Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Purwoko Family: Selipan Utara

Purwoko Family: Selipan Utara

Pasca kebangkrutan, Pak Purwoko memboyong keluarganya pulang ke kampung demi ketenangan. Namun, kenyataan pahit menanti karena dalang kehancuran bisnisnya ternyata berada di sana. Mereka terjebak dalam konflik lama terkait perebutan usaha penggilingan padi antara orang tua Purwoko dan rivalnya. Teror mencekam langsung menyambut kedatangan mereka, mengancam keselamatan seluruh anggota keluarga. Mampukah Pak Purwoko menghadapi masa lalu dan keluar dari kemelut ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah membongkar muatan dari dalam mobil, mbah Tin mengajak semuanya makan. Kebetulan juga sudah sangat sore. Bude Wati, yang tinggal di rumah sebelah, rupanya telah memasak untuk semuanya. Tak ada yang menolak ajakan mbah Tin. Semuanya telah bersedia di meja makan. Hanya saja, pak Purwoko tampak tidak berselera makan. Dia tertegun, pikirannya melayang entah kemana.

"Udah, le! Yang hilang jangan terus disesali!" Tegur mbah Tin. Pak Purwoko tersentak dari lamunannya.

"Harta benda bahkan nyawa kita sekalipun adalah milik Gusti Pengeran. Jangan disesali banget-banget! Iklaskan, le! InsyaAlloh nanti ada gantinya" lanjut mbah Ti.

"Iya, mak" jawab pak Purwoko.

"Pur cuman nggak habis pikir mak, apa salah Pur, sampai dia sejahat itu sama Pur?" Lanjut pak Purwoko.

Bu Ifa tanpak salah tingkah melihat suaminya bertanya tentang kesalahannya.

"Namanya orang rakus, ngger. Nggak mandang siapa" kata mbah Har.

"Iya pak" jawab pak Purwoko mengalah.

Merekapun akhirnya memulai acara makan. Mbah Har juga menyempatkan bertanya jawab dengan cucu-cucunya di sela-sela makannya. Candaan-candaan ringan dia lemparkan untuk mencairkan suasana.

"Yudi, Amira" panggil mbah Har, setelah acar makan selesai.

"Nanti ikut Rista ke mushola, ya! Ikutan ngaji sama ustad ghofur, sekalian kenalan sama temen-temen baru" lanjut mbah Har.

"Iya, mbah" jawab keduanya kompak.

"Ya udah, pada mandi, gih!"

"Ya, mbah"

Keduanya lantas pergi ke kamar mereka. Begitu juga dengan Rista. Mereka bersiap mandi. Kebetulan kamar mandi rumah ini masih model terpisah dari bangunan utama. Posisinya ada di belakang rumah. Rupanya rumahnya Rista juga belum ada kamar mandinya. Mereka masih menumpang di kamar mandi rumah ini.

Surup telah turun, tapi Yudi masih belum siap. Dia masih sibuk mencari sarungnya yang ternyata ada di tumpukan paling bawah. Jadi dia harus membongkar semua isi tas pakaiannya.

"Mas Yud, ayo! Udah surup ini" teriak Amira dari luar kamar.

"Iya, bawel" sahut Yudi.

Cklek

Krieeet

Blam

Yudipun keluar kamar tak lama setelah berseru. Di depannya, Amira masih berdiri menatapnya dengan raut wajah cemberut.

"Apa lagi?" Tanya Yudi bingung.

"Kirain mau oake jubah lebaran kemarin, nggak tahunya sarungan doang. Lama amat, sih?"

"Bawel ah" sungut Yudi.

"Mas Yudiii"

Amira memekik terkejut disaat Yudi menyelipkan lengan kanannya ke sela-sela lengan kanan dan badannya, mengapit lengan kanannya, lalu menariknya sambil berjalan. Tak ayal, diapun sempat oleng karena tidak siap. Di depan rumah, ternyata Amira sudah menunggu. Ada teman-temannya juga rupanya. Satu orang perempuan dan dua orang laki-laki.

"Ayo Yud!" Ajak Rista.

"Buru-buru amat? Musholanya kan deket" tanya Yudi.

"Bukan yang di situ, Yud. Yang si seberang kali. Jawab Rista.

"Ha? Seberang mana?"

"Udah! Kenalan dulu nih! Ini Santi, ini Rendi, ini Rafi" tukas Risa, lalu mengenalkan ketiga temannya.

"Halo aku Yudi" kata Yudi sambil menyalami ketiganya satu per satu.

"Aku Amira" gantian Amira yang mengenalkan diri.

"Yuk berangkat!" Ajak Rista.

"Yuk yuk yuk" jawab mereka kompak.

Merekapun pamitan kepada bu Ifa dan bude Wati.

"Ati-ati di jalan!" Pesan bu Ifa.

"Iya. Assalamu'laikum" seru mereka.

"Wa'alaikum salam"

Keenamnya langsung berlari seolah berlomba dengan waktu. Tawa riang membahana mengiringi canda renyah mereka.

"Assalamu'alaikum"

Terdengar sapaan dari arah depan rumah. Tepat di saat pak Purwoko keluar dari dalam rumah.

"Wa'alaikum salam" jawab bu Ifa dan bude Wati bersamaan.

"Mbah Topo" seru pak Purwoko.

Bu Ifa dan bude Wati menoleh saat mendengar seruan dari belakang mereka. Pak Purwoko setengah berlari menyongsong orang yang mengucap salam tadi.

"Apa kabar mbah, sehat?" Tanya pak Purwoko sembari salim.

"Alhamdulillah. Sehat" jawab orang yang dipanggil mbah Topo itu. Sebuah mobil muncul dan berhenti di depan rumah.

"Monggo masuk, mbah! Bapak ada di dalem" ajak pak Purwoko.

"Entar aja, Pur" tolak mbah Topo.

Bu Ifa dan bude Wati turun dari teras bersamaan dengan keluarnya seorang perempuan dari mobil yang berhenti tadi.

"Aku cuman mampir. Tadi di Krajan, Arum bilang Purwoko pulang. Nah, pengen mastiin aja, beneran apa enggak"

"Sini dululah! Kaya nggak pernah nginep aja"

Sebuah seruan membuat semuanya menoleh. Ternyata mbah Har. Dia turun dari teras, menghampiri mbah Topo.

"Tuh, mbah. Kalah sepuh, jangan mbantah! Ha ha ha" goda pak Purwoko.

"Ha ha ha. Iya, deh" jawab mbah Topo sembari menyalami mbah Har.

"Ini siapa, Po?" Tanya mbah Har, merujuk kepada wanita yang tadi turun dari mobil.

"Anaknya Sigitlah, yang pertama" jawab mbah Topo.

"Icha to, mbah?" Seru bude Wati.

"He he. Kirain" seru mbah Har sembari menyalami wanita itu.

"Maafin simbah ya nduk! Simbah pangling liat kamu gamisan begini" lanjut mbah Har sembari menyalami wanita itu.

"Udah pantes kamu jadi lurah, Cha. Minimal kamituwo" seru bude Wati lagi.

"Ketinggian, bude. Jadi warga yang baik aja dulu" jawab wanita itu sembari salim ke bude Wati.

"Ini, siapa?" Tanya mbah Topo merujuk ke bu Ifa.

"Ya Ifalah mbah, istriku" jawab ak Purwoko.

"Ooh" seru mbah Topo sembari tertawa.

"Gitu amat, ketawanya?" Goda mbah Har.

"Ha ha ha. Aku yang lupa, mbah. Pikirku ganti lagi" jawab mbah Topo.

"Maaf ya nduk, bercanda ini" kata mbah Topo sembari menyalami bu Ifa.

"Beneran lupa, aku" lanjut mbah Topo.

"Iya, mbah. Ifa maklum kok. Ketemu juga setahun sekali. Itu juga nggak lama"

"Ha ha ha. Itu"

"Kamu nggak salim, sama idolamu masa kecil?" Seru bude Wati kepada Icha.

"Ha?" Icha terkesiap mendengar pertanyaan itu. Di balik maskernya, dia tersenyum malu-malu.

"Apa kabar pak, Pur?" Tanya Icha sembari salim.

"Ha ha ha. Sehat, Cha. Suamimu mana? Kata bude Wati kamu udah nikah" sahut pak Purwoko.

"He he. Iya, pak. Lagi sama bapak" jawab Icha.

"Nah. Ini kan, yang bikin kamu nggak mau maen ke sini lagi?" Seru bude wati lagi, sembari menunjuk bu Ifa.

"Enggak kok bu" tolak Icha.

"Bude ih. Malah begitu" lanjutnya.

"Ha ha ha" bude Wati tertawa melihat ekspresi kikuk Icha. Bu Ifa ikut tertawa.

"Apa kabar mbak Icha?" Tanya bu Ifa sembari mengulurkan tangannya.

"Alhamdulillah, sehat bu" jawab Icha sembari salim.

"Ha... "

Icha seperti terkejut akan sesuatu. Dia memekik lirih bagai dicubit saat salim.

"Mbak Icha?" Tegur bu Ifa, saat Icha terlihat termenung.

"Mbak?"

"Ha?" Icha terperanjat.

"Mbak Icha kenapa?" Tanya bu Ifa bingung.

"Oh, enggak. Nggak papa. Maaf, bu" jawab Icha tergagap.

"Ayo, ngeteh dulu!" Ajak mbah Har, mengalihkan suasana.

"Waduh, ngapurane mbah Har, ini Icha harus balik lagi ke pasar. Suaminya udah nunggu. Pamitnya tadi cuman nganterin aku" tolak mbah Topo halus.

"Walah. Ngono, to? Ya udah kalau gitu. Tapi kalau ada waktu longgar, maen sini ya nduk!" Sahut mbah Har.

"Insya Alloh, mbah Har" jawab Icha.

"Aku pamit dulu, mbah Har" ijin mbah Topo.

"Nggeh, nggeh. Monggo" jawab mbah Har. Keduanya lantas masuk kembali ke dalam mobil dan berlalu pergi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya terobsesi mencari reinkarnasi Fino dari buku kuno kakeknya, namun pencarian itu justru mengancam hubungan dengan sahabat dan cinta sejatinya. Di tengah kemelut, muncul sosok hantu laki-laki yang ternyata memegang kunci atas segala teka-teki hidupnya. Mengandalkan kemampuan telepati unik yang ia miliki, Hyura harus berjuang menuntaskan misteri besar ini. Mampukah ia menyelesaikan masalahnya saat telepati itu terasa tak berguna untuk urusan cinta?
Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berusia dua abad, mengembara demi membalas dendam atas kematian ibunya sejak perang klan tahun 1822. Meski enggan berurusan dengan manusia, ia justru jatuh hati pada Elena Karenina yang ceroboh. Namun, situasi berubah mencekam saat identitas Elena terungkap sebagai keturunan musuh bebuyutannya, klan Oyster. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam masa lalu memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih ini?
Sampul Novel Dari Omega yang Ditolak menjadi Ratu Raja Alpha
9.3
Menjelang Upacara Ikatan Suci, pengkhianatan Raditya terungkap melalui pesan batin dari Eva, saudari angkatnya. Saat aku dipaksa berakting sebagai Omega yang patuh, Raditya terus berselingkuh dan orang tuanya mencuri hasil kerjaku demi Eva. Mereka menghinaku lemah, tak tahu bahwa aku adalah pewaris sah dari kawanan terkuat di benua ini. Kini, aku telah mengatur siaran global untuk mempermalukan mereka semua tepat di hari yang seharusnya menjadi pernikahan kami.
Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Sampul Novel Jodoh Raja Alpha yang Terhapus
9.1
Alpha Bima menyebut cinta kami sebagai anugerah Dewi Bulan, namun semua itu dusta. Ia mengkhianatiku dengan wanita hamil yang kini disebutnya ratu. Bahkan, selingkuhannya memamerkan Kalung Ikatan Suci milikku saat kawanan berencana menyingkirkanku demi pewaris baru. Di hari jadi kami, aku memberikan kejutan terakhir berupa surat cerai dan penolakan resmi. Aku memilih pergi dan menghilang selamanya, meninggalkan ikatan yang telah ia hancurkan.
Sampul Novel JUST MATE
8.6
Renata tewas mengenaskan akibat pengkhianatan dua orang tercintanya. Menjelang ajal, ia teringat sosok Dewa Fenrir yang pernah dikenalkan ibunya, lalu memanjatkan doa terakhir demi membalas dendam. Namun, keajaiban terjadi saat nyawanya hampir hilang. Sebuah suara menggelegar memanggilnya 'Luna', disertai sentuhan tangan dingin yang mendekap wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada takdir Renata di ambang kematiannya ini?