Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUISI CINTA DARI TIMUR

PUISI CINTA DARI TIMUR

Lu Sicheng dan Yang Zhu adalah reinkarnasi maha dewa yang saling mencintai, namun kebahagiaan mereka dihancurkan oleh muslihat Raja Iblis Xin Yi. Setelah perang dahsyat menghancurkan semesta, keduanya terlahir kembali di kubu yang berlawanan: suku dewa dan suku iblis. Dengan ingatan Yang Zhu yang telah dihapus total oleh Xin Yi, mampukah Lu Sicheng menyatukan kembali cinta mereka? Temukan perjuangan epik melawan takdir dan kelicikan dalam Puisi Cinta Dari Timur.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sang surya belum menunjukkan wajahnya. Namun Lu Sicheng sudah terjaga dari tidurnya sejak beberapa saat yang lalu. Jelas. Dia tak bisa tidur tenang malam ini. Sebuah kenyataan tentang dirinya sungguh membuatnya gelisah sepanjang malam.

Kenapa?

Kenapa nasib buruk ini harus menimpanya. Ayahnya dibunuh oleh orang kepercaannya sendiri. Sedangkan ibunya? Dimana dia sekarang? Apakah masih hidup atau sudah tiada di tangan penghianat bernama Yang Jingmi itu.

Lu Sicheng berdiri sembari menatap langit yang masih kelabu. Pikirannya sudah tak sabar menunggu pagi tiba. Kakinya sudah gatal ingin melangkah ke Timur saat ini juga. Sedangkan tangannya pun sudah menariknya untuk segera pergi. Memenggal kepala Yang Jingmi segera.

"Lu Sicheng, kau sudah terjaga rupanya." Suara Guru Li tak membuat pria batu es itu menoleh padanya. Dia tampak asik sendiri dengan tatapannya yang kosong.

Guru Li mengulas senyum tipis. Sepasang tungkainya melaju mendekat sekitar satu meter dari jarak punggung pemuda di hadapannya itu.

"Langit tampak murung. Sepertinya sinar bintang sedang menggodanya untuk tersenyum. Namun langit tak punya hati dan indera perasa. Dewa sudah merenggut semua itu darinya sejak lama. Karena para Dewa cemas, kalau langit akan menghasut manusia untuk memujanya." Guru Li menggunakan sebuah kiasan untuk membuka percakapan dengan muridnya itu.

Tapi sial! Lu Sicheng si batu es itu tak merespon sedikit pun. Apakah dia tuli? Atau dia sedang mengalami sindrom tidur berjalan? Guru Li yang penasaran segera mendekat pada pemuda dengan hanbok hitam itu. Dia mencondongkan tubuhnya untuk menengok wajah Lu Sicheng.

"Hentikan tingkah konyolmu itu, Guru Li."

Guru Li terkekeh geli dengan apa yang diucapkan Lu Sicheng barusan. Astaga, pemuda yang satu ini memang sangat istinewa. Dia bahkan berani berkata sinis pada pria yang sudah membesarkannya ini, pikir Guru Li masih terkekeh geli.

"Jangan tertawa. Aku tidak senang melihamu seperti itu. Sebagai Guru Besar, harusnya kau lebih beretika, bukan? Bagaimana kalau muridmu yang lain melihatnya? Mau kau taruh dimana mukamu itu?"

Sial! Ucapannya semakin berani saja. Guru Li segera mengatupkan bibirnya. Ya, bagaimanapun Lu Sicheng adalah pangeran dinasti Lu, satu-satunya keturunan raja besar Dong Taiyang. Pantas kalau pemuda ini sipatnya sangat menjengkelkan. Dia bahkan berani menasehati gurunya itu.

"Baiklah, Batu es. Kau memang sulit untuk tertawa. Aku saja bingung padamu. Apa benar menurut para gadis di desa Lan Hua ini? Hm, sepertinya itu menang benar," ucap Guru Li terdengar sedikit mengandung makna meledek secara tidak langsung.

"Memangnya apa yang para gadis bodoh itu katakan?" Lu Sicheng bertanya tanpa mau memutar tubuhnya pada Guru Li.

Guru Li tersenyum tipis, ternyata Lu Sicheng sangat sensitif terhadap image-nya. Dia pun berkata kemudian, "Ya, para gadis itu mengatakan kalau kau adalah pemuda yang sombong, keras kepala, menyebalkan seperti batu es." tidak tanggung-tanggung Guru Li berkata. Akibatnya Lu Sicheng mengulum senyumnya.

"Guru, sebaiknya kau tak perlu mendengarkan keluhan para gadis itu. Lagi pula, berapa usiamu sekarang? Apa pantas kau mendengarkan ocehan mereka?"

Sial!

Pemuda itu berkata seenaknya saja. Guru Li jadi sedikit geram mendengar ocehannya itu. Tapi ini bukan saatnya memberi hukuman pada murid menyebalkan yang satu ini. Niatnya tadi menemui Lu Sicheng untuk sebuah tujuan khusus. Ya, lupakan ucapan konyol pemuda itu. Guru Li menghela napas. Dia segera mendekat pada Lu Sicheng. Berdiri sejajar dengan pemuda itu.

"Lu Sicheng, aku menemuimu untuk mengajakmu ke sebuah tempat. Tutup mulutmu dan ikutilah aku sekarang. Mengerti?" tukas Guru Li. Ternyata sulit juga menyembunyikan rasa kesalnya pada muridnya itu.

"Untuk apa aku harus mengikutimu? Aku sedang menunggu pagi. Kau sendiri 'kan yang berkata, aku harus berangkat ke Timur pagi ini juga," balas Lu Sicheng acuh. Wajahnya masih memandangi langit hitam di atas sana.

"Lu Sicheng!" Guru Li mendengkus kesal. Namun Lu Sicheng hanya tersenyum tipis melihatnya. Dia memang selalu begitu. Dia seperti langit yang tak punya indera perasa.

"Jangan marah-marah. Lihat usiamu, pantaskah kau bersikap seperti itu?" cetus Lu Sicheng sembari melangkah menuju keluar kamar,"ayo! Katanya tadi kau mau mengajakku ke sebuah tempat," lanjutnya setelah melangkah keluar.

"Batu es itu! Ugh!" Guru Li mendengkus kesal. Langkah cepatnya segera menyusul Lu Sicheng.

"Mau kemana kita? Kenapa menuju dapur? Apa kau ingin aku buatkan pangsit sebelum aku berangkat?" tanya Lu Sicheng sembari tersenyum tipis saat dirinya tengah berjalan bersisian dengan Guru Li.

"Bodoh. Ikuti saja. Nanti juga kau akan mengetahuinya," balas Guru Li yang masih tampak kesal pada Lu Sicheng.

"Baiklah," ucap Lu Sicheng sembari tersenyum tipis. Tangannya menyatu di belakang pinggang dengan dadanya yang membusung. Dia tampak sangat gagah.

"Itu dia, Kakak Cheng!"

"Wah, tampan sekali!"

"Kakak Cheng!"

Suara para gadis yang kebetulan sedang berada di halaman dapur rumah Guru Li. Hh, para gadis itu memang selalu datang ke rumah Guru Li sesuka hati. Bahkan mereka juga sering memasak makanan untuk Guru Li. Semua itu mereka lakukan semata hanya untuk melihat Lu Sicheng.

Lu Sicheng tampak tidak tertarik sedikit pun dengan teriakan heboh para gadis itu. Baginya, tak ada satu gadis pun yang bisa menggetarkan hatinya. Dan menurutnya, para gadis hanya akan membuatnya kerepotan saja. Ya, sejauh ini begitulah pemikirannya. Namun, kita tak tahu hari esok dan seterusnya. Bisa saja Lu Sicheng jatuh hati pada seorang gadis.

Ya, kita lihat saja nanti.

Langkah Guru Li berhenti di dalam sebuah kuil Budha yang ada di halaman belakang dapur. Lu Sicheng hanya menatap heran dengan apa yang sedang si tua bangka itu lakukan. Guru Li tampak sedang mengusap-usap sebuah relief Budha pada dinding. Dia mengusapnya begitu teliti seperti sedang mencari sesuatu.

'Apa sebenarnya yang sedang si tua bangka ini lakukan? Konyol sekali,' bathin Lu Sicheng. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat apa yang sedang gurunya itu lakukan.

BRAAKK!

Sepasang netra Lu Sicheng membulat sempurna melihat dinding di hadapannya itu terbuka bak sebuah pintu rahasia. Apa ini? Pintu rahasia, kah? Lu Sicheng bertanya-tanya dalam hati.

"Ayo masuk, Lu Sicheng." Guru Li segera melangkah memasuki ruangan yang baru saja terbuka di hadapannya itu.

Lu Sicheng masih tercengang heran. Dia pun segera menyusul gurunya itu. Manik hitam Lu Sicheng memindai seisi ruangan. Astaga, tampak puluhan, tidak, tapi ratusan pedang dilihatnya di ruangan itu.

Pedang-pedang itu tampak tertata rapi pada dudukannya masing-masing. Sepasang netranya kemudian terpusat pada sebilah pedang yang bertandang paling ujung ruangan itu. Pedang itu berada di bawah sebuah patung Budha.

Mata pedang itu berkilauan terkena sinar lentera pada ruangan itu. Pedang yang sangat memukau.

Lu Sicheng segera melangkah menghampirinya.

"Pedang Suci Tiga Elemen. Itu adalah pedang yang biasa mendiang Ayahmu gunakan untuk menghabisi para musuhnya di medan tempur," ucap Guru Li yang sudah berdiri di samping Lu Sicheng.

Sejenak Lu Sicheng menoleh pada gurunya itu. Namun pandangannya kembali pada pedang yang bertandang di hadapannya.

"Ambilah pedang itu, Lu Sicheng. Kau adalah satu-satunya keturunan dinasti Lu. Darah mendiang Raja Lu mengalir dalam tubuhmu. Hanya kau yang bisa mengangkat pedang suci itu dari dudukannya." Guru Li berkata lagi.

Lu Sicheng menoleh padanya. Guru Li mengangguk meyakinkannya. Pemuda itu pun mengembalikan pandangannya pada pedang di hadapannya. Dengan gerakkan mantap ia segera meraih pedang itu. Mengangkatnya.

"Bagus, Lu Sicheng. Dengan ini kau sudah membuktikan, kalau dirimu memang Pangeran Lu dari Dong Taiyang. Kau adalah putera Raja Lu Cia-Hao dan Permaisuri Fang Yin. Hanya kau yamg bisa mengendalikan pedang suci itu," tukas Guru Li. Dia tersenyum kagum melihat Lu Sicheng mengangkat pedang itu.

Lu Sicheng hanya tersenyum tipis. Dia bangga pula akan dirinya. Ternyata benar, dirinya memanglah seorang pangeran.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alfaro David
9.6
Dunia yang keras sanggup mengubah kebaikan menjadi kegelapan. Tanpa bimbingan keluarga, Alfaro tumbuh menjadi pemuda pemberontak yang sulit dikendalikan. Namun, di balik sikap nakalnya, ia menyembunyikan luka batin mendalam di balik topeng tak kasat mata demi melindungi diri. Saat ia menganggap sahabatnya sudah seperti saudara sendiri, sebuah ancaman besar muncul. Akankah ikatan mereka bertahan ketika pengkhianatan mulai merayap masuk ke dalam lingkaran persahabatannya?
Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Terbangun di tengah kegelapan tanpa ingatan selain nama sendiri, Rio terlempar ke dunia fantasi abad pertengahan yang asing. Tanpa jawaban atas asal-usulnya, ia terpaksa bertahan hidup bersama orang-orang yang bernasib sama. Rio membentuk kelompok tentara bayaran dan mulai mengasah kemampuan tempur demi menghadapi bahaya di tanah Midgard. Inilah awal perjalanan penuh ketidakpastian bagi mereka yang lahir dari abu untuk mengukir takdir baru di dunia yang keras.
Sampul Novel ENTERNAL LOVE
9.0
Kehidupan Elgar hancur setelah penyihir hitam merenggut nyawa tunangannya, Carolina. Didorong dendam, ia berlatih di bawah bimbingan penyihir agung untuk memburu sang musuh. Namun, Elgar justru menghadapi pengkhianatan Putri Liana dan bertemu gadis misterius yang sangat mirip dengan Carolina. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: melanjutkan misi balas dendamnya atau mengungkap identitas asli gadis tersebut yang mengguncang jiwanya.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel My Devil Bodyguard
8.1
Apa jadinya jika pelindungmu justru berubah menjadi ancaman terbesar? Vello, mahasiswi yang kerap menjadi korban perundungan, seharusnya merasa aman saat Dexter hadir sebagai pengawalnya. Namun, pria itu malah menjerumuskannya ke dalam penderitaan yang tak terbayangkan. Meski disiksa dalam jeratan neraka yang diciptakan Dexter, Vello justru memilih tetap bertahan. Walau ada banyak kesempatan untuk melarikan diri, ia enggan beranjak dari sisi sang bodyguard.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?