Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Cantik Aisyah

Pesona Cantik Aisyah

Pesona Aisyah Mehrunisa Zahwa yang bak bidadari membuat Hasan Pratama terobsesi. Meski Aisyah merasa risih dengan sikap agresif Hasan, pria itu justru makin tertantang menaklukkan hatinya. Situasi kian rumit karena restu sang ibu justru berpihak pada Hasan, sementara cinta Aisyah untuk Arya terhalang restu orang tua. Terjebak dalam cinta segitiga, Aisyah berusaha menjauh namun Hasan tetap gigih mengejarnya meski harus menghadapi penolakan yang terus-menerus.
Bab
Bagikan

Bab 3

Siang ini Pria yang sedang memakai Jaket jeans berwarna biru terang. Dengan penataan rambut yang rapih dan terlihat sekali pria itu gagah sekali.

Layaknya Arjuna, badan nya ideal dan macho, tubuh nya kekar dan berotot , Tingginya 170.Wajah nya tampan, dan tidak membosankan jika memandang nya terus menerus, bibir nya tipis dan sexxy menambah ketampanan nya.

Pria itu tersenyum manis pada wanita paruh baya yang selalu berdandan cantik dan sangat sosialita sekali. Pakaian nya brandet semua dan mahal mahal, dan dia sedang menghampiri putra nya yang terlihat tampan sekali.

"Gantengnya anak mamah ini."puji Sofi sambil mengelus pipi anak lalu mencubit gemas pada hidung putranya.

"Hehe, aku kan wajah jiplak kan wajah papah. Papah nya ganteng pasti turun ke anak nya,"jawabnya sambil tersenyum kecil.

"Kamu mau kemana,

rapih bener."tanya Sofi dengan menggoda anaknya sambil senyum senyum.

"Mau ke rumah Aisyah mah,

mau ngajak dia makan di cafe."Jawab Hasan dengan wajah datar lalu dia melengos pergi.

"Ya, hati hati ya sayang."Ucapnya ketika anak nya pergi.

**

"Tok..Tok..Tok.."itu lah bunyi dari ketukan pintu yang dilakukan oleh tangan Hasan Pratama.

"Assalamualaikum."Ucapnya sopan pada pemilik rumah yang belum juga keluar membuka pintu tersebut.

"Waalaikumsalam."jawab seseorang yang membukakan pintu.

"Kamu lagi."kata Aisyah sesudah membuka pintu dan melihat Hasan yang tersenyum manis yang mencoba menarik perhatian sang gadis yang dia sukai.

"Hai Syah. Kita ke cafe yuk."ajak Hasan so akrab banget, padahal selama ini dijutekin doang.

"Aku sibuk."ucap Aisyah sambil mau masuk kedalam dan mau menutup pintunya lagi.

"Eh, jangan masuk dulu."kata Hasan sambil menahan pintu dan membuka lebar pintu itu yang akan ditutup oleh Aisyah.

"Kamu kan kemarin udah setuju, kalau kita tuh berteman kan.

Jadi apa salahnya jika aku ngajak ngopi di caffe," ujar Hasan

"Apa gak suka kopi yah ? "tanya Hasan pada Aisyah sambil natap Aisyah dengan sorot mata lembut dan sabar banget ngehadapin sikap jutek nya Aisyah.

"Aku kemarin gak bilang kan, kita harus ngopi bareng sekarang. Dan aku juga gak pernah bilang harus mau diajak jalan sama kamu. Dan aku mohon jangan ganggu aku terus dong, aku gak suka kamu deketin terus. Aku risih tau ."ucap Aisyah dengan agak nada jutek gitu ke Hasan dan Ini kata kata pertama kali nya yang sangat banyak yang dilontarkan.

"Kalau berteman ya harus sering ngabisin waktu bareng. Itu baru temenan, sering bersama dan sering bercanda tawa."ucap Hasan pada Aisyah tidak terima dengan yang dibicarakan oleh Aisyah padanya tapi dengan nada lembut gak ngegas.

"Tapi ketika temannya lagi sibuk, dan gak mau diganggu. Harusnya teman itu mengerti, bukannya memaksa untuk penuhi keinginan nya dengan mengajak ku ke cafe," ujar Aisyah dengan sinis.

" Ngopi, di rumah juga bisa."ucap Aisyah dengan matanya yang mulai tidak terkontrol yang mulai melirik sinis.

"Yaudah, kita ngopi dirumah.

Kamu buat kopi yah."kata Hasan sambil menerobos masuk.

"Kau ini menyebalkan sekali, lebih baik kamu pergi aja."ucap Aisyah dengan nada pelan karena agak takut Hasan, karena berduaan dirumah gak ada siapa siapa selain mereka berdua.

"Gak mau Aisyah," tolak Hasan.

" Itu foto waktu kamu kecil yah?" tanya Hasan.

"Ini imut banget, gemes banget."kata Hasan saat melihat foto masa kecil Aisyah yang dipajang dan mau megang figura itu, ia akan mengambil nya untuk melihat lebih jelas foto nya.

"Simpan dan jangan sentuh."titah Aisyah seakan agak membentak Hasan.

Tak memberi jawaban, hanya menuruti perintah yang diberikan Aisyah untuk tidak menyentuh figura foto itu.

"kamu ini tidak sopan sekali, udah maen masuk saja. Lalu megang barang punya orang."omel Aisyah pada Hasan yang sedang menatap kearahnya

"Keinginan ku sangat sederhana, aku cuma mau ngopi bareng kamu Syah. Itu aja sih maunya."kata Hasan menjelaskan apa adanya pada Aisyah yang terlihat kesal.

"Tapi gak usah maksa juga kali."kata Aisyah dengan tatapan tidak bersahabat.

"Yaudah kalau kamu gak mau minum kopi bareng sama aku disini maupun di cafe. Aku gak akan maksa lagi, Syah maaf yah aku ganggu kamu terus."kata Hasan dengan raut wajah penuh kekecewaan yang mendalam karena lagi lagi Aisyah tidak bisa dia dekati.

"Aku pamit pulang yah."kata Hasan sambil berjalan keluar.

Ketika Hasan sudah di teras rumah Aisyah, malah berpapasan dengan Nina yang baru saja mau pulang kerumah nya.

"Hasan, kamu lagi ngapelin Anak ibu yah ? "tanya Nina ramah sekali sangat berbeda jauh dengan sikap Aisyah kepada Hasan.

Hanya tersenyum saja dia menjawab ucapan Nina terhadap dirinya, Hasan akan beranjak pergi.

"Ayo, ngopi dulu bareng ibu. Sambil ngobrol ngobrol, masa Ibu baru pulang kamu malah pulang sih."Kata Nina sembari tersenyum ramah sekali.

"Aisyah, ayo buatkan kopi dulu."Kata Nina pada Aisyah.

"Baik bu."sahut Aisyah dengan terpaksa dia berjalan menuju ke dapur untuk buatkan kopi untuk Hasan.

"Tadi, kamu di beri jamuan apa sama Aisyah ? " tanya nina pada Hasan sambil jalan barengan untuk masuk kedalam rumah.

"Tadi Aisyah nawarin kopi, tapi aku menolak nya bu. Karena aku tadi tidak enak jika berduaan dengan Aisyah. Takut kena fitnah bu, tapi karena ibu yang nyuruh untuk ngopi disini, ya aku mau aja," ujar Hasan.

"Ibu tadi habis kepasar yah ?"tanya Hasan pada Nina dengan ramah, dan menanyakan Nina yang membawa belanjaan banyak.

"Iya nih, berat lagi." jawabnya Pada Hasan dan sambil menahan belanjaan nya, terlihat jelas dia keberatan dalam memegang belanjaannya yang dia beli di pasar.

"Ya udah, biar Hasan aja bu yang bawa ke dapur."kata Hasan menawarkan diri untuk mengambil alih bawaan belanja nya untuk dibawa ke dapur.

"Beneran, gak papa nih ? "tanya Nina dengan senang.

"Gak kok."jawab Hasan pada Nina.

"Yaudah."kata Nina dengan memberikan belanjaannya pada Hasan.

"Tadi kamu buatin aku kopi gak mau, tapi sekarang kamu malah disuruh buatin kopi kan buat aku."ucap Hasan sambil menaruh belanjaan Nina ke meja.

"Kamu seneng kan sudah aku buatkan kopi. Jadi mulai detik ini kamu gak usah deket deket sama aku lagi, aku gak suka tau."kata Aisyah dengan jutek dan memberi nampan yang ada gelas kopi yang untuk Hasan dan ibunya, setelah memberikan nampan itu Aisyah melengos pergi.

"Ini gadis jual mahal banget, sabar San nanti juga klepek klepek sama loh. Sekarang mah cukup extra sabar dulu ngehadapin Aisyah."monolog dalam Hatinya Hasan yang matanya agak melotot.

Aisyah pun berjalan mau ke kamar nya. Nina pun melirik ke Aisyah yang tak membawa nampan dan dua gelas minuman coffe yang dia perintahkan.

"Aisyah, mana kopinya ? " tanya Nina dengan melotot.

"Ibu,Ta.ta..tadi.."ucap Aisyah gugup dan tidak tau mau berbicara apa pada ibunya.

Hasan pun membawa nampan tersebut dengan tersenyum seolah tidak ada yang menggores rasa sakit hati.

"Syah, kok malah berdiri disini. Ayo ngopi, kan aku sudah bilang biar aku saja yang bawa."ucap Hasan yang menutupi keangkuhan Aisyah.

Aisyah yang mendengar perkataan Hasan, hanya melirik saja tanpa berkata apapun. Lalu dia ke dapur dan buat kopi untuk dirinya sendiri dan ikut bergabung bersama Hasan dan Nina.

"Yaampun Nak Hasan, kamu ini menantu idaman ibu, amu ganteng cocok banget sama Aisyah," ujar Nina memuji Hasan.

"Aisyah nya cantik, Hasan nya ganteng."puji Nina dengan tersenyum hangat.

Melihat wajah ibunya yang tersenyum senyum seperti itu Aisyah pun ikut tersenyum kecil dan terpaksa.

"Emang aku cocok banget ya bu sama aisyah ? "tanya Hasan dengan bersemangat dengan tersenyum senyum karena ada dukungan dari ibu nya Aisyah.

"Iya, serasi sekali."jawab Nina sambil tersenyum lebar dan melirik ke anak nya yang mukanya ditekuk.

"Aisyah kamu ini dari tadi diem saja, ngobrol dong."suruh Nina pada Aisyah dan menyuruh ikut gabung untuk berbicara.

Aisyah pun diam saja tak memberi respon pada ibunya.

Hasan pun melirik ke Aisyah, Hasan pun mencoba untuk memulai obrolan yang panjang bersama Aisyah.

"Syah, kopi buatan kamu ini enak banget tau," puji Hasan dengan lebay.

"Kamu tau gak, ini kopi terenak yang pernah aku coba."ucap Hasan memulai obrolan pada Aisyah dengan cara memuji nya.

Tapi memang betul buatan kopi Aisyah itu sangat enak sekali.

"Makasih yah Hasan."jawab Aisyah pada Hasan dan ini pertama kalinya menyebut nama Hasan saat berbicara pada Hasan.

"Wanita yang bersama kamu siapa yah ? aku lupa lagi namanya."tanya Hasan mencoba mengajak berbicara pada Aisyah biar Nina ibunya Aisyah tidak melihat keangkuhan anaknya sendiri.

"Saraswati, dia satu satunya sahabatku,"jawab Aisyah pada Hasan tapi tidak berani menatap Hasan.

"kamu bersahabat sama dia sudah lama, sejak kapan bersahabat nya? "Tanya Hasan terus menerus biar ada obrolan antara dirinya dan Aisyah.

"Boleh aku akui, Hasan ini baik juga. Aku jutekin, tapi masih bersikap ramah padaku."monolog dalam hati Aisyah.

*Seolah olah aku itu gak pernah jutekin dia dan hubungan kami berteman baik. Padahal selama ini aku berusaha menjauh pada dirinya."monolog dalam hati Aisyah.

"Syah, kok bengong sih."sambil melambai lambai tangan nya ke wajah Aisyah yang sedang bengong dari tadi saat ditanya Hasan. Bukannya menjawab malah melamun.

"Eeeh...apaa? "tanya Aisyah saat tersadar dari lamunannya.

"Kamu sejak kapan sahabatan sama saras ? " tanya Hasan mengulangi pertanyaan terhadap Aisyah.

"Sejak SMP San."jawab Aisyah dengan memanggil Hasan dengan sebutan san, seperti layaknya seorang teman.

"Sangat lama yah, kamu sering buka Instagram gak sih ? "tanya Hasan terus menerus sambil natap Aisyah dengan dalam banget.

"Aku jarang buka Instagram Hasan."jawab Aisyah pada Hasan dengan tertunduk.

Nina yang dari tadi tak ikut bicara cuma menyaksikan gerak gerik Hasan dan juga putrinya,"Aisyah ini seperti risih gitu ketika berbicara sama Hasan."monolog dalam Hati Nina saat melihat tingkah laku putrinya.

"Aku juga jarang buka sih, buka nya kalau mau post poto aja."kata Hasan dengan so akrab dan ingin samaan kaya Aisyah yang jarang buka Instragram, padahal Hasan ini termasuk pengguna aktif yang sering post semua aktivitas nya di Instagram.

Nina masih mendengarkan dialog percakapan antara Hasan dan Aisyah sambil meneguk kopinya.

"Apakah Kamu sering buatkan kopi untuk ayah dan ibumu ?"tanya Hasan pada Aisyah sambil meneguk kopi nya.

Nina sudah habis kopinya dan Hasan juga sudah habis kopinya,"sering kali dia buatkan kopi untuk ibu dan ayahnya."kata Nina ikut menjawab pertanyaan Hasan pada Aisyah.

"Iya, aku sering buatkan kopi untuk ibu dan ayahku. Setiap kali mereka ingin kopi aku selalu siap untuk membuatkan nya."kata Aisyah mulai berbicara panjang, lalu meneguk kopi nya.

Hasan pun melihat jam di tangannya, ternyata sekarang jam 11 siang,"aku pulang dulu ya bu,, syaah! " pamit Hasan pada Aisyah dan Nina.

"Hati-hati."kata Nina dan Aisyah kompak.

Akhirnya Hasan pun pergi dari rumah Aisyah, dan pulang ke rumahnya.

****

Malem nya Aisyah mendapatkan kiriman whatsapp dari Hasan lagi, ini kedua kali Hasan mengirim pesan pada Aisyah padahal sama sekali tidak pernah di balas oleh Aisyah.

Hasan pria yang termasuk tidak menyerah dalam mendekati wanita incaran nya, belum dapet hati nya dia tidak akan lelah untuk mengejar cinta nya Aisyah.

**

Dear Diary

Hasan selalu saja berusaha mendekati, tapi entah kenapa aku merasa tidak nyaman saat bersamanya. Walaupun aku tahu dia itu bersikap ramah pada ku yang ada aku selalu risih saat dia selalu mendekati terus.

Aku tahu dia itu menaruh hati untuk ku, tapi aku gak punya perasaan sedikit pun terhadap Hasan.

Walaupun dia itu ganteng dan keren layaknya oppa korea, tapi tetap aja aku tidak tergoda olehnya.

_AisyahM.Z_

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful Secret
8.0
Liam Andreas Ville, miliarder berusia 30 tahun, terjebak dalam pernikahan hambar dengan Rose yang hanya peduli pada kemewahan. Di sisi lain, Emily Alexandra bekerja keras secara sembunyi-sembunyi demi uang, berbeda jauh dari kakaknya yang manja. Suatu malam, rahasia Emily selama dua tahun terendus oleh Liam. Demi melindungi reputasinya dari Rose dan keluarga yang sangat pemilih, Emily terpaksa menjalin kesepakatan rahasia dengan sang kakak ipar agar pekerjaannya tetap tersembunyi.
Sampul Novel CINTA YANG TERTUKAR
8.4
Kehidupan asmara Mahya, wanita kelahiran 1991, jauh dari kata sempurna karena kehadiran seorang sahabat yang manipulatif. Di balik topeng keluguan, sang sahabat terus merusak setiap hubungan cinta yang Mahya bangun. Meski sering dikhianati, Mahya yang polos tetap menaruh kepercayaan penuh pada sosok licik tersebut. Namun, sebuah kejadian tak terduga akhirnya memicu kemarahan besar dalam diri Mahya. Akankah tabir kepalsuan ini segera terungkap?
Sampul Novel Gelora Panas Sekretaris Seksi
8.4
Pasca dikhianati dan ditinggal kekasihnya, Kayla bertekad membalas dendam kepada Miranda yang menjadi pemicu perpisahannya dengan Bisma. Di tengah luka hati, ia melamar sebagai sekretaris pribadi Jason, seorang pria tampan yang langsung terpikat oleh pesona fisik dan kecantikan Kayla. Demi ambisinya, Kayla berjanji memberikan kepuasan yang jauh melampaui apa pun yang pernah Jason dapatkan dari Miranda sebelumnya dalam hubungan profesional yang provokatif.
Sampul Novel Istri Muda Pak Dosen
7.9
Helga, mahasiswi kutu buku, terpaksa menikahi Hadyan, dosen playboy sekaligus putra dari Hans Anderson yang membiayai kuliahnya. Perjodohan ini bertujuan agar Helga menjadi ibu bagi putra Hadyan. Namun, ia harus merahasiakan pernikahan mereka demi karier mantan istri Hadyan yang masih terobsesi. Di tengah ancaman sang mantan dan sikap dingin Hadyan yang belum bisa berpaling dari masa lalu, mampukah Helga bertahan saat suaminya sendiri justru terus membela wanita yang telah mengkhianatinya?
Sampul Novel Luka yang Kucinta
8.4
Lima tahun pernikahan Dira hancur seketika saat Reza terbukti berkhianat. Tanpa sepatah kata, Dira pergi membawa luka. Tiga tahun berlalu, ia kembali sebagai sosok wanita tangguh dan bertemu lagi dengan Reza yang kini penuh rahasia. Meski Dira berupaya menjauh, ikatan masa lalu kembali mengusik perasaannya. Saat kebenaran tersembunyi mulai terungkap, Dira harus memilih: tetap menyimpan benci atau kembali jatuh cinta pada pria yang pernah menghancurkan hatinya.
Sampul Novel Menikahi Lelaki Brengsek
8.9
Kehidupan sempurna Raden Roro Ayu, seorang bangsawan terpelajar, hancur seketika saat ia dihamili oleh Nanda, sahabat kekasihnya sendiri. Meski mereka akhirnya menikah, Ayu menyimpan dendam mendalam akibat penderitaan yang ia alami. Konflik ini menghancurkan keharmonisan keluarganya dan memicu permusuhan hebat. Di sisi lain, Sonny yang masih mencintai Ayu tak rela melepaskannya. Ayu kini terjebak antara mempertahankan rumah tangga kelamnya atau kembali ke pelukan Sonny.