Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUISI CINTA DARI TIMUR

PUISI CINTA DARI TIMUR

Lu Sicheng dan Yang Zhu adalah reinkarnasi maha dewa yang saling mencintai, namun kebahagiaan mereka dihancurkan oleh muslihat Raja Iblis Xin Yi. Setelah perang dahsyat menghancurkan semesta, keduanya terlahir kembali di kubu yang berlawanan: suku dewa dan suku iblis. Dengan ingatan Yang Zhu yang telah dihapus total oleh Xin Yi, mampukah Lu Sicheng menyatukan kembali cinta mereka? Temukan perjuangan epik melawan takdir dan kelicikan dalam Puisi Cinta Dari Timur.
Bab
Bagikan

Bab 2

25 Year Later..

Seorang pemuda tampak sedang berbaring di tengah ranjang yang sudah usang dimakan waktu. Tubuhnya dibasahi peluh dingin dengan bibirnya yang gemetaran, mengigau. Matanya masih tertutup rapat, namun bibirnya tak henti bersuara.

"Ibu ... ibu ..."

Kata itu terus keluar dari mulutnya dengan suara yang gemetaran. Sepertinya dia sedang bermimpi buruk. Bisa dilihat dari posisi tidurnya yang tampak tidak tenang.

"IBU!!"

Dia berteriak kali ini. Sepasang netranya terbuka seketika. Tubuhnya bangkit mengambil posisi duduk di tengah ranjang dengan napasnya yang terengah-engah seperti habis berlari kencang.

"Astaga, mimpi itu lagi," gumannya pelan masih dengan napasnya yang terengah. Dia pun mengusap wajahnya. Mimpi itu. Kenapa ia selalu mengalami mimpi buruk itu?

Tak tahu sejak kapan. Seingatnya mimpi buruk itu selalu menghantui beberapa malam dalam satu pekan di tiap tidurnya. Apa arti mimpi itu? Kenapa dia sangat gelisah setiap kali terjaga dari mimpi itu?

"Lu Sicheng, kau bermimpi buruk lagi, hah?" tanya seorang pria paruh baya sembari memasuki kamarnya. Rambut dan janggutnya tampak sudah memutih, namun wajahnya masih terlihat segar dan lumayan tampan.

"Benar, Guru Li. Aku tak mengerti, kenapa mimpi itu selalu mengganggu tidurku," jawab pemuda bernama Lu Sicheng itu dengan wajah tampak cemas.

Pria yang dipanggilnya Guru Li itu pun tersenyum tipis, lantas ia mengayunkan sepasang tungkainya menghampiri pemuda dengan hanbok putih yang masih duduk di tengah ranjang.

"Lu Sicheng, apa yang kau lihat dalam mimpimu itu? Ceritakanlah," tukas Guru Li dengan tangan kanannya yang meremas satu bahu Lu Sicheng.

"Sudahlah, itu hanya mimpi. Aku tak ingin memikirkannya." Lu Sicheng tampak tak mau bercerita pada gurunya itu. Meski dia sendiri memang sangat penasaran akan mimpinya, namun Lu Sicheng memang bukan tipikal pria yang mudah menceritakan sesuatu pada orang lain. Termasuk pria yang ia panggil dengan sebutan Guru Li itu.

Guru Li tersenyum tipis. Dia menurunkan tangannya dari bahu Lu Sicheng. Ya, dia tahu persis bagaimana sipat anak muda di sampingnya itu. Dingin dan sedikit ketus.

Lu Sicheng ini orangnya bisa dibilang seperti batu es. Itu julukkan yang diberikan oleh penduduk desa Lan Hua, desa dimana mereka tinggal. Bagaimana tidak? Lu Sicheng sedari kecil tak mudah membuka hatinya untuk berteman dengan anak sebayanya.

Dia lebih suka menyendiri. Bahkan sampai sekarang pun tetap demikian. Meski sipatnya terkesan arogan, namun tetap saja dia terlihat sangat menawan. Apa lagi para gadis di desa Lan Hua ini, mereka selalu berusaha mendekati pria batu es itu. Bagi mereka, sipat Lu Sicheng yang terkesan misterius itu membuat mereka penasaran.

Terlebih wajah Lu Sicheng yang teramat tampan dengan postur tubuh tinggi kekar, berkulit putih, rambutnya hitam panjang hampir ke pinggang. Dia terlihat berkharisma dan memukau seperti para dewa. Sedangkan sikapnya yang dingin membuat pria berusia 26 tahun itu tampak sangat berkelas layaknya para bangsawan. Meski kadang bicaranya ketus, namun hal itu justru membuat para gadis semakin gemas padanya.

Mengagumkan!

"Lu Sicheng, aku sudah semakin tua. Sepertinya kau harus mengetahui sebuah rahasia yang selama ini aku simpan." Guru Li berkata sembari menoleh pada pemuda di sampingnya itu.

"Rahasia apa? Jangan bilang jika Guru akan menjodohkanku dengan Han Siah. Hh, gadis menor itu. Aku sama sekali tidak tertarik padanya," cela Lu Sicheng dengan nada sinisnya dan rasa percaya dirinya yang meninggi.

Guru Li terkekeh mendengar ucapan konyol muridnya itu.

"Kau ini. Siapa juga yang akan menjodohkanmu dengan gadis itu? Kau terlalu percaya diri, anak muda," ledek Guru Li masih enggan memadamkan tawanya.

Sedangkan Lu Sicheng hanya terdiam tampak mulai bosan.

"Lu Sicheng, kau tahu? Dulu aku adalah seorang Perdana Menteri di istana Dong Taiyang. Namun karena suatu pemberontakkan, aku harus meninggalkan istana dan hidup di desa terpencil ini," lanjut Guru Li kemudian.

Lu Sicheng tampak tidak tertarik dengan cerita masa lalunya itu. Pemuda itu tak bereaksi sedikit pun dari diamnya. Ekor mata Guru Li melirik pada Lu Sicheng. Sial! Bocah tengik ini tak mau mendengarkan ceritanya. Namun dia tetap melanjutkan.

"Malam itu aku dan Permaisuri Fang Yin berlarian di hutan Taiyang. Permaisuri menggendong puteranya yang baru berusia satu tahun. Setelah menjauh dari istana, Sang Permaisuri menyerah karena kelelahan dan tak kuat lagi untuk melanjutkan langkahnya. Dia pun menyerahkan puteranya itu kepadaku."

Ucapan Guru Li kali ini membuat Lu Sicheng sedikit terkesiap. Pemuda itu menoleh ke arahnya seketika.

"Apa? Kenapa ceritamu itu sangat mirip dengan apa yang ada di dalam mimpiku; seorang wanita menggendong bayinya dan berlarian di tengah hutan," ucapnya dengan wajah heran.

Guru Li tersenyum tipis lantas berkata,"Apa yang ada dalam mimpimu itu adalah bayangan masa lalumu, Lu Sicheng. Rupanya Dewa Agung sudah memberimu sebuah 'titah'," ucapnya tampak bersungguh menatap dalam pada jendela hati Lu Sicheng.

"Titah dewa? Maksudmu?" tanya Lu Sicheng masih belum bisa mencerna ucapan Guru Li padanya.

Sejenak Guru Li menarik napas. Pendar matanya kian meredup. Sesaat kemudian ia berkata lagi, "Lu Sicheng, kau adalah Pangeran Lu dari Dong Taiyang. Kau adalah putera Raja Lu Cia-Hao dan Permaisuri Fang Yin. Mimpi yang terus menghantuimu itu adalah suatu pertanda, bahwa sudah tiba saatnya bagimu membalas kematian Ayahmu dan penderitaan Ibumu," ringkas Guru Li.

"Apa? Aku seorang Pangeran? Apa kau tidak sedang bergurau, Guru?" Lu Sicheng tersenyum sembari menggelengkan kepalanya kemudian. Apa-apaan ini? Apakah si tua bangka itu sedang mabuk? Kenapa bicaranya meracau begitu? Celotehnya hanya dalam hati.

"Dasar anak bodoh! Kau pikir aku sedang bergurau, hah? Aku bicara serius, Lu Sicheng!" Guru Li tampak marah kali ini.

Lu Sicheng segera memadamkan senyumnya. Bagaimanapun si tua bangka di hadapannya itu adalah gurunya. Orang yang sudah mengajari banyak hal padanya selama ini, termasuk jurus dan tehnik pedang yang sudah ia kuasai sekarang.

"Maaf, Guru. Aku hanya tak habis pikir saja. Jika aku seorang Pangeran, lantas kenapa aku harus berada di desa terpencil ini?"

"Ceritanya panjang," jawab Guru Li. Dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Dahulu kerajaan Dong Taiyang dipimpin oleh Ayahmu, Raja Lu Cia-Hao. Beliau adalah seorang raja yang sangat baik. Rakyat Dong Taiyang sangat makmur di bawah pemerintahannya. Namun, dua saudara tirinya yaitu, Pangeran Dilun dan Pangeran Disung telah berkhianat. Mereka mengatur sebuah pemberontakkan untuk menggulingkan Sang Raja." Guru Li menoleh pada Lu Sicheng.

Pemuda itu tampak menyimak ucapannya kali ini.

"Lantas?" tanyanya dengan wajah antusias.

Guru Li mengusap jangkutnya lantas melanjutkan ceritanya lagi,"Dua pangeran itu mengajak Jenderal Yang Jingmi untuk turut serta membantu mereka menggulingkan raja. Namun siapa sangka, ternyata Jenderal Yang juga menginginkan tahta Dong Taiyang. Setelah berhasil membunuh Sang Raja di depan semua petinggi istana, dia pun membunuh dua pangeran serakah itu dengan sadis." Guru Li mengakhiri ceritanya.

"Lantas apa yang terjadi pada Ibuku?" tanya Lu Sicheng lagi.

Guru Li menghela napas lantas berkata, "Setelah Permaisuri Fang Yin menyerahkan dirimu padaku di hutan, aku tak tahu lagi apa yang terjadi padanya. Yang aku dengar, kini Yang Jingmi telah menjadi Raja Dong Taiyang. Bisa saja Yang Jingmi menahan Ibumu di istana Dong Taiyang atau membunuhnya pada malam itu juga." Guru Li meremas bahu Lu Sicheng.

Pemuda itu tampak menunduk sembari memejamkan matanya menahan emosi.

"Lu Sicheng, esok pagi berangkatlah ke Timur. Bunuh Yang Jingmi dan rebut kembali tahta kerajaan Dong Taiyang," perintah Guru Li sembari menatapnya tegas.

Lu Sicheng mengepalkan buku-buku tangannya. Amarahnya terasa mendidih seketika. Membayangkan bagaimana pria bernama Yang Jingmi itu membunuh ayahnya dan membuatnya terpisah dari ibunya.

Ya, dia harus membunuh pria itu.

Harus!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Harta Tahta Obsesi Gila
8.8
Arleta memiliki paras mempesona, namun hidupnya jauh dari kata indah. Alih-alih gaun putri, ia terpaksa memakai baju zirah demi bertahan hidup dari obsesi gila pamannya, Joshua, yang menyebabkan luka mendalam. Di tengah trauma dan bayang-bayang masa lalu yang kelam, ia menutup hati demi keamanan dirinya. Kini, Arkana Sadewa, seorang fotografer, harus berjuang keras menaklukkan tembok pertahanan Arleta yang menganggap cinta hanyalah kelemahan yang membuang waktu.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Demi melunasi utang sang ayah, Mayzura terpaksa menghadapi pernikahan dengan pria tua. Saat mencoba melarikan diri bersama kekasihnya, ia diselamatkan oleh Sadewa dari ancaman penjahat. Sadewa pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya hingga hari pernikahan tiba. Namun, kedekatan mereka justru memicu perasaan cinta yang tak terduga. Mampukah Sadewa melewati segala rintangan demi Mayzura? Lantas, apa rahasia besar di balik identitas asli sang bodyguard?
Sampul Novel Jahatnya Pacar Kakakku
8.5
Rencana sederhana pergi ke festival musik bersama sahabat berubah menjadi petaka mengerikan bagi sang protagonis. Tanpa alasan jelas, kekasih kakaknya mengurungnya di toilet, menuduhnya menggoda pacar orang, lalu melakukan penyiksaan keji. Korban disiram air kotor, ditampar, ditelanjangi, hingga kulitnya disolder dengan tulisan hinaan. Saat sang kakak, Calvin, akhirnya tiba dan mendapati adiknya terluka parah hingga tak mengenali wajahnya, pelaku hanya bisa berdalih bahwa ia salah mengira korban sebagai orang asing.
Sampul Novel Peace Hunter
7.9
Rid Archie, pemuda dari desa manusia, mulai meragukan ketenangan dunianya. Di balik kedamaian yang tampak, perbudakan dan diskriminasi rasial masih merajalela. Situasi ini hanyalah gencatan senjata rapuh antara ras Iblis dan Malaikat yang bisa pecah kapan saja menjadi perang besar. Menyadari bahwa keharmonisan saat ini hanyalah semu, Rid bertekad kuat untuk menciptakan kedamaian sejati. Namun, mampukah ia mewujudkan impian mustahil itu di tengah dunia yang penuh konflik?
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.
Sampul Novel Pemburu Iblis
8.6
Skylark tumbuh besar sebagai anak angkat saudagar kaya di era dinasti. Tanpa disadari, ia mewarisi darah Raja Iblis yang hilang dan kelembutan hati ibunya yang tewas di tangan rival sang ayah. Berkat umur panjang dan kekuatan dahsyat, Skylark berjuang membasmi teror monster hingga era modern. Akankah identitas aslinya terungkap saat ia mengejar pembunuh sang ibu? Ikuti perjalanan epik sang pemburu iblis dalam menuntaskan dendam masa lalu yang kelam.