Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Plis Jangan Ganggu!

Plis Jangan Ganggu!

Hidup menumpang di kediaman Mbak Rusmi membuatku harus kebal terhadap setiap cacian pedasnya. Sebagai kakak satu-satunya, ia tak segan melontarkan kata-kata menyakitkan. Kondisi ekonomi memaksa aku dan suamiku, Rian, bertahan di sana karena kami belum sanggup membeli rumah sendiri. Harta orang tuaku ludes untuk melunasi utang, sementara rumah mertua sudah dipastikan menjadi hak Dion, adik bungsu Rian yang akan segera menikah dalam waktu dekat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sungguh aku ngga tega dengan Mas Rian. Baru saja pulang kerja langsung pergi lagi dengan tujuan yang tidak tentu. Langit sudah mulai gelap, sebentar lagi malam akan menyambut. Kami masih luntang lantung berjalan menuju jalan raya. Mencoba untuk mencari kendaraan yang masih melintas. Kurang lebih sudah setengah jam kami berdiri. Nihil. Kendaraan yang kami harap harapkan tidak kunjung lewat juga.

Kami masih beruntung, akhirnya sebuah taxi tampak melintas. Penatianku dan Mas Rian akhirnya berbuah hasil. Taxi itu belum berpenumpang.

“Mas, mau kemana?” tanya pak supir. Tampaknya ia belum terlalu tua. Kalau di kira kira sekitar lima tahun di atas Mas Rian.

“Jalan dulu saja pak, nanti saya sambil berdiskusi dengan istri saya”

“Baik mas” jawab beliau sambil sedikit melirik ke arah kami lewat spion depan.

“Mas, atau sekarang kita ke rumah orang tua mas saja?” aku mencoba mencari jalan keluar. Semoga saja ia menyetujuinya. Aku sudah sangat tidak tega dengannya.

“Jangan Mah, nanti orang tuaku akan tau kesulitan yang kita alami. Apalagi satu bulan lagi Dion akan menikah, tak enak menambah beban pikirannya. Lagi pula aku juga sudah berjanji kepada mereka tidak akan menyusahkan mereka lagi setelah aku menikah”

“Terus kita mau kemana mas?” aku tampak cemas. Apa lagi langit sudah semakin gelap.

“Nanti mas coba hubungi rekan kerja mas. Siapa tau salah satu dari rekan mas ada yang tau kontrakan yang masih kosong”

Aku mengangguk. Kini Mas Rian sibuk dengan ponselnya. Pak supir sepertinya menyimak obrolan kami. Aku mencoba melihat keluar kaca mobil. Tidak lagi melihat ke depan. Mencoba mengamati jalanan. Siapa tau aku melihat kontrakan yang kosong.

“Maaf mas, saya ikut campur masalah kalian, kalian sedang mencari kontrakan ya? Kebetulan kontrakan saya masih kosong satu mas. Siapa tau mas berkenan. Atau mau di lihat-lihat dulu juga boleh. Hari juga sudah malam mas. Susah buat cari kontrakan malam-malam”

“Boleh pak. Sekarang kita ke kontrakan bapak saja” seketika wajah Mas Rian sumringah. Serasa bebannya telah kabur terhempas angin malam. Aku sangat lega melihat ekspresi mas Rian. Kini sudah tidak terpancar lagi aura lelah dan bingung dalam wajahnya. Semoga saja nanti Mas Rian cocok dengan bangunan yang di tawarkan pak supir.

Akhirnya kami sampai juga. Tampak bangunan yang tidak terlalu kecil namun terlihat nyaman. Halamannya rindang dan segar. Beberapa tanaman hias tampak terawat tumbuh di sana. Kami mulai melihat-lihat ke dalam bangunan itu. Sederhana namun sangat nyaman suasananya. Kami menyusuri semua bangunan itu dengan di pandu oleh Pak Ridwan. Nama supir Taxi sekaligus pemilik bangunan ini.

Semua ruang bangunan ini sangat terawat. aku dan Mas Rian terlibat obrolan. Syukurlah Mas Rian juga sreg dengan bangunan ini. Sama seperti apa yang aku rasakan. Kami memutuskan bernegosiasi dengan pak Ridwan. Setelah beberapa waktu bernegosiasi akhirnya Mas Rian dan Pak Ridwan menemukan titik kesepakatan.

Sejumlah uang Mas Rian serahkan kepada Pak Ridwan. Untunglah pak Ridwan mengetahui kesulitan kami. Dengan kemurahan hatinya ia memberi jangka kepada kami untuk melunasinya. Kami di izinkan untuk membayarkan DP terlebih dahulu. Tidak lupa Mas Rian juga membayar tagihan Taxi.

Koper segera kami turunkan dari Taxi dengan di bantu pak Ridwan. Kami mulai bersiap membersihkan kamar tidur terlebih dahulu. Mencoba menghilangkan debu debu yang berhasil menempel di sana. Aku menyusun pakaian dalam di lemari. Sementara Mas Dandi membersihkan diri di kamar mandi.

*****

( POV Mbak Rusmi )

Mas Dandi sedang mandi. Ku pungut baju kerjanya di keranjang pakaian kotor. Aku mencoba mencium kembali baju kerja suamiku dengan seksama. Aku sangat yakin ini adalah bau parfum Fatimah, aku sangat kenal betul dengan aroma parfum adik kandungku. kecurigaanku Mas Dandi menaruh hati pada Fatimah semakin kuat. Sepertinya mereka juga memiliki hubungan.

Ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja ku raih. Langsung membuka aplikasi WhatsApp dan segera ku cari kontak Rian, suami dari adikku sekaligus adik iparku. Sebuah pesan sudah aku kirimkan ke ponselnya.

Untuk menguatkan kecurigaanku, aku mencoba mencium pakaian suamiku kembali di beberapa sisi yang lain. Aku sangat terkejut. Aroma parfum juga aku dapati pada lengan baju Mas Dandi. Mukaku memerah tanda amarah. Sudah pasti Mas Dandi main perempuan lain. Namun anehnya, aroma parfum yang bersarang di lengan mas Dandi ini tidak sama dengan aroma parfum yang biasa Fatimah gunakan. Aroma siapakah ini? ku cek d isisi lain. Lagi lagi aroma wangi parfum juga bersarang di baju Mas Dandi. Kini aroma itu ada di bagian dada pakaian suamiku. Aku semakin kesal dan marah. Sepertinya Selain Fatimah Mas Dandi juga menyimpan wanita lain juga.

Aku semakin tidak tahan. Langsung ku gedor pintu kamar mandi. Rasa-rasanya hatiku makin memberontak mencium berbagai aroma parfum wanita bersemayam di baju Mas Dandi. Aku akui memang Mas Dandi memiliki wajah yang rupawan. Tubuhnya juga gagah layaknya para abdi negara. Tidak heran jika banyak yang meliriknya.

“Mas, buka pintunya, Mas selingkuh ya mas ? Mas, jangan bikin aku tambah marah mas!!!”

“Mas lagi mandi Rus.. Sabar sebentar, ada apa lagi teriak teriak?” jawabnya merasa heran.

“Mas! Pokoknya buka.. aku ngga akan mengampuni perempuan itu mas. Aku pasti akan mencari wanita wanita itu, Akan aku habisi! Berani beraninya mereka memalingkan Mas dariku”

“Sebentar Rus! Mas masih mandi” suaranya sedikit terdengar kesal.

“Perempuan siapa yang kamu maksud Rusmi, Mas ngga selingkuh.. Sebentar, mas sebentar lagi selesai mandi” guyuran air terdengar jatuh ke lantai dengan buru-buru. Mas Dandi segera memakai handuk dan keluar menemui Rusmi.

“Apalagi Rusmi? Kenapa kamu menuduhku selingkuh?” kini sosoknya sudah di depanku.

“Pasti mas selingkuh, mas jangan mengelak lagi mas ini buktinya” aku melempar dengan kasar pakaian kerja Mas Dandi ke tubuhnya. Ia menangkapnya dengan sigap.

“Apa yang kamu masalahkan di bajuku Rusmi?” Mas Dandi menimang nimang bajunya. Ia melihat ke sisi demi sisi pakaiannya itu. Sepertinya tidak ada yang aneh.

“Jangan pura pura bodoh mas, cium baju mas! Kenapa bau parfum wanita? Kurang cantik kah aku mas? hingga mas tega menghianatiku?” aku sangat kesal dibuatnya. Sudah jelas ia tertangkap basah namun masih saja mengelak. Memang kurang ajar.

“Rusmi rusmi, kamu itu ya pikirannya, sudah tenangkan pikiran kamu. Mas Mau ganti pakaian dulu” jawabnya dengan begitu santai. Ia tidak panik ama sekali. Ia sepertinya tidak paham dengan kemarahanku. Dasar buaya!

“Kan mas mengalihkan pembicaraan pasti mas selingkuh dariku” suaraku makin meninggi.

“Redakan amarahmu dulu Rusmi, mas ganti baju dulu”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HGW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HGW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Mertuaku, Musuhku
8.3
Kehidupan Laras hancur setelah sang suami tiada, namun kasih sayang mertuanya menjadi pelipur lara. Di balik itu, Rizqan, kakak iparnya, menyimpan rasa yang lebih dari sekadar keluarga. Saat hujan menderu suatu malam, kebersamaan mereka di ruang tamu memicu percakapan intim yang tak terelakkan. Rizqan akhirnya mengakui perasaan terpendamnya, membuat Laras bimbang. Dalam sunyi, mereka menyerah pada ketertarikan terlarang yang menghapus duka lewat kehangatan rahasia.
Sampul Novel Cukup Sekali Mengucap Selamat Tinggal
8.1
Pernikahan tanpa cinta membuat sang suami mengabaikan istri dan anaknya sejak lahir. Namun, sikap dingin itu berubah saat wanita idaman pria itu kembali ke tanah air. Sang suami pulang dalam keadaan mabuk dan memeluk anak mereka. Sang putra yang tidak mengenali ayahnya justru memanggilnya paman. Sadar bahwa mereka tidak pernah diinginkan, sang ibu dengan berlinang air mata memutuskan untuk membawa putranya pergi jauh demi membiarkan suaminya bahagia bersama cinta sejatinya.
Sampul Novel Gejolak Hati dan Logika
7.8
Olivia terjebak dalam dilema antara perasaan cinta dan trauma masa lalu. Meski mencintai Rendra, bosnya yang mapan, logika Olivia menolak pernikahan karena tragedi yang menimpa keluarganya. Kematian ibunya akibat KDRT serta kegagalan asmara saudara perempuannya menciptakan ketakutan akan pengkhianatan. Kakak dan adiknya pun menentang hubungan ini. Di tengah bayang-bayang luka lama, mampukah Olivia mempercayai Rendra dan memilih kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel Jerat Pesona Ayah Anakku
8.9
Kehidupan Kara hancur setelah kehilangan kesuciannya dalam semalam. Terasingkan dan menderita, ia berjuang bertahan hidup demi membesarkan buah hatinya. Bertahun-tahun berlalu, takdir membawanya kembali bertemu pria yang menjadi sumber kepedihannya. Kini, sosok itu datang kembali untuk menjerat hidupnya lebih dalam. Kara pun dilanda ketakutan luar biasa. Sanggupkah ia bertahan saat sang anak terancam direbut oleh pria yang telah menghancurkan dunianya?
Sampul Novel Jiwa Yang Tertukar
8.1
Rose, wanita Jerman di Bogor, mendapati hubungannya dengan Herdi mendingin sejak kehadiran Ningsih. Keajaiban aneh terjadi saat tubuh mereka tertukar secara tiba-tiba. Diusir dari apartemen karena kepanikan, mereka harus beradaptasi. Herdi memanfaatkan kecantikan Rose untuk bisnis meski sering digoda pria, sementara Rose justru menjadi pria lemah yang kerap ditindas. Di tengah konflik identitas ini, mereka berjuang bertahan hidup dalam raga yang bukan miliknya.