksa menunda keinginannya untuk segera beristirahat. Dengan malasnya ia beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu kamarnya.
Cekllek.
"Eh, Ibu. Ada apa? Aku sudah ngantuk loh, Bu. Jadi, tolong jangan ganggu aku, ya! Aku mau tidur nih," ujarnya sembari menguap menahan rasa kantuknya.
"Oh, jadi kamu gak terima, kalau Ibu menggangumu, hah?" ujar Tamara ketus.
"Ya ya bukan begitu, Bu," jawabnya lirih.
"Sudah, sekarang kamu siap-siap ikut Pak Bram!" perintah Tamara.
"Hah, siap-siap?" Syaqilla mengerutkan dahinya karena bingung tidak mengerti maksud dari perkataan ibunya ini. "Siap-siap untuk apa, Bu? Da-dan Pak Bram itu siapa?"
"Ya siap-siap untuk ikut Pak Bram ke rumahnya, Qilla!"
"Untuk apa, Ibu, aku ikut ke rumahnya?"
"Kamu akan ibu nikahkan dengannya, Besok! Dan ibu tidak ingin ada bantahan sedikitpun darimu!"
JEDDER!
"A-apa? Me-menikah?!" Ucapan ibunya bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Yang seakan-akan memberi tekanan padanya, sehingga ia tidak bisa untuk membantahnya.
Seketika itu juga, rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan hilang begitu saja mendengar ucapan ibunya itu. Kata 'Menikah' membuat Syaqilla sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ja-jadi ma-mak-sud I-Ibu aku harus menikah dengan Pak Bram?" pekiknya.
"Ya, bukannya kamu ingin Ibu berhenti dari pekerjaan ini, kan?"
Syaqilla menggangguk.
"Makanya kamu harus menikah dengan dia," lanjut Tamara.
Syaqilla terdiam mematung masih mencoba mencerna perkataan dari ibunya. Namun tiba-tiba Tamara malah menarik tangannya, dengan paksa membawanya menuju ke ruang tamu.
"Aww ... sakit, Bu!" pekik Syaqilla menahan sakit di pergelangan tangannya. Karena sang Ibu mencengkramnya terlalu kuat. Namun ia terpaksa mengikuti langkah sang ibu yang menyeretnya ke ruang depan.
Lalu Tamara menghempaskan tangannya dengan kasar. "Ini, dia. Kalian boleh membawanya sekarang juga!"
Gadis bergigi gingsul itu sampai terbengong dibuatnya. Ia tidak mengira kalau Ibunya ini tega menyerahkan dirinya kepada pria yang bernama Bram.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ibu? Kenapa aku harus ikut mereka? Aku tidak mau!" Syaqilla bersuara lantang mencoba melawan perintah Ibunya.
"Apa, kamu bilang? Tidak mau? Kamu mau jadi anak durhaka, yang membangkang kepada orang tua, hah!" Dengan sangat geram Tamara berteriak sambil melotot ke arahnya.
"Tetapi, aku belum mau menikah. Dan kenapa pula Ibu tiba-tiba saja menjodohkanku sama Pak Bram itu?" protesnya.
"Pak Bram itu orang kaya, orang terpandang, Qilla! Kamu bisa hidup enak tanpa harus capek-capek kerja keras seperti yang sekarang ini. Dan pasti dia akan cukupi semua kebutuhanmu nanti. Jadi, kurang enak apa lagi, coba?" ujar Tamara, memberikan sebuah alasan untuk membela dirinya sendiri. Padahal dalam hatinya, ia hanya ingin mendapatkan uang yang banyak tanpa memperdulikan bagaimana nasib gadis itu kedepannya nanti.
"Tapi, bukan seperti ini yang aku inginkan, Bu. Aku hanya ingin hidup damai bersama Ibu. Hanya ingin Ibu menyangiku. Dan ... kalau soal uang, aku masih sanggup bekerja untuk Ibu." Syaqilla mulai mengungkapkan isi hatinya yang ia pendam selama ini. Dengan sedih menatap sang ibu yang sedang berdiri di hadapanya itu.
"Alah, omong kosong." Tamara mengibaskan tanganya sambil tertawa mengejek dan meremehkan omongan putrinya tadi. "Emang berapa yang bisa kamu berikan ke Ibu, dengan kamu yang hanya bekerja sebagai pelayan toko, Qilla? Buat makan aja kurang, sok-sok'an mau ngebahagiain Ibu."
Syaqilla masih terdiam membatu menatap tidak percaya, kalau sang ibu akan berkata seperti itu padanya. Jadi selama ini yang ibunya pikirkan hanya uang dan uang. Dia tidak pernah memikirkan perasaanya walau sedikitpun.
Perlahan bulir-bulir bening seperti kristal mulai mengalir di kedua pipinya. Hatinya terasa sangat sakit, karena ternyata memang benar ibunya tidak pernah menyayanginya sepenuh hati.
"Ibu, apakah Ibu pernah menyayangiku walau hanya sedikit saja?" tanya Qilla sambil terbata-bata menahan tangisnya.
Tamara pun terdiam tidak menjawab. Dia bingung mau menjawab apa. Apakah harus berkata jujur atau membiarkannya saja berfikiran entah seperti apa tentang dirinya.
"Sudah cukup dramanya! Mending sekarang kau ikut denganku gadis cantik!" Tiba-tiba Bram menyela pertengkaran mereka berdua. Sehingga Syaqilla yang semula menunduk sambil menangis langsung mendungak dan menoleh ke arahnya.
"Anda siapa?" Sambil mengusap air matanya, gadis berpiama pink itu mengeryitkan dahinya melihat pria paruh baya tersebut.
Bram tertawa lantang lalu berkata, "Aku adalah calon suamimu, Sayang!"
"A-apa!" Sontak gadis cantik itu membelalakan mata. Lagi-Lagi dia dikejutkan oleh kenyataan kalau sang ibunya ini tega menjodohkannya dengan pria tua itu.
"Ibu, sungguh aku tidak mengerti, masa aku harus menikah dengan dia?" Protes Syaqilla menuding ke arah pria itu. Ia semakin menolak perjodohan ini. Apalagi setelah tau kalau umur pria yang akan menjadi calon suaminya itu terpaut jauh dengannya. Bahkan pria itu terlihat lebih pantas sebagai ayah mertuanya saja.
"Ya, benar. Memang dia calon suami kamu, Qilla!" jawab Tamara dengan acuhnya membenarkan ucapan Bram. "Jika kamu mau menikah dengannya maka hutang-hutangku kepadanya ajan dianggap lunas."
"A-apaa?!" Entah yang ke berapa kalinya gadis itu dibikin syok oleh perkataan Ibunya sendiri. "Ja-jadi Ibu menjadikanku sebagai pelunas hutang?"
"Sudah, cukup! Cepat bawa dia sekarang!" ucap Bram memberi perintah pada kedua anak buahnya.
"Tidak, aku tidak mau!" Seraya menggelengkan kepalanya, sebelum kedua anak buah itu mendekati dirinya, dengan sangat panik gadis itu langsung berlari menuju pintu depan, berusaha untuk kabur.
"Brengsek, dia malah kabur, lagi. Buruan cepat kejar dia, Bodoh!" Bram terlihat sangat marah memberikan perintah kepada anak buahnya yang hanya diam saja melihat Syaqilla melarikan diri dari sana.
Dengan segera kedua anak buah itu pun gegas berlari ke luar rumah mengejar gadis tersebut. Sementara Bram kini menatap Tamara dengan tajam dan penuh kemarahan.
"Jika putrimu itu tidak bisa ditemukan, maka hutangmu akan bertambah menjadi dua kali lipat!" ancam Bram.
"A-apa?! Ti-tidak bisa seperti ini dong, Bang!" pekik Tamara syok.
"Jika kau ingin hutangmu lunas, maka temukan putrimu itu dan serahkan dia padaku!" tandasnya. Kemudian Bram pergi meninggalkan rumah itu.
"Ah, sialan si Qilla! Dasar anak gak tau diuntung!" umpatnya sambil menggertakan giginya karena kesal.
Kemudian ia pun berlari keluar rumah, berusaha ingin mencari putrinya juga.
Anda Mungkin Juga Suka





