Sampul Novel Poligraf

Poligraf

8.4 / 10.0
Dalam novel Poligraf, seorang remaja menghadapi dilema saat sentuhannya mampu mendeteksi kebohongan. Di tengah konspirasi mystery dan elemen sci-fi, ia harus mengungkap kebenaran sebelum rahasia itu menghancurkannya. Baca mystery story ini di koleksi fiction books kami sekarang.
Ringkasan Poligraf
Bayangkan sebuah realitas di mana rahasia tidak lagi aman karena setiap kebohongan dapat terungkap hanya melalui kontak fisik. Dalam kisah fiksi ilmiah remaja ini, sebuah sentuhan menjadi alat pendeteksi kejujuran yang sangat mematikan. Saat batasan antara kebenaran dan tipu daya mulai memudar, karakter utama harus menghadapi konsekuensi dari kekuatan misterius ini. Apakah kejujuran mutlak membawa kedamaian, atau justru memicu kehancuran dalam hidup mereka?
Baca Selengkapnya

Poligraf Bab 1

Napasnya tinggal selembar. Rasa sakit yang menghantam pencernaannya sudah tak bisa lagi diajak bermufakat. Pria itu tahu riwayatnya hampir tamat. Selama lebih dari 23 tahun hidupnya, ia sadar tak banyak yang telah dilakukannya. Meskipun begitu, tak ada yang bisa disesali. Justru ia harus bersyukur karena dilahirkan dari keluarga harmonis idaman banyak orang walaupun tidak punya banyak uang. Jika ada yang membuatnya menyesal, mungkin karena dalam hidupnya yang singkat harus bertemu dengan wanita itu. Wanita yang memorak-porandakan harinya. Wanita yang memberinya minuman beracun dan menontonnya terkapar tanpa sedikit pun bersimpati. Wanita yang membunuhnya. Wanita yang ia cintai.

Jadi, seperti inikah akhirnya? Sekarat sendirian, jauh dari orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Bertemu malaikat maut tengah malam di bukit yang gelap, tanpa lampu apalagi kamera pengawas. Sungguh penghabisan yang tak elegan. Ironisnya, bukit tempatnya mempertahankan nyawa ini jaraknya tak jauh dari rumahnya. Ia bertanya-tanya berapa lama mayatnya baru akan ditemukan jika tewas di sini dan bagaimana reaksi keluarganya menemukan anak laki-lakinya menutup mata seorang diri hanya beberapa kilometer saja dari kamarnya?

Bukannya ia tidak mau minta tolong, ia sudah mencobanya, tapi siapa yang akan mendengar suaranya di tengah bukit gelap yang jarang didatangi orang ini? Ia cuma bisa merayap beberapa senti dari kaleng minuman bersoda favoritnya yang ditenggaknya tanpa curiga. Menjauh dari zat yang sebentar lagi membunuhnya.

Sayup-sayup ia mendengar suara. Bukan suara desau angin yang menampar dedaunan atau suara binatang malam yang tengah bergosip. Ia meruncingkan pendengarannya dan nyaris melompat gembira karena suara yang didengarnya adalah suara langkah kaki yang berlari dengan irama yang tetap, seperti sedang joging. Tapi, siapa yang cukup sinting untuk joging tengah malam begini? Ia memilih tak peduli karena harapannya untuk selamat mendadak timbul.

Sesosok pria berkaos biru dan bercelana olahraga hitam yang sepertinya seumuran dengannya muncul di depannya dari balik semak. Di telinga pria itu terpasang earphone.

Begitu melihatnya, pria itu terperanjat dan bergegas mendekatinya lalu memegang lengannya.

“Lo kenapa? Sakit? Ayo ke rumah sakit.”

Pria itu terlihat panik.

Ia tiba-tiba merasa harus mengatakan sesuatu.

“Ra..cun…, ra…cun….”

Sekarang pria itu tercengang.

“Siapa yang ngelakuin?”

Baru saja ia merasa bahagia karena berpikir bisa hidup, rasa sakit bercampur shock yang teramat hebat menghajar perutnya. Sepertinya, ia harus pergi malam ini. Tapi sebelum itu, ia mesti melakukan sesuatu.

“Fa…tih…, Fa…tih….”

Dalam pandangannya, pria itu kelihatan sedang mendengarkan. Namun, sesaat kemudian, di wajah pria itu nampak raut kesakitan, tangan pria itu yang menyentuh lengannya terasa gemetaran. Seluruh tubuhnya juga bergetar, entah karena pria itu atau shock yang menerjangnya. Kemudian semuanya lindap.

###

Malam yang sunyi terkoyak oleh suara sirene mobil polisi dan ambulans yang seolah berlomba meraung paling kencang. Bukit yang sehari-harinya jarang didatangi orang mendadak ramai. Garis polisi berwarna kuning mengelilingi sepetak area, menandakan tempat seorang mayat pria muda ditemukan.

Tidak jauh dari situ, pria berkaos biru dan bercelana olahraga hitam bernama Alkala Nakula tengah menenangkan diri. Masih tak percaya dirinya menjadi saksi mata sebuah kasus pembunuhan. Statusnya sebagai mahasiswa jurusan hukum di Universitas Ryha, kampus terbesar di kotanya, memang membuatnya memelajari hukum, termasuk hukum pidana. Namun, untuk terlibat secara langsung dalam sebuah kasus itu agak di luar ekspektasi.

Tapi, yang membuat Kala –nama panggilannya- merasa gelisah bukanlah keterlibatannya, melainkan kata terakhir yang diucapkan pria itu saat sekarat. Sebuah nama. Fatih.

Jika mengikuti kebiasaan umum, nama itu diasumsikan diucapkan korban sebagai pelakunya. Namun, bagi Kala, hal itu tidaklah sesederhana yang terlihat. Alasannya, karena Kala memiliki kemampuan aneh, yaitu dapat mengetahui seseorang berbohong atau tidak dengan menyentuhnya, hampir sama dengan poligraf atau pendeteksi kebohongan yang digunakan untuk menginterogasi pelaku kejahatan.

Kalau seseorang berbohong, akan muncul sesuatu yang bersuara seperti besi dipukul disertai suara mengucapkan “bohong” berulang-ulang dalam kepala Kala bila ia menyentuh orang tersebut. Hal yang seringkali membuat Kala diterjang sakit kepala hebat di saat bersamaan. Namun, jika seseorang tidak berbohong, saat disentuh Kala tidak akan terjadi apa-apa.

Dan, yang terjadi beberapa puluh menit yang lalu masih membingungkan bagi Kala. Pria muda yang menjelma jenazah di depannya tadi berbohong. Tapi, apa tujuannya? Serta yang tak kalah penting, siapa yang akan percaya perkataannya soal ini?

Tubuh tegap menggunakan leather jacket berwarna krem dipadu dengan celana jins hitam berdiri di samping Kala. Kala mendongak dan lewat cahaya mobil polisi di belakangnya mengenali orang yang baru tiba itu sebagai Iptu Ibad, anggota Kepolisian Ryha.

“Sudah baikan, Kala?”

Kala menganggukkan kepala meski belum terasa lebih baik.

“Kalau begitu sudah bisa dimintai keterangan?”

Belum sempat Kala merespons, sebuah suara memotong.

“Biar gue aja yang tanya-tanya dia, Ibad.”

Kala menoleh dan melihat badan ramping yang terbungkus jaket bomber berwarna biru muda dipasangkan dengan celana jins coklat mendekat. Ujung potongan rambut bobnya bergerak-gerak disentuh angin. Ibad kemudian mengangguk kepada sosok itu dan pergi.

“Jadi, kenapa lo bisa ada di sini?”

Kala mendengus, harusnya ia bisa memperkirakan orang ini bakal muncul.

“Gue lagi joging tengah malam dan nemuin dia tergeletak, Kak.”

Wanita yang baru datang itu memicingkan mata, entah karena tidak setuju dengan sikap Kala yang memanggilnya Kakak di tengah kasus atau merasa heran dengan kebiasaan tidak biasa Kala.

“Kok lo punya kebiasaan aneh kayak gitu?”

Kala melongo. Bukannya menanyakan keadaan korban saat ditemukan, AKP Kila -kakak Kala- malah penasaran dengan kebiasaannya.

“Suka-suka gue dong pengen joging kapan aja. Lagian, bukan itu yang penting sekarang, kan?”

Kila juga tahu itu, tapi tetap saja ia ingin memastikan Kala tidak berpotensi dicurigai sebagai tersangka. Berada di tempat kejadian yang jarang dilalui orang, bukankah itu agak mencurigakan?

“Atau, jangan-jangan lo curiga sama gue?”

Kala memandangnya tak percaya, Kila jadi sedikit merasa bersalah. Tapi, sebagai polisi, ia harus menelusuri setiap kemungkinan.

“Gue diajar untuk mempertanyakan semuanya yang dianggap mencurigakan.”

Lebih memilih untuk tidak peduli, Kala mengalihkan perhatiannya pada hal yang ingin diketahuinya.

“Kematiannya karena apa?”

“Racun arsenik. Belum ada bukti kalo korban dipaksa minum racun itu, jadi mungkin saja ia bunuh diri.”

Kala menggeleng. Kila yang melihatnya menjadi penasaran.

“Kenapa? Korban nggak bunuh diri?”

“Meskipun korban sendirian waktu gue temuin, tapi agak jauh dari kaleng minuman. Kalo emang korban bunuh diri, buat apa melata di tanah? Kan tinggal terbaring dengan tenang.”

Kila bergeming, mencerna kata-kata Kala.

“Selain itu, bukti otentik yang bikin ini bukan kasus bunuh diri adalah kata-kata korban sebelum meninggal. Waktu gue ajak ke rumah sakit, korban emang bilang soal racun. Terus gue tanya siapa yang ngelakuin, korban sebut satu nama.”

Kila membelalak.

“Siapa?”

Kala menjawab mantap.

“Fatih.”

Mendengar nama itu, Kila sudah siap bertindak. Namun, Kala menahan lengannya.

“ Tapi korban bohong.”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Poligraf

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Pengalaman Pertama Pijat
8.0
Adikku pulang dalam keadaan hancur dan menangis setelah menjadi korban pemerkosaan oleh seorang terapis pria di sebuah tempat spa relaksasi. Karena ketiadaan bukti fisik yang kuat, pelaku keji tersebut berhasil lolos dari jerat hukum begitu saja. Sebagai kakak yang baru saja menikah, aku tidak bisa tinggal diam melihat ketidakadilan ini. Aku memutuskan mengambil tindakan sendiri dengan mendatangi tempat tersebut, berpura-pura menjadi pelanggan, lalu menggoda sang terapis demi menjebaknya dan mengumpulkan bukti baru.
Sampul Novel Puber Kedua Sang Letnan Jendral
8.6
Pasca menjanda, hidup Nina kembali cerah saat bertemu Baskara, seorang Letnan Jenderal TNI yang juga calon besannya. Sikap sopan dan perhatian Baskara memberikan kenyamanan yang telah lama hilang. Nina mulai jatuh hati karena sang jenderal sering berkunjung ke warungnya. Namun, harapan itu hancur ketika Baskara terlihat di televisi bersama selebriti populer. Nina pun dirundung pilu dan bertanya-tanya tentang ketulusan motif Baskara mendekatinya selama ini.
Sampul Novel Suami Pengganti
8.1
Tania hancur saat Rian, kekasihnya selama tiga tahun, wafat dalam kecelakaan demi melindunginya. Terpuruk dalam duka, ia dipaksa orang tuanya menikah dengan sahabat lamanya, Andre, demi kesehatan sang ayah yang kian menurun. Meski merasa dikhianati oleh keputusan Andre yang menerima perjodohan tersebut, Tania tak punya pilihan lain. Mampukah pernikahan tanpa cinta ini membuahkan kebahagiaan, ataukah hanya akan menyisakan kekecewaan mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Terbakar oleh Sang Alpha: Amarahku, Pembalasannya
8.7
Kenan, cinta masa kecil dan pasangan takdirku, tega mengkhianatiku demi Laras, seorang Omega. Ia membiarkanku terluka parah dan dipermalukan di depan umum demi melindungi kekasih gelapnya itu. Ternyata, baginya aku hanyalah alat untuk meraih kekuasaan. Saat malam penyatuan tiba, aku memilih bangkit. Di hadapan semua orang, aku menolak Kenan dan memutuskan bersatu dengan Alpha rival yang jauh lebih menghargaiku sebagai seorang ratu sejati.
Sampul Novel Terjebak Gairah Terlarang
8.4
Julian, siswa SMA pecinta basket, menyimpan hasrat pada Tante Namira, pemilik rental PS. Sebuah permintaan pijat sederhana berubah jadi pertemuan intim yang meruntuhkan norma. Pengalaman itu memicu dahaga Julian akan sensasi terlarang dengan wanita-wanita dewasa lainnya, mulai dari dominasi di kelas hingga kehangatan perawat. Di tengah pusaran gairah dan rasa bersalah, ia terus menguji batas moral. Akankah pilihan berisiko ini membakar dirinya atau mengungkap rahasia yang lebih dalam?
Sampul Novel Terjerat Gairah Sang Lady Boss
9.6
Jesslyn Margaretha Amber adalah pengusaha sukses asal New York yang dijuluki Lady Boss. Meski bisnisnya gemilang, hatinya hancur akibat pengkhianatan kekasih. Saat nyaris menyerah pada hidup, ia memacu mobilnya hingga dikejar polisi lalu lintas bernama Louis Damian. Pertemuan tak terduga ini memicu aksi nekat Jesslyn yang tiba-tiba mencium Louis dan langsung mengajaknya menikah. Akankah Louis menerima tawaran gila dari wanita asing yang baru ditemuinya tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan