
Pras and his destiny
Bab 3
Gaun mahal berwarna hitam dengan aksen emas di pinggang begit pas dengan tubuh Laurent yang proporsional. Rambutnya ia blow bergelombang, warna lipstiknya yang merah juga menjadi senjata untuk menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Kedua bahunya juga tampak terbuka, betapa seksi Laurent. Ia berada di kamar apartemennya. Menunggu telepon dari ajudan Pras untuk memberi tahu jika pria itu sudah tiba di lobby.
"Oke Laurent. Just gala dinner. No full service." Ia berbicara dengan dirinya sendiri saat berdiri di depan cermin.
Laurent mengambil mantel berwarna merah untuk menutupi penampilannya saat keluar dari apartemennya.
***
Langkah kakinya anggun menghampiri Pras yang berdiri dengan sudah menatapnya sejak ia baru keluar dari lift. Laurent tersenyum. Ia akan lebih baik dalam bersikap kepada Pras karena pria tersebut sudah membayar jasanya sejak beberapa jam lalu.
"Good evening sir," sapa Laurent.
"Hm." Jawab Pras lalu berjalan bersama Laurent hingga ke dalam mobil SUV hitam. Pras membukakan pintu yang bergeser secara otomatis. Mempersilakan Laurent masuk terlebih dahulu. Andreas yang menyetir. Ia juga memberi salam kepada Laurent yang tampak luar biasa.
"Jaga mata mu Andreas." Tegur Pras sambil menekan tombol di pintu. Laurent hanya terkekeh dan duduk dengan anggun.
Selama perjalanan, Pras menceritakan tentang siapa saja orang-orang yang akan hadir di sana. Laurent harus bersikap apa dan mengakui bahwa ia adalah kekasih Pras.
Pras sudah mulai tak waras. Ia harus melakukan itu demi menghindar gunjingan orang-orang dan para wanita matre yang ingin mendekatinya.
Laurent paham. Ia lalu melihat hotel super mewah yang menjadi lokasi mereka. Ia membenarkan posisi duduknya dan melepaskan mantel yang ia gunakan.
Wangi parfume yang dikenakan Laurent sangat menggoda Pras. Ia tertegun melihat wanita bayaran di sebelahnya. Seorang pelacur kelas kakap.
Laurent menoleh. "What? Nggak pernah lihat perlacur se-seksi saya?" Laurent pun tak risih menyebut dirinya pelacur.
"No. I just--" Pras menatap lekat sambil memiringkan kepala.
"Berapa umur kamu?" tanya Pras. Ia menelisik penampilan Laurent.
"Tiga satu. And you?" Laurent balas menatap Pras. Jarak wajah mereka pun cukup dekat.
"Hampir lima puluh." Jawab Pras masih dengan menatap lekat Laurent.
"Hmh. Well.. hot sugar daddy right? Pasti banyak anak gadis yang jadi korban kamu."
Senyum sinis Laurent pun tampak. Pras menatap lekat ke kedua netra mata wanita di hadapannya. Laurent sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Pras.
"I dont know. Menurut kamu?" Ibu jari Pras memegang dagu Laurent lalu memainkan di tepi bibir bawah Laurent. Keduanya diam.
"No kiss or anything else. Paham?" ucap Laurent berbisik menggoda. Pras tersenyum. Ia kembali duduk bersandar.
"I know." Ia melepaskan jemarinya dari wajah dan bibir Laurent lalu tersenyum sinis.
"Saya cuma mau lihat kamu lebih dekat. Ternyata kamu--" Pras menoleh ke Laurent yang menunggu kelanjutan ucapan pria itu.
"Biasa aja. Nggak menarik." Pras lalu mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang. Ia berbicara dengan bahasa inggris.
Laurent menatap sinis. Ia lalu melihat Andreas terkekeh dari pantulan spion tengah.
'Dia belum tahu siapa gue.' Laurent merengut. Ia membuang tatapan ke luar kaca mobil.
Sedangkan Pras melirik ke Laurent sambil berbicara di telepon namun sudut bibirnya menunjukkan senyum tipis.
***
Mereka berjalan bersama masuk ke dalam tempat acara.
"Bisa profesional kan, Rent? I will pay you more. Saya harus melakukannya."
"Why?" Mereka berbicara saling berbisik.
"I need your help. And trust me, nanti kamu juga akan tahu."
"Emang kamu mau ap--"
Pras sudah mengecup bibir seksi Laurent sebelum ia selesai bertanya.
"PRASSS!" Suara itu terdengar senang dan terkejut menyambut kedatangannya. Laurent diam dan berusaha kembali sadar.
"Hai Steve!" Sapa Pras sambil berjabat tangan dengan pria pengusaha yang merupakan rekannya.
"Welcome Pras. Stay disini kan. Udah lah, jangan ngilang di Swiss terus." Ledek Steve. Kedua mata pria itu tertuju pada Laurent yang sejak tadi mencoba santai karena jemari tangan kanannya digenggam erat Pras.
"Ya. Tapi hanya sementara. Dua minggu," jawab Pras sambil terkekeh. Steve menunjuk ke Laurent.
"Oh. Ya, this is Laurent, calon masa depan saya, Steve." Steve mengulurkan tangan dan disambut Laurent. Mereka berjabat tangan. Namun kedua mata Steve menatap nakal ke Laurent yang disadari Pras.
"Kita masuk." Pras mencium pipi kanan Laurent.
"Sure," jawab Laurent lalu menarik tangannya dari tangan Steve. Pras mengeratkan genggamannya.
"Sakit Pras, biasa aja kali." Bisik Laurent. Pras menoleh.
"Sorry...." jawabnya. Mereka lalu kembali menyapa orang-orang yang ada di sana. Laurent pun selalu dikatakan calon masa depan seorang Pras.
Ia mulai tak nyaman. Bukan karena julukan itu. Tapi karena Pras begitu possesif dan sesekali melakukan skinship atau mencium beberapa kali jemari dan pipinya.
"Aku mau klaim ke kamu banyak. Udah berapa kali kamu cium-cium aku, Pras!" Bisik Laurent mulai emosi.
"Please. Nggak lama lagi kita pergi dari sini dan aku transfer berapa pun klaim yang kamu minta. I need your help."
Pras berbicara sambil berbisik juga. Laurent menghela napas. Mengapa pria dewasa di hadapannya seperti berbeda dari pria yang suka memakai jasanya dan tampak sorot mata kesedihan di dalamnya.
"Oke, aku bantu. Pras, disudut sana ada beberapa laki-laki dan wanita yang lihatin kamu terus Pras. Siapa mereka?"
Laurent sudah mengamati sejak mereka duduk ditempatnya. Keempat pasang mata itu menatap tajam ke mereka berdua.
"Aku ceritain nanti. Aku juga sudah sadar. Sekarang, i want you to kiss me, real kiss, paham kan?" Wajah Pras sudah begitu dekat dengan wajah Laurent.
"Hah?" Laurent terkejut.
"Rent. Do it your job. Now."
Lalu Laurent menempelkan bibirnya di bibir Pras. Laurent cukup kaget karena Pras sedikit melakukan lebih. Lalu melepasnya.
"Thank you, and.. see. mereka nggak liatin kita lagi, kan?" Laurent menoleh. Dan benar. Ia menoleh ke Pras yang menatapnya.
'Sialan, Pras!' Geram Laurent dalam hati. Ia harus bisa mengontrol kekesalannya. Jantungnya sedikit berdegup saat merasakan bibirnya di sentuh lembut oleh Pras.
Pras bertepuk tangan saat fokus melihat tampilan mobil yang akan masuk ke pasar otomotif tanah air. Sedangkan Laurent menatap Pras yang begitu maskulin juga tampak awet muda dengan rahang tegas dan tubuh atletis itu
'Laurent. Stop!" Ia merutuki dirinya sendiri. Menggigit-gigit bibir bawahnya karena kesal.Napasnya tercekat saat Pras mengecupnya lagi.
"Jangan di gigit-gigit. Banyak mata laki-laki yang lihatin kamu dari tadi. Paham?" Bisik Pras. Laurent mengangguk.
Ah, Laurent. Sosok angkuhnya menguap begitu saja dengan perilaku Pras. Ia kesal dan sebal sendiri. Pesona Pras tak terkalahkan. Bahkan untuk seorang Laurent yang kini kembali menatap Pras walau hanya dari samping.
Anda Mungkin Juga Suka





