
Poison, I'll Kill My Husband
Bab 3
Alice berjalan keluar dari gedung Star Agency, sebuah redaksi surat kabar tempat ia bekerja. Dari luar, kehidupannya tampak biasa saja. Setelah hampir satu tahun pindah ke Swiss, ia mendapatkan pekerjaan baru yang terlihat normal di mata orang lain. Namun, itu bukan pekerjaan utamanya. Dunia yang sebenarnya ia jalani tersembunyi di balik bayang-bayang, di tempat di mana kegelapan dan rahasia bertemu. Ia harus tetap terlihat seperti orang biasa, seperti Alice yang dulu.
Saat berjalan menyusuri trotoar berbatu di bawah langit yang mulai gelap, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan terenkripsi muncul di layar.
"Angel, Phantom ingin bertemu di Markas One."
Alice mengetik balasan dengan cepat. "Pesan diterima. Kode 4."
Begitu pesan terkirim, teks itu langsung terhapus, meninggalkan layar ponselnya kosong seolah tak pernah ada komunikasi sebelumnya. Alice menarik napas dalam, mengencangkan mantel hitamnya, lalu melangkah lebih cepat. Kali ini, ia harus waspada.
Ia tiba di sebuah bar kecil di pinggiran kota. Dari luar, tempat itu tampak seperti bar biasa, dengan pencahayaan redup dan musik jazz lembut mengalun di dalamnya. Beberapa pelanggan duduk di sudut, menikmati minuman mereka, tak menyadari bahwa tempat ini sebenarnya adalah lebih dari sekadar tempat hiburan malam.
Alice melangkah masuk dan langsung menuju ke meja bartender. Tanpa ragu, ia mencondongkan tubuh sedikit, lalu berbicara dalam bahasa Swiss dengan nada santai namun sarat makna.
"Was kann ich bestellen?" (Apa yang bisa kupesan?)
Bartender, seorang pria berambut abu-abu dengan wajah penuh kerut, berhenti mengelap gelas dan menatapnya sebentar.
"Undangan kode 1," jawab Alice dengan suara lebih pelan.
Tak ada respons lisan, tapi dalam hitungan detik, seorang pria bertubuh kekar dengan jas hitam menghampirinya.
"Ikut aku."
Tanpa banyak tanya, Alice mengikuti pria itu. Mereka melewati lorong sempit di belakang bar, kemudian melangkah melalui beberapa pintu rahasia yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Suasana semakin sunyi seiring dengan langkah mereka yang semakin jauh dari keramaian bar di luar.
Di ujung lorong, sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram terbuka. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam. Rambutnya sudah beruban, namun auranya tetap penuh kewibawaan. Pria itu adalah Elliot Graves, pemimpin Divisi Keamanan Global, atau yang lebih dikenal dengan nama sandinya, Phantom.
"Kerja bagus, Angel." Suaranya dalam dan penuh ketenangan, seperti seseorang yang telah melihat terlalu banyak kegelapan dalam hidupnya.
Alice duduk di kursi yang tersedia di seberangnya. Seorang agen lainnya meletakkan secangkir kopi hitam di hadapannya, tetapi ia bahkan tidak meliriknya.
"Informasi yang kau kumpulkan cukup menarik," lanjut Phantom. "Ini akan segera berakhir begitu bukti kejahatan Phoenix terungkap. Kita akan melihat bagaimana kehancuran perusahaan teknologi itu. William Delson dan organisasi hitam di balik Greenice Group akan segera terungkap."
Alice tetap diam. Ia tahu ini bukan hanya tentang organisasi kriminal, bukan hanya tentang perusahaan besar yang menyembunyikan dosa mereka. Ini tentang dirinya. Tentang masa lalunya yang telah direnggut.
"Bertahanlah sebentar lagi, Angel." Suara Phantom lebih lembut sekarang. "Kau pasti akan menemukan siapa pembunuh orang tuamu."
Alice menelan ludah. Tangannya mengepal di atas pahanya, kuku-kukunya menekan kulitnya sendiri.
"Aku telah memeriksa semuanya," katanya akhirnya, suaranya nyaris tanpa emosi. "Setelah kutelusuri, Phoenix ada di lokasi kejadian saat kecelakaan itu terjadi. Dia berusia dua puluh tahun saat itu. Tidak mengherankan-dia sudah dilatih sejak remaja. Dia bahkan telah membunuh belasan orang pada usia itu."
Menyebut nama itu membuat perutnya terasa mual. Phoenix. Atau, nama aslinya, Aaron Andromeda. Suaminya sebelum mengubah identitas.
Phantom mengamati wajah Alice dengan saksama, seperti sedang mengukur seberapa besar emosi yang disembunyikannya.
"Tetaplah waspada," katanya akhirnya. "Meskipun hubungannya dengan Greenice Group berakhir setahun lalu, mereka masih terus mengincarnya untuk membawanya kembali."
Alice mengangguk pelan. Ia tahu itu. Bahkan setelah meninggalkan dunia bayangan, Aaron tetap menjadi sosok yang diinginkan oleh Greenice. Bukan hanya karena keahliannya, tetapi karena darah yang mengalir di tubuhnya-darah keluarga Delson.
Dan karena alasan itu, Alice harus tetap berada di dekatnya.
Tangannya tanpa sadar mengepal lebih erat. Semua luka lama, semua kehilangan, semua ketidakadilan yang ia alami selama ini berkumpul di satu titik dalam pikirannya. Ia mengangkat wajahnya, tatapan matanya membara.
"Jika aku benar-benar menemukan buktinya, bolehkah aku membunuhnya?"
Ruangan itu terasa hening sejenak. Mata Phantom menajam, mengamati Alice dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Angel," katanya perlahan. "Aku mengerti kau ingin membalaskan dendammu dalam operasi ini. Tapi kita punya kode etik."
Alice tersenyum tipis, sinis. "Kode etik?"
Phantom menghela napas. "Kita tidak membunuh kecuali benar-benar terancam."
Alice menatapnya tajam. "Apa yang lebih mengancam dari seorang pembunuh berdarah dingin yang mungkin telah membunuh orang tuaku? Apa yang lebih berbahaya daripada monster yang telah membunuh banyak orang dan mengancam nyawa orang lain?"
Phantom tetap diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Jawab aku, Angel. Jika kau membunuhnya, lalu bagaimana setelah itu? Apakah itu akan membuatmu merasa lebih baik? Apakah itu akan mengembalikan orang tuamu?"
Alice menggigit bibirnya, mencoba menekan emosi yang meluap dalam dirinya.
"Tidak. Itu tidak akan membuat orangtuaku kembali. Tapi ya, itu akan membuatku merasa lebih hidup."
Phantom menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata dengan nada tegas, "Kau tidak boleh membiarkan dendam menguasaimu. Kita bukan pembunuh, kita adalah agen keamanan global. Jangan lupa itu."
Alice menelan ludah. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang bercampur dengan kemarahan.
Phantom menghela napas sekali lagi, lalu berkata dengan lebih lembut, "Temukan kebenaran. Tapi jangan biarkan kebenaran itu menghancurkanmu."
Alice mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mencari kebenaran mungkin lebih menyakitkan daripada hidup dalam kebohongan.
....
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aaron menghela napas, perasaan bersalah menyelimutinya saat ia menyadari bahwa tadi pagi ia mengatakan pada Alice bahwa seharusnya ia pulang pukul lima sore. Namun, pekerjaan menahannya lebih lama dari yang ia duga.
Ia menaiki lift menuju lantai 20, tempat apartemennya berada. Begitu sampai, ia membuka pintu dan menemukan ruangan dalam keadaan sepi. Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak perlahan di tengah kesunyian.
"Sayang, aku pulang," panggil Aaron sambil meletakkan tas di sofa.
Tak ada sahutan.
Dahi Aaron berkerut. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya, dan segera mengetik pesan.
'Aku sudah pulang, tapi kau tidak ada. Di mana kamu?'
Beberapa saat kemudian, layar ponselnya bergetar.
'Ya Tuhan, aku lupa memberitahumu. Aku ada rapat tim. Maaf telat memberi tahu, tapi sekarang aku sudah dalam perjalanan pulang. Jangan khawatir.'
Aaron menghela napas lega, meskipun masih ada sedikit rasa kesal. Seharusnya ia memberi tahu lebih awal... pikirnya. Namun, ia memilih untuk tidak memperpanjang masalah.
'Baiklah, hati-hati di jalan.' balasnya.
Sambil menunggu, ia melangkah ke dapur, membuka kulkas dan memeriksa bahan makanan yang tersedia. Setelah beberapa saat berpikir, ia memutuskan untuk memasak sesuatu yang sederhana namun mengenyangkan. Suara pisau yang memotong bahan makanan, air mendidih, dan aroma masakan mulai mengisi apartemen, membuat suasana lebih hangat.
Tak lama kemudian, suara pintu apartemen terbuka. Aaron menoleh.
"Aaron, aku pulang," suara Alice terdengar penuh rasa bersalah.
Aaron menutup kompor dan berjalan mendekatinya. "Syukurlah kau sudah pulang. Duduklah, istirahat sebentar."
Alice tersenyum kecil, lalu meletakkan tasnya di meja makan. Kemejanya tampak sedikit kusut setelah seharian bekerja.
"Sayang, aku sungguh minta maaf hari ini," katanya sambil menatap Aaron dengan mata penuh penyesalan.
Aaron menatapnya sejenak sebelum akhirnya menghela napas. "Tidak apa-apa, tapi lain kali beritahu aku lebih awal,"
Alice mengangguk, "baiklah,"
Alice menatap ke arah dapur, aroma masakan yang harum menyentuh indra penciumannya. "Apa yang kau buat?" tanyanya, mencoba mengalihkan suasana.
Aaron tersenyum kecil. "Kau akan lihat nanti. Sekarang bergantilah pakaian, lalu bergabung denganku untuk makan. Oke?"
Ia mengusap rambut Alice lembut sebelum mencium pipinya sekilas.
Alice tersipu. "Baiklah, aku akan segera kembali."
ia melangkah pergi setelah pembicaraan itu, 'Kenapa kau harus seperduli ini padaku?' batinnya.
Anda Mungkin Juga Suka





