
PINANGAN JUTAWAN BERKEDOK SENIMAN
Bab 3
"Perempuan murahan? Apa maksudmu, Ly?" Ishak bertanya dengan kening berkerut dalam.
Dengan air mata yang seakan tidak mau berhenti membasahi pipi, aku kembali membuka suara.
"Shak, aku udah nggak virgin lagi."
Seketika wajah Ishak berubah terkejut, "Ly, aku nggak ngerti apa maksudmu."
Baiklah, ini artinya Ishak meminta penjelasan utuh dariku. Sesuai keinginan kedua orang tuanya, aku harus membatalkan pernikahan kami. Dengan alasan bahwa aku yang memilih mundur. Meski ada desakan dari kedua orang tuanya di dalam pembatalan ini yang tidak boleh kuutarakan pada Ishak.
"Shak, aku nggak bisa menjaga kehomatanku untuk kamu. Aku ... aku udah nggak suci lagi. Aku ... kotor," usai berucap demikian tangisku makin tergugu.
Bertepatan dengan itu Ishak menarik tangannya cepat dari genggaman kedua tanganku. Persis ketika malaikat pencabut nyawa menarik jiwa seorang anak manusia dari raganya.
"Kamu mengkhianati hubungan kita? Atau ada seseorang yang memaksa kamu berkhianat dariku?"
Andai bisa membela diri dihadapan Ishak lalu kedua orang tuanya bersedia memberi maaf, mungkin akan kulakukan. Masalahnya, sekuat apapun aku membela diri dan menjelaskannya pada Ishak, keputusan akhir dari nasib pernikahan kami tetaplah sama.
BATAL.
TIDAK ADA RESTU.
"Lilyah! Jawab!" Ishak meminta penjelasan dengan amat tidak sabar.
"Aku mencintaimu, Shak. Tapi aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita. Lebih baik pernikahan kita dibatalin aja. Kamu berhak mendapat perempuan yang lebih baik dari aku."
Dengan wajah bersungut marah, Ishak meremas rambutnya.
"Kamu mengkhianati aku sejak awal? Lalu kenapa kamu nggak bilang dari awal, Lilyah!? Kenapa baru sekarang ketika persiapan pernikahan kita udah sejauh ini?! Kenapa?!"
Teriakan Ishak membuat pengunjung restauran dan musisi recehan yang tengah bermusik ikut menatap ke arah kami.
Sedang aku hanya bisa tergugu sedih dengan menunduk sedalam-dalamnya. Permintaan maaf pun tidak akan cukup membuat luka di hati Ishak terobati.
"Seenggaknya, kalau kamu emang nggak serius sama aku, tolong jangan permainin perasaanku sedalam ini, Ly. Kamu benar-benar keterlaluan!"
"Shak, aku nggak pernah main-main sama hubungan kita. Aku mencintaimu tapi ujian ini datang diluar kuasaku."
"Cinta katamu?! Ini bukan cinta, Ly! Ini pengkhianatan paling nyata!"
Tanpa bertanya lagi, Ishak berdiri kemudian melepas cincin pertunangan kami dan meletakkannya kasar di atas meja. Cincin yang kami pilih bersama-sama dengan ukiran nama kami dan tanggal pertunangan di bagian dalamnya.
"Lakukan apa yang kamu mau, Lilyah! Selamat tinggal dan jangan cari aku lagi meski hanya untuk meminta maaf!"
Langkah sepatu kerja Ishak terdengar jelas beradu dengan lantai cafe and restaurant ini ketika menjauh dariku yang masih duduk sendiri dengan tangis pilu. Bahwa satu kenyataan pahit yang harus kutelan mentah-mentah jika telah kehilangan separuh jiwaku.
Jemariku terulur mengambil cincin milik Ishak yang terukir namaku disana lalu kugenggam erat-erat. Biarlah aku menangis sendiri di atas kursi ini tanpa memperdulikan tatapan simpati dari pengunjung yang lain.
Biarlah mereka tahu jika aku patah hati dan sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ingin rasanya marah pada takdir yang membuatku kehilangan lelaki sebaik Ishak.
"Apa salahku, Tuhan? Kenapa aku harus menerima kenyataan pahit ini?"
***
Belum kering luka di hati pasca dari Ishak, kini Papa menambahnya dengan kata-kata yang membuatku menyadari satu hal. Bahwa kehadiranku tidak diharapkan lagi di rumah ini. Aku dianggap seperti sampah berbau menyengat yang harus dibuang sejauh mungkin.
"Paa, ayo sarapan dulu," ajak Mama setelah sarapan tersaji.
Papa yang sudah siap dengan setelan seragam kerjanya, justru menolak.
"Papa mau makan kalau perempuan itu pergi dari rumah ini! Asal Mama tahu kalau anakku cuma satu. Vela."
Menyebut namaku saja, Papa enggan. Lalu adikku, Vela, tersenyum tipis mendengar ucapan Papa lalu kembali mengunyah roti bakarnya. Dia seperti menganggap tidak terjadi masalah apapun di rumah.
Betapa kesalnya aku melihat sikap Vela yang acuh seperti ini. Padahal dia seharusnya membantuku menjelaskan pada Papa apa yang terjadi. Karena dia yang membuatku ikut hadir di acara ulang tahun sahabatnya.
"Ayo, Vel. Kita sarapan diluar aja. Papa tambahin uang jajanmu."
Dengan hati-hati Vela meletakkan roti bakarnya di atas piring lalu berbisik padaku.
"Aku berangkat dulu sama Papa ya, Kak."
Vela segera menyambar tas kuliahnya lalu berjalan cepat mengikuti Papa. Namun Papa kembali berseru sebelum keluar dari pintu rumah.
"Papa kasih kamu waktu sampai besok untuk meninggalkan rumah ini, Ly. Malu sama tetangga karena udah ada yang tahu kelakuan bejatmu itu! Dasar anak nggak tahu diri!"
Mendengar ucapan Papa, merinding membayangkan tubuhku diseret tetangga lalu digiring berjamaah keluar kompleks perumahan. Dengan tabungan yang belum seberapa, aku tidak yakin bisa hidup mandiri di luar sana.
Siang harinya atasan memberi peringatan tegas karena dua hari ini terlambat masuk kantor dan beberapa komplain dari calon penumpang maskapai yang kutangani tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya mereka mengirim surat elektronik yang sialnya langsung terhubungan dengan atasanku, Bu Dira.
"Sekali lagi kamu tidak becus bekerja, silahkan kirim surat pengunduran dirimu ke bagian HRD!"
Usai mendapat teguran, aku kembali ke kubikel dengan wajah tidak ceria sama sekali. Masalah yang menghampiri belakangan ini membuatku tidak memiliki gairah untuk melanjutkan hidup.
Sudah kehilangan kehormatan, kehilangan calon suami, dibenci keluarga, menjadi bahan gunjingan tetangga, dan kini tidak bekerja dengan baik.
Setelah seharian memaksa diri dan hati untuk bekerja, akhirnya aku kembali pulang dengan sesak di dada yang masih sama. Walau kami batal menikah, namun cincin milik Ishak masih tergantung aman sebagai liontin di kalung yang kukenakan.
"Jangan, Pa! Kasihan Lilyah! Dia itu anakmu!"
"Dia bukan anakku! Dia itu pe***ur yang membuat malu nama baik keluarga! Biar dia minggat!"
"Jangan, Pa! Jangan usir Lilyah!"
Aku yang baru saja turun dari taksi online, begitu terkejut melihat teriakan Mama dan Papa di teras rumah. Ada dua tas besar berisi pakaian dengan sebagian isinya telah terburai ke lantai. Papa menendang satu tas yang telah tertutup hingga terjungkal ke paving rumah.
Sedang Mama tetap memohon pada Papa dengan bersimbah air mata untuk mengampuniku. Tetapi Vela hanya diam, bersedekap, dan berdiri di belakang Papa yang tengah murka. Mengapa dia tidak membantu Mama memintakan ampun untukku?
"Bagus kalau kamu udah datang! Pergi dari rumah ini! Nggak usah nunggu besok!" bentak Papa padaku dengan telunjuk mengarah ke gerbang rumah.
"Sebagai orang tua yang baik, seharusnya Papa nggak gelap mata nuduh aku kayak gitu, Pa! Karena aku bukan pe***ur atau ja***g seperti yang Papa pikirkan! Aku juga berusaha mengingat dan mencari tahu siapa lelaki yang begitu kurang ajar padaku!" belaku.
"Halah, nggak penting! Nasi udah jadi bubur! Lagi pula siapa yang mau percaya ucapanmu heh?!"
Gaji yang masih belum seberapa untuk hidup mandiri, ditambah memiliki gangguan autophobia, membuatku sangat takut bila tinggal seorang diri. Apalagi di tempat baru tanpa ada yang kukenal.
"Seisi perumahan ini udah tahu gimana bejatnya kamu! Papa sampai ditegur Pak RT gara-gara foto terlaknatmu udah tersebar!"
"Papa bakal menyesal karena nggak percaya sama aku! Karena aku memang benar-benar dijebak! Demi Tuhan!"
"Jangan bawa-bawa Tuhan! Satu lagi, minta pertanggungjawaban sama lelaki itu kalau kamu bingung mau kemana!"
Saat kami sedang berseteru tiba-tiba Vela membuka suara.
"Kalau Papa malu dengan foto-foto yang udah tersebar, kita bisa carikan Kak Lily penggantinya Kak Ishak," ucapnya santai.
Dua tahi lalat di dekat bibirnya seakan menjadi penanda jika dia adalah gadis yang pandai berargumen.
"Maksudnya?"
Anda Mungkin Juga Suka





