Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Liar Sang Pelakor

Pesona Liar Sang Pelakor

Seorang istri tak sengaja memergoki ibu mertuanya sedang merancang siasat licik bersama wanita lain yang bertubuh molek. Sang mertua berniat menggantikan posisinya dengan alasan ia mandul, serta memerintahkan wanita itu merayu suaminya, Ali, demi mendapatkan cucu. Meski terkejut, sang istri yang merasa lebih cantik menolak untuk menyerah begitu saja. Ia memutuskan untuk mengikuti sandiwara mereka dan bertekad menjadikan mereka hanya figuran dalam rencananya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Bagaimana, Kak Mel? Sudah enakan?" Harum memijit betisku.

Gadis muda ini adalah pembantuku. Usianya kira-kira sembila belas tahun. Sejak dua bulan lalu dia sudah ikut bersamaku. Saat itu aku bermaksud mencari pembantu karena kondisiku yang sedang hamil. Dia datang bersama ibunya menawarkan diri. Bahkan sangat memelas. Dengan alasan putrinya menganggur di kampung, Mak Uda memohon-mohon.

"Lumayan, Alhamdulillah. Kamu pintar mijitnya, " ucapku masih sedikit meringis.

Entah kenapa akhir-akhir ini kakiku sering keram. Kata dokter yang kutemui dua hari yang lalu, itu biasa dialami oleh seorang perempuan yang sedang hamil tua.

"Kak, kalau kakak melahirkan nanti, Mak Tua ke sini, enggak?"

"Pastilah, tapi mungkin enggak bisa lama. Dia juga punya kesibukan di kampung. Kenapa, kau mau nitip sesuatu dari Mak Uda?" tanyaku.

Mak Tua adalah panggilannya untuk Ibuku. Sedangkan Mak Uda adalah panggilanku untuk ibunya. Rumah orang tuaku di kampung bersebelahan dengan rumah ibunya.

"Enggak, cuma nanya aja. Memang lebih baik kalau dia gak usah lama-lama di sini."

"Kenapa?" Aku kaget mendengar ucapannya.

"Kan udah ada aku yang ngerawat Kakak."

"Iya, sih," sahutku menyimpan tanya.

Aku merasa ada sesuatu yang tersirat dari ucapannya. Naluriku mengatakan ada yang sengaja ditutupi.

Sebenarnya kecurigaanku ini sudah sejak sebulan lalu. Harum akhir-akhir ini bertingkah aneh. Sering kudapati dia mematut diri di depan cermin hias saat membersihkan kamarku. Bahkan pernah kupergoki dia mencoba memakai gaun pemberian Mas Gilang suamiku.

Aku marah dan memintanya jangan pernah sembarangan membuka lemariku lagi. Sayangnya Mas Gilang malah membelanya. Dengan alasan sudah lama kepingin gaun seperti itu, pembantuku beralibi. Esoknya Mas Gilang membelikan gaun yang sama untuknya.

"Jangan kasar! Jangan buat dia tersinggung! Nanti kalau dia merajuk pulang kampung, gimana? Kita kehilangan pembantu, kita juga dicap gak bagus di mata orang kampung," kata suamiku beralasan.

Aku menurut, dan kembali memperlakukan dia dengan baik. Sampai malam harinya setelah kejadian itu, aku dapati Mas Gilang duduk berdua di meja makan. Aku kebelet malam itu.

Aku pikir Mas Gilang masih sibuk di depan. Suamiku memang punya usaha toko pupuk yang lumayan besar. Toko itu di depan rumah kami pusatnya. Sedang cabangnya tersebar di beberapa kecamatan. Kadang dia bekerja sampai malam terutama bila ada pengiriman ke cabang.

"Mas di sini? Kirain di toko?" kataku mengagetkan mereka berdua.

Aku tidak melihat dengan jelas, karena lampu dapur sudah padam. Sepertinya aku melihat Harum duduk dipangkuan suamiku. Saat aku menghidupkan lampu, gadis itu sudah bergeser. Kucoba menghibur hati, bahwa aku hanya salah lihat tadi.

"Iya, ini si Harum dari tadi duduk menyendiri di sini. Kebetulan aku baru pulang dari toko. Aku tanya ngapain gelap-gelapan. Dia bilang masih sedih karena kamu tegur tadi. Dia minta pulang kampung besok. Dari tadi aku sudah membujuknya."

"Rum, kakak udah minta maaf, kan? Kenapa masih merajuk?" tanyaku ikut duduk.

Gadis itu meraba bibirnya. Kenapa di tanya malah meraba bibir? Kulirik kancing bajunya terbuka dua buah bagian atas. Dadaku berdesir, saat itu sebenarnya aku sudah curiga. Tapi, aku tidak tahu harus curiga apa. Perasaanku tidak enak, seolah ada sesatu milikku yang paling berharga telah salah letak. Tapi, aku tidak tahu apa dan di mana.

***

"Kak, aku kembali ke kamarku, ya? Kakak udah bisa tidur, kan?"

Ucapan Harum membuyarkan lamunanku.

"Iya," sahutku menatap pungungnya ke luar kamar.

Kucoba memejamkan mata, melupakan prasangka dan kegundahan. Kurasakan gerakan bayiku seolah menendang. Kubelai perutku penuh kasih sayang. Aku terlelap bersama gerakannya.

Aku tersentak saat sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluk dari belakang.

"Mas, sudah tutup tokonya?" tanyaku memegang tangannya.

"Sudah, bagaimana, masih keram kakinya?"

"Sudah enakan. Mas makan dulu sana! Perlu aku hidangin?"

"Tidak usah, Sayang. Kamu tidurlah. Istirahat yang cukup, ya! Kata Dokter dalam minggu ini, kan?"

"Iya, Mas."

"Semoga bisa normal, ya."

"Tidurlah! Mas mau makan, setelah itu kembali ke ruang kerja mengecek laporan penjualan hari ini dari toko cabang!" Dia bangkit dan melangkah ke luar.

"Tunggu! Ada yang mau aku tanyain."

"Apa sih?" Mas Gilang kembali menghadapku.

"Sudah tiga minggu, kita enggak pernah lagi. Aku gak tega, Mas harus nahan selama itu. Belum lagi kalau nanti aku habis lahiran," sergahku.

Mas Gilang tersenyum, lalu berjongkok di sisiku.

"Aku sanggup nahan berapa bulan pun, Sayang. Demi kebaikan dirimu dan bayi kita." Dikecupnya lembut keningku.

Aku kembali mengerjapkan mata, begitu bahagia. Suami yang penuh pengertian.

"Makasih, Mas," bisikku sambil tersenyum.

Dia melangkah ke luar, kupejamkan mata, aku terlelap lagi.

Entah berapa lama sudah aku tertidur. Tiba-tiba aku terbangun karena mimpi buruk. Seseorang yang entah siapa mencuri baju dasterku. Aku kelelahan mengejar dan merebut kembali daster itu. Tapi, kakiku terjerembab lubang kecil, aku jatuh, lututku berdarah.

Kucari Mas Gilang di samping. Tidak ada. Kupikir pasti dia masih di ruang kerjanya. Tenggorokanku terasa kering, kucoba bangkit dan melangkah menuju dapur.

Kulirik ruang kerja Mas Gilang sambil lewat. Sunyi tidak terdengar apa-apa. Apakah suamiku ketiduran? Kubuka pintu dengan pelan. Aku heran melihat lampu tidak menyala di dalamnya. Segera ku tekan saklar di dinding dekat pintu. Ke mana dia? Mungkin dia harus keluar menemui pelanggan atau siapa, pikirku.

Tanpa curiga aku melanjutkan langkah. Sebelum sampai ke ruang makan, aku harus melewati kamar pembantu. Saat itu telingaku seperti mendengar suara desahan. Kucoba menajamkan pendengaran. Aku tidak salah dengar. Suara desahan bahkan rintihan kini semakin jelas. Kucari sumber suara itu. Aku mundur beberapa langkah.

Ini suara Harum. Desahan dan rintihan ini berasal dari kamarnya. Kenapa dia? Apakah dia sedang sakit? Kenapa tidak membangunkan aku kalau sakit.

Aku mulai panik. Sebegitu kesakitan kah gadis itu? Ya, Allah, jangan sampai dia kenapa napa. Spontan kudorong pintu kamar.

"Harum ... kamu kena --"

Suaraku terpotong demi melihat pemandangan di dalam.

Aku terduduk lemas, di depan pintu, kupegangi kepalaku yang berdenyut hebat. Bayi dalam perut ikut meronta-ronta.

***

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Bonekamu
8.3
Ariana terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Daniel Aldrigham demi wasiat ayahnya yang sakit. Daniel ternyata memiliki kekasih gelap, sementara ayah mertuanya sengaja memanfaatkan Ariana sebagai alat untuk memisahkan mereka. Di tengah pengkhianatan dan manipulasi keluarga kaya ini, Ariana harus memilih: menjadi boneka penurut atau berbalik melawan demi harga dirinya. Akankah ia berhasil menaklukkan hati Daniel yang dingin, atau justru hancur dalam permainan ini?
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Kontrak Rahasia Sang Pewaris
9.0
Demi menyelamatkan ibunya yang kritis, Elysia terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Lancaster. Sang pewaris tunggal itu menjanjikan lima miliar rupiah asalkan Elysia bersedia menikah kontrak dan melahirkan keturunan untuk keluarganya. Meski merasa seperti menjual darah daging sendiri, Elysia tak punya pilihan lain. Namun, di balik kemewahan kontrak tersebut, Damian menyimpan rahasia besar yang membuat Elysia terjebak tanpa jalan keluar dari kesepakatan ini.
Sampul Novel LELAKI YANG TERKHIANATI
9.6
Lima tahun merantau ke luar negeri, Tarno pulang membawa kalung inisial khusus demi memberi kejutan manis bagi istrinya, Susanti. Namun, kepulangannya yang tanpa kabar justru mengungkap kenyataan pahit. Di atas ranjangnya sendiri, ia memergoki Susanti sedang bersama Joko, sahabat yang selama ini ia percayai untuk menjaga istrinya. Hancur oleh pengkhianatan dua orang terdekatnya, bagaimanakah langkah Tarno menjalani hidup setelah rahasia kelam ini terbongkar?
Sampul Novel Mantan Kekasihku Menjadi Bosku
8.5
Nina terkejut saat takdir mempertemukannya kembali dengan mantan kekasih yang sangat ia benci. Meski sudah pindah kota demi memulai hidup baru, pria dari masa lalunya itu kini justru muncul sebagai bos di kantornya. Hubungan mereka hancur akibat kesalahpahaman pahit yang menyisakan kebencian mendalam. Di tengah tekanan pekerjaan dan konflik batin, Nina bimbang antara melarikan diri lagi atau bertahan menghadapi pria yang dahulu sangat ia cintai itu.