
Pijat Tunanetra Kapal Pesiar
Bab 2
Ketakutan yang besar menyelimutiku, seperti dibuang ke dalam lubang es.
Bahkan pori-pori pun mengeluarkan udara dingin.
Di saat aku hampir teriak, teringat wanita yang tadi aku lihat di depan pintu.
Kalau aku ketahuan pura-pura buta, nasibku pasti akan lebih parah dari dia.
Untuk menutupi ketakutan, aku menundukkan badan bahkan suara pun jadi lebih manja.
“Tuan, apakah nyaman?”
Pria tersebut menatapku terus, sampai pastiin aku nggak ada yang aneh baru melambaikan tangan ke belakangku.
Orang itu dengan diam-diam pergi.
Punggungku sudah dibasahi sama keringat, di saat baru menghela nafas lega, pria yang di bawah tiba-tiba menyipitkan matanya.
“Kamar ini begitu panas kah? Kenapa kamu keluar begitu banyak keringat?”
Seketika kulit kepalaku merinding.
Walaupun tidak bisa melihat ke belakang, tapi aku bisa membayangkan pistol itu sedang diam-diam mengarah ke aku, hanya tinggal menekan pelatuknya.
“Aku hanya sedikit nggak enakan aja.”
Aku hanya bisa dengan terpaksa, terengah-engah membungkukkan badan, menggunakan cara ini untuk menutupi keanehan.
“Kalau nggak, kamu pegang, ada tempat yang juga sangat......”
Mengeluarkan kata-kata yang menggelikan, aku memaksakan diriku menunjukkan sikap yang tidak sabar, jari tangan memutar-mutar.
Pria tersebut menarik nafasnya dalam-dalam, menarik tanganku dan menelan ludahnya.
“Begitu nggak sabaran?”
Sprei jatuh ke lantai, tiupan angin masuk dari jendela, mungkin karena akting terlalu bagus, sampai aku sendiri juga percaya.
Tangan pria terletak di tubuhku, membuatku seperti terkena panas dengan nggak sengaja mengeluarkan suara, seperti tidak terpuasi.
Bahkan aku sendiri juga terkejut, bisanya aku mengeluarkan suara gini?
“Wanita jalang.”
Pria memegang daguku, senyum dengan pandangan mesum.
“Udah lolos, nanti akan hubungi kamu untuk kapan ke kapal.”
Aku didorong pria dari kasur, beberapa saat kemudian baru berdiri, dengan kedua kaki yang lemas pergi dari sini.
Aku juga nggak tahu karena pistol itu atau karena yang lain.
Sesudah sampai di rumah, handphoneku muncul 2 pesan, satu adalah ucapan selamat atas aku diterima, satunya lagi transferan masuk 10 juta untuk uang muka.
Ini lebih dermawan dari dugaanku, tapi malah membuatku makin takut.
Seminggu kemudian, aku menerima telepon.
“Kapal Pesiar Mewah Lautan sudah mau berangkat, sebelum malam besok, ada orang yang akan datang menjemputimu di alamat yang kamu isi.”
Aku dengan gelisah menunggunya dan menyembunyikan pelacakan di tubuhku.
Sesudah naik kapal, satu wanita yang memakai kacamata berdiri di depan kami, dengan tanpa ekspresi menilai semua orang.
“Namaku Chelsia, penanggung jawab kalian setelah naik kapal.”
“Sebelum kapal berangkat, kalian semua ikutin aku ke sini dulu.”
Jadi, kami semua dibawa sama wanita itu ke kamar yang luas di dalam kapal, Chelsia dengan suara yang datar.
“Kalian harusnya sudah memegang kantong yang ada di depan kalian, isinya seragam yang disediain sama perusahaan, ganti dulu seragamnya.”
Semuanya nggak ada yang curiga, mulai membuka kancing baju.
Tapi aku bisa melihat, dalam kamar sangatlah terang, dindingnya terbuat dari kaca yang transparan.
Cahaya yang terang terarah ke tubuh kami, membuat setiap bagian terlihat sangat jelas.
Belakang kaca adalah wajah para pria, seperti sedang memilih barang, pandangan yang serakah mondar mandir di tubuh semua orang.
Tetapi wanita yang di dalam kamar sama sekali tidak tahu, perlahan-lahan membuka baju......
Anda Mungkin Juga Suka





