Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Preman Jatuh Cinta

Preman Jatuh Cinta

Rendi, penipu via telepon, terjebak saat korbannya, Mouza, justru memaki dirinya. Ketertarikan unik ini membawa Rendi mendekati gadis SPBU yang pernah tak sengaja menyiramnya bensin tersebut. Demi cinta, Rendi bertekad tobat dan meninggalkan dunia kriminal. Namun, masa lalu kelam menghancurkan ekonomi keluarganya hingga ia harus merantau ke Jakarta. Saat Mouza mulai jatuh hati, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan kontak dengan Rendi dan lamaran pria lain.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tuuttt! Tuuttt!

Nada dering yang menyatakan panggilan tersambung.

"Masuk, Cok!" kata Rendi ke teman-temannya dengan senyum sumringah.

"Ha...," suara korban menjawab.

Rendi tidak membiarkan korbannya berbicara, dengan cepat dia memulai

aktingnya, menangis histeris untuk meyakinkan korban.

"Mak... aku kecelakaan"

Suara riuh yang sengaja di buat menjadi background Rendi saat berbicara, agar terdengar meyakinkan.

"Mak ... tolong aku Mak! Mak!"

Korban terdengar gusar di seberang. 'Umpan bertemu ikan komandan'batin Rendi.

Tapi, kali ini Rendi benar-benar tidak menduga jawaban korban.

"Siapa Mamak kau?" suara di seberang lantang tidak ada suara kepanikan.

Rendi kembali berusaha meyakinkan tanpa menyebutkan nama.

"Aku loh, Mak! aku anak Mamak."

Orang diseberang terdengar menghela nafas.

"Kau kalau mau uang, kerja! bukan ngaku-ngaku jadi anakku trus minta uang, gitu 'kan maksudmu?"

'Sepertinya aktingku kurang meyakinkan' Monolog Rendi.

"Ishh, Mamak masa nggak perduli sama anak sendiri, Mak! tolong aku Mak!" Rendi mengeluarkan semua jurus aktingnya, agar dapat mengelabui korban, menangis dan terdengar sangat panik adalah jurus jitunya selama ini.

"Diam!" Suara di seberang membentak Rendi.

Pengeras suara yang aktif, membuat teman-teman Rendi mendengar teriakan korbannya.

Mereka terkejut bukan main, sepertinya mereka salah korban, suara riuh hasil dari suara yang di timbulkan mereka pun terhenti, hening sekejap.

"Sejak kapan aku punya anak, Hah? Pacar aja belum punya, kapan pulak anakku mencelat bisa kecelakaan, sinting kurasa kau, mau nipu aku pulak kau, kau jual ginjal kau itu sebelah kalau mau uang, malu kau sama monyet, monyet aja kerja biar makan, kau mau nipu, basi kali caramu"

Telepon di putuskan sepihak oleh calon korban yang gagal. Ya! gagal total. Mana calon korban lebih galak dari mama tiri lagi.

Aggrrh! Rendi mengacak rambutnya kasar, malam ini tidak jadi pesta miras. Mereka salah korban.

"Sabar, Boi! malam ini kita beli yang murah dulu, yang penting teler," Kata teman Rendi yang biasa disapa Bang Ucok.

Akhirnya tuak jadi tujuan terakhir. Harga murah tapi tetap membuat mabuk.

Mabuk adalah kebahagiaan tersendiri bagi Rendi. Entah sudah berapa banyak minuman beralkohol itu menggenangi tubuhnya.

Namun malam ini tak seperti biasanya, Rendi tidak bersemangat, bukan karena korban gagal masuk dalam jeratan, tapi, kata-kata perempuan itu berputar-putar di ingatan Rendi.

'Malu kau sama monyet, monyet aja kerja biar makan'

Rendi mengacak-acak rambutnya kesal, masa monyet lebih baik dari dirinya?

'Seburuk itu 'kah aku?' batin Rendi bergejolak.

Tuak yang teronggok di depannya sudah terlihat tidak nikmat. Ucok yang melihat temannya tak bersemangat menghampiri.

"Ngapa kau Ren, gak pala kau pikirkan kali kegagalan tadi, besok kita gas kan lagi," kata Ucok memberi energi positif bak Mario Teguh. Tapi, yang di semangati malah pergi.

"Cabut aku, Cok!" Rendi menyampirkan jaketnya di pundak.

"Mau kemana kau? gak asik kali ah!" panggil Ucok.

Rendi melambaikan tangan, menarik gas sepeda motornya, lalu pergi meninggalkan Ucok sendirian.

" Salah makan kurasa anak itu" Ucok bergumam sendirian.

Dilain tempat ada Mouza, gadis bertubuh mungil, bibir tipis dan mata bulat bak bola pimpong, sedang marah-marah tak jelas akibat tidur cantiknya di ganggu penelepon tidak tau aturan.

"Enak kali bibir dia manggil Mamak, dia kira aku pernah di kawini Bapaknya?" Mouza mengomel sendiri di kamarnya.

Matanya kini sulit diajak tidur kembali, padahal besok harus masuk shift pagi. Mouza bekerja sebagai operator di sebuah SPBU. Bosnya cukup galak, telat lima menit saja langsung potong gaji.

"Gara-gara penipu sialan itu lah ini ahh," Mouza uring-uringan.

Baru saja rasanya Mouza memejamkan mata, suara alarm sudah memekakkan telinganya. Mouza tersentak dan melirik jam di atas nakas, 05.30.

Mouza berlari menuju kamar mandi, hanya sisa waktu 30 menit, menurut Mouza adalah waktu yang sangat mepet berhubung banyak ritual wajib yang harus di lakukan di kamar mandi, seperti menghayal jadi istri Lee Min Hoo diatas kloset, menyanyi seperti Jessi J dalam kamar mandi, yang sering berujung teriakan Ibunya dari dapur.

Mouza berlari menuju Motor bebek kesayangannya, yang selalu menemaninya kemana pun pergi, mau di temani pacar, pacarnya masih sibuk syuting di Korea. Itu kehaluan Mouza yang suka lupa haluan.

Benar saja sampai di tempat Kerja, sepeda motor sudah mengantri panjang seperti kereta api. Hari ini jadwal Mouza dan temannya Rini berada di jalur pengisian sepeda motor.

Wajah Rini tampak menahan kesal.

"Ku kira udah tewas kau," Rini bicara ketus.

Mouza mendelik ke arah temannya.

"Biasa ajalah woi! baru telat 5 menit"

Rini memutar bola mata malas. Mouza bilang 5 menit, ini sudah setengah tujuh. Pergantian shift tengah malam ke shift pagi pukul 06.00. Mouza telat 30 menit, tentu akan membayar denda besar hari ini.

Suara klekson kendaraan riuh terdengar, jam pagi adalah jam paling sibuk, sudah jadi kebiasaan penduduk setempat berangkat bekerja atau sekolah dan mampir dulu mengisi bahan bakar. Bukan pemandangan baru jika kendaraan roda dua itu berbaris panjang, terkadang operator yang bertugas mengisi minyak ingin menangis karena pegal berdiri tanpa istirahat.

3S yang di terapkan SPBU kala itu, tidak berlaku pada jalur sepeda motor.

Jika harus melakukan Senyum, Sapa, Salam maka yang antrian belakang pasti sampai di tempat kerja atau sekolah sudah menjelang waktu pulang.

"Goceng." pelanggan terakhir hari itu. Seorang lelaki berperawakan tinggi, putih, matanya sayu dan berpenampilan khas anak muda berandalan.

Mouza mengisi tanki motor lelaki itu, entah karena lelah atau sepeda motor yang lebih tinggi, nozel pengisian minyak tersendat, hingga bensin yang akan diisi menyembur keluar membasahi wajah Mouza dan lelaki itu. Mouza terkejut bukan main.

Berulang kali Mouza meminta maaf, namun lelaki cungkring itu diam saja dan berlalu.

Rini yang melihat kejadian tadi menghampiri Mouza.

"Aduh, Za! kau dalam masalah besar," kata Rini sambil membereskan laci tempat uang untuk disetor ke kasir.

"Maksudmu?" Mouza malah balik bertanya.

"Yang pertama, kau telat 30 menit, kau akan bertemu dengan Pak tarigan, selain diceramahi kau juga akan dapat surat cinta alias total potongan gaji"

"Trus?" Mouza tidak sabar menanti pernyataan kedua Rini.

"Yang kedua, ini lebih besar, kau menyiram wajah preman Tanjung Anom" Jelas Rini sambil bergedik ngeri.

"Preman?lelaki cungkring tadi? alah, ditiup angin terbang itu, badan selidi, sok jadi preman,"jawab Mouza sepele.

Rini menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir kenapa temannya tidak mengenali preman yang di takuti satu kampung itu. Bahkan, kawasan kekuasan Rendi dan teman-temannya sampai ke Pajak Melati.

"Terserah kau ajalah, Za! tapi hati-hati sama dia, udah berkali-kali berulah tapi tetap bisa bebas, katanya uang Bapaknya banyak, nggak ada orang yang berani cari masalah dengan dia," jelas Rin.

Mouza berlalu meninggalkan Rini,tak menghiraukan perkataannya dan berjalan cepat agar Segera menghadap Pak Tarigan. Ya! dia akan menerima ceramah dan kertas daftar potongan gaji yang akan di potong bulan depan seperti kata Rini tadi.

Ternyata Pak tarigan melihat kejadian tadi dari CCTV, dia pun membahasnya, bukan hanya kesalahan menumpahkan minyak dan pelayanan yang tidak baik. Tapi, Pak Tarigan lebih mengkhawatirkan keselamatan Mouza. Pak Tarigan sampai rela mengkawal Mouza sampai ke gang rumahnya.

Rendi yang tak sudah-sudahnya mengumpati gadis Si Pengisi bensin itu.

"Sial!" maki Rendi sambil memukul tanki motor miliknya.

"Untung cantik, kalo gak udah kubanting tu perempuan" Rendi masih mengomel sendiri.

Ucok yang sedari tadi memperhatikan Rendi terkikik melihat ulah temannya.

"Kita kerjai cewek itu, cocok kam rasa?" usul Ucok.

Rendi teringat suara perempuan tadi malam yang membandingkannya dengan seekor monyet. Ada rasa aneh menghantam hatinya. Rasanya jiwa bruntal Rendi sirna, dia membayangkan wajah gadis tadi yang bicara dengannya tadi malam.

"Cantik," gumam Pelan.

"Kanapanya kau? Ahh, gak jelas kali anak ini jang, woii!" Ucok melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rendi.

Rendi tak merespon, dia malah senyum-senyum sendiri.

"Senget kurasa anak ini,udahlah mati kau situ, nggak asik kali." Ucok meninggalkan Rendi yang sibuk mengkhayal.

Di tatapnya layar ponsel yang menghubungi gadis semalam, nomor itu masih tertera disana. Rendi menyalin nomor itu ke ponselnya satu lagi.

Dia berniat menghubungi gadis itu kembali, kali ini bukan untuk meminta sejumlah uang, tapi, memenuhi sebuah gejolak yang sulit dia gambarkan.

"Tapi, bagaimana aku menghubunginya, apa yang alan ku katakan padanya?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Code Name Amaryllis
8.6
Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Sampul Novel ENTERNAL LOVE
9.0
Kehidupan Elgar hancur setelah penyihir hitam merenggut nyawa tunangannya, Carolina. Didorong dendam, ia berlatih di bawah bimbingan penyihir agung untuk memburu sang musuh. Namun, Elgar justru menghadapi pengkhianatan Putri Liana dan bertemu gadis misterius yang sangat mirip dengan Carolina. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: melanjutkan misi balas dendamnya atau mengungkap identitas asli gadis tersebut yang mengguncang jiwanya.
Sampul Novel Fatal
9.2
Esther terjebak dalam lingkaran penyesalan setelah insiden maut di masa lalunya merenggut nyawa seseorang. Kini, ia harus menanggung konsekuensi berat dengan menjalani pernikahan yang penuh penderitaan. Felix, kakak dari wanita yang tewas akibat kesalahannya, bertekad membalas dendam melalui ikatan tersebut. Esther pun terpaksa menerima peran sebagai istri yang disiksa demi menebus dosa besar yang pernah ia perbuat di bawah bayang-bayang amarah Felix.
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia
8.7
Akiko harus berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut di tengah penderitaan akibat kekerasan fisik orang tuanya sejak kecil. Nasibnya kian terpuruk saat ia jatuh ke tangan Glen Xander Mckenzie, seorang pemimpin mafia kejam yang bertekad menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, dinamika antara tawanan dan penculik ini berubah total seiring berjalannya waktu. Glen yang semula dingin justru mulai menaruh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Sampul Novel GADIS TAWANAN SANG MAFIA
8.9
Selena terjebak dalam nestapa setelah diculik Jeno Kusuma, putra pemimpin mafia Sembilan Naga yang bengis. Aksi nekat ini adalah bentuk balas dendam Jeno karena ayah Selena dianggap bertanggung jawab atas kematian papanya sekaligus mencuri stempel rahasia organisasi. Di tengah siksaan menjadi pemuas nafsu, Selena mencoba berbagai cara termasuk mengakhiri hidup demi lepas dari cengkeraman Jeno. Akankah ia berhasil bebas, atau justru terpaksa tunduk selamanya?
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?