
Perubahan Hidup Seorang Penari
Bab 2
Kael Westbrook bergerak dengan keanggunan yang mengesankan, seolah-olah seluruh dunia berputar di sekitar dirinya. Seraphina masih berdiri di tempat, mulutnya terasa kering, otaknya mencoba menyusun kata-kata, tetapi semuanya terasa sia-sia. Matanya tidak bisa lepas dari Kael yang kini berdiri di depannya, jarak di antara mereka hanya beberapa langkah.
"Jangan khawatir," ujar Kael dengan suara rendah, hampir seperti bisikan, "Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku katakan. Tidak lebih, tidak kurang."
Seraphina merasakan panas yang mendera wajahnya. Bagaimana bisa hidupnya terjerumus sedalam ini? Ia datang ke kota ini dengan harapan akan masa depan yang lebih baik, tapi kini ia terjebak dalam dunia yang sangat berbeda-sangat jauh dari kehidupan kuliahnya yang semula tampak begitu cerah. Setiap detik yang berlalu, dia merasa semakin terperangkap dalam permainan yang tak dia pahami.
Clara mendekat, tangannya meraih tangan Seraphina, seakan memberi semangat. "Percayalah padaku," bisiknya, "Ini akan mengubah hidupmu. Semua akan baik-baik saja."
Tapi Seraphina meragukannya. Dia ingin percaya, namun hatinya bertanya-tanya. Apakah dia sudah terlalu jauh untuk mundur?
Kael melangkah maju dan berhenti tepat di hadapannya, menyentuh dagunya dengan lembut, namun penuh kekuatan yang menuntut kepatuhan. "Kamu tahu kenapa aku memilihmu, kan?" suaranya bergetar dalam kesunyian ruangan yang mewah ini.
Seraphina menelan ludah. "Kenapa?"
Kael tersenyum lagi, kali ini senyuman itu terasa lebih tajam, seperti pisau yang siap melukai. "Karena kamu tidak punya pilihan lain," jawabnya, nada suaranya mengandung pengertian yang dalam dan menakutkan.
Dia menarik tangannya dari dagu Seraphina dan berjalan menjauh, menuju meja kaca besar di sisi ruangan. "Aku tidak menyukai pembangkangan. Jangan membuatku kecewa, Seraphina."
Mata Seraphina terbuka lebar, mendengar kata-kata itu. Pembangkangan? Apa yang sebenarnya dia hadapi sekarang? Dan siapa sebenarnya Kael Westbrook ini?
Clara kemudian memberi isyarat padanya untuk mengikutinya. "Ikuti dia, Seraphina. Kamu tidak perlu khawatir. Semuanya sudah diatur."
Seraphina merasa kakinya bergerak tanpa bisa dia kendalikan, mengikuti langkah Clara yang lebih mantap. Hatinya berdegup kencang, seakan setiap langkah membawa dirinya lebih dalam ke dalam dunia yang asing dan menakutkan.
Kael sudah duduk di kursinya yang besar, tampak tenang, seolah segala sesuatu telah berada di bawah kendalinya. "Bergabunglah denganku," ucapnya singkat tanpa menoleh.
Clara duduk di sebelahnya, menyandarkan tubuhnya dengan cara yang sangat akrab. Itu tidak terasa biasa bagi Seraphina. Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman dengan kedekatan itu, seolah ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan profesional antara keduanya.
"Clara, apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Seraphina, suaranya hampir berbisik, takut jika Kael mendengarnya.
Clara hanya tersenyum, namun senyumnya kali ini terasa kosong. "Kamu tidak perlu tahu lebih banyak sekarang, Seraphina. Cukup ikuti saja. Ini semua untuk kebaikanmu."
Namun Seraphina merasa semakin tak yakin. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berontak, menuntut penjelasan yang lebih jelas. Ia tidak pernah mengira hidupnya akan berputar secepat ini, dan kini ia merasa dirinya terjebak dalam sebuah permainan yang tidak bisa ia kontrol.
Kael kemudian bangkit, langkahnya yang mantap membuatnya tampak semakin menguasai ruangan. "Seraphina," katanya, matanya menatap tajam, "Mulailah. Kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Seraphina melihat Clara memberi isyarat padanya untuk bergerak maju, namun tubuhnya terasa kaku. Sesaat, dia ingin berbalik dan lari, menghindari semua ini. Tetapi entah kenapa, pikirannya mengatakan hal yang berbeda. Apa yang akan terjadi jika dia tidak melakukannya? Bisakah dia kembali lagi ke kehidupannya yang dulu, atau apakah dia akan kehilangan segalanya?
Dengan napas tertahan, Seraphina melangkah maju, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri yang mulai menguasai hidupnya-sebuah keputusan yang akan menuntunnya ke jalan yang sangat gelap.
Kael menatapnya dengan penuh perhitungan. "Tidak ada jalan mundur sekarang, Seraphina. Sekali kamu masuk, kamu akan tahu betul apa artinya menjadi bagian dari dunia ini."
Seraphina menatapnya, hatinya bergejolak. Tidak ada yang bisa mengubah apa yang telah dimulai malam ini.
Anda Mungkin Juga Suka





