Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel POLAROID LOVE Istri Kesayangan Guru BK

POLAROID LOVE Istri Kesayangan Guru BK

Anahita Shaqueena menjadi siswi pemberontak karena ayahnya menolak impian seninya. Setelah pindah sekolah, ia terkejut mendapati Devan Mahesa, guru BK yang sangat sabar, ternyata calon suaminya. Meski awalnya menolak perjodohan paksa ini, perhatian tulus Devan perlahan meluluhkan ego Queen. Kini ia harus merahasiakan status pernikahannya di sekolah sambil berjuang menghadapi konflik batin antara terus melawan atau menerima cinta sang guru yang telah mengubah hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mobil Devan kembali melaju pelan, lalu berhenti tepat di samping gadis itu. Dia menghentikan langkahnya sambil menoleh, lalu alisnya berkerut tak suka tatkala melihat mobil orang yang tadi menurunkannya tiba-tiba berhenti di sampingnya.

SRETT!

Kaca jendela mobil Devan turunkan. Semakin jelas wajah jengkel Gadis itu menatap ke arahnya. "Ngapain lu nyamperin gua lagi?!" Sergahnya sengit.

"Masuk!" Ujar Devan.

Gadis itu membalikan badannya, melipat kedua lengan di depan dadanya. "Apaan banget lo nyuruh-nyuruh gua masuk lagi ke mobil Lo?! Mau ngapain? Mau ngelanjutin niat lo buat ngulik gua, hm?!" Tanya gadis itu.

"Nggak! Lo nggak usah suudzon! Gua cuma kasihan lihat lo luntang-lantung di jalanan kayak gitu. Biar gua antar lo pulang!" Kata Devan.

Gadis itu berjalan mendekat, lalu mencondongkan badannya, alis matanya terangkat "nggak usah! Gua nggak butuh belas kasihan Lo! Gua punya duit, gua bisa pulang sendiri naik taksi! Jadi lo nggak usah sok-sokan jadi pahlawan kesiangan, BYE!!" Ujar gadis itu lantas kembali melenggangkan kakinya meninggalkan Devan.

"Ck, cewek nggak tahu berterima kasih! Ada orang punya niat baik mau nolong malah balasannya kayak gitu! Udah paling bener tadi gua tinggalin aja. Pakai acara kasihan segala, orang yang dikasihaninnya juga nggak tahu diri!" Gerutu Devan sambil menatap malas punggung gadis yang sudah berjalan menjauh. Lalu kemudian lebih memilih untuk melanjutkan urusannya yang tertunda. Daripada mengurusi gadis tak atau berterima kasih itu, pikirnya.

_Anahita Shaqueena_

Gadis cantik bermata bulat kecoklatan, bertubuh tinggi semampai, berkulit putih, dan berambut ikal dan hitam. Ia berjalan menyusuri jalan aspal yang tenang. Tanpa banyak kendaraan berlalu lalang karena jalan itu bukan termasuk jalan Raya atau jalan utama.

Kakinya sedikit terasa lelah. Namun dia harus tetap terus berjalan, entah ke mana tujuannya. Rumah? Rasanya ia sudah sangat muak dengan tempat itu. Tempat di mana kebebasan dan haknya sebagai seorang manusia sangat dibatasi. Bahkan dia tidak pernah punya kesempatan untuk memilih segala hal untuk hidupnya. Semuanya harus atas kehendak orang tuanya. Dan dia harus patuh dengan semua itu.

Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Shaqueena atau sering dipanggil Queen itu tumbuh menjadi seorang gadis yang cenderung seperti pemberontak. Meski apapun bentuk pemberontakannya selalu saja dipatahkan oleh orang tuanya. Dan berakhir pada keterpaksaannya untuk menerima apapun keputusan mereka.

Termasuk sekarang. Queen dikeluarkan oleh sekolahnya yang lama atas suatu kasus. Mengharuskannya pindah ke sekolah yang baru. Sekolahnya yang lama adalah sekolah pilihan orang tuanya yang sama sekali tidak sesuai dengan minatnya. Queen berbuat ulah, hingga akhirnya bisa keluar dari sekolah itu.

Tapi lagi-lagi, dia harus masuk ke sekolah yang sama sekali tidak diinginkannya.

Queen memiliki minat dan bakat dalam olah suara, serta musik. Tapi, orang tuanya menginginkan Queen menjadi seorang pengusaha, wanita karir, pebisnis yang hebat seperti kedua orang tuanya. Jelas itu bukan minat nya. Tapi Queen bisa apa?

Langkahnya gontai, tatapannya menatap lurus ke depan namun kosong. Tak ada yang dilihatnya di depan sana. Bahkan kakinya melangkah tanpa tahu arah.

Sesekali Queen tampak menghela nafasnya, sekilas ingatannya kembali pada waktu beberapa saat lalu. Saat dia berdebat dengan sang ayah di halaman sekolah barunya. Penolakan keras Queen pada sekolah SMK jurusan manajemen bisnis yang dipilihkan oleh ayahnya itu berujung pada perdebatan hebat antara keduanya.

Queen yang tidak bisa menerima keputusan ayahnya lantas berlari meninggalkan ayahnya tanpa mau menghiraukan, meskipun berulang kali ayahnya berusaha untuk menyuruhnya kembali. Sampai-sampai security ikut turun tangan untuk mengejar Queen atas permintaan ayahnya itu. Hingga akhirnya Queen bersembunyi di dalam mobil laki-laki menyebalkan tadi.

Kembali ia menghela nafasnya, mengakhiri semua ingatannya tentang kejadian itu. Lalu tampak berdecak, "Ck, Cowok gila! Otak gue lagi kacau kayak gini, rasanya jadi makin kacau aja ketemu sama dia!" Umpatnya sambil mendengus kesal.

Langkah kakinya berhenti di sebuah halte bus yang tampak sepi. Tidak ada siapapun di sana, halte bus itu pun tampak sedikit kotor dan berdebu. Seolah jarang ada manusia yang singgah di sana.

Setelah menepuk-nepuk permukaan kursi halte bus itu sebisanya demi mengusir debu-debu yang menempel, Queen lantas mendudukkan dirinya. "Ah... Pegel banget kaki gue..." Lenguhnya sambil matanya memejam beberapa saat. Merasakan angin tipis yang berhembus mengusap rambutnya yang terurai. Sejenak terasa tenang, suara dedaunan yang bergemerisik tertiup angin seolah menjadi lagu yang menghibur hatinya yang sedang kacau.

"Kayaknya gue di sini dulu aja deh, tempatnya tenang dibanding rumah gue yang kayak penjara itu," gumamnya.

Punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi berbahan stainless tebal yang berkilat. Nafasnya Ia hela berkali-kali, mengisi penuh paru-parunya dengan udara yang terasa sejuk. Mencari ketenangan sejenak di sana.

Angin yang semilir pelan menyejukkan, meredakan rasa lelah Queen setelah berjalan beberapa kilometer setelah ia diturunkan oleh laki-laki itu. Semakin lama, suara angin yang lembut seolah seperti nyanyian pengantar tidur, membuat rasa kantuk yang hebat datang menyerangnya.

Beberapa kali Queen tampak menguap, matanya yang merah dan berair menandakan betapa rasa kantuk itu sudah benar-benar menguasainya.

Diliriknya permukaan kursi halte di sampingnya. Tas ransel di punggungnya ia lepaskan, lalu ia letakkan di ujung kursi itu. "Gue tidur dulu sebentar kali ya, ngantuk banget gue!" Gumamnya lantas menguap sekali lagi.

Kepalanya ia rebahkan di sana, "Oh, di sini nyaman banget," ucapnya sedikit berbohong. Nyatanya, tidur di atas kasur empuk di kamarnya jauh lebih nyaman daripada kursi besi berdebu yang menjadi alas tidurnya saat ini.

Dalam waktu beberapa detik saja, Queen sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Suara kendaraan yang sesekali melintas sudah tak terdengar lagi. Gadis itu benar-benar Sudah terlelap Karena rasa lelahnya. Dunianya terasa tenang sejenak, bersamaan dengan mimpinya yang datang. Mimpi tentang kehidupan yang diinginkannya. Berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari kehidupannya yang sekarang sedang dia jalani.

Queen bermimpi sedang berada di sebuah ruangan, gitar di tangannya ia petik, sambil menyanyikan sebuah lagu, ia menggaungkan kehidupan impiannya dalam mimpinya itu. Satu lagu yang diisi dengan rangkaian harapan yang ingin diwujudkan dalam kehidupan nyata. Yang menyatu dengan harmoni indah bersama suaranya yang lembut.

Suara tepukan tangan menggema di ujung lagunya. Queen mengangkat wajahnya, menatap sesosok laki-laki yang duduk di sudut ruangan yang gelap, yang langkah kakinya terdengar berderap, perlahan mendekatinya. Hingga saat cahaya lampu menyibak gelap, menampakkan wajah laki-laki itu, wajah laki-laki yang rasanya tidak asing baginya. Queen terperanjat.

Dia tersentak dari tidurnya, lalu terduduk sambil tercenung. "Hah? Kok cowok itu bisa masuk ke mimpi gue?!" Gumamnya.

Dia benar-benar termenung sekarang, merasa heran dengan mimpinya sendiri. Tiba-tiba saja Devan menyelinap masuk ke dalam mimpinya itu. Memberi tepuk tangan dengan wajah yang tersenyum bangga kepadanya. Terasa begitu nyata meskipun rasanya sangat aneh. Tapi entah kenapa, Queen merasakan senyum laki-laki itu terlihat begitu tulus kepadanya.

"Oh, bisa-bisanya gue mimpiin cowok menyebalkan itu. Aduh... Jangan-jangan otak gue udah korslet ini!" Gumamnya sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya.

"Mbak!" Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Sontak Queen terlonjak, matanya yang besar semakin membulat sambil menatap ke arah orang yang baru saja menepuk bahunya itu.

"Oh, maaf... Kaget, ya?" Ujarnya meminta maaf.

Ketegangan di wajah Queen seketika mengendur setelah melihat seorang gadis berdiri di sampingnya sambil tersenyum dan meminta maaf. "Aduh, mbak... Kaget banget tahu!" Ujar Queen seraya mengusap-usap dadanya.

"Maaf, Nggak maksud ngagetin," sahutnya.

"Boleh ikutan duduk?" Tanya gadis itu.

"Boleh! Duduk aja! Lagian ini tempat umum, nggak perlu minta izin sama gue juga," sahut Queen datar.

Gadis itu tersenyum, "Ok, makasih!" Sahutnya lantas mendudukan dirinya disamping Queen.

Beberapa saat hening. Queen yang sesekali melirik ke arah gadis itu dengan ujung matanya. Mendapati Gadis itu duduk dengan buku yang asyik dibacanya, membuatnya sedikit tertarik. Apalagi ketika melihat sampul buku yang dibaca olehnya.

"Mental health?!" Tanya Queen. Gadis itu menoleh, ia memeriksa sampul bukunya yang baru saja dibaca oleh Queen, lalu tersenyum kepadanya. "Iya!" Sahutnya.

"Itu buku apaan?" Tanya Queen penasaran.

"Oh, ini buku antologi. Isinya cerita tentang orang-orang yang ngalamin berbagai masa sulit," ujar Gadis itu sambil terkekeh.

Queen mengernyitkan alisnya, "hidup Lo sulit?" Tanya Queen tanpa beban.

"Setiap orang punya masalah hidup masing-masing, semua orang pernah mengalami masa sulit, kan? Termasuk gue," Ujarnya.

"Tapi ada orang yang mentalnya benar-benar dibuat berantakan sama kehidupan, kan? Nggak semuanya sama," tukas Queen.

"Iya, Lo benar," sahutnya.

"Gue salah satunya!" Keluh Queen lantas menyandarkan punggungnya.

"Gue juga!"

Seketika Queen menoleh, "mental Lo juga sakit?" Tanya Queen.

Gadis itu hanya tersenyum, sambil mengedikkan bahunya. "Maybe!" Sahutnya.

Queen yang mulai tertarik lantas menggeser duduknya, menghadap ke arah gadis itu, seolah menunjukkan minat. "Karena apa?" Tanyanya.

"Oh, iya! Nama gue Queen, Lo siapa?!" Tanya Queen sambil mengulurkan tangannya. "Gue Nara," Sahutnya sambil menjabat tangan Queen.

"Ok, Nara! Lo boleh cerita masalah hidup yang bikin mental Lo nggak baik-baik aja sama gue, anggap aja biar temen lo!" kata Queen.

Gadis itu tersenyum lantas menghela nafasnya. Pandangannya merunduk ke bawah, menatap rumput-rumput kecil yang tumbuh di sela-sela trotoar jalan di ujung kakinya. "Lo lihat kan penampilan gue kayak apa?" Ujarnya.

Queen mengernyitkan alisnya, sambil memindai penampilan Nara dari ujung kaki ke ujung kepala. Gadis berkacamata tebal, dengan tahi lalat kecil di pipi kanannya, serta rambutnya yang diikat ekor kuda itu melirik ke arahnya.

"Gue sering di bvlly sama Bora dan gengnya di sekolah, karena katanya gue cupu," tutur Nara sambil tersenyum getir.

"Kadang gue ngerasa nggak tahan, tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa, dia temennya banyak. Sedangkan gue?" Nara terdiam beberapa saat.

"Nggak ada yang mau temenan sama gue Karena gue cupu!" Ujarnya.

Queen termenung, ia tampak menggigit bibir bawahnya. 'Kasihan banget' gumamnya dalam hati.

"Lo benci sama orang yang bvlly Lo itu?" Tanya Queen.

"Iya, pasti! Tapi gue bisa apa? Apapun yang dia lakuin nggak bisa gue bales. Gue cuma bisa diam," Ungkapnya dengan nada suara yang lemah.

Queen menghela nafasnya. 'Seburuk itu orang yang suka nge-bvlly? Sejahat itu? Sampai merusak mental orang?' gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba Queen teringat, Kenapa dia bisa dikeluarkan dari sekolahnya yang lama. Dia pembuat onar. Orang yang sok berkuasa. Siapapun yang membantahnya pasti akan mendapat perlakuan yang tidak baik darinya. Dan Queen dikeluarkan karena membuat salah satu teman sekelasnya tidak mau masuk sekolah  lagi karena ulahnya.

'Gue jahat banget' batinnya.

"Kalau lo sendiri kenapa?" Tiba-tiba Gadis itu bertanya. Memecah ingatan Queen tentang kelakuan buruknya selama ini. "Hah? Em...--" Queen mengerjapkan matanya. Seolah tak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nara kepadanya.

"Lo tadi bilang katanya Lo salah satu orang yang mentalnya nggak baik-baik aja, pasti ada alasannya dong? Lo mau cerita nggak sama gue?" Tanya Nara antusias.

Queen tersenyum kaku. Ia mengusap tengkuknya sambil berujar, "Em, kayaknya lain kali aja deh ceritanya. Soalnya ceritanya panjang, nggak bisa sekarang," ujarnya.

Nara mengangguk-anggukan kepalanya, dia tidak bisa memaksa seseorang untuk menceritakan masalah pribadinya, bukan? Nara menghargai itu.

"Ok, kapan-kapan lo boleh cerita sama gue kalau lo mau," ujar Nara lembut. Queen tersenyum.

"Oh, iya! Lo habis pulang sekolah? Kayaknya gue nggak kenal seragam sekolah yang lo pake deh," tanya Nara sambil memperhatikan seragam yang dikenakan oleh Queen, yang hanya terlihat roknya saja.

"Oh, i-iya! Sekolah gue di luar kota. Gue baru pindah ke sini beberapa hari. Dan baru daftar sekolah pagi ini," jawabnya.

"Oh, pantesan aja gue nggak pernah lihat seragam sekolah kayak yang lo pake," ujar Nara.

"Terus Lo sekolah dimana sekarang?"

Queen termenung, sialnya dia lupa nama sekolah yang tadi dipilihkan oleh ayahnya karena Queen langsung pergi begitu saja.

"Em, gue lupa! Soalnya tadi yang daftarin bokap gue!" Sahut Queen.

"Oooh, ya udah nggak apa-apa,"

'Kayaknya Nara baik deh, vibes-nya lembut banget nih anak! Kayaknya, gue butuh nggak sih temen kayak dia? Biar gue bisa ketularan lembut juga kayak dia' gumam Queen dalam hati sambil menatap lekat gadis berkacamata di hadapannya.

"By the way, Rumah Lo di mana, Queen?" Nara kembali bertanya.

"Em, Nggak jauh kok dari sini. Gue juga lupa Nama kompleknya. Tapi gue tahu jalan ke sana kok," kata Queen.

"Oh gitu. Lo Lucu banget sih," ujar Nara.

"Lucu?? Kok lucu?!" Tanya Queen heran.

Nara terkekeh. "Iya, Lo itu lucu. Nama sekolahan sendiri nggak tahu, nama komplek perumahan sendiri juga nggak tahu. Kayaknya lo orangnya cuek, ya?" Cicit Nara.

Queen tersenyum miring, "gue lebih ke nggak peduli sih! Lagian semuanya udah diatur sama bokap. Jadi gue nggak usah repot-repot mikirin apapun, buat apa juga? Nggak ada gunanya!" Ada kegetiran di balik kalimat yang diucapkan oleh Queen. Dan entah kenapa, Nara bisa membaca itu dari sorot matanya.

Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sambil tersenyum ia menepuk-nepuk pundak Queen, menggambarkan sebuah dukungan, "Iya, nggak apa-apa, Queen..." Ujarnya.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Suka Kamu, Tapi ....
8.6
Sena kini dikenal sebagai aktris populer, meski karier tersebut hanyalah alat untuk membalas dendam masa lalu. Namun, takdir justru membawanya kembali bertemu dengan pria yang pernah menghancurkan hatinya. Terjebak dalam perasaan yang sama, Sena harus bergulat antara cinta yang bersemi kembali dan ketakutan akan luka lama. Di tengah bayang-bayang trauma, ia berusaha menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya oleh orang yang serupa.
Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Api Dendam di Masa Lalu
8.9
Ditinggalkan mati dalam mobil yang terbakar oleh Arifin, suamiku sendiri, demi menyelamatkan selingkuhannya adalah akhir hidupku yang tragis. Ternyata, insiden itu merupakan pembunuhan berencana untuk merebut warisanku. Kini, aku terbangun kembali di masa kuliah dengan ingatan utuh. Melihat wajah Arifin yang tampak polos, aku menyadari busuknya niat pria itu. Takdir memberiku kesempatan kedua untuk membalas dendam dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.
Sampul Novel Cahaya Pelangi dari Surga
8.0
Hidup Rubby dipenuhi derita akibat siksaan ibu tirinya. Di tengah luka itu, Rain hadir menawarkan cinta tulus sebagai sahabat setia. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, Rubby justru dipaksa menikah dengan Halilintar yang menyimpan niat jahat. Meski berbahaya, pesona Halilintar tetap menggetarkan hati Rubby. Kini ia terjebak dalam dilema besar. Antara janji setia Rain dan daya tarik Halilintar, siapakah yang akhirnya Rubby pilih untuk sisa hidupnya?
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya setelah sebuah insiden fatal merenggut kesucian gadis itu. Tiga tahun berlalu tanpa cinta, Rio justru memilih menikahi mantan kekasihnya, Clara. Ia membenci Sintia yang dianggapnya licik karena memanfaatkan hartanya demi biaya medis sang ibu. Rio bahkan menolak mengakui Dika sebagai putra kandungnya. Namun, dinamika rumah tangga mereka mulai bergejolak saat istri keduanya datang membawa sebuah perjanjian rahasia yang tak terduga.