
Pewaris Utama
Bab 3
Devan masih tidak tahu apakah saldonya cukup? Tapi jika di ingat lagi, perusahaan Darby sangat besar dan banyak cabang serta banyak yang ikut bekerjasama di dalamnya. Ia memastikan bahwa saldonya akan cukup.
"Baiklah, aku akan kabari Paman besok," jawab Devan.
Brian mengangguk lega. Akhirnya Devan mau membantu dana kantornya. Jika tidak, maka perusahaan itu akan bangkrut dan Brian tidak tahu dengan kehidupan keluarga kedepannya.
Setelah menemui Pamannya, Devan segera pergi ke pusat Bank. Ia ingin mengecek nominal dalam kartu hitam tersebut. Apakah mungkin penghasilan kantor selama ini masuk ke dalam rekeningnya?
"Bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang Teller.
Devan mendekat, menggeser kursi itu dan mendudukinya. "Tolong cek isi kartu ini."
Devan memberikan kartunya kepada Teller tersebut. Teller itu mengambilnya dan segera mengecek sesuai permintaan Devan. Teller itu sangat tahu jika kartu itu milik keluarga Haris. Ada nama yang tertulis di belakangnya. Dan kartu itu merupakan kartu satu-satunya. Hanya keluarga Haris saja yang memilikinya.
"Bagaimana?" tanya Devan setelah melihat Teller itu kembali ke kursinya.
"Sepertinya komputer tidak bisa menyebutkan nominalnya dalam singkat. Anda hanya bisa melihat hasilnya besok. Tapi bisa saya pastikan jika isinya utuh dan sangat besar," jelas Teller tersebut.
"Benarkah? Baiklah, saya akan kembali lagi besok. Tapi, bisakah saya mengambil uang terlebih dahulu?" pinta Devan ragu.
"Tidak masalah, berapa yang akan Anda tarik?"
"80 juta."
"Baiklah, mohon menunggu."
Teller itu kembali untuk menyiapkan uang permintaan Devan. Uang itu akan Devan serahkan kepada Evelyn, istrinya. Ia mendengar jika perusahaan yang dipimpin Evelyn sedang bermasalah, dan Evelyn harus menggantinya.
Mungkin dengan cara seperti itu, Evelyn akan berterimakasih kepadanya dan berharap tidak merendahkannya lagi. Semoga saja.
***
Di kediaman Kristian.
Nampak Evelyn sedang bingung dengan uang ganti rugi itu. Di rumah itu sedang kedatangan tamu, dia adalah teman Evelyn sejak lama. Rumi.
Rumi gadis yang cantik dan seksi. Siapa saja yang melihatnya maka akan langsung terpana oleh kecantikannya. Hanya saja sikapnya tidak secantik wajahnya. Ia begitu sombong, apapun yang terlihat menjijikan baginya saat itu juga ia menolaknya.
Rumi sedang menemani Evelyn memikirkan bagaimana cara agar uang itu ada. Tidak hanya Rumi, bahkan Renata dan Kristian pun ikut serta memikirkannya.
Bukannya tidak punya, hanya saja perusahaan Kristian baru saja berjalan, dia tidak bisa memenuhi uang 80 juta itu.
Di luar sedang hujan deras, suasana malam pun semakin menambah kedinginan. Devan datang dengan basah kuyup dengan membawa kantung hitam di pelukannya.
Tidak ada satupun yang ingin melihatnya, hanya saja, Rumi mencium bau air hujan di tubuh Devan. Penciumannya memang sangatlah tajam.
"Bisakah kau meninggalkan tempat ini? Aku tidak kuat jika harus mencium bau tubuhmu yang terguyur hujan," ketus Rumi.
"Darimana saja kau? Istri sedang susah, kau malah kelayapan sampai malam," gerutu Renata.
Devan hanya tersenyum, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dan itu sangat mengganggu Renata. Renata sangat kesal jika melihat tingkah suami putrinya yang bungkam itu.
"Apa kau tuli? Apa kau juga bisu? Sebaiknya pergi saja dari sini," sambung Renata kemudian.
"Bagaimana dengan uang ganti rugi itu? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Devan dengan hati-hati.
Rumi mendelik, sedangkan Evelyn sudah memelototinya dengan marah. "Jangan ikut campur urusanku. Itu bukan urusanmu, Devan. Sebaiknya kau siapkan kami makan malam. Rumi akan tidur di sini malam ini menemaniku dan memikirkan cara agar aku dapat uang itu."
Devan mengangguk, "Iya."
Devan menuju belakang rumah menuju kamarnya terlebih dahulu dan menyimpan uang yang telah ia tarik. Setelah itu, ia bergegas menuju dapur, mengganti pakaian dan segera menyiapkan makan malam sesuai dengan permintaan istrinya.
Sementara di ruang tamu, nampak Rumi sedang menelpon seseorang sebagai targetnya. Ponsel itu ia besarkan volumenya sehingga Evelyn dan keluarganya bisa mendengar.
"Ada apa kau memanggilku, Rumi? Apa ada kondisi mendadak?"
"Kau tahu saja, Jon. Aku memerlukan bantuan mu. Temanku sedang bermasalah, dia perlu uang banyak untuk mengganti rugi perusahaan yang ia pegang. Bisakah kamu membantunya?"
Joni. Seorang pria muda yang mapan. Dia merupakan putra dari pembisnis hebat di Ibu Kota. Tak salah jika orang sangat mengenalnya. Terutama dengan Rumi yang merupakan teman baiknya sejak kecil.
"Hmm ... baiklah, berapa yang kamu inginkan?" tanya Joni.
"Apa kau serius akan memberikan uang itu?" Rumi masih ragu. Bagaimana mungkin Joni begitu mempercayainya?
"Kau adikku, tentu saja aku akan membantumu termasuk temanmu itu."
Rumi tersipu. Seharusnya Joni tidak mengatakan itu di depan keluarga Evelyn. Jujur, Rumi bahkan tidak menginginkannya. Bahkan dia tidak menaruh perasaan sampai detik ini. Ya ... mereka hanya sebatas teman dan kakak beradik dalam akuan nya.
"Aku memerlukan uang sebesar ... 80 juta."
Saat Rumi mengatakan nominal itu, ia setengah berbisik. Posisinya karena ada Devan yang hendak menyiapkan makan malam.
"Itu hal kecil, kalian datang saja ke kantorku besok. Aku akan memberikannya."
"Benarkah?"
Semua bersorak riang. Akhirnya ada orang yang bersedia membantunya.
"Baiklah, besok aku akan datang ke kantormu dengan temanku tentunya."
Rumi langsung menutup telponnya, mereka kembali melihat ke arah Devan dengan jijik.
"Bisakah kau menyingkir? Biarkan temanku makan malam dengan baik," ucap Evelyn.
"Istriku, bisakah aku membantumu? Aku sudah menyiapkan uang itu dan kau tidak perlu meminta bantuan kepada orang lain." Devan menatap lembut Evelyn.
"Hey, menantu pengangguran sepertimu mana ada uang sebesar itu? Bahkan sehari-hari pun kau selalu minta sama anakku. Apa kau sedang mengkhayal?" Kristian sudah muak dengan suara Devan. Ia sudah mulai menyerangnya.
"Maafkan aku Papa mertua, tapi aku sudah mendapatkan uang yang Evelyn perlukan. Dengan begitu, Evelyn tidak perlu meminta bantuan orang lain," jawab Devan sambil menahan sesak di lehernya karena cengkraman dari Kristian sendiri.
Kristian melepaskan cengkraman itu, ia berkata dengan kasarnya. "Sebaiknya kamu pergi dari sini. Saya harap, secepatnya kamu urus perceraian dengan putriku."
"Tunggu dulu. Apa yang kamu bicarakan barusan? Apa kamu yakin punya uang sebanyak yang aku butuhkan?" Evelyn menyela.
"Tentu saja, istriku. Aku sudah menyiapkannya. Tunggulah sebentar, biar aku bawakan."
Lantas, Devan kembali ke belakang rumah memasuki kamarnya. Secepatnya ia menggapai kantung itu dan segera membawanya.
Semua orang masih sedang membicarakan Devan yang konyol itu. Bagaimana mungkin pria pengangguran sepertinya mempunyai uang banyak? Terkecuali jika ...
Srak...
Apa?
Devan menumpahkan uang di atas meja tepat di depan mereka. Semua melotot tak percaya. Apakah ini semua uang asli? Atau hanya uang mainan saja?
Kristian tahu betul jika itu semua adalah uang asli. Tapi, darimana Devan mendapatkannya?
"Darimana kau mendapatkan uang ini?"
"Aku ..."
Anda Mungkin Juga Suka





