Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Gadis Camilan

Pesona Gadis Camilan

Nathalie Benoit adalah primadona di dunia gelap Santa Marie, Los Angeles, yang terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Namun, nasib baiknya seolah sirna saat ia bersinggungan dengan Adam Connor. Pertemuan dengan miliarder yang dirumorkan impoten tersebut memicu skandal besar yang menjungkirbalikkan dunia Nathalie. Di tengah kekacauan berita miring yang beredar, ia harus memilih antara terus berjuang melawan rintangan atau menyerah pada keadaan bersama Adam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dengan kendali diri yang sudah hancur berkeping-keping, Adam mendorong Nathalie ke sofa yang hanya berjarak selangkah dari tempat mereka bercumbu. Wanita itu lembut, hangat, dan terasa manis, jantung Nathalie berdegup kencang di dada Adam. Adam sadar bahwa ia membutuhkan Nathalie malam ini juga. Ia harus menyatu dengan gadis itu.

Nathalie melengkungkan tubuh, merintih di mulut Adam, tangannya meluncur lepas dari rambut Adam untuk mengelus otot perut pria itu yang masih tertutup kain. Jemari gadis itu mencengkram dada Adam, menyebarkan api di kulit pria itu. Ia melilitkan jemari di rambut pria itu, menyambut intensitas Adam dengan dahaganya yang menuntut. Ini hanya ciuman, hanya bibir, gigi dan lidah. Namun, mampu membuat dirinya hampir meledak, panas di antara tungkainya melunak. Puncak payudaranya kencang dan nyeri di balik bra berendanya.

Adam yang melihat hasrat di mata gadis itu segera menyibak gaun malam Nathalie hingga ke pinggul, membuka paksa tungkai Nathalie dengan kakinya sendiri, berniat membebaskan gairahnya.

Adam melepaskan kain penutup berbentuk segitiga yang sudah sangat basah, membuangnya ke sembarang arah. Kemudian ia membuka resleting dan melepaskan celananya dengan secepat kilat dan mulai memasukkan miliknya. Ia mendorong maju, menyentuh sesuatu yang panas dan licin. Bagian itu luar biasa ketat, otot-otot dalam Nathalie menolak invasi Adam. Gadis itu terasa masih sangat sempit.

“Oh, tidak, Nathalie, kukira kau sudah sering bermain dengan pria lain, tetapi mengapa bagian ini sangat sempit,” geramnya masih berusaha mendorong lebih kuat lagi.

“Kemungkinan milikmu yang lebih besar daripada milik mereka.”

“Oh, shit, kau membuatku semakin terbuai, Sayang.”

Berjuang untuk mengendalikan diri, Adam kembali menempelkan bibir ke pelipis Nathalie dan menarik diri perlahan. “Rileks, Nathalie.”

Adam meregangkan tungkai Nathalie lebih jauh, melilitkan sebelah betis gadis itu di pinggangnya, dan mengangkat yang satu lagi agar bersandar ke sandaran sofa, membetulkan posisi Nathalie. Kemudian Adam kembali bergerak, dan menarik lagi. Lagi-lagi ia kembali menyelusup dan mundur, sedikit demi sedikit merenggangkan wanita itu, hingga tubuhnya gemetar oleh hasrat untuk sepenuhnya menyatu.

Mata Nathalie terpejam, napasnya tak teratur, tungkai yang melingkari pinggang Adam menarik lebih dekat, mendesak pria itu.

Tak sanggup menahan diri lebih lama lagi, Adam membenamkan diri, merasakan denyut nadi Nathalie bagaikan genggaman tangan. Basah, rapat, dan sempurna. “Oh, astaga.”

Nathalie mengerang, suara kenikmatan surgawinya terdengar nyaring, kukunya membenam di pundak Adam, pinggulnya terangkat. Ia tak menyangka bahwa pria yang dirumorkan impoten, memiliki benda yang sangat keras dan besar. Bola matanya hampir saja keluar saat merasakan kepunyaan pria itu menembus dinding rahimnya.

Adam kembali bergerak lincah, gesekan licin membuatnya nyaris mencapai puncak. Bertekad menahan diri selama mungkin, ia berjuang untuk lebih rileks, berusaha untuk mencapai irama yang santai, tetapi kenikmatan yang ia rasakan terlalu hebat. Adam merasa tubuhnya kian tegang, dan tahu akan mencapai klimaks yang jauh terlalu cepat. Ia benar-benar tak bisa menahan diri. Belum ada gadis yang bisa membuatnya seperti ini, dan hanya Nathalie yang sanggup membuatnya merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Oh, Adam! Aku tidak pernah mengira ini bisa begitu … oh!”

Nathalie tak bisa mempercayai apa yang ia rasakan, perasaan lengkap nan nikmat, regangan yang manis, dan belaian halus Adam saat bergerak di dalam tubuhnya. Adam terasa besar, tebal, dan sekeras baja, setiap dorongan dari pria itu membuatnya mendambakan yang berikutnya. Ini adalah percintaan yang sesungguhnya, bukan percintaan yang kerap ia jalani bersama kliennya. Bukan percintaan yang dilandaskan karena tanggung jawab, tetapi percintaan yang memang dilandasi kemauan satu sama lain. 

‘Oh, Nathalie, apa sekarang kau menginginkannya kembali. Ingat dia sudah memiliki tunangan.’

“Kau berbohong, Adam! Kau tidak impoten. Aish, kau sangat jantan.”

“Sekarang kau bahkan mengakuinya, Sayang.”

Pipi Nathalie bersemu merah. Ia malu—sangat malu. Ia lalu menatap mata abu Adam yang seolah terbakar, otot dalam tubuh Nathalie mengencang. “Adam!”

Sebelah sudut bibir Adam terangkat, miliknya masih tegang, dan dia tak ingin menyia-nyiakan momen tersebut. “Aku ingin merasakan kepuasanmu, Sayang! Merasakannya dalam tubuhku!”

Adam kembali mendorong dalam-dalam, menahan ritme yang tak terlalu cepat tetapi mampu membuat gadis itu mengerang, membuat kenikmatan mengencang di perut Nathalie. Tak lama setelah itu Adam merasakan kehangatan yang luar biasa. Nathalie telah mencapainya.

Kenikmatan melandanya seperti  gelombang emas leleh, mengalir panas, empasan hangat itu memaksa udara keluar dari paru-parunya dalam bentuk pekik tersendat, ototnya mengencang di sekitar tubuh Adam, rasa penuh itu menusuk manis.

Nathalie mendengar Adam membisikkan namanya, merasakan kecepatan pria itu berubah. Dengan gerakan pinggul bak piston, Adam mendorong dengan cepat dan kuat, dan sapuan kuat itu membawa Nathalie ke klimaks kedua yang terasa sangat mustahil didapatkannya. Dia tak pernah mendapatkan ini jika bersama klien sebelumnya. Nathalie tak pernah mendapat klimaks kedua. Adam benar-benar seorang pria yang mampu membuat mendapat kepuasan. 

Pertanyaan itu lagi-lagi berputar di kepalanya, mengapa Adam dikatakan impoten? Mengapa pria itu tak membuktikannya, misalnya dengan menghamili sang tunangan, mungkin. Meski pertanyaan itu selalu memenuhi kepala Nathalie, tetapi ia tak berani untuk bertanya lagi. Pikirannya sudah kalut, pria itu jelas berpengalaman.

***

Gadis itu menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya, rasa kesal yang sejak tadi tertampung akhirnya bisa meledak juga. 

“Ini ulahmu kan, Cris? Aku tak tahu berapa yang ia bayar, tetapi aku ingin tahu mengapa ia melakukannya?”

Wanita tua itu menggeleng pelan, sembari menyimpan puntung rokoknya di asbak. Asap tipis keluar dari mulutnya. “Aku tidak paham maksud dari ucapanmu, Nath.”

Rahang Nathalie mengeras. Orang tua itu sungguh keras kepala. “Aku tidak akan memberontak, tidak akan menuntut atau marah padamu. Aku hanya ingin tahu siapa dalang di balik segalanya. Sudah seminggu, dan tidak ada orang yang menginginkanku? Ayolah, Cris, aku butuh uang.”

“Aku akan memberikan uang untukmu, Nath. Kau hanya perlu menjalani hari seperti biasa,” balasnya acuh lalu menarik salah satu laci di kubikelnya. Wanita itu mengeluarkan amplop tebal yang sudah bisa ditebak berisi uang.

“Aku tidak makan gaji buta. Kau membuatku semakin yakin bahwa Adam Connor yang melakukan semua ini.” Nathalie menyeringai lalu menatap intens Cristy yang kembali menarik sebatang rokok. “Sebenarnya apa rencana kalian?”

“Ini bukan gaji buta, Sayang. Dia akan datang, malam ini kau harus memuaskannya lagi.”

Nathalie mengembuskan napas kesal. “Aku tidak ingin, Cris. Dia memiliki tunangan.”

“Masih tunangan, Nath, dan asal kau tahu tunangannya sudah memutuskan untuk mundur. Jadi tak ada alasan lagi untuk menolaknya.”

Sebenarnya Nathalie sedikit senang. Ia akan kembali dipertemukan dengan pria yang telah memberinya kepuasan. Namun, pria itu memiliki sikap congkak. 

Hei, kau hanya melakukan kemauan klienmu, Nona. Jangan menjadi gadis pemilih.

“Ah, tunggu sebentar.” Cristy masuk ke kamarnya lalu keluar membawa paper bag berwarna hitam yang membuat alis Nathalie terangkat. “Pakailah ini saat bersamanya. Sepertinya fantasi liar Adam Connor sangat tinggi.”

Nathalie mengambil benda itu, mengeluarkan isi dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Lingerie tipis berwarna hitam, bagian dada berenda dan yang lainnya transparan. Tak lupa juga satu celana stoking yang berwarna senada. 

“Tunggu! Tak ada dalaman?”

Cristy mengangguk. “Dia tak memesan itu. Sepertinya ia berniat merobek celana tipis itu dan memasukkan kejantanannya tanpa harus bersusah payah menurunkan dalamanmu.”

Suara langkah yang cepat membuat Nathalie segera memasukkan pakaian sialan itu. 

“Hei, Nath. Apa Adam benar-benar impoten?” Katherin—sahabat Nathalie—merangkul pinggang gadis itu.

“Jika dia impoten, dia tak akan memesan pada Cristy baju seperti ini.” Ia melempar paper bag itu ke meja, membuat Katherine mengangkat pandangan agar bisa menatap isi paper bag tersebut.

Senyum Kath mengembang. “Kurasa impoten itu hanya rumor untuk membatalkan pertunangannya.”

“Kath, jangan menyebarkan ini. Adam akan menuntutku jika berita itu tersebar.” Cristy mulai mengancam.

“Tidak akan Ma’am, kecuali jika dirimu tak memberiku jajan yang sedikit lebih banyak dari kemarin.”

Wanita tua itu berdecih. “Kau hanya memikirkan uang. Pikirkan saja si pria Meksiko yang kemarin harus menjalani perawatan karena kau menggigit kejantanannya.”

Nathalie memekik sembari membelalakkan mata. “What the fuck, Kath. Apa yang kau lakukan?”

Kath menaikkan bahu acuh. “Salahkan nafsuku yang seperti singa betina.”

“Seharusnya kau yang harus dijuluki nomor satu di sini, Kath.”

“Oh, tidak, tidak, Nath. Kaulah gadis terlama di sini, dan kau berhak mendapat predikat itu, Sayang.” Katherin menepuk pundak Nathalie.

“Hei, sudahi acara beramah tamahnya, Sayang. Sebentar lagi matahari terbenam, dan kalian berdua sepertinya memiliki pelanggan tetap.”

Mata Katherin melebar. “Heh? Pelanggan tetap? Aku tidak pernah mau melakukan hal itu pada orang yang sama, Cris, dan kau Nath … kau pun seperti itu, bukan? Mengapa kami harus melayani pelanggan yang sama?” protesnya lagi.

Cristy memijat pelipisnya. “Aku tidak bisa menolak, Kath. Dua pria ini benar-benar membuatku gila. Adam Connor bisa membuat tempat ini hilang, dan pria Meksiko itu bisa membuatku di penjara.”

Nathalie dan Katherin terbelalak. Mereka tak paham situasinya.

“Keduanya memiliki kekuasaan yang tinggi, Sayang. Aku berharap kalian bisa memuaskan mereka.”

“Baiklah, tetapi hanya dia, Ma’am. Tak ada yang lain yang bisa mengulang untuk tidur bersama kami.” Nathalie segera turun dari kursi lalu tersenyum pada Katherin. “Semangat, Kath. Aku tahu pria Meksiko itu bisa memuaskan libidomu yang tinggi.”

“Oh, shit. Kau pun seperti itu, Nath. Aku tahu pria impoten itu membuat ovariummu berteriak.”

Keduanya berpisah dan masuk ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan apa yang akan dihadapinya.

***

Nathalie menatap pantulan dirinya di kaca yang cukup lebar. Ia tak tahu mengapa ada kaca besar yang tersimpan di kamar kerjanya. Apa Adam Connor yang memintanya? Namun, untuk apa?

Ia menggerutu melihat pantulannya sendiri. Ia seperti tak menggunakan pakaian. Jadi untuk apa pria itu memintanya mengenakan kain tipis seperti ini. Nathalie merasa malu sendiri, mengingat aksinya seminggu yang lalu membuat napasnya berburu dan pipinya memanas. 

'Oh, Nona. Apa sekarang kau sedang mengharapkan hal yang lebih.'

Nathalie segera mengambil jaket tipis lalu keluar ke balkon, menghirup udara musim gugur yang sudah ditebak akan sangat dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menutup mata, dan merasakan angin sejuk menggerogoti tulang-tulangnya. Lampu-lampu gedung dan lampu kendaraan di bawah sana tampak sangat kecil dari tempatnya berdiri. Tentu saja, ia sedang berada di lantai dua puluh lima. 

Matanya seketika terbelalak, saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Nathalie segera memutar tubuh, mendapati Adam yang juga menatapnya dengan senyuman yang begitu manis.

“Di sini dingin, Nathalie.”

“Aku tahu, tetapi aku suka di sini.”

Senyuman nakal terlihat dari sudut bibir Adam. “Apa kau ingin melakukannya di sini?”

“Heh? Kau tak malu?”

“Tak akan ada yang melihat kita di sini, Nath.”

Seketika Adam mencium bibir gadis itu dengan lembut, sapuan hangat tersebut membuat mata Nathalie terbelalak. Ia tahu betul, bahwa gadis itu menyukainya, dan ia akan memberikan apa yang gadis itu sukai. 

Pria itu melepaskan pagutan, membuat Nathalie memandang tak suka. “Mengapa kau menggunakan ini?” tunjuknya pada jaket tipis yang gadis itu kenakan. “Aku tidak bisa melihat tubuhmu, Nath.” 

Suara berat Adam meningkatkan gairah Nathalie, dengan sekali sentakan ia melepaskan jaket tipis dan menjatuhkannya di lantai balkon. Udara dingin tidak terasa lagi. Semuanya berubah menjadi hangat, setelah Adam ada di sini.

Ia tak tahu mengapa dirinya begitu mudah luluh akan pesona Adam. Apakah ia jatuh cinta? Ya, Nathalie jatuh cinta pada permainan Adam yang begitu memabukkan. Pria itu seperti seorang ahli. Nathalie bahkan malu untuk mengakuinya, padahal seminggu yang lalu ia tak percaya dan tak menyangka bahwa pria impoten masuk ke kamarnya. Siapa pun tolong katakan bahwa ini hanyalah mimpi semata. Pria impoten yang ia rendahkan ternyata sekuat baja.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel An Affair
9.2
Winter Samantha menyamar demi menghancurkan keluarga Smith yang telah merenggut nyawa orang tuanya. Ia sengaja menjerat Edward Smith dan putranya, David, ke dalam skandal perselingkuhan yang berbahaya. Namun, di tengah misi balas dendam tersebut, muncul Sean William, sahabat masa kecil yang mencintainya dengan tulus. Kini Winter terjebak dalam dilema besar: tetap menghancurkan musuhnya atau memilih hidup bahagia bersama lamaran cinta sejatinya, Sean.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama mempermalukanku di hari pernikahan kami dengan menyebutku milik kakaknya demi kembali pada mantan kekasihnya, Saskia. Dia sengaja menunda kesembuhan Saskia demi menikmati hubungan mereka, yakin aku akan setia menunggu. Namun, Baskara salah besar. Aku tidak akan diam saja saat dia berencana memiliki kami berdua. Aku mendatangi penguasa sejati keluarga mereka, Dananjaya Aditama, dan memintanya menikahiku untuk menghancurkan Baskara.
Sampul Novel Hasrat Cahaya Bulan: Lamaran Sang CEO yang Berani
8.7
Bertha melakukan kesalahan fatal dengan meminta kiriman video dewasa kepada CEO-nya di tengah malam. Alih-alih mendapatkan apa yang ia inginkan, sang bos justru menawarkan demonstrasi nyata secara langsung. Usai menghabiskan malam penuh gairah yang tak terduga, Bertha pasrah akan nasib kariernya. Namun, kejutan besar datang saat Justin justru melamarnya untuk menikah. Di tengah kebingungan, Bertha pun mempertanyakan apakah bosnya itu sedang bercanda.
Sampul Novel Kejahatan Termanis
7.9
Nevilla melakukan kesalahan fatal saat mengejar ambisi jabatan di perusahaan dengan mendekati Adero. Keputusannya berpaling dari Aron justru membangkitkan bayang-bayang kelam dari enam tahun silam. Saat ikatan mereka kian erat, Nevilla terjebak tanpa celah untuk melarikan diri. Kini, ia harus berhadapan dengan sosok pria berbahaya yang mengancam akan menghancurkan seluruh hidupnya, menyeretnya ke dalam konflik masa lalu yang sangat mematikan.
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya memikul kutukan maut: siapa pun yang tulus mencintainya akan ditimpa petaka hingga tewas. Setelah kehilangan orang tua, ia hidup terasing demi melindungi sesama. Saat neneknya sekarat dan ingin kutukan itu sirna, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang membencinya. Kesepakatan ini diambil demi ketenangan sang nenek. Akankah Viona mampu menjaga hatinya tetap dingin, atau ia justru akan menjadi korban cinta berikutnya?