
POTRET KEHIDUPAN SANG PELAKOR
Bab 3
"Eh udah pulang, Mas." sapa Resti.
"Iya udah. Gimana ibu? Udah sehat ya." tanya Donny.
"Udah alhamdulillah.. Oh iya Mas, bulan depan ada tanggal merah tuh, bisa nggak kamu ambil cuti?"
"Emangnya kenapa?"
"Ibu minta kita berlibur ke Jogja. Kangen sama anak-anak. Ya namanya ibu sudah tua Mas, kita kan nggak ada yang tahu umur sampai kapan. Lebih baik menuruti kemauan ibu."
Donny berpikir sejenak. Apa bisa Kanya ditinggal sebegitu lamanya?
Belum ada jawaban dari Donny. Ia bergeming dan meninggalkan Resti di ruang tamu beserta ketiga anaknya. Resti paham, Donny bukan orang yang mudah memutuskan sesuatu. Jadi nanti mungkin Resti akan menanyakannya kembali.
Di kamar tidur Donny mengirimkan pesan kepada Kanya.
[Resti mengajakku berlibur ke Jogja bulan depan. Sementara aku tak bisa ke tempatmu dulu ya.]
[Gila ya kamu. Itu kan kurang lebih empat hari kalau ditotal dengan hari sabtu dan minggu.]
[Nanti aku bawakan oleh-oleh deh untuk kamu. Kalau aku menolak, takutnya Resti malah curiga. Aku kan nggak ada alasan untuk menolak.]
[Ya, bilang aja kamu nggak bisa ambil cuti banyak. Semalam di aku dong. Berikutnya kamu sama mereka deh.]
[Oke sayang.. Makasih ya. Aku janji bakalan bawain kamu oleh-oleh. Sebelum ke Jogja aku akan sering bersamamu.]
Mereka pun mengakhiri percakapan. Lagi-lagi Kanya menggerutu sepanjang malam. Ia mencoba membuat hatinya lebih baik. Dipesannya makanan secara online. Lagipula mengandung bayi kembar menyebabkan ia mudah lapar.
Sebentar lagi ia akan mengumumkan kehamilan pada anak-anak kantor, teman, dan keluarganya. Perutnya yang semakin membesar tidak mungkin ia sembunyikan selamanya.
Pukul 2 pagi, Kanya tiba-tiba mual dan muntahl. Seluruh makanan yang ia makan hampir dimuntahkannya.
[Sayang, aku muntah.]
Ponsel Donny berbunyi sedangkan ia sudah tertidur. Namun Resti yang baru masuk ke kamar mendengar bunyi notifikasi pesan di ponsel Donny. Ia pun melihat pesan itu di layar ponsel Donny dan membuatnya seketika sangat terkejut.
Resti pun mengguncangkan tubuh Donny.
"Mas. Mas.. Bangun!"
"Heu.. Ada apa sih banguninnya kayak gitu."
"Ini siapa Kanya? Dia bilang muntah. Kamu selingkuh?" tanya Resti.
"Ng.. Pasti dia salah kirim pesan. Udahlah kamu tidur.. Udah pagi ini. Kanya itu teman kantor," jawab Donny.
"Benar?"
"Iya. Udah tidur lagi. Besok kan kamu harus urus karyawanmu lagi. Katanya ada yang perlu kamu selesaikan mengenai gaji mereka pagi-pagi kan?"
Resti pun percaya dan mencoba untuk tidur kembali. Sesekali pertanyaan di benak Resti muncul. Tapi kembali dihilangkannya pikiran curiga itu. Ia lebih memilih percaya dengan Donny.
Saat dirasa Resti tidur, Donny pun membalas pesan Kanya.
[Maaf ya Sayang, aku nggak bisa nemenin. Coba minum teh manis hangat dan paksakan untuk tidur lagi ya.]
Kemudian Kanya tak membalasnya lagi. Kondisi hamil muda seperti ini seharusnya Donny menemaninya. Tapi untuknya yang hanya berstatus istri sirih harus menerima kenyataan ini. Apalagi Donny yang belum juga memberi kepastian pengakuan kepada Resti.
***
"Jadi gitu. Gue emang lagi hamil guys. Tapi bapaknya nyeleweng. Sorry juga nggak ngabarin pas gue nikah soalnya emang acaranya nggak besar-besar banget." Kanya menjelaskan hal yang sama ke teman-temannya termasuk teman kantor.
"Lihat dong fotonya," ujar salah satu dari mereka.
"Yah, udah gue hapus. Ngapain nyimpen foto orang yang udah ninggalin gue," sahut Kanya.
Selesai. Kanya sudah tidak terbebani lagi bagaimana ia harus menceritakannya kepada semua teman-temannya.
Hanya saja ia harus memikirkan bagaimana ia menceritakannya dengan orang tua. Kali ini ia tidak mau berbohong. Karena bagaimana pun juga cepat atau lambat semua akan terbongkar. Apalagi jika anak yang ia kandung sudah tumbuh besar.
[Sayang, malam ini aku minta kamu ke appartement ya. Ada yang harus kita bahas.]
Kanya mengirimkan pesan kepada Donny. Setelah itu ia menaruh ponselnya di meja bar.
Kanya sangat lelah hari ini. Kerjaannya menumpuk. Banyak jumlah laporan komplain dari customer yang harus ia follow up belakangan ini. Tanggung jawabnya sangat besar saat harus memberikan laporan ke direktur. Memang direkturnya merupakan teman lamanya. Tapi ia berusaha untuk tidak mengecewakan temannya agar segala ijin yang ia minta bisa berjalan lancar. Mengingat usia kehamilan Kanya yang butuh banyak waktu untuk kontrol ke dokter.
Kanya bergegas mandi dan berganti baju. Ia memasak makan malam. Lalu memakannya di depan tv.
[Iya, Sayang.]
Donny membalas pesan Kanya.
***
"Ah sayang, aku kangen.." Donny sudah tiba di appartement malam ini. Seperti biasa Donny bilang kepada Resti bahwa ia pulang malam karena ada meeting
"Mmuaah.."
Mereka berciuman kurang lebih 15menit sampai akhirnya Kanya melepasnya.
"Sudah. Bersihkan dulu pakaianmu. Lalu ganti baju," kata Kanya.
Setelah Donny sudah berganti baju, mereka pun lanjut mengobrol di depan TV sambil memakan cemilan.
"Perutku sudah semakin membesar. Kamu tau kan ini. Sudah saatnya memberi tahu kedua orang tuaku. Dan aku tidak mau berbohong lagi kali ini. Aku ingin mereka tau siapa sosok yang menghamili aku. Karena suatu saat mereka pasti akan bertemu dengan anak kita. Oh ya daripada taruh di panti asuhan, lebih baik dititipkan mereka anak kita yang satunya lagi nantinya," jelas Kanya.
"Iya baik. Kalau itu yang kamu mau. Tapi setelah kepulanganku dari Jogja ya. Biar tak ada beban tanggungan saat aku ke Jogja."
"Okey.."
Malam terasa sunyi. Hanya ada mereka berdua. Setelah percakapan itu tanpa pikir panjang Donny segera meraih wajah Kanya. Diciumnya bibir Kanya penuh nafsu. Dipegang pinggangnya. Dan mereka menjalin kasih lagi di malam ini seperti biasa.
Anda Mungkin Juga Suka





