
Pertama dan Terakhir
Bab 3
Siapakah dia murid tahun pertama yang
berdiri di depan guru sembari masih membawa tasnya dan mendengarkan ocehan guru
ya itu benar sayangnya itu aku.
Aku terbangun dari kamarku saat
membuka mata aku kaget sudah jam 6:45 Sedangkan sekolahku masuk pukul 07:00 aku
bergegas mandi berganti pakaian dan lain-lain saat aku keluar rumah aku berlari
kesekolah tanpa sarapan atau membawa bekal sama sekali saat aku sampai aku dicegat
oleh guru pengawas disana untuk berhenti.
“Nak apakah kau berniat sekolah atau
tidak masa jam 7 lebih kamu baru sampai!”
“Niat pak saya kesiangan tadi hehe”
“Oh kesiangan bagus alasan terus
lanjut murid baru banyak alasan”
“Jujur pak yasudah misal pak guru gak
percaya saya”
“Sekarang berdiri di lapangan 1 jam!”
“Tolong la pak masa gara gara telat
harus dihukum”
“Cepat lakukan bapak pantau kamu”
Aku segera berlari ke tengah lapangan
dan berdiri menjalani hukuman ku karena telat masuk ke kelas.
Setelah satu jam.
“Sekarang ke kelas cepat Awas kamu
telat lagi”
Aku mengangguk dan tidak berkata
apapun kakiku terasa sangat sakit ketika menahan beridiri satu jam itu benar-benar
lama aku berjalan menuju kelasku dan sudah ada guru lain disana teman- temanku
yang lain menatapku karena baru
berangkat telat.
“Permisi bu guru bisakah aku duduk di
bangku”
“Kamu kenapa nak baru masuk kelas?”
“Biasa bu telat dihukum tadi sama
guru yang ngawasin di depan gerbang”
“Lain kali jangan di ulangi lagi ya
silahkan duduk ”
Aku merasa nikmat ketika duduk di
bangku ku setelah 1 jam tersiksa berdiri di lapangan sembari di tatap oleh guru
pengawas itu.
Jam pelajaran selesai bel istirahat
berbunyi.
“Akhirnya saat yang kutunggu tunggu”
Aku memasukan tanganku ke dalam saku celana.
“Eh ehhh ehhh ehhhhh”
Aku lupa tidak membawa uang saku
sepertinya hari ini akan menjadi berat bagiku pagi ini tidak sarapan tidak
membawa bekal dan tidak membawa uang saku.
“Huft ya sudahlah bersyukur saja absenku
masih sempurna”
Aku memposisikan diriku menghadap ke
bawah dan menutupi dengan kedua tanganku mencoba tidur walau hanya sebentar itu
membuatku lebih baik mungkin.
Elaina melihatku dari bangkunya yang
tadi sedang dihukum oleh guru pengawas.
“Mmm kok Nafchi gak kaya biasanya
makan di mejanya malah tidur mungkin gak bawa bekal hmmm”
Elaina keluar ruangan kelas dan
membeli air putih dari mesin otomatis dia menuju ke mejaku menggoyangkannya
beberapa kali aku terbangun dan memgusap ngusap mataku.
“Dengerin ya Nafchi tidur itu jangan
kemalaman tahu jadi telat kan dasar payah Hemph”
“Iya iya ini salahku kok”
“Emmm ini untukmu”
Elaina memberikan botol air padaku.
“Wah seriusan nih? Kebetulan hari ini
aku cuma bawa buku bahkan uang sakuku tertinggal di rumah”
“Kalo jadi cowo tuh yang teliti tau
cara menjaga diri dasar gak becus”
Muka Elaina memerah.
“Terimakasih Elaina”
Elaina langsung menuju ke bangkunya
kembali tanpa membalas terimaksih ku itu tidak masalah kurasa aku meminum botol
air.
“Huft segarnyaa”
Elaina keluar lagi ke kelas membeli
sesuatu untuknya aku mengikutinya dari belakang
ke kantin dia tidak sengaja menabrak kakak kelas laki-laki yang sedang
membawa minuman di tangannya Elaina tidak sadar dan melanjutkan berjalan
kembali ke kelas setelah membeli sesuatu kakak kelas tersebut tidak terima dan
marah kepada Elaina karena menabraknya lalu mengabaikannya setelah membuat baju
kakak kelas itu terkena coklat berjalan
mendekat aku dengan segera berlari dan menghalangi kakak kelas itu.
“Tunggu kak dia perempuan oke tolong
maafkan dia”
“Apa kau tidak punya mata lihat
bajuku terkena coklat dan basah!”
“Tapi dia itu perempuan tolong
maafkan”
Aku mengulur waktu agar Elaina
cepat-cepat pergi ke kelasnya lagi.
“Heh diamana bocah itu? Kau pasti
sengaja mengulur waktu”
Dia menoleh beberapa kali ke semua
arah.
“Awas kau bocah! teman-teman ayo
pergi mencari bocah itu”
Aku memegang erat tangan kakak kelas.
“Tolong jangan lakukan itu dia hanya
tidak sengaja lakukan lah saja padaku sebagai gantinya tapi jangan sakiti
perempuan tadi akan ku kubiarkan setelah pulang sekolah di parkiran”
“Itu cukup bagus hahaha jaga kata-kata
mu itu”
Gerombolan kakak kelas itu pun
kembali duduk duduk di bangku kantin dan aku kembali ke kelasku
“Aduh bagaimana ini arrghhh”
Bel pulang sekolah berdering.
Tanganku gemetar saat mendengar bunyi
bel sekolah aku segera menuju parkiran lebih awal kakak kelas itu pun sampai di
parkiran sepeda dan hanya ada aku dan gerombolan kakak kelas itu
“Wah nyalimu besar juga ya ku hargai
itu apa kau siap bocah baru”
Aku hanya terdiam dan mengangguk.
Kakak kelas yang berbaju terkena
coklat itu memukul perutku aku terpental darah keluar dari hidungku.
“Itu cukup untuk anak baru sepertimu
haha”
Aku pulang dengan keadaan Memar di
salah satu perutku sembari memegangi berjalan menjuju rumahku.
Siapa kah dia anak laki laki yang
murung di kelas dan menatap terus ke bawah yah itu benar aku setelah mendapat
pukulan dari kakak kelas itu perutku sering sakit mendadak saat melakukan
kegiatan.
“Tidakku bayangkan sesakit ini
pukulan kakak kelas itu”
Rumor dan gosip bertebaran di kelasku
bahwa aku dipukuli kakak kelas sehabis pulang sekolah di parkiran sepeda
membuat Elaina menghampiriku.
“Nafchi apa itu benar?”
“Enggak enggak itu pasti bohong”
“Jujur padaku!”
“Em ini hanya kena meja kok kemarin
hehe”
Perutku mendadak mulas aku segera
menundukkan kepalaku.
“Bohong ! Aku gak percaya”
Menghela nafas.
“Sebenarnya itu benar”
“Kau ini sungguh bodoh beraninya
bikin masalah ke kakak kelas”
Aku terenyum.
“Benar aku memang bodoh hidupku lucu bukan?”
Aku menyembunyikan kebenarannya
karena takut membuat Elaina khawatir dan menambah masalah ini.
“Dasar aneh! Kau harusnya lebih
berhati-hati saat melakukan sesuatu”
Hatiku tertusuk itu sakit tapi aku
tahu ini demi Elaina akan kulakukan apapun untuk melindunginya.
Aku hanya terdiam.
Elaina meniggalkanku dan berjalan
menuju kerumuman teman perempuannya menanyakan siapa orang yang telah memukulku.
“Oh aku kenal dia itu kelas tahun ke
tiga sering ke kantin disaat pagi-pagi begini”
“Tolong pertemukan aku dengannya”
“Wah apa kau mau meminta nomornya
haha”
“Tidak ini privasi”
Salah satu teman Elaina pun
mempertemukan dengan kakak kelas itu Elaina menemui kakak kelas itu sendiri
teman kelasnya menunggu dibelakangnya.
Dia adalah Lana teman sekelas Elaina
penampilannya yang berambut pendek berbeda dari kebanyakan perempuan lain rambutnya
berwarna hitam.
“Oh kau bocah yang menabraku kemarin”
“Hah!Menabrakmu kemarin”
“Tapi tidak apa-apa karena aku sudah
puas melampiasakan kemarahanmu ke laki-laki di kelasmu aku memukul tepat di
perutnya”
“Hah laki-laki!”
Elaina langsung teringat padaku yang
berbohong tentang kejadian terkena meja di kelas dia segera berlari ke mejaku.
“Nafchi! Kenapa kau berbohong padaku?
Kenapa kenapa kenapa kau rela dipukul oleh kakak kelas itu demi aku ini?”
Air mata Elaina menetes di mejaku.
“Jangan menangis Elaina aku sengaja
berbohong karena takut membuatmu khawatir dan karena kamu adalah teman
pertamaku disini sebelum yang lain”
“Maaf maafkan aku telah mengejekmu
dengan sebutan bodoh dan aneh”
“Tidak-tidak aku sudah terbiasa
mendengar hal itu”
Elaina memelukku.
“Terimaksih banyak Nafchi”
Setelah melepas pelukannya muka
Elaina memerah dan tersenyum padaku.
Aww dia sungguh imut sekali ingin
kunikahi haha tapi aku sadar diri aku hanya manusia biasa punya kekurangan
kuharap dia jodohku suatu saat nanti
“Sama-sama Elaina”
“Tolong jangan khawatir padaku dan
berhenti menangis Elaina aku mohon”
“Baik-baik”
Melepaskan kacamata dan Elaina
mengusap air matanya.
“Jaga dirimu baik baik Elaina dan
lebih memperhatikan sekelilingmu”
“Akan kuingat itu sampai jumpa lagi”
“Dadah”
Elaina dalam dirinya sendiri berkata.
“Kenapa dia begitu peduli padaku
belum pernah ada laki-laki yang berani melakukan hal itu sebelumnya itu dan dia
mungkin orang yang baik”
Aku pun kembali melanjutkan tidurku
sampai waktu pulang setelah tidur dari siang hingga sore bel sekolah pun
berbunyi.
Anda Mungkin Juga Suka





