
Perundungan Dibayar Kontan
Bab 3
Ica masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak ketakutan, ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu ia duduk dilantai dengan punggung bersandar di pintu kamarnya.
Napas Ica menderu, keringatnya membasahi wajah serta tubuhnya yang mungil. Wanita berusia dua puluh satu tahun itu sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, kini air matanya mulai mengalir deras melampiaskan rasa takut dalam dirinya.
Raungan tangisan Ica terdengar dari balik pintu. Edward dan Gina mengetuk dengan cemas pintu kamar anak tunggalnya itu. Setelah mereka menunggu lama kepulangan Ica dari kampus, untuk makan malam bersama, malah menjadi kecemasan yang sudah berulang kali terjadi.
“Ca, ica! Buka pintunya sayang,” pinta Gina dengan suara lembut. Namun, tidak dengan Edward, ia terlihat tidak sabar, bahkan sampai menggedor pintu kamar Ica dengan kasar.
“Buka Ica! Atau papa dobrak pintunya!” ancam Edward.
Melihat sikap kasar Edward yang kembali di tunjukkan, membuat Gina menepis tangan suaminya itu dari pintu kamar.
“Edward! Bukankah kamu sudah berjanji akan mengubah sikapmu terhadap Ica? Di depan Eve kamu sudah berjanji demi kesembuhan Ica,” Gina menyentak suaminya tersebut.
“Persetan dengan janji itu. aku hanya ingin anak kita menurut apa kata kita sebagai orang tuanya! Bukan kita yang dibuat kewalahan dengan sikapnya yang bodoh ini,” jawab Edward dengan suara yang lebih kencang.
Tentu saja ucapan serta volume suara Edward membuat Gina menjadi sedih, marah kemudian menangis. Dengan tatapan mata yang tajam ia menunjuk Edward.
“Semua salah kamu! Jika saja kamu tidak ringan tangan, jika saja kamu tidak kasar, jika saja kamu mau mengerti dan memahami Ica. Semua akan berjalan baik-baik saja!” ujar Gina dengan bibir yang bergetar. Ia tidak menyangka akan mengeluarkan kalimat yang sedari dulu ingin ia ungkapkan di hadapan suaminya tersebut.
Mendengar ucapan yang tajam dari Gina, wanita yang sudah ia nikahi selama dua puluh tiga tahun tersebut membuat Edward emosi. Ia bersiap mengangkat tangan kanannya untuk menampar Gina.
“Tampar saja mas! Tampar! Jika itu membuat kamu puas,” teriak Gina sambil menangis.
“Hentikaaan!” teriak Ica dari dalam kamarnya. Kemudian terdengar raungan tangisan Ica yang menyayat hati kedua orang tuanya.
Gina dan Edward terdiam setelah mendengar teriakan Ica. Lalu pintu kamar terbuka, terlihat Ica yang menunjukkan wajah marah, tapi berurai air mata kesedihan.
Lima tahun yang lalu, Marissa atau lebih sering di panggil Ica merupakan gadis yang normal. Ia pandai bergaul dan memiliki banyak teman. Tetapi sejak Edward mengalami tekanan di kantornya yang selalu menuntutnya bekerja lembur, jika tidak menuruti maka ia akan di pecat.
Perlahan sikap Edward mulai berubah, dengan mudahnya Edward membentak dan memukul Gina jika tidak menuruti perintahnya. Awalnya Gina memberontak dengan sikap kasar Edward, tapi ia membiarkan mendapat perlakukan kasar dari suaminya itu karena ancaman akan diceraikan.
Ancaman itu ternyata berhasil membuat Gina bungkam dengan sikap kasar Edward. Hingga akhirnya Ica melihat sendiri ketika Gina sedang di tampar oleh Edward hanya karena rasa masakannya yang kurang enak menurutnya.
Ica berusaha membela ibunya, tapi dengan kasar Edward malah mendorong dan menyeretnya ke dalam kamar. Semalaman Ica di kurung di dalam kamar. Hampir setiap hari perlakuan kasar Edward semakin menjadi-jadi, apalagi jika hasil kerjanya mendapatkan teguran dari atasannya.
“Diamlah Ica! Tutup mulut kamu dan makanlah. Setelah ini kamu minum obat!” ujar Edward dengan suara yang melunak. Lalu ia membalikkan badannya hendak menuju kamar.
“Aku tidak butuh obat penenang,” Ica berusaha memberontak kembali. Ucapan Ica membuat Edward menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Ica.
“Oh, rupanya ada yang mulai berani menentang ucapan Papa?” kedua mata Edward melotot.
Melihat gelagat Edward yang semakin menakutkan, Gina segera menenangkan Ica.
“Sudahlah Ica, jangan dibantah ucapan Papa kamu. Ini semua demi kebaikan kamu juga, sayang,” ujar Gina dengan suara yang lembut.
Namun, sayang Ica malah menepis tangan Gina yang memegang bahunya. “Benar ujar suara itu. kita harus melawan, kita harus memberontak terhadap penganiayaan,” Ica menoleh ke arah Gina. “Kita harus melawan, Ma,” sambung Ica dengan tatapan sedihnya.
“Dasar anak kurang ajar!” teriak Edward, lalu ia mendaratkan tamparan keras ke pipi kiri Ica.
PLAK!
Saking kuatnya tamparan Edward, tubuh Ica sampai oleng ke arah Gina.
Dengan sigap Gina menangkap tubuh Ica. “Sudah! Hentikan Edward!” teriak wanita yang selalu terlihat tertekan selama lima tahun belakangan.
Gina menangis memeluk anak semata wayangnya tersebut. “Hentikan, Edward! Tampar aku saja, jangan tampar anak kita. Aku mohon tampar aku saja jangan Ica,” Gina memohon dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.
Edward yang sudah bersiap akan menampar lagi, berdiri tertegun melihat Ica yang berdiri terdiam dengan tanda merah di pipinya. Kini ia membenci dirinya sendiri. “Sialan!” teriak Edward kepada dirinya sendiri. Ia tidak sesungguhnya tidak ingin melukai kedua wanita yang sangat ia sayangi tersebut.
Perlahan ia menurunkan tangannya, kedua matanya berkaca-kaca menyesali perbuatannya. “Maafkan aku,” ujar Edward pelan. Kemudian ia pergi meninggalkan kedua wanita yang seharusnya ia lindungi dari orang lain yang ingin berbuat jahat kepada mereka.
“Setelah menyakiti kita, papa pergi begitu saja,” ujar Ica menatap Gina. “Kita harus melawan, Ma,” sambung Ica dengan air mata yang mulai mengalir.
Ica menangis bukan karena rasa sakit akibat tamparan dari Edward, melainkan menangisi nasib Gina yang selalu menjadi sasaran kemarahan Edward.
“Kita bisa apa, sayang? Jika kita berontak, papa akan menceraikan Mama. Lalu kita berdua akan hidup dibiayai oleh siapa?” Gina mengungkapkan alasannya selama ini bertahan hidup bersama Edward.
“Aku bisa mencari kerja untuk biaya kita makan, aku akan berjuang demi kelangsungan hidup kita berdua, Ma,” ujar Ica merayu Gina agar mau melawan terhadap sikap kasar Edward.
Gina terdiam setelah mendengar ucapan Ica, wajahnya tertunduk. Namun, Ica terus menerus mengucapkan untuk melawan kepada Edward.
“Kamu makan lalu minum obatmu, Mama ingin kamu cepat sembuh dari depresi yang kamu alami,” ujar Gina sambil memalingkan wajahnya.
Mendengar ucapan Gina membuat Ica mengerutkan dahinya. “Apa? Ma, ini sudah keterlaluan, sudah cukup selama lima tahun ini kita menerima sikap kasar dari papa, kita berdua harus ....” belum juga Ica menyelesaikan ucapannya, Gina menarik kedua tangan Ica untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Masuk ke dalam kamarmu! Minum obatmu!” perintah Gina dengan suara yang bergetar.
“Ma, aku tidak butuh obat. Aku butuh keluarga yang harmonis, aku hanya butuh kasih sayang bukan kekerasan yang papa berikan selama ini, Ma.” Ica kembali memohon untuk tidak meminum obat yang sudah membuatnya muak.
Namun, ucapan Ica tidak ia dengarkan. Gina mengambil sebutir tablet dan menyodorkannya kepada anak semata wayangnya tersebut.
“Ma, aku mohon. Aku tidak mau minum obat.” Ica memohon kepada ibu kandungnya.
“Ica, Mama mau kamu cepat sembuh. Jika kamu sembuh, papa pasti akan mengubah sikap kasarnya,” ujar Gina merayu Ica.
Namun, bukannya menuruti perintah Gina, tangan kanan Gina yang berisi obat tersebut malah di tepis oleh Ica. Lalu wanita berusia empat puluh tiga tahun tersebut mengambil kembali obat dari dalam botol dan menyodorkan kembali ke Ica.
“Minumlah, Mama mohon,” pinta Gina dengan air mata yang kembali mengalir.
Ica menatap wajah sedih mamanya tersebut, hatinya begitu hancur melihat wajah sedih ibu kandungnya tersebut. Perlahan Ica mengambil obat tersebut dan meminumnya.
Setelah meminum obat tersebut, Gina menuntun Ica ke atas tempat tidurnya. Ia membantu Ica merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Setelah meminum obat tersebut biasanya Ica akan mengantuk dan tertidur pulas.
Ica kini sedang tidur terlentang, sedangkan Gina duduk di sampingnya sambil membelai lembut rambut Ica. Berkali-kali Gina mengecup dahi anak satu-satunya tersebut.
“Mama ingin kamu cepat sembuh, sayang. Mama ingin kamu cepat sembuh,” ujar Gina sambil terus membelai rambut dan mengecup dahi Ica, hingga akhirnya Ica tertidur pulas.
Setelah melihat anaknya tidur, Gina beranjak dari tempat tidur. Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, ia berjalan gontai menuju ruang makan. Air matanya kembali mengalir jika mengingat tamparan yang dilayangkan oleh Edward ke wajah anak perempuannya.
Ia duduk lemas di kursi menangisi kehidupannya yang dipenuhi kekerasan hampir setiap hari. Belum lagi jika Ica sudah mengurung diri di kamarnya dan terkadang berteriak ketakutan hingga membuatnya panik. Ica sudah berobat ke psikolog tapi berhenti sebelum Ica sembuh karena masalah biaya.
“Maafkan mama karena tidak bisa menjaga kamu dari amukan papa. Maafkan mama, sayang,” ujar Gina yang menangis sendirian di ruang makan. Satu tangannya merogoh kantong celananya. Lalu ia mengeluarkan tablet Benzodiazepine. Obat tersebut merupakan obat penenang yang sudah ia konsumsi beberapa tahun ini untuk menenangkan pikirannya.
Gina masih menangis sedih, tapi ia berusaha meminum obat yang sudah berada di ujung bibirnya. Tanpa ragu ia meminum obat tersebut, tidak lama kemudian tangisannya perlahan berhenti dan ia duduk lemas. Kepalanya ia tidurkan di atas meja makan, perlahan kedua matanya terpejam.
Sebelum terpejam, samar-samar ia melihat sosok wanita yang sedang berdiri di pintu keluar. Karena sudah dalam pengaruh obat yang membuatnya mengantuk, akhirnya Gina memejamkan kedua matanya tanpa tahu siapa sosok wanita yang dilihatnya sebelum tertidur.
Anda Mungkin Juga Suka





