Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahanku, Bukan Denganmu

Pernikahanku, Bukan Denganmu

Demi nyawa tunanganku, aku rela kehilangan penglihatan di Puncak lima tahun silam. Namun, pengorbananku justru dianggap drama murahan. Ia lebih mementingkan sahabatnya, Amara, hingga tega mengubah lokasi pernikahan dan membelikannya gaun mewah. Di hari sakral kami, ia malah pergi menemani Amara dan membiarkanku menunggu di altar. Ia pikir aku akan selalu patuh, tapi dia salah besar. Saat ia mencariku di Bali yang kosong, aku sudah berada di gunung untuk menikah dengan pria lain.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sudut Pandang Binar Anjani:

Perjalanan pulang terasa kabur, hanya ada lampu lalu lintas yang berlesatan dan rasa sakit yang hampa di dadaku. Lima tahun. Aku telah memberinya lima tahun hidupku, kesetiaanku, tubuhku. Aku membangun duniaku di sekelilingnya, sebuah desain yang cermat berdasarkan premis keliru bahwa dia mengerti arti pengorbanan.

Dulu aku percaya dia mengerti. Di minggu-minggu setelah kecelakaan yang penuh rasa sakit dan kabur, ketika dunia menjadi kaleidoskop gambar-gambar yang pecah, suaranya adalah satu-satunya jangkar bagiku.

"Aku nggak akan pernah lupa ini, Binar," bisiknya, tangannya menggenggam tanganku di kamar rumah sakit yang steril. "Kamu menyelamatkanku. Menikahlah denganku. Biarkan aku menghabiskan sisa hidupku untuk menebusnya. Kita akan menikah di Puncak, tepat di gunung itu. Untuk mengingatkan kita. Selalu."

Aku menangis lega, berpegang pada kata-katanya seperti doa. Aku memercayainya. Aku percaya dia ingat teror itu, rasa dingin itu, keputusan sepersekian detik yang telah mengubah hidupku selamanya. Bagaimana mungkin dia tidak ingat? Itu adalah landasan pertunangan kami, tanah tempat masa depan kami seharusnya dibangun.

Sekarang, aku sadar itu semua hanyalah pertunjukan. Kian tidak menghargai kenangan itu; dia menggunakannya sebagai senjata. Itu adalah kartu bebas penjaranya, bukti pengabdianku yang tak berkesudahan.

Dokter sarafku, Dr. Sanjaya, telah memperingatkanku. "Kondisimu stabil, Binar, tapi bisa memburuk karena stres. Tekanan emosional yang ekstrem bisa memicu episode kambuh. Kamu butuh lingkungan yang tenang dan mendukung."

Tawa pahit nyaris lolos dari bibirku. Lingkungan yang tenang dan mendukung. Saat ini, duniaku terasa seperti gedung di tengah gempa bumi, fondasinya retak di bawah kakiku. Aku menekan telapak tanganku ke dada, mencoba menahan diriku secara fisik, menekan gelombang kesedihan yang mengancam akan menenggelamkanku. Jantungku terasa seperti diremas oleh tangan tak terlihat, setiap detaknya adalah denyut kejelasan yang menyakitkan.

Telepon berdering, mengejutkanku. Nama Kian muncul di layar. Aku membiarkannya berdering empat kali sebelum menjawab, suaraku sengaja dibuat netral.

"Halo."

"Sayang," katanya, suaranya keras di tengah riuh tawa dan denting gelas. "Dengar, di kantor masih lama. Kami mau ajak klien keluar. Aku mungkin baru pulang lewat tengah malam."

Klien. Tentu saja. Namanya Amara.

Ada jeda. Jurang dari semua hal yang tidak bisa kukatakan.

"Oke," kataku, satu kata itu membutuhkan usaha lebih besar daripada merancang gedung pencakar langit.

"Cuma itu? Oke?"

"Iya, Kian. Oke. Selamat bersenang-senang."

Dia terdiam sejenak, mungkin terkejut karena aku tidak protes. Lalu, "Baiklah. Nggak usah tungguin aku."

Dia menutup telepon. Aku menatap layar yang gelap, keheningan di dalam mobil tiba-tiba memekakkan telinga. Nggak usah tungguin aku. Aku telah menunggunya selama lima tahun. Menunggunya untuk melihatku, untuk menghargaiku, untuk mencintaiku sebesar aku mencintainya. Penantian itu sudah berakhir.

Malam itu, tidur adalah negeri jauh yang tak bisa kujangkau. Aku berbaring di ranjang kami yang dingin dan kosong, selimut putih bersih menjadi pengingat tajam akan pernikahan yang kini menjadi kebohongan. Sekitar jam 2 pagi, ponselku bergetar karena notifikasi Instagram. Itu adalah postingan dari Gilang.

Ibu jariku melayang di atas ikon itu, rasa takut melingkar di perutku. Aku tetap membukanya. Aku harus melihat.

Foto itu adalah pukulan telak. Foto grup dari sebuah bar mewah yang ramai. Dan di tengahnya, Kian. Dia tertawa, kepalanya mendongak, satu lengan melingkar erat di pinggang Amara. Amara menempel di sisinya, kepalanya bersandar di bahunya, matanya setengah terpejam dalam tatapan mabuk yang memuja. Kian menopangnya, tubuhnya menjadi perisai dari kerumunan yang berdesakan, kehadiran suportif yang tidak pernah ia berikan padaku sejak hari ia keluar dari rumah sakit dengan kakinya sendiri.

Tapi komentarlah yang benar-benar menghancurkanku.

"Cocok banget mereka! "

"Pasangan idaman! The King and his Queen."

"Inget banget dulu pas kuliah semua orang kira mereka bakal nikah. Jodoh emang nggak kemana."

Lalu, sebuah komentar dari seorang kenalan kami, seorang gadis bernama Lauren. "@KianAdhitama Gila, berani banget. Semoga Binar nggak liat ini."

Aku menahan napas, menunggu. Balasan Kian muncul hampir seketika.

"@LaurenP Dia nggak bakal kenapa-napa. Paling juga ngambek bentar. Terserah dia."

Terserah dia. Selalu terserah dia. Rasa sakitku, penghinaanku, keberadaanku hanyalah ketidaknyamanan kecil yang bisa ia pilih untuk dihadapi atau dibuang.

Aku menyukai komentar itu. Sebuah pengakuan digital tanpa suara atas kekejamannya. Lalu aku meletakkan ponselku, membalikkannya di atas nakas. Aku tidak akan membiarkannya melihatku hancur. Tidak lagi. Aku sudah selesai menjadi penerima pasif dari penghinaannya. Aku sudah selesai menjadi hantu dalam hidupku sendiri.

Keesokan paginya, aku menyetir sendiri ke janji temu lanjutan dengan Dr. Sanjaya. Hujan turun deras, mencerminkan badai di dalam diriku.

"Sendirian hari ini, Mbak Binar?" tanya perawat dengan ramah saat mengukur tekanan darahku.

"Saya sudah besar, Sus," kataku dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Saya bisa sendiri."

Meninggalkan klinik, hujan semakin deras. Aku menaikkan tudung jaketku, tapi dinginnya meresap ke tulangku. Sambil menunggu lampu berubah, mataku melayang ke kafe di seberang jalan. Dan kemudian aku melihat mereka.

Kian dan Amara, berkerumun di bawah satu payung besar, tertawa saat Kian membuka kunci mobilnya. Dia membukakan pintu penumpang untuk Amara, sebuah sikap ksatria yang sudah lama ia tinggalkan padaku. Dan tersampir di lengan Amara, terlindung dari hujan oleh kantong pakaian plastik bening, adalah kilatan kain putih dan manik-manik yang rumit.

Gaun Valentino itu.

Tawa kecil histeris menggelegak di tenggorokanku. Tentu saja. Dia bahkan tidak mau repot-repot membawa pulang gaun simpanannya yang harganya miliaran itu sendiri. Dia harus memamerkannya di depannya, sebuah piala kasih sayangnya.

Aku berjalan pulang di tengah hujan lebat, bahkan tidak berusaha menghindari genangan air. Saat aku terhuyung-huyung masuk melalui pintu depan kami, aku sudah basah kuyup, menggigil.

Kian masuk ke foyer beberapa menit kemudian, mengibaskan beberapa tetes air dari rambutnya. Dia berhenti mendadak saat melihatku.

"Astaga, Binar, kamu kenapa? Kamu kelihatan kayak kucing kecebur got."

"Aku jalan kaki pulang," kataku, suaraku datar.

Dia mengerutkan kening. "Jalan kaki? Dari mana?" Lalu matanya melebar dalam sekejap ingatan yang singkat. "Oh, benar. Janji temumu. Aku lupa."

Aku hanya menatapnya. Aku sudah mengingatkannya kemarin pagi. Dan sehari sebelumnya. Aku meninggalkan catatan di kulkas.

"Yah," katanya, rasa bersalahnya yang sesaat dengan cepat berubah menjadi kejengkelan. "Gimana hasilnya? Kamu akhirnya dinyatakan sehat total? Bisa kita sudahi semua... drama... ini?"

Mataku, pengorbananku, perjuanganku yang berkelanjutan—semua hanya drama baginya.

Aku menahan tatapannya, mataku sendiri jernih dan mantap untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti selamanya. "Nggak, Kian. Nggak. Kerusakan saraf optik ini permanen. Akan selalu ada risiko kambuh. Kilauan itu. Titik buta itu."

Dia terdiam sejenak. Lalu dia menghela napas kesal. "Jadi maksudmu, ini nggak akan pernah berakhir. Kamu akan selalu punya... 'masalah' ini... untuk menyalahkanku."

Aku tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Pria yang kukira kukenal, pria yang telah kuselamatkan, telah tiada. Atau mungkin dia tidak pernah ada sama sekali.

"Ya Tuhan, kamu tuh melelahkan banget," semburnya, suaranya meninggi. "Selalu ada aja masalah sama kamu, kan? Sakit kepala, pandangan kabur, gejala baru apalah. Kamu menikmati jadi korban?"

Saat itulah aku melihatnya. Noda merah muda kecil yang samar di kerah kemeja putihnya yang bersih. Warna lipstik yang sama persis dengan yang dipakai Amara di kafe.

"Ada lipstik di kerah bajumu," kataku, suaraku nyaris berbisik.

Dia membeku, tangannya terbang ke lehernya dalam refleks panik dan bersalah.

"Dan bilang sama Amara," tambahku, kata-kata itu terasa seperti racun, "dia harus lebih hati-hati dengan gaun delapan ratus jutanya. Katanya hujan bakal turun seminggu penuh."

Wajahnya berubah dari pucat menjadi merah padam dalam sekejap. "Kamu ngikutin aku? Kamu kenapa, sih?"

"Dia lagi sedih, Binar!" teriaknya, maju ke arahku. "Kucingnya mati! Aku cuma nenangin dia!"

"Kucingnya mati bulan lalu, Kian."

"Ya, dia lagi berduka susulan!" gagapnya, matanya liar dengan keputusasaan seorang pria yang tertangkap basah berbohong. "Kamu nggak ngerti, kamu nggak se-sensitif dia. Dia butuh aku! Aku punya tanggung jawab padanya!"

"Tanggung jawab?" tanyaku, tawa getir yang pecah akhirnya lolos dariku. "Dan bagaimana dengan tanggung jawabmu padaku? Tunanganmu? Orang yang jalan kaki sendirian di tengah hujan deras dari janji temu dokter untuk cedera yang dia dapatkan saat menyelamatkan nyawamu?"

"Itu beda!" teriaknya. "Itu kecelakaan! Ini... ini Amara!"

Seolah diberi isyarat, teleponnya berdering. Dia menyambarnya. Nama Amara bersinar di layar. Dia menjawab, suaranya langsung turun ke nada lembut dan khawatir itu.

"Amara? Kenapa? Kamu baik-baik aja?"

Isak tangis teatrikal yang teredam terdengar dari pengeras suara. "Kian... maaf banget... kayaknya aku kena serangan panik lagi..."

Dia tidak ragu-ragu. Dia bahkan tidak menatapku.

"Aku ke sana sekarang," katanya, sudah berbalik menuju pintu. Dia berhenti sejenak, tangannya di kenop pintu, dan melemparkan tatapan terakhir yang menghina ke arahku.

"Tetap di sini. Keringkan badanmu. Dan demi Tuhan, coba jangan terlalu dramatis pas aku pulang nanti."

Dia berjalan keluar, membanting pintu di belakangnya. Suara itu menggema di ruang kosong yang mengerikan dari kehidupan yang telah kami bangun.

Dramatis. Dia pikir aku bersikap dramatis.

Dan pada saat itu, aku menyadari kebenarannya. Selama lima tahun, aku buta bukan karena saraf yang rusak. Aku buta karena aku memilih untuk tidak melihat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cacat Sebagai Penebus Jasa
8.5
Bagi sang anak, dilahirkan ke dunia dianggap sebagai beban utang yang harus dibayar kepada ibunya. Demi menebus segala jasa tersebut, ia rela mengorbankan raga hingga mengalami kecacatan fisik yang permanen. Pengorbanan tragis ini dilakukan hanya demi satu tujuan, yaitu menyentuh nurani sang ibu agar mau memberikan pengampunan tulus. Sebuah kisah pengabdian menyakitkan yang menguji batas antara bakti dan penderitaan dalam hubungan keluarga.
Sampul Novel Cinta di Musim Semi
9.6
Kehidupan kota Amara terusik saat sebuah surat lama memaksanya kembali ke kampung halaman demi mengungkap rahasia kelam. Di sana, ia terjebak di antara Rendra, sosok dari masa lalunya, dan Daffa, fotografer misterius yang tiba-tiba hadir. Di tengah tumpukan memori dan misteri, Amara harus berjuang menghadapi luka lama serta pengkhianatan. Apakah kebenaran yang terungkap akan membawa kesembuhan bagi hatinya atau justru menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dikejar Oleh Sang Miliarder
9.6
Kayla Herdian kembali ke masa lalu demi membalas dendam setelah dikhianati suami dan mertuanya hingga tewas mengenaskan. Dulu hidupnya hancur, namun kini ia bangkit untuk menghancurkan para musuh dan membawa bisnis keluarganya ke puncak kejayaan. Di tengah ambisinya, seorang miliarder dingin yang dulu tak terjangkau justru datang mendekat. Pria itu kini terang-terangan merayu Kayla, memohon kesempatan untuk menjadi pendamping di pernikahan keduanya.
Sampul Novel Do You Love Me
9.7
Allia terkejut saat Azzel memintanya menjadi ibu bagi Lia. Sadar akan posisi Azzel yang sudah berkeluarga, Allia memilih mengakhiri hubungan mereka demi kebaikan bersama. Namun, keputusan itu justru memicu kemarahan Azzel yang arogan dan temperamental. Kini, gadis lembut ini terjebak dalam dilema antara rasa cinta dan sikap kasar sang kekasih. Mampukah Allia bertahan menghadapi tekanan dari pria yang tidak mau melepaskannya meski situasi kian rumit?
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Lenny, miliarder ternama di ibu kota, terjebak dalam pernikahan tanpa rasa kasih sayang. Sebuah insiden satu malam dengan wanita asing membuatnya nekat menceraikan sang istri demi mencari sosok misterius tersebut untuk dinikahi. Namun, beberapa bulan pasca berpisah, Lenny terkejut mendapati mantan istrinya tengah mengandung tujuh bulan. Keraguan pun muncul di benaknya, apakah mantan istrinya itu telah mengkhianati pernikahan mereka selama ini?
Sampul Novel MENYUSUI TUYUL
7.8
Isu pesugihan masih menghantui pedesaan, terutama bagi mereka yang sukses. Pasangan Bintang dan Alisha merasakan tekanan ini setelah pindah ke Jawa Timur demi tugas kepolisian Bintang. Warga sekitar mencurigai mereka memelihara serta menyusui tuyul akibat serentetan peristiwa ganjil yang terjadi. Tuduhan makin memanas saat mereka membeli rumah baru di luar desa. Mampukah pasangan ini membuktikan kebenaran dan lolos dari fitnah mistis yang mengancam?