
POTRET KEHIDUPAN SANG PELAKOR
Bab 2
Buah hati Resti dan Donny merupakan anak yang baik dan pintar. Si sulung Deshinta masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD), anak kedua Deo kelas empat Sekolah Dasar (SD), dan si bungsu Dita masih berumur empat tahun.
"Ayah, temani aku bermain,” rengek Dita.
"Main sama kakakmu saja."
"Ayah, bunda kapan pulang?" tanya si sulung Deshinta.
"Mungkin besok sampai. Kamu ajak dulu tuh Dita main. Ayah capek." Jawab Donny memainkan ponselnya dan saling berbalas pesan dengan Kanya.
Deshinta segera menggandeng tangan mungil Dita. Diajaknya ke teras. Bi Inem, ART di rumah sedang banyak kerjaan sehingga tidak bisa mengajak mereka bermain.
"Biasanya Ayah kan suka pergi kalau hari minggu. Tumben sekarang Ayah di rumah?" tanya Deo dari arah dapur sambil menyeruput susu miliknya.
"Jagain kalian, bunda kan pergi. Lagian Ayah capek," jawab Donny.
Akhirnya ketiga anak Donny pun tidak mengganggu ayahnya dan bermain bersama. Deo memilih bermain game di komputer, ia tidak bermain lagi bersama saudaranya.
Tiba-tiba Dita menangis sangat keras lantaran jatuh di halaman rumah. Ia tersandung batu besar saat berlarian mengejar Deshinta.
Donny pun menghampiri dengan geram dan mulai menyalahkan Deshinta.
"Kamu gimana sih kak, jaga adek kamu aja nggak bisa?" tanya Donny seraya berkacak pinggang.
"Jangan marahin kakak ayah, Dita jatuh sendiri tadi.. Huhu huhu huhu," jawab Dita masih menangis.
Tiba-tiba ponsel Donny berdering ada telpon dari Kanya.
"Sayang, ke appartement dong, masih belum pulang kan Resti?" tanya Kanya.
"Hari ini aku belum tega ninggalin anak-anakku sebelum Resti datang. Aku ga bisa gitu aja ninggalin mereka sama bi Inem di rumah," jawab Donny.
Suara Dita sangat keras hingga membuat Kanya mendengarnya. "Berisik banget sih. Kayak gitu kamu betah ya di rumah?!"
Kanya menutup teleponnya dengan kasar.
Donny sontak kaget melihat sikap Kanya yang tak lagi sama. Pasalnya, pertemuan pertama mereka berawal saat Donny sedang menjaga Dita yang masih berumur satu tahun di sebuah restoran. Dita yang menangis karena bundanya sedang ke kamar mandi dan tak kunjung tiba, mendadak diam saat Kanya menggendongnya. Saat itu Kanya kebetulan sedang menunggu temannya di meja dekat Donny, Resti, dan Dita makan. Sedangkan Deo dan Deshinta tak ikut karena menginap di rumah eyang mereka yang tak lain adalah orang tua Donny.
Donny merasa Kanya lebih baik dari Resti. Ditambah lagi raut wajah Kanya yang begitu cantik. Terlihat jelas bahwa Kanya sangat merawat tubuhnya dengan baik. Sedangkan Resti semakin menggemuk semenjak melahirkan Dita dan belum sempat merawat diri.
Tanpa pikir panjang Donny mengajak Kanya berkenalan dan mereka saling jatuh cinta hingga sekarang.
Donny tak ingin melepas Resti, karena Resti memiliki warisan yang cukup banyak dari mendiang almarhum ayahnya. Jika ia mengakui Kanya sebagai istri sirih di depan Resti, maka warisan itu tak lagi ia nikmati.
Resti juga seorang pengusaha yang juga lumayan sukses. Memiliki banyak karyawan. Omset per bulannya bisa sampai puluhan juta. Sedangkan Donny menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan.
[Mas, anak-anak udah makan?]
Sebuah pesan masuk ke notifikasi di ponsel Donny.
[Sudah, anak-anak udah mau tidur sama Bi Inem. Kira-kira jam berapa besok kamu sampai?]
[Sekitar jam 12 siang mas. Kamu bisa jemput di stasiun kan? Biasanya saat makan siang kamu bisa ijin dulu.]
[Nggak bisa Res. Ada jadwal meeting di luar kantor. Kamu dijemput supir kantorku ya. Nanti aku hubungin dia.]
[Iya Mas, tapi kamu jangan sampai lupa makan ya.]
***
Hari ini, waktunya Resti tiba di stasiun. Seperti janji Donny, ia meminta Pak Eman supir kantornya untuk menjemput Resti. Sedangkan sebenarnya Donny tidak ada meeting hari ini.
Kanya minta bertemu di rumah sakit untuk menemaninya kontrol ke dokter kandungan.
"Sayang, kok baru dateng sih? Tinggal satu orang lagi tuh pasiennya," tanya Kanya.
"Maaf sayang, ada yang harus aku urus dulu. Lagian tadi Resti memintaku jemput di stasiun. Tapi aku udah minta Pak Eman untuk jemput dia. Kan aku mau nemenin kamu kontrol. Hehe," jawab Donny sambil merayu dan menempelkan kepalanya di pundak Kanya.
"Kamu ini selalu membuatku ga bisa marah."
"Ibu Kanya!" panggil Suster. "Silakan masuk bu."
"Siang Bu Kanya dan suami. Silahkan langsung saja kesitu. Saya periksa USG yaa," sapa dokter Hendrik.
"Iya Dok.”
Setelah dokter menggerakkan alat itu di perut Kanya, dokter tersenyum dan berkata, "Anak ibu dan bapak ini kembar."
Donny dan Kanya saling bertatapan. Kanya nampak tak menyukainya. Itu artinya appartement akan semakin ramai.
Setelah keluar dari ruang dokter mereka menuju kantin rumah sakit. Diayunkannya langkah Kanya dengan lemas dan wajah yang ditekuk.
"Sudah dong, Sayang. Nggak apa-apa kalau dua. Bonus dong itu," kata Donny.
"Gila ya kamu. Repot banget aku urusnya. Mana kamu jarang nemenin aku. Aku nggak suka kalau harus pakai baby sitter. Nanti kalau nggak sesuai kerjanya dengan mauku gimana?" tanya Kanya.
"Aku ada ide. Gimana kalau nanti kita pisahkan saja mereka. Yang satu kita titipkan di panti asuhan," jawab Donny sambil tersenyum.
"Hmm... Iya sih. Biar nggak repot yaa.”
Mereka pun duduk di kantin lalu memesan makanan. Kanya merasa mual. Ia tak ingin makan di tempat seperti ini. Lalu Kanya meminta Donny untuk pindah ke restoran di sebrang rumah sakit yang terkenal dengan makanannya yang mewah dan mahal.
Anda Mungkin Juga Suka





