Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUISI CINTA DARI TIMUR

PUISI CINTA DARI TIMUR

Lu Sicheng dan Yang Zhu adalah reinkarnasi maha dewa yang saling mencintai, namun kebahagiaan mereka dihancurkan oleh muslihat Raja Iblis Xin Yi. Setelah perang dahsyat menghancurkan semesta, keduanya terlahir kembali di kubu yang berlawanan: suku dewa dan suku iblis. Dengan ingatan Yang Zhu yang telah dihapus total oleh Xin Yi, mampukah Lu Sicheng menyatukan kembali cinta mereka? Temukan perjuangan epik melawan takdir dan kelicikan dalam Puisi Cinta Dari Timur.
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam itu udara sangat dingin karena sedang turun salju. Seorang wanita berjubah merah marun tampak sedang berlarian di tengah kegelapan hutan. Dia tidak sendiri, di belakangnya tampak seorang pria berjubah hitam yang terus mengapit langkahnya.

Sembari mendekap tubuh mungil bayi laki-laki di dadanya, wanita itu terus berlari sebisanya. Napasnya terengah-engah. Dia sudah tak kuat lagi untuk berlari. Sedangkan kejaran para musuh masih mengintai mereka.

Dengan langkah yang sudah sempoyongan, wanita itu pun berhenti di bawah sebatang pohon maple yang daunnya cukup rindang. Cukup untuk menaungi dirinya dari serpihan putih yang terus turun semakin deras.

"Ayo, Yang Mulia. Kita harus segera pergi dari sini," tukas Guru Li, pria jubah hitam yang mengapitnya. Guru Li adalah perdana menteri di istana Dong Taiyang.

"Guru Li, aku sudah tak kuat lagi untuk berlari," lirih Fang Yin, wanita yang sedang kita bicarakan tadi. Rupanya dia adalah permaisuri raja di istana Dong Taiyang, kerajaan terbesar dan termasyur di Timur.

Lantas, apa yang membuat mereka berlari di hutan malam-malam begini?

Baiklah, mari kita mundurkan sedikit waktu, dimana lima jam yang lalu saat Guru Li dan beberapa petinggi istana sedang melakukan rapat penting di ruang rapat istana.

"Yang Mulia, bagaimana jika Anda setuju saja dengan saran Pangeran Delun? Itu tidak terlalu buruk, bukan?" gagas Hong Li-Jun, salah satu petinggi istana. Pria licik itu sedang menghasut sang raja untuk menaikan pajak.

"Tidak bisa. Jika pajak dinaikan lagi, bagaimana nasib rakyat kecil? Mereka hanya bisa menikmati panen dua kali saja dalam satu tahun. Aku tetap tidak setuju," jawab sang raja tegas. Pria bernama Lu Chia-Hao itu memang seorang pria yang sangat murah hati. Rakyat Dong Taiyang sangat makmur di bawah kepemimpinannya selama lima tahun terakhir ini.

Wajahnya yang tampan berkharisma, keahliannya bermain pedang, serta pengetahuannya yang luas, membuat pria berusia 35 tahun itu akhirnya terpilih untuk menggantikan ayahnya menjadi raja selanjutnya. Ternyata hal itu memicu rasa iri dan dengki di hati dua saudara tirinya yaitu; Pangeran Delun dan Pangeran Disung.

Dua saudara tirinya itu pun akhirnya menyusun konspirasi besar untuk menggulingkan sang raja. Mereka mengajak Yang Jingmi, jenderal kepercayaan raja untuk membantu mewujudkan cita-cita mereka.

"Hentikan, Lu Cia-Hao! Turunlah dari tahtamu itu! Kau tak pantas menjadi raja Dong Taiyang!" Suara bariton itu berasal dari mulut Pangeran Delun. Pria itu berdiri menunjuk lancang pada sang raja menggunakan mata pedangnya.

Tentu saja hal itu membuat semua pejabat istana tercengang melihatnya.

"Apa yang Anda lakukan, Pangeran? Anda sudah lancang pada Yang Mulia!" sambut Guru Li yang langsung menghunus pedangnya di depan Pangeran Delun.

"Diam kau, Guru Li! Ini bukan urusanmu! Raja harus turun dari tahtanya hari ini juga!" Kali ini Pangeran Disung yang berkoar. Pria itu juga sudah berdiri dengan pedang di tangannya. Bahkan mengarahkan pedang itu pada leher sang raja.

Sedangkan sang raja sangat terkejut melihat dua saudara tirinya itu yang tiba-tiba menyerangnya. Dia pun bangkit dan segera melawan mereka. Namun Jenderal Yang segera maju dan berhasil menusukkan pedangnya tepat pada jantung sang raja.

"Kalian ...," raung sang raja yang sudah terpulai bersimbah darah di bawah singgasananya.

"Harusnya dari dulu saja aku membunuhmu, Lu Chia-Hao!" Pangeran Disung dan Pangeran Delun tertawa senang melihat sang raja meregang nyawa. Namun tak disangka tiba-tiba Yang Jingmi menyerang mereka juga.

"Kalian juga harus mati!" Yang Jingmi segera menghunus pedangnya.

"Bedebah! Apa yang kau lakukan, Yang Jingmi?" Pangeran Delun yang pertama mendapat sabetan pedang dari Yang Jingmi tak bisa berkutik lagi. Pria arogan itu pun tumbang bersimbah darah.

"Bajingan, rasakan ini!" Pangeran Disung segera maju. Namun Yang Jingmi langsung menyambutnya dengan sabetan pedang yang bertubi-tubi.

Meski Disung dan Delun seorang pangeran, namun tehnik pedang mereka sangatlah payah. Jauh dari rasa serakah mereka yang begitu besar. Ingin menggulingkan raja dengan mengajak Jenderal Yang bekerja sama, tampaknya bukanlah ide yang bagus.

Lihat saja, kedua pangeran bodoh itu akhirnya gugur di tangan Jenderal Yang. Mungkin mereka tak tahu jika Yang Jingmi juga memiliki ambisi yang besar untuk menaiki tahta kerajaan Dong Taiyang.

Bahkan, Yang Jingmi sudah mempersiapkan semuanya. Hampir semua prajurit kerajaan sudah diancamnya untuk bergabung memberontak pada sang raja. Dan kebetulan sekali dua pangeran bodoh itu mengajaknya untuk bekerja sama. Akhirnya hari ini pun tiba.

"Matilah kalian semua, keturunan dinasti Lu!" Yang Jingmi mengangkat pedangnya dengan bangga. Dia pun menoleh pada semua petinggi istana yang tampak ketakutan melihatnya, termasuk Guru Li.

"Kalian pilih sekarang, takluk padaku atau mati?" tukas Yang Jingmi dengan tatapan tajam pada mereka.

Para petinggi istana pun saling pandang antara bingung dan ketakutan.

"Cepat pilih! Aku sudah tak sabar ingin menebas leher kalian!" Yang Jingmi menodongkan pedangnya pada wajah-wajah ketakutan para petinggi istana itu dengan tatapan geram.

"Aa--aku ikut denganmu, Jenderal! Aku setuju kau menggantikan Raja Lu. Ayo, naiklah pada tahtamu, Yang Mulia." Hong Li-Jun yang takut akan kematian segera berbaik hati pada Yang Jingmi. Bahkan ia mengantarkan pria itu untuk menduduki singgasana raja.

"Bagaimana dengan kalian?!" tegas Yang Jingmi pada semua petinggi istana yang lain.

"Aku setuju!"

"Aku juga setuju!"

"Hidup Yang Mulia Raja Yang Jingmi!"

"Hidup!"

Karena rasa takutnya, para petinggi istana pun mendukung Yang Jingmi sebagai raja baru mereka. Hal itu membuat Guru Li sangat geram. Namun dia tak mungkin bisa melawan penghianat itu seorang diri.

Saat semua orang sedang mengagungkan Yang Jingmi, Guru Li segera meninggalkan ruangan rapat. Dia berlari menuju kamar Permaisuri Fang Yin. Benar, istri sang raja pasti belum mengetahui kekacauan yang sedang terjadi di ruang rapat.

Dia harus menyelamatkan permaisuri dan pangeran sebelum Yang Jingmi datang untuk membunuh mereka.

"Yang Mulia!" Terhuyung-huyung Guru Li memasuki kamar Permaisuri Fang Yin.

"Guru Li, apa yang kau lakukan? Lancang sekali kau memasuki kamarku!" Sang permaisuri marah besar melihat pria itu memasuki kamarnya. Terlebih dirinya baru saja menidurkan puteranya yang baru berusia satu tahun.

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi kita harus segera meninggalkan istana sekarang!" jawab Guru Li dengan wajah diselimuti aura ketakutan.

Fang Yin menatapnya heran,"Apa maksudmu?" tanyanya sembari menggendong bayinya di dada.

"Yang Mulia, Jenderal Yang Jingmi telah membunuh Raja dan kedua Pangeran Lu. Sekarang pasti dia sedang menuju kemari untuk membunuh Anda dan juga Pangeran," jawab Guru Li tanpa memadamkan wajah cemasnya.

"Apa? Jenderal Yang sudah membunuh Yang Mulia Raja?" Fang Yin sangat terkejut mendengar berita buruk itu. Sepasang netranya membulat penuh hingga pudar berkaca-kaca menatap Guru Li.

"Benar, Yang Mulia. Ayo ikutlah dengan hamba. Kita harus segera pergi dari sini," ajak Guru Li meyakinkan permaisuri.

"Tapi aku belum melihat mayat suamiku, Guru Li."

"Tak ada waktu lagi, Yang Mulia. Ayo kita pergi."

Dengan tangisnya yang tak tertahankan, sang permaisuri pun menurut. Dia segera menggendong bayinya meninggalkan istana. Namun ternyata tak semudah itu, karena Yang Jingmi mengerahkan banyak pasukkannya untuk mengejar mereka.

"Cepat cari Permaisuri Fang Yin dan bunuh dia beserta puteranya!" teriak Yang Jingmi sembari duduk di atas kudanya. Dia sudah menaiki kudanya cukup jauh untuk mengejar Fang Yin dan Guru Li.

Malam yang sangat mengerikan bagi Peemaisuri Fang Yin. Dia sangat sedih atas kematian suaminya. Namun dia harus menyelamatkan pangeran.

Itulah sebabnya malam ini dirinya dan Guru Li berada di tengah hutan.

Fang Yin menatap wajah naif puteranya. Dia tersenyum pahit memandangi wajah mungil itu. Tangannya melepaskan kain yang mengikat sang putera dari tubuhnya.

"Guru Li, pergilah dan bawa Pangeran. Tinggalkan aku di sini. Aku sudah tak kuat lagi," guman sang permaisuri sembari menyodorkan bayinya pada Guru Li.

"Tidak, Yang Mulia. Anda tak boleh menyerah. Ayo kita pergi dari sini," balas Guru Li. Dengan wajah cemas diraihnya pangeran kecil itu dari tangan sang permaisuri, lantas mendekapnya erat di antara dada kekarnya.

"Jangan pikirkan diriku, Guru Li. Cepat kau bawa pangeran pergi. Besarkan dia bersamamu," lirih Fang Yin sembari menangis.

"Tapi, Yang Mulia ..." Guru Li tampak masih ragu untuk meninggalkan permaisuri seorang diri di tengah hutan begini. Nalurinya sebagai seorang pria terasa tercabar.

"Itu mereka!"

"Ayo tangkap mereka!"

Celaka! Para prajurit Yang Jingmi sepertinya berhasil menemukan Fang Yin dan Guru Li. Suara sepatu kuda mereka pun terdengar mulai mendekat. Fang Yin dan Guru Li semakin ketakutan karenanya.

"Cepat pergi, Guru Li. Cepat!" perintah sang permaisuri sembari mendorong bahu kekar Guru Li. Sementara tangisnya tak bisa diurungkan lagi.

Guru Li sangat kebingungan. Namun tak ada jalan lain lagi, dia harus menyelamatkan pangeran. Pria berambut abu-abu sepinggang itu pun membungkuk pada sang permaisuri, lantas segera berlari menembus kegelapan hutan.

Fang Yin menangis mendengar suara tangisan bayinya. Sedangkan Guru Li terus berlari hingga terbang rendah meninggalkan hutan. Dia mendekap erat sang pangeran kecil di dadanya. Pikirannya masih pada Fang Yin yang ia tinggalkan sendiri di tengah hutan.

Entah apa yang terjadi pada sang permaisuri. Guru Li menoleh sejenak pada sang pangeran kecil yang mulai tertidur di dadanya. Dia pun terbang semakin tinggi menuju Barat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alfaro David
9.6
Dunia yang keras sanggup mengubah kebaikan menjadi kegelapan. Tanpa bimbingan keluarga, Alfaro tumbuh menjadi pemuda pemberontak yang sulit dikendalikan. Namun, di balik sikap nakalnya, ia menyembunyikan luka batin mendalam di balik topeng tak kasat mata demi melindungi diri. Saat ia menganggap sahabatnya sudah seperti saudara sendiri, sebuah ancaman besar muncul. Akankah ikatan mereka bertahan ketika pengkhianatan mulai merayap masuk ke dalam lingkaran persahabatannya?
Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Terbangun di tengah kegelapan tanpa ingatan selain nama sendiri, Rio terlempar ke dunia fantasi abad pertengahan yang asing. Tanpa jawaban atas asal-usulnya, ia terpaksa bertahan hidup bersama orang-orang yang bernasib sama. Rio membentuk kelompok tentara bayaran dan mulai mengasah kemampuan tempur demi menghadapi bahaya di tanah Midgard. Inilah awal perjalanan penuh ketidakpastian bagi mereka yang lahir dari abu untuk mengukir takdir baru di dunia yang keras.
Sampul Novel ENTERNAL LOVE
9.0
Kehidupan Elgar hancur setelah penyihir hitam merenggut nyawa tunangannya, Carolina. Didorong dendam, ia berlatih di bawah bimbingan penyihir agung untuk memburu sang musuh. Namun, Elgar justru menghadapi pengkhianatan Putri Liana dan bertemu gadis misterius yang sangat mirip dengan Carolina. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: melanjutkan misi balas dendamnya atau mengungkap identitas asli gadis tersebut yang mengguncang jiwanya.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel My Devil Bodyguard
8.1
Apa jadinya jika pelindungmu justru berubah menjadi ancaman terbesar? Vello, mahasiswi yang kerap menjadi korban perundungan, seharusnya merasa aman saat Dexter hadir sebagai pengawalnya. Namun, pria itu malah menjerumuskannya ke dalam penderitaan yang tak terbayangkan. Meski disiksa dalam jeratan neraka yang diciptakan Dexter, Vello justru memilih tetap bertahan. Walau ada banyak kesempatan untuk melarikan diri, ia enggan beranjak dari sisi sang bodyguard.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?