
Putri Yang Ditukar
Bab 3
Sementara di pinggir jalan.
"Woy! Jangan kabur!" teriak dua orang pria berbadan kekar yang sedang mengejar seorang gadis.
Dengan sangat tergesa-gesa, seorang gadis muda sedang berlari dengan penuh ketakutan. Wajahnya tampak panik, ia berusaha menghindar dari kejaran dua orang yang berada di belakang.
Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. Jalanan itu nampak lenggang tidak terlihat ada aktifitas orang yang melintas di sekitar jalan itu. Hanya ada beberapa mobil dan kendaraan bermotor saja yang masih berlalu lalang di sana.
Sehingga membuat suasananya menjadi semakin mencekam bagi Syaqilla. Ya, itulah nama gadis dua puluh tahunan ini yang sedang berusaha kabur dari kejaran anak buah rentenir tua yang benama Bramantio.
Sambil berlari gadis cantik itu sesekali menoleh ke belakang dan ia melihat kalau kedua orang itu masih terus mengejarnya. Bahkan jaraknya pun semakin mendekat dengannya.
Ia bertambah menjadi semakin panik, takut tertangkap oleh orang itu. Detak jantungnya semakin berpacu cepat saat melihat orang itu masih saja terus berusaha mengejarnya.
Gadis itu terus berlari di trotoar, seperti orang gila tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya yang terlihat masih ada kendaraan yang berlalu lalang di jalan itu. Bahkan ia tidak peduli lagi ke mana langkah kakinya membawanya kini.
Yang terlintas dalam pikiranya kali ini adalah ia harus lari dan terus berlari agar bisa kabur dari renternir tua itu. Hingga ia pun berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya yang sudah hampir habis.
Sambil membungkukan badan, tangannya memegangi kedua lutut, ia mengatur nafas yang tersenggal-senggal. Ia juga menyeka keringat yang ada dahinya dengan lengan. Sembari celingukan melihat ke kanan-kirinya berniat menyebrangi jalan.
"Woy, jangan lari!" Syaqilla terhenyak kaget, ketika orang itu meneriakinya dari arah belakang. Ia pun menoleh dan betapa terkejutnya ternyata kedua orang tadi sudah nyaris mendekatinya. Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari ke tengah jalan ingin menyebrangi jalan raya.
'Tin-tin ... !
'Tin-tin ... !
Syaqilla tersentak kaget dan langsung berhenti sejenak. Ketika ada beberapa mobil yang mengelakson, begitu melihat ada orang yang sedang berlari di tengah-tengah jalan yang mereka lewati.
"Woy! Gila kamu ya! Kalau mau bunuh diri, jangan di sini, dong! Huff, hampir saja aku menambraknya." Dengan kesalnya salah satu pengendara mobil yang melintas di sana meneriakinya.
Namun Qilla mengabaikan orang-orang yang murka kepadanya. Karena ia menerobos jalan itu tanpa memperdulikan kendaraan yang lalu lalang di sana.
Dengan jantung yang berdebar-debar Ia berusaha berhenti dengan tepat menghindari setiap ada mobil yang melintas. Bahkan jantungnya serasa mau copot, ketika satu persatu mobil yang melewatinya itu seperti hampir menabraknya.
Tin-tin ... !
Wuzz ...!
Wuzz ...!
Namun akhirnya ia dapat bernafas dengan lega karena berhasil sampai di sebrang jalan.
Sementara dua orang itu ikut menyusulnya juga, menyebrangi jalan. Tetapi sedikit kesusahan, karena ada beberapa mobil yang lalu lalang di sana. Sehingga langkah mereka terjeda oleh kendaraan itu.
Di saat itulah kesempatan Syaqilla untuk berlari lebih jauh lagi. Namun kedua orang itu pun berhasil menyebarangi jalan dan kebingungan mencari ke arah mana gadis itu berlari.
"Akh ... sial! Ke mana gadis itu larinya?" umpat salah satu laki-laki itu sambil ngos-ngosan menoleh ke kanan-kirinya.
Tak kuat berlari lagi, gadis itu memutuskan berhenti sejenak. Duduk di pinggir jalan meringkuk sendirian. Ia tampak kebingungan, ke manakah ia akan melarikan diri. Dia tidak mempunyai keluarga lagi selain dari Ibunya. Namun, ia tidak bisa membayangkan apabila ia sampai tertangkap dan harus menikah dengan rentenir tua yang sudah berumur itu.
Air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Sungguh ia tidak menyangka kalau orang yang seharusnya menjadi pelindungnya, malah tega menjualnya.
Hatinya benar-benar terasa sakit, selama ini dia masih bisa menahan sikap kasar dari Ibunya. Namun kali ini, Ibunya sudah sangat keterlaluan, mana ada seorang ibu yang tega menjual anaknya sendiri kepada renternir tua pula.
Dan lebih parahnya lagi dirinya dijadikan sebagai penebus pembayar hutangnya. Sungguh ia tak habis pikir, kenapa Ibunya tega melakukan itu semua.
Sambil menunduk, badannya pun bergetar tersedu-sedu karena tangis. Ia merasa sangat sedih, cemas, takut dan juga kebingungan. Semua perasaan itu kini bercampur aduk memenuhi hatinya. Sekarang apa yang harus ia lakukan?
'Degg!
Tiba-tiba ada yang memegang bahunya dari belakang.
"Akhirnya, aku bisa menangkapmu gadis bodoh. Hahaha ... !" Suara bas seseorang mengagetkanya.
Syaqilla langsung menganggkat kepalanya dan matanya pun melotot karena kaget. Ia menoleh ke belakang dan ternyata kedua orang itu sudah berada di sana, dan menarik lengannya dengan kuat agar ia bangkit dari duduknya.
Seketika itu ia pun langsung panik dan meronta. "Lepaskan! Tolong lepaskan aku. Aku mohon Pak, kasihanilah aku! Tolong ... tolong!" Sambil meringis menahan kesakitan di lengannya itu. Syaqilla memohon dan memelas kepada kedua orang yang sedang memcengkram lengannya, ia berteriak meminta tolong.
Namun, kedua orang itu hanya tertawa mengejeknya. "Hahaha ... ! Percuma, Nona. Tidak akan ada yang menolongmu di sini. Lihatlah jalan ini sepi, gak ada orang di sini, siapa yang akan menolongmu, hah?"
Tanpa belas kasihan mereka terus menyeretnya ke pinggir jalan untuk menunggu kedatangan mobil bosnya yang akan datang menghampiri mereka.
"Jangan harap kau bisa lari lagi, Nona! Cepat hubungi Pak Bram! Bilang kalau kita sudah menangkap gadis ini!"
Salah satu laki-laki itu melepaskan cengkraman tangannya dan segera mengabil ponsel untuk menghubungi sang bosnya itu.
Syaqilla masih terus memberontak sambil terus berfikir bagaimana cara agar ia bisa terlepas dari mereka. Mau berteriak minta tolong juga percuma. Karena di jalan itu memang tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka bertiga.
"Ya Allah! Bagaimana ini? Tolonglah hambamu ini, ya Allah." Ia hanya bisa berdoa semoga ada
orang yang datang untuk menolongnya, ataupun berharap semoga Tuhan memberi petunjuk bagaimana ia bisa kabur dari orang-orang jahat itu.
Tiba-tiba ia seperti mendapat petunjuk, ketika melihat salah satu orang itu sedang lengah karena sibuk menelfon. Ini kesempatanya untuk bisa melarikan diri lagi.
'Dugg!
Syaqilla menginjak kaki orang yang ada di sebelahnya. Kemudian membalikan badan dan menedang bagian intim laki-laki itu dengan dengkulnya.
'Bugg!
"Aww ... ! Sialan, dasar gadis brengsek!" umpatnya sambil meringis, memegangi begian bawahnya yang sakit akibat serangan Syaqilla yang terlalu kuat. Sehingga ia pun bisa terlepas dari cengkraman tangan laki-laki itu. Dan langsung berusaha untuk kabur lagi.
"E-eh -eh, woy. Jangan kabur!" Laki-laki yang sedang menelpon langsung terbelalak kaget ketika melihatnya bisa terlepas kembali.
"Ah, dasar bodoh kau ini! Menahan seorang gadis saja tidak bisa. Ayo cepat kejar dia!" teriaknya sambil berlari mengejar Syaqilla, meninggalkan temennya yang masih meringis menahan kesakitan.
Gadis yang masih mengenakan piama pink bermotif Hello kitty itu dengan sepenuh tenaga mempercepat langkah seribunya. Ia sudah tak memperdulikan lagi rasa perih di telapak kakinya, karena tak sempat memakai alas kaki, saat ia kabur tadi. Hingga tanpa disadari ia sudah melewati bahu jalan, namun ia tetap melanjutkan langkahnya hingga ke tengah jalan raya.
Sampai terdengar suara klakson yang menyadarkannya. Seketika itu ia pun langsung berhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
Belum juga dia bereaksi dengan apa yang dia lihat. Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dan ....
'Tin-tin ....
"Aaaaa ... !" Teriaknya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi wajah.
'Ciiitt ... !
'Brrakk ... !
Tubuhnya kini terasa ringan melayang di udara tidak menyentuh bumi. Hingga akhirnya punggungnya membentur aspal jalan raya. Dan sekujur badan sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
"Ya Allah, sungguh aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Jika sekarang aku harus mati, aku pun rela, ya Allah," batinnya pasrah.
Kini pandanganya menjadi kabur dan juga gelap. Lalu dengan perlahan ia menutup kelopak matanya sampai tidak sadarkan diri, tergeletak di tengah jalan.
Anda Mungkin Juga Suka





