Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Lelah Anak Tiri

Puncak Lelah Anak Tiri

Hanna menghadapi kenyataan pahit saat beranjak dewasa. Di tengah perjuangannya mencari biaya pengobatan bagi sang ibu kandung, ia justru dikhianati oleh kekasihnya. Pria yang sangat ia cintai itu ternyata menghamili kakak tirinya sendiri. Luka hati ini membuat Hanna nyaris menyerah pada keadaan. Namun, seorang pria misterius tiba-tiba hadir menawarkan bantuan melalui ikatan pernikahan. Akankah Hanna mengambil kesempatan ini demi bertahan hidup?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Sus, bagaimana keadaan Ibu saya? Apa ada perkembangan?” tanya Hanna ketika dirinya baru saja sampai di sebuah rumah sakit tempat ibunya dirawat.

“Bersyukur untuk saat ini ada sedikit perkembangan, Bu Hilda juga tidak mudah marah-marah dan sedikit bisa mengontrol emosinya. Tapi, itu tidak berlangsung lama, karena terkadang Bu Hilda sering menangis dan marah-marah tanpa sebab. Dan jika semakin lama dibiarkan ia membant*ng seluruh barang yang ada di sekitarnya,” jelas salah satu Suster yang menjaga ibu Hanna.

Hanna mengangguk dan tersenyum. “Boleh saya melihat keadaannya sekarang?”

“Boleh, Mbak, mari!”

Hanna masuk mengikuti suster di depan nya, baru beberapa langkah saja Hanna sudah melihat wajah sang ibu yang sedang terdiam dengan pandangan mata yang menerawang jauh entah kemana.

“Ibu, Hanna datang untuk menjenguk ibu,” ucap Hanna. Gadis itu mencoba mendekat.

“Mbak, saya permisi dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi saja,” ucap Suster dengan undur diri.

Hanna hanya mengangguk tanpa menoleh dan mengalihkan pandangannya dari Hilda— ibu kandung Hanna.

Hanna Septia Maharani, dia adalah gadis cantik dengan kulit berwarna kuning langsat. Umurnya baru genap 20 tahun pada bulan September lalu.

Setelah lulus sekolah, Hanna memutuskan untuk bekerja dan mencari uang sendiri. Ya, walaupun harta orang tuanya bergelimangan dan dia hanya anak semata wayangnya Hilda dengan Rama Bhaskoro, tapi tidak membuat Hanna menjadi anak yang manja. Apalagi setelah kondisi Bu Hilda seperti saat ini.

Hilda Maharahi, wanita paruh baya yang memiliki usia 43 tahun. Di umurnya yang sudah berkepala 4, Hilda masih terlihat sangat cantik, walaupun wajahnya pucat masa dan warna kulitnya kusam.

Namun, sangat disayangkan jiwanya terganggu setahun belakangan ini. Maka dari itu, agar tidak membahayakan Rama— Papa Hanna memutuskan untuk membawa Hilda ke salah satu RSJ di kota ini.

“Ibu sudah makan?” tanya Hanna dengan lembut, ia begitu perhatian kepada ibunya dan terus menatapnya dengan tatapan sendu.

Wajar saja, Hanna merasa kasihan kepada Hilda. Ibu yang dulu selalu menyambutnya dengan tersenyum lebar bahkan kini hampir tidak mengenalinya.

Hanya menggenggam tangan Hilda sehingga wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum simpul ke arahnya.

Senyuman yang tulus meski tatapannya terasa kosong, Hanna sangat yakin bahwa suatu saat nanti Hilda akan kembali kepada sediakala.

Ibu Hana menjawabnya dengan mengangguk. “Kamu?” tanya balik Hilda.

“Hanna juga sudah makan tadi … Emm, Ibu mau jalan-jalan?” tawar Hanna.

"Apa aku boleh pergi?"

"Tentu saja, aku akan membawa ibu kemanapun ibu mau," ujar Hanna.

"Kalau begitu bisakah kamu membawa aku keluar?"

"Aku ingin bertemu dengan anakku," sahut Hilda yang nampak linglung.

"Aku anak ibu ..." jelas Hanna.

"Tidak, anakku. Dia masih kecil meski kalian sama cantik, tapi kamu bukan anakku!" sangkal Hilda yang mulai mengamuk.

Jelas semua itu membuat Hanna merasa sakit saat melihatnya, siapa yang tidak merasakan sakit saat ibu kandungnya sendiri tidak bisa hidup normal bersamanya.

"Dengar Hanna ibu, Ibu bisa bertemu dengan anak ibu, jika ibu menuruti ucapanku dan suster.”

"Ibu paham, maksud Hanna'kan?" tanya Hana menatap pekat ibunya.

"Ya ..."

Mendengar jawaban Hilda, Hanna langsung membawa sang Ibu keluar dari kamar.

Rumah sakit ini begitu luas, bahkan di depannya terdapat taman yang begitu cantik. Maka dari itu, Hanna mengajak Hilda untuk menikmati suasana taman.

Di luar memang banyak sekali orang-orang dengan gangguan mental, tapi tidak membuat Hanna takut sedikitpun. Justru, Ia merasa sedih dan memikirkan bagaimana perasaan keluarga mereka.

“kita duduk di sini, Bu,” ucap Hanna, Ia menuntun ibunya untuk duduk.

Mereka berdua duduk di salah satu kursi taman, beberapa saat mereka sama-sama hening. Tapi, tatapan mata Hanna tidak pernah lepas dari wanita yang telah melahirkannya 20 tahun lalu.

“Ibu mau roti coklat?” Hanna menyodorkan satu bungkus roti coklat dari tasnya.

Ia tahu jika Hilda sangat menyukai roti coklat, apalagi roti coklat buatan tetangga mereka.

“Makasih,” ucap Hilda.

“Ibu cepet sembuh ya, biar nanti kita bisa sama-sama lagi makan roti coklat di rumah. Terus kita pesan yang banyak sama Mbak Mira dan kita makan hangat-hangat,”

Hilda hanya mengangguk, dia terus memakan roti coklat itu dengan lahap. Membuat Hanna tersenyum senang.

“Ibu suka?” tanya Hanna. Tangannya terulur untuk mengambil lelehan coklat di sudut bibir Hilda.

“Suka!” jawab Hilda bersemangat.

Walaupun hanya satu dua kata, tapi setidaknya Hilda selalu merespon ucapan Hanna. Dan itu membuat Hanna senang, karena artinya keadaan Hilda memang sedikit membaik.

Sebenarnya semenjak Hilda di bawa ke rumah sakit ini, keadaannya justru semakin parah. Tapi, melihat kondisinya sekarang Hanna yakin jika ibunya akan sembuh.

****

Melihat hari sudah semakin sore, Hanna berpamitan pulang dan dia berjanji akan kembali berkunjung di lain waktu.

Setidaknya perasaan Hanna sedikit lega melihat Hilda sudah jauh lebih baik.

Di perjalanan pulang, Hanna melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya.

“Papa?” beo Hanna ketika melihat seorang pria paruh baya keluar dari salah satu restoran.

Matanya terbelalak ketika seorang wanita cantik dan s*ksi bergelayut manja di tangan Rama.

“Siapa wanita itu? Kenapa dia berani-beraninya bersikap seperti itu di tempat umum seperti ini?” Hanna menatap jij*k kearah Rama dan wanita itu.

Mobil Rama melaju meninggalkan halaman Restoran, diam-diam Hanna mengikutinya dari belakang.

Beruntung Hanna membawa motor, jadinya dia tidak kesusahan untuk mengikuti kemana perginya mobil Rama.

Namun, ternyata mobil Rama menuju arah rumah mereka. Itu artinya Rama membawa wanita itu pulang ke rumahnya.

Tepat ketika Rama dan wanitanya akan masuk ke dalam rumah, disitu motor yang dikendarai oleh Hanna juga berhenti.

“Hanna? Kamu baru pulang?” tanya Rama.

“Iya, Pa. Tadi sengaja mampir dulu jengukin Ibu,” jelas Hanna dengan jujur.

Rama mengangguk, tanpa bertanya apapun lagi kepada Hanna. Bahkan, pria itu sepertinya sudah tidak berminat dengan bagaimana perkembangan ibu Hanna.

“Oh iya, Hanna. Ini kenalin, dia Tante Ira. Tante Ira ini adalah teman Papa,” ucap Rama memperkenalkan Hanna kepada wanita yang berada di sampingnya.

“Hallo, Hanna. Seneng banget deh Tante bisa ketemu sama kamu, Papa kamu tuh sering banget ceritain tentang kamu. Ternyata benar ya, kamu itu anaknya cantik.” sapa Ira dengan mencoba mendekati Hanna.

“Seneng juga ketemu sama Tante. Maaf ya, Hanna masuk duluan capek soalnya!” Hanna segera masuk tanpa memperdulikan Ira dan juga Rama.

“Maaf ya, mungkin Hanna lagi capek, makanya dia jadi seperti itu. Tapi, aslinya dia anak yang baik dan sopan kok.” Tanpa diminta Rama menjelaskan dan meminta maaf atas kelakuan Hanna barusan.

“Iya, aku ngerti kok,” sahut Ira.

“ya udah, yuk kita masuk!” ajak Rama.

Mereka masuk dengan bergandengan tangan.

Di dalam kamar, Hanna sedang membersihkan badannya. Seharian bekerja lalu mampir untuk menjenguk sang ibu tercinta, membuat badan Hanna terasa begitu lengket.

Hanna mengguyur seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan niatan agar hati dan otaknya tidak berpikiran buruk tentang Papa Rama yang membawa Ira ke rumah ini.

Entah kenapa, Hanna merasa tidak enak hati saat dirinya dikenalkan dengan wanita itu.

Selesai mandi, Hanna gegas memakai baju dan mengeringkan rambutnya. Bisa pusing jika rambut panjangnya itu tidak kering.

Tok … Tok … Tok!

“Non Hanna, dipanggil Tuan Rama untuk kebawah, Non!” teriak Bi Minah dari luar kamar.

“Iya, Bi! Bilang sama Papa suruh tunggu sebentar, Hanna lagi pakai baju dulu,” jawab Hanna sedikit berteriak.

10 menit kemudian, Hanna keluar dengan wajah yang terlihat sudah fresh. Di ruang keluarga masih ada Ira ternyata, Hanna langsung duduk di kursi yang tidak jauh dari keduanya.

Melihat kedatangan Hanna, dengan cepat Rama melepaskan pelukan Ira dari dirinya.

“Ada apa Papa manggil Hanna?” tanya Hanna to the point.

Rama tersenyum menatap Ira dan Hanna bergantian, tiba-tiba tangannya menggenggam tangan Ira. “Begini, Sayang. Besok Papa dan Tante Ira akan menikah, dan Papa harap kamu bisa hadir.”

Degh!

Seketika Hanna merasa jika jantungnya berhenti berdetak, perasaannya menjadi tidak karuan.

“Apa maksud Papa?” ucap Hanna, suaranya sedikit tercekat.

“Tante Ira akan menjadi Ibu sambung kamu, Sayang. Jadi, Papa harap kamu bisa menerimanya dengan baik. Dan besok kamu harus hadir di acara penting Papa,” jelas Rama dengan raut wajah yang santai dan berseri-seri.

“Apa Papa sudah tidak waras? Papa dan Ibu belum berpisah, bahkan sekarang Ibu sedang berjuang di rumah sakit. Kenapa sekarang Papa tega ingin menikah lagi dengan wanita lain?” Nada bicara Hanna sedikit meninggi, gadis itu menahan amarahnya.

“Hanna, Ibu kamu itu g*la, tidak mungkin dia akan sembuh. Jadi, Papa ingin ada yang mengurus kamu juga Papa.”

“Ibuku gak g*la, Pa! Dia baik-baik saja, hanya kesehatan mentalnya yang terganggu. Dan aku yakin, dia akan sembuh! Lagipula aku sudah dewasa, aku tidak butuh siapapun untuk mengurus diriku!” tekan Hanna.

Sorot mata Hanna tidak bisa berbohong, gadis itu benar-benar emosi dengan keputusan yang diambil oleh Papanya.

“Sudahlah lah Hanna, kamu jangan terlalu berharap lebih dengan kesembuhan Hilda. Lebih baik kita cari kebahagiaan kita sendiri untuk saat ini,”

Tangan Hanna terkepal erat. “Aku tidak akan pernah sudi menggantikan posisi ibuku dengan wanita manapun!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
8.4
Setelah menyadari bahwa Samuel Gusmawan hanya mencintai adiknya selama dua puluh tahun pernikahan mereka di kehidupan lalu, sang protagonis mengambil langkah ekstrem saat diberi pilihan pernikahan politik. Alih-alih memilih Samuel lagi, ia menyerahkan foto Jeffrey Gusmawan, paman Samuel sekaligus pemimpin tertinggi keluarga mereka. Keputusan mengejutkan ini membalikkan keadaan. Namun, saat cincin pernikahan diserahkan kepada Jeffrey di hari sakral tersebut, Samuel justru kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Bukan Menantu Idaman
7.9
Kisah asmara dewasa ini mengikuti pemuda blasteran Rusia-Bali penganut Hindu dan gadis Nasrani putri pejabat Indonesia. Keduanya bertemu saat menempuh studi di Rusia. Meski terpisah perbedaan keyakinan dan latar belakang keluarga yang kontras, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan cinta yang tak terelakkan. Di tengah konflik identitas dan tekanan sosial, mereka harus menghadapi konsekuensi dari perasaan yang tumbuh di antara mereka berdua.
Sampul Novel Dulu Aku Bodoh, Sekarang Tidak Lagi
8.1
Saat hamil tiga bulan, Solene divonis mengalami kehamilan ektopik oleh suaminya yang seorang dokter. Sang suami mendesak aborsi demi keselamatannya dan menyarankan adopsi. Solene yang merasa bersalah kemudian tidak sengaja mendengar percakapan rahasia suaminya dengan wanita lain. Terungkap bahwa diagnosis itu palsu, dirancang agar Solene mau menandatangani surat adopsi untuk Leo, anak kandung suaminya dari hubungan gelap tersebut, demi mewariskan seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Dunia Rinduku Adalah Dirimu
8.5
Dalam suasana mencekam, Ammad tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang dan membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Aroma cendana yang khas dari bajunya tercium sangat kuat saat dia melarangku bersuara. Meski aku berusaha memanggilnya, Ammad justru semakin merapatkan dekapannya hingga tubuh kami bersentuhan tanpa jarak. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah tindakan mendadak ini dilakukan dengan sengaja atau murni karena situasi yang panik.
Sampul Novel Jatuh Dalam Pesonamu (Enigma: Teka-teki)
8.9
Numa dan Afkar terikat dalam perjodohan penuh misteri yang dirancang demi menutupi rahasia besar keluarga. Tanpa kontrak formal seperti di fiksi, mereka harus bekerja sama menghadapi kerumitan hubungan yang ambigu. Afkar menekankan pentingnya aliansi nyata demi ketenangan hidup dari campur tangan pihak lain. Di tengah sikap Numa yang haus perhatian, keduanya harus menguak teka-teki mendalam yang menyelimuti takdir mereka dalam kisah romansa modern yang intens ini.
Sampul Novel KABUT CINTA DI KOTA HUJAN
8.9
Gayatri terpaksa menikahi Baskoro demi beban sang ibu, meski tahu suaminya masih mencintai mantan kekasihnya, Saras. Di tengah dinginnya Kota Hujan, pernikahan muda ini goyah saat Bima, atasan Baskoro, mulai mendekati Gayatri. Keadaan kian rumit dengan kembalinya Andika, mantan Gayatri, serta kepulangan Saras dari luar negeri. Di sela perjuangan kuliah dan badai pertengkaran, mampukah keduanya menjaga kesetiaan dan mempertahankan rumah tangga mereka?