Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Predestinasi Cinta

Predestinasi Cinta

Setahun sudah Nayyara Maheswari menjalin kasih dengan Tama, namun tembok besar berupa restu dan adat menghalangi mereka. Biaya 'membeli' mempelai pria yang fantastis membuat Nayyara merasa rendah diri. Di tengah kemelut itu, ia terjebak dalam skenario licik hingga tak sengaja menghabiskan malam dengan Khalingga, CEO sekaligus atasannya. Akibat pengaruh obat perangsang dalam makanan, takdir Nayyara dan putra pemilik perusahaan itu pun berubah selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tama membelokan mobilnya memasuki menara dari sebuah bank terkemuka di Indonesia. Ia memarkir mobilnya di tempat strategis, menurut pemikiranya yang dekat lift itu adalah strategis karena tidak perlu jalan terlalu jauh.

Tama keluar dari mobil dan sedikit berlari membukakan pintu untuk Nayyara.

Taman menggenggam tangan Nayyara dan meletakan di lengannya, "yuk."

Nayyara hanya bisa mengikuti kemauan Tama.

Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 56. Sesampainya di lantai yang dimaksud, mereka disambut oleh resepsionis lalu mempersilahkan mereka masuk dengan mudah. Sedangkan ada pengunjung yang tidak diperbolehkan masuk karena pakaian mereka tidak sesuai standar aturan.

"Kita duduk di luar aja."

Ajak Tama sambil mengedarkan pandangan mencari tempat yang kosong. Karena ini hari kerja jadi masih ada beberapa meja kosong.

Tama menawarkan Nayyara untuk duduk di dekat kolam yang mejanya bertuliskan reserved. Nayyara menolak karena yang ia dengar dari percakapan Tama dan resepsionis ada minimal order 1 jutaan.

"Engak ah, ada minimal order gitu sampe 1 jutaan."

Nayyara menggeleng tak setuju.

Akhir mereka random saja memilih meja yang kosong. Sebenarnya Tama tidak masalah dengan minimal order, tapi dia lebih menurut dan menghargai pendapat Nayyara.

"Kamu mau pesan apa?" Tama membolak-balikan menu

"Terserah kamu aja aku ga ngerti," jawab Nayyara pasrah.

Tama menunjuk gambar pada menu yang diikuti anggukan waitress. Tidak menunggu waktu lama pesanan mereka datang.

Nayyara mengambil minuman yang sudah dipesankan untuknya.

"Ini minuman apa Bang? Cantik banget rasanya unik, rasa apel campur jeruk nipis ada rasa-rasa berrinya juga."

Ia mengangkat dan memutar-mutar gelas minuman tersebut.

"Forget me not, minuman itu tu kaya kamu, penampilanya cantik rasanya unik pas dan seger," jawab Tama sambil mengunyah makanan dan menunjuk-nunjuk Nayyara dan minuman cantik itu bergantian.

Nayyara mencibirkan bibirnya mendengar perumpamaan Tama.

"Tau ah."

Nayyara menoleh ke samping seolah malas melihat Tama.

"Aku baru tau kalo di tower ini ada tempat seperti ini." Nayyara memandang lurus ke depan melihat pemandangan Jakarta pada malam hari. Ia menikmati indahnya kota Jakarta pada malam hari. Kilauan lampu dari berbagai bangunan, jalan dan kendaraan berbaur menjadi kesatuan yang indah seperti lautan cahaya.

Kini Tama berpindah tempat duduk di samping Nayyara. Memandang lurus ke arah yang sama.

"Orang-orang si bilang ini tu atap bumi Sky Bar and Restaurant."

Suasana yang nyaman untuk menikmati malam Jakarta, tanpa suara bising degupan musik DJ, bahkan hanya segelintir orang yang merokok di sana. Membuat siapapun betah berlama-lama untuk melupakan kesibukan kota Jakarta.

Setelah merasa kenyang dan puas, mereka memutuskan untuk pulang. Tama mengantar Nayyara pulang terlebih dahulu.

"Mau mampir?" Nayyara membuka seat beltnya.

Tangan Tama ikut membantu Nayyara melepaskan seat belt.

"Besok aja biar kamu bisa istirahat cepet."

Tama hendak membuka seat bealtnya namun ia urungkan karena Nayyara menahannya.

"Udah nggak usah turun."

Nayyara lalu membuka pintu mobil.

"Tunggu! ada yang ketinggalan."

Sebelum Nayyara keluar Tama mencegahnya.

Tama bermaksud melancarkan aksi balas dendamnya kepada Nayyara. Dia berusaha mencium pipi Nayyara namun tertahan oleh seat beltnya yang masih terpasang. Tama berusaha menarik-narik tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Nayyara tapi usahanya sia-sia.

"Isss pake nyangkut lagi ni."

Tama mendengus kesal.

Nayyara terkejut menyadari tindakan yang akan Tama lakukan kepadanya. Sedetik kemudian tersadar dengan posisi Tama yang masih menyangkut pada seat belt.

"Hahahaha," Nayyara tertawa puas.

"Kasian deh kamu."

Ia lekas pergi dan meninggalkan Tama di mobil.

Dari dalam mobil Tama melihat Nayyara yang berlari dan memasuki rumah. Tama masih tak habis pikir dengan kelakuan dirinya sendiri, yang tidak memastikan kelancaran aksinya, ia menggeleng-gelengkan kepala dan menertawakan kekonyolannya.

***

Paginya Nayyara bangun dengan keadaan yang masih terlihat berantakan khas orang bangun tidur. Kaos yang kebesaran dan celana boxer pendek yang nyaman untuk ia gunakan saat tidur.

Semua sudah bersiap untuk sarapan bersama. Nayyara terkejut ternyata Tama sudah datang dan ikut sarapan bersama orang tuanya.

"Abang!" Nayyara terkejut

"Dari tadi loh Tama datangnya, udah ngobrol-ngobrol lama sama Papa."

Pak Riswa berbicara sambil mengunyah makanan.

Tama hanya merespon dengan senyuman.

“Kamu nggak kerja Nay?" Bu Ani bingung melihat putrinya yang masih mengenakan kostum tidur kebangsaan.

"Aku hari ini izin Bu, mau jemput orang tua Bang Tama."

Bu Ani membulatkan mulutnya, "Ooo."

Mereka melanjutkan sarapan sampai habis. Selesai sarapan Nayyara ingin membantu bu Ani untuk cuci piring dan merapikan peralatan makan tapi malah dicegah karena sudah ada Tama yang menunggu.

"Yuk, jalan!" suara Nayyara membuyarkan konsentrasi Tama pada ponsel yang sedari tadi ia gunakan untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Nayyara berdandan, sudah dipastikan menunggu seorang wanita bersiap-siap tidak membutuhkan waktu yang sebentar.

Mereka lalu berpamitan kepada Bu Ani dan Pak Riswa untuk ke rumah Tama.

Sesampainya di apartemen Tama, Nayyara langsung bergegas ke dapur dan memasak. Ia memotong sayuran seperti kol dan wortel. Menyiapkan bumbu untuk dihaluskan dan merebus ayam dan daging.

Tama dari tadi hanya memperhatikan Nayyara lalu berjalan mendekati Nayyara,

"Kamu mau masak apa?"

"Aku mau bikin soto aja ya Bang, kan Abang bilang kalo Bapaknya Abang suka soto." ucap Nayyara sambil menggoreng bumbu halus yang berwarna kuning.

"Kamu bisa bikin soto?" bukanya menjawab Tama balas bertanya.

"Hhmmm" jawab Nayyara dengan berdehem.

"Hebat banget si kamu." Tama mengacak2 puncak kepala Nayyara.

Nayyara memisahkan kol, bihun, dan kentang setelah matang. Kuah soto yang mengepul dan mendidih menandakan soto sudah siap. Semuanya sudah ia pisah di wadah yang berbeda dan berjajar rapi agar mudah saat ia meraciknya.

Setelah selesai memasak Nayyara merapikan apartemen Tama yang sebenarnya sudah tertata rapi.

"Ok finish" ujarnya setelah selesai memasak dan merapikan apartemen Tama.

"Kamu makan lagi Bang?" Nayyara heran melihat Tama seperti orang belum sarapan padahal ia sudah sarapan cukup banyak di rumahnya. Ya begitulah Narotama sikap yang humble dan apa adanya membuat orang nyaman terhadapnya tanpa rasa sungkan.

"Iya abis soto kamu enak banget sih," Tama menyantap soto buatan Nayyara yang entah sudah mangkuk keberapa.

Nayyara duduk di samping Tama, "Mau ke bandara jam berapa?"

"Jam 13.00 kita berangkat." Tama menggeser mangkuk nya yang sudah kosong.

Nayyara mengangguk, lalu ia mengambil mangkuk kotor milik Tama dan menuju dapur untuk mencucinya.

"Astaga aku lupa bikin bawang gorengnya." Nayyara menepuk jidat, ia langsung mengambil bawang merah dan segera ia mengupas lalu memotongnya.

Air mata Nayyara menetes merasakan perih akibat memotong bawang.

"Kamu nangis?" Tama langsung memutar tubuh Nayyara hingga menghadapnya.

Nayyara mengerjap-ngerjapkan mata, "Nggak apa-apa udah biasa kalo motong bawang emang kaya begini"

Tama menghapus air mata di pipi Nayyara. Seketika pandangan mata mereka saling bertemu.

Rasa panas tiba-tiba menjalar di wajah Nayyara. Tangan Tama masih berada di pipi Nayyara, Tama semakin dalam menatap manik milik Nayyara, debaran jantung Nayyara semakin tak terkendali. Tama memberanikan diri untuk memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka.

Nayyara terdiam rasa takut akan teringat kejadian kelam masa lalu membuat dadanya bergemuruh.

"Boleh?" Tanya Tama pelan.

Entah harus menjawab apa, Nayyara hanya mengangguk.

Saat tidak ada lagi jarak di antara mereka. Nayyara sedikit menahan tubuh Tama.

"Jangan dipaksa," ujar Tama sambil mendorong pelan kepala Nayyara dengan satu telunjuknya.

Saat Tama ingin membalikan tubuhnya, Nayyara menahan Tama dan memberanikan dirinya menci*m Tama.

Jantung Nayyara semakin berdegup kencang ia bingung harus apa lagi.

Sedangkan Tama sedikit terkejut tapi sedetik kemudian ia tersadar dan menikmati benda kenyal milik Nayyara.

Nayyara masih tertegun pada posisi awal, tubuhnya sangat kaku, jantung masih terus memompa begitu cepat, ia hanya membiarkan Tama bergerak aktif.

Sensasi manis dan lembut dari bibir Nayyara, serta aroma bunga yang lembut dari tubuh Nayyara, membuat Tama tidak mau berhenti untuk menikmatinya.

Entah memiliki keberanian dari mana Nayyara membuang dan melupakan lukanya. Perlahan ia terhanyut akan sentuhan Tama memberanikan diri untuk membalas dan merespon gerakan Tama.

Keraguan di hati yang sempat mendominasi hati dan pikirannya telah lenyap. Tubuh yang tadinya menolak sekarang tidak sungkan untuk menerima dan membalas.

Gerakan mereka semakin berirama saling berbalas, meluapkan perasaan satu sama lain. Yang sesekali terjeda untuk memenuhi udara di paru-paru mereka masing-masing

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayo Bercerai!!
8.4
Adeline telah mencapai batas kesabarannya setelah terus-menerus dianggap remeh oleh Devon. Baginya, pria itu kini lebih buruk dari sampah yang tak bernilai. Ketegangan memuncak di ruang makan saat Devon mendengar hinaan Adeline secara langsung. Dengan amarah yang meluap, sang tuan muda mencengkeram dagu Adeline dan memberikan peringatan keras agar ia tidak mencoba bermain api. Namun, Adeline tidak lagi takut untuk melawan dominasi dingin suaminya tersebut.
Sampul Novel Bos Mencuri Ciuman dari Istrinya yang Hamil Setelah Bercerai
8.3
Penderitaan akibat keluarga memaksa Kayshila Zena menikahi Zenith Edsel, pria paling berpengaruh di Jakarta. Namun, tuduhan mencederai kesetiaan di hari pernikahan membuat hubungan mereka hancur. Usai melahirkan dan menandatangani perceraian, Kayshila menghilang. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali membawa sang buah hati dan melamar sebagai dokter pribadi Zenith. Sang miliarder yang dingin justru dengan sengaja menerima kehadirannya, bahkan menyayangi anak misterius tersebut seperti darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel ISTRI KONTRAK SANG CEO
8.0
Masa berlaku pernikahan kontrak antara Rehan dan Merry hampir usai, namun benih cinta justru mulai tumbuh di hati sang CEO. Meski Rehan enggan jujur, Merry tetap bersikeras mengakhiri ikatan perjodohan orang tua mereka. Di tengah ketegangan itu, seorang model cantik hadir menggoda Rehan saat isu perceraian merebak luas. Merry berusaha ikhlas melepaskan segalanya, sementara Rehan terjebak dilema antara mengungkap perasaan atau membiarkan Merry pergi selamanya.
Sampul Novel Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
8.3
Leanna dipaksa bercerai setelah dikhianati suami dan mertuanya dalam pernikahan yang didasari utang. Usai berpisah, ia bangkit dengan harta gono-gini dan kebebasan penuh. Leanna mengungkap jati dirinya sebagai peretas ahli, pembalap, profesor medis, hingga desainer perhiasan ternama. Meski simpanan mantan suaminya terus mengganggu, ia tetap tak tergoyahkan. Hingga akhirnya, Matthew hadir dan menawarkan diri untuk menjadi suami baru bagi sang wanita jenius ini.
Sampul Novel My Possessive Sugar Daddy
9.6
Terhimpit kemiskinan dan tekanan kaum elit, Fahira terpaksa mengesampingkan prinsip hidupnya demi menjadi sugar baby milik Fatih. Meski batinnya berontak, tawaran sang CEO tampan itu menjadi satu-satunya jalan keluar dari jerat nestapa. Kehidupan Fahira pun berubah drastis berkat gelimang harta, namun kemewahan tersebut nyatanya membawa petaka baru. Ia kini harus menghadapi berbagai sabotase licik dari saudara sepupunya sendiri yang berusaha menghancurkannya.