Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Liar Sang Pelakor

Pesona Liar Sang Pelakor

Seorang istri tak sengaja memergoki ibu mertuanya sedang merancang siasat licik bersama wanita lain yang bertubuh molek. Sang mertua berniat menggantikan posisinya dengan alasan ia mandul, serta memerintahkan wanita itu merayu suaminya, Ali, demi mendapatkan cucu. Meski terkejut, sang istri yang merasa lebih cantik menolak untuk menyerah begitu saja. Ia memutuskan untuk mengikuti sandiwara mereka dan bertekad menjadikan mereka hanya figuran dalam rencananya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Anakmu perempuan, Mel.”

Antara sadar dan tidak, sayup kudengar kalimat itu. Kepalaku terasa sangat berat. Sekujur tubuh sakit dan pegal. Sama sekali tidak bisa digerakkan. Tapi yang paling nyeri kurasakan di bagian perut. Kenapa aku? Di mana aku?

“Mel, kamu sudah sadar, Nak? Buka matamu! Anakmu sudah lahir dengan selamat. Kau tidak ingin melihatnya?”

Itu suara ibu. Ibuku ada di sini. Dia berkata anak? Anakku? Spontan kugerakkan tangan. Tapi, terasa masih sangat berat. Kenapa aku begini lemah. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Anakku sudah lahir kata ibu. Kapan? Bagaimana bisa? Aku tidak ingat apa-apa.

“Kalau memang belum sanggup, ya, sudah! Pelan-pelan saja, ya, Nak.Yang penting sekarang kau harus tahu, kalau kau saat ini sudah sah menjadi seorang ibu. Selamat, ya! Berbahagialah! Putrimu sangat cantik. Persis seperti dirimu saat bayi dulu. Bedanya dia lebih mancung dikit dari kamu. Matanya dan bibirnya nurun kamu, tapi hidungnya nurun Gilang. Pasti nantinya dia akan lebih cantik dari kamu, hehehe ….”

Kalimat ibu membuatku senang. Aku bahagia mendengarnya. Ingin sekali aku segera membuka mata, lalu melihat wajah putriku. Tapi. Mata ini rasanya diberi lem perekat. Perih sekali.

Mas Gilang di mana, ya? Kenapa aku tidak mendengar suaranya? Tiba-tiba ingatanku telah kembali seutuhnya. Aku ingat semuanya sekarang. Malam itu, peristiwa malam itu terbayang lagi di pelupuk mataku. Kubuka paksa kelopak mata. Awalnya pandanganku masih gelap, kupaksa lagi, cahaya putih terasa membias dan menyilaukan. Akhirnya pandangan sudah sempurna.

Kutatap wajah ibu yang duduk di sisi kanan. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Laki-laki itu duduk di sofa, menatapku lalu menunduk. Seketika darahku mendidih. Aku ingin bangkit, lalu menampari wajahnya, meludahinya, atau mencakar-cakar tubuhnya. Bila perlu ingin sekali kutikam dadanya dengan belati. Aku mau mencuci wajahku dengan darahnya. Tapi, aku belum sanggup bergerak.

“Mel, kamu sudah sadar?” Ibu memeluk, lalu mengelus kepalaku.

“Kenapa Melur, Bu?” tanyaku dengan suara serak.

“Kata Gilang, kamu tiba-tiba pingsan tadi malam. Dia bawa ke rumah sakit, terpaksa dokter mengambil tundakan cesar. Bayimu sudah minta dilahirkan. Cita-citamu ingin melahirkan secara normal, enggak bisa dilakukan, Mel.”

Aku terdiam, jadi aku pingsan setelah melihat kejadian tadi malam? Mas Gilang tidak memberitahu ibu yang sebenarnya?

“Gilang! Istrimu sudah sadar, kenapa kamu masih di situ?” Ibu menatap menantunya heran.

“I … iya, Bu.” Lelaki itu bangkit, lalu melangkah ke arahku.

Kutatap tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Terbayang lagi saat tubuh itu telanjang dan bergumul dengan Harum tadi, malam. Aku mulai mual.

“Oug … saya mau muntah, Bu,” ucapku menutup mulut dengan tangan.

“Oh, iya. Masuk angin kamu, ya? Muntah ke sini aja, ayo!” Ibu membuka kantongan plastik dan mendekatkan ke mulutku.

“Sudah, tidak jadi,” kataku setelah mulai tenang.

“Minum air hangat, coba!”

Aku menghisap air putih hangat yang disodorkan ibu menggunakan pipet. Mas Gilang tidak berani melanjutkan langkah. DIa berdiri mematung tak jauh dari ranjang pasien.

“Kamu temani Melur! Ibu mau ke kamar mandi sebentar,” perintah ibu kemudian.

Mas Gilang terlihat gugup. Terpaksa dia melangkah lagi ke dekatku. Kali ini hatiku telah kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah. Rasa benci dan dendam mulai menguatkan hati dan tekatku.

“Mel!” panggilnya seperti berbisik.

Aku memejamkan mata. Batapa ingi ku mencabik-cabik wajah dan tubuhnya. Tapi, kekuatanku belum pulih, percuma aku meradang sekarang.

“Aku sudah mengazani putri kita.”

Aku diam.

“Dia cantik sekali. Kayak kamu.”

“Mana orang tuamu?” ketusku tiba-tiba. Tidak perduli dengan ucapannya.

“Oh, mereka masih dalam perjalanan. Mungkin satu jam lagi sudah sampai. Mereka tidak mengira kalau kamu lahirannya sekarang jadi mereka ke tempat Kak Bulan . Perkiraan Dokter, kan seminggu lagi.”

“Mana perempuan itu?”

Kutatap tajam wajahnya yang semakin pucat. Dia semakin gugup tak berani membalas tatapanku.

“Begitu datang orang tuamu, langsung kau talak aku! Di hadapan kedua orang tuamu dan ibuku. Kau paham?”

“Jangan begitu, dong, Mel. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik. Jangan minta talak!”

“Kenapa? Kenapa! Auw!” aku berteriak, tak sadar kalau perutku masih sangat sakit. Luka bekas dibelah dan dijahit ini terasa meregang saat aku berteriak.

“Jangan teriak-teriak dulu, Mel! Luka diperutmu masih basah!”

“Biar kau puas! Kalau aku kenapa-napa, kau puas, iya, kan?”

“Tidak, Sayang. Aku tidak mau kau kenapa-napa. Kau ingat, aku bahkan tidak berani menyentuhmu saat hamil. Aku tidak mau kau kesakitan, Mel.”

“Bohong! Kau Pembohong! Kau tidak mau menyentuhku bukan karena kasihan, tapi karena perut buncitku. Apa lagi ada perempuan murahan di rumah kita yang masih gadis, masih ketat, masih sempit yang bisa kau gunakan. Kau jahat! Kau telah berzina dengan anak gadis orang!”

“Hust! Suaranya jangan keras-keras! Nanti ibu dengar!”

“Jadi, maksudmu? Ibuku tidak perlu tahu kelakuanmu, begitu?”

“Mel, aku mohon. Masalah ini jangan sampai orang tua kita tahu. Aku toh, tidak pernah melakukan hal seperti ini. Baru kali ini, Mel. Itupun karena aku khilap. Aku tidak tahan menahan godaan.”

“Godaan? Godaan kau bilang?”

“Iya, Harum selalu menggodaku. Ternyata dia perempuan gak bener, Mel. Kita salah telah menerima dia bekerja di rumah kita.”

“Apa maksudmu, Mas?”

“Teru terang, sebanarnya dia sudah lama memancing-mancing agar aku mau melayani napsunya. Dia sudah tidak gadis, Mel. Bukan aku yang pertama menidurinya. Dia sudh tidak perawan selama ini.”

“Cukup!”

“Dia juga mengakui itu. Makanya dia tidak akan menuntut apa-apa dariku. Dia juga sudah pergi dari rumah kita.”

“Kau! Kau mau aku percaya, Mas?”

“Aku tidak memaksamu percaya, tapi kenyataannya memang seperti itu.”

“Aku tidak percaya!” teriakku bersamaan dengan ibu keluar dari kamar mandi.

“Ada apa, ini?” tanya ibu melotot.

“Melur menanyakan Harum, Bu. Dia tidak percaya kalau Harum sudah tidak di rumah,” sahut Mas Gilang seolah memohon pembelaan.

“Iya, Mel. Si Harum tadi pagi sudah pulang di jemput ibunya. Kami malah bareng berangkatnya ke sini tadi pagi sama Mak Udamu.”

“Kenapa bisa, Bu?” Suaraku serak, seperti tersekat di tenggorokan.

“Katanya, si Harum mau nikah. Enggak lama lagi ada yang mau datang melamar. Jadi Harum sudah harus di pingit di rumah. Alhamdulillah, akhirnya dia bertemu jodoh yang baik. Khabarnya orang kaya dari kota juga. Seperti suami kamu. Semoga calon Harum itu sama juga baiknya seperti Gilang. Orang kaya, tapi sangat menyayangimu. Padahal kita hanya orang kampung yang miskin. Iya, kan, Nak Gilang?”

“I … iya, Bu.”

Kenapa Mas Gilang terlihat semakin gugup. Siapa lelaki kaya dari kota yang ingin melamar Harum? Sandiwara apa ini? Apakah memang selama dua bulan ini dia telah menjalin asmara dengan seseorangntanpa sepengetahuanku? Kalau iya, kenapa dia masih mau tidur dengan suamiku?

“Kalian sudah punya momongan, ibu harap kalian semakin bahagia. Memang ibu tidak pernah mendengar kalian itu ribut, apalagi sampai berantam atau ngancam mau pisah. Ibu berharap agar kalian mempertahankan keadaan ini. Sudah ada anak. Anak itu adalah prioritas nomor satu. Kesampingkan ego! Kalian mengerti?”

“Mengerti Bu, Saya akan tetap mencintai Melur dengan segenap hati saya. Dia sudah menghadiahi saya anak yang sangat cantik. Papa dan Mama pasti sangat bangga di kasih cucu perempuan. Anak Kak Bulan dua-duanya laki-laki. Tadi saat saya telpon, Mama sampai nagis karena terharu.”

“Syukurlah kalau mertuamu juga sangat bahagia, Mel. Kau pasti tambah di sayang.”

Ibu memeluk dan mengelus kepalaku dengan lembut. Dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Bagaimana hancurnya hatiku karena suami yang aku banggakan ini ternyata seorang durjana. Dia bisa tidur dengan perempuan lain, di rumahku. Mereka berzina di sampingku. Desahan dan rintihan kenikmatan yang mereka rasakan bahkan terdengar oleh telingaku.

Entah berapa lama sudah mereka menjalin hubungan terlarang itu. Entah berapa kali sudah mereka melakukannya. Mungkin tiap malam. Apa lagi bila kuingat Harum yang masih sangat muda. Suamiku pasti sangat menikmatinya. Pasti dia sanggup setiap malam melakukannya. Harum juga sepertinya sangat menginginkannya. Buktinya tidak sekalipun dia mengisyaratkan kalau dia tidak betah bekerja di rumahku. Dia terlihat semakin bergairah melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pembantu.

Benarkah yang dikatakan Mas Gilang, kalau sebenarnya Harumlah yang selalu memancing dan menggodanya? Artinya dia yang menginginkannya. Benarkah tidak ada maksud tersembunyi perempuan yang telah kuaggap seperti adikku itu? Murni hanya karena napsu belaka kah? Apakah benar dia mau pergi begitu saja dari rumahku setelah suamiku berkali-kali menyetubuhinya? Benarkah dia pergi karena bakal ada yang datang melamarnya? Orang kaya dari kota? Siapa? Kenapa perasaanku sangat tidak enak.

Apa yang harus aku lakukan? Semula aku ingin segera minta ditalak, tapi sekarang, aku mulai bingung. Oh, aku tidak boleh berpikir keras dulu. Aku masih sangat lemah. Kalau aku memaksakan diri, aku takut terjadi pendarahan. Biarlah begini saja dulu. Tunggu sampai aku lebih kuat, akan kuselidiki semuanya. Aku tidak akan percaya begitu saja.

Tiba-tiba ponsel Mas Gilang berbunyi. Dia terlihat gugup setelah melihat si penelepon.

“Siapa? Orang tuamu? Udah sampai mana?” tanya Ibu menatapnya.

“Papa dan mama sudah hampir sampai, Bu. Ini telpon dari teman. Saya permisi keluar sebentar,” sahutnya semakin gugup.

Sempat dia menatapku seperti minta ijin. Salahkah jika naluriku mengatakan dia tengah menyembunyikan sesuatu? Sorot matanya seolah bercerita, meski mulutnya berkata dusta.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Bonekamu
8.3
Ariana terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Daniel Aldrigham demi wasiat ayahnya yang sakit. Daniel ternyata memiliki kekasih gelap, sementara ayah mertuanya sengaja memanfaatkan Ariana sebagai alat untuk memisahkan mereka. Di tengah pengkhianatan dan manipulasi keluarga kaya ini, Ariana harus memilih: menjadi boneka penurut atau berbalik melawan demi harga dirinya. Akankah ia berhasil menaklukkan hati Daniel yang dingin, atau justru hancur dalam permainan ini?
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Kontrak Rahasia Sang Pewaris
9.0
Demi menyelamatkan ibunya yang kritis, Elysia terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Lancaster. Sang pewaris tunggal itu menjanjikan lima miliar rupiah asalkan Elysia bersedia menikah kontrak dan melahirkan keturunan untuk keluarganya. Meski merasa seperti menjual darah daging sendiri, Elysia tak punya pilihan lain. Namun, di balik kemewahan kontrak tersebut, Damian menyimpan rahasia besar yang membuat Elysia terjebak tanpa jalan keluar dari kesepakatan ini.
Sampul Novel LELAKI YANG TERKHIANATI
9.6
Lima tahun merantau ke luar negeri, Tarno pulang membawa kalung inisial khusus demi memberi kejutan manis bagi istrinya, Susanti. Namun, kepulangannya yang tanpa kabar justru mengungkap kenyataan pahit. Di atas ranjangnya sendiri, ia memergoki Susanti sedang bersama Joko, sahabat yang selama ini ia percayai untuk menjaga istrinya. Hancur oleh pengkhianatan dua orang terdekatnya, bagaimanakah langkah Tarno menjalani hidup setelah rahasia kelam ini terbongkar?
Sampul Novel Mantan Kekasihku Menjadi Bosku
8.5
Nina terkejut saat takdir mempertemukannya kembali dengan mantan kekasih yang sangat ia benci. Meski sudah pindah kota demi memulai hidup baru, pria dari masa lalunya itu kini justru muncul sebagai bos di kantornya. Hubungan mereka hancur akibat kesalahpahaman pahit yang menyisakan kebencian mendalam. Di tengah tekanan pekerjaan dan konflik batin, Nina bimbang antara melarikan diri lagi atau bertahan menghadapi pria yang dahulu sangat ia cintai itu.