
PERNIKAHAN YANG MANIS DAN GILA
Bab 3
Helaan napas keluar dari bibir Demian mendengar cerita Adiknya. Tatapan dingin yang ia perlihatkan tadi, kini telah lenyap terganti dengan tatapan sulit diartikan.
"Lalu saat pagi hari pintu hotel terbuka, menampakkan Uncle Louis dengan wajah merah padam seakan ingin mengiris tubuhku tipis-tipis." Lanjut Devian masih menundukkan kepalanya menatap lantai.
Ia kembali bergidik kala mengingat tatapan Louis padanya pagi tadi di hotel. Tatapan mengerikan yang hanya pernah ia lihat di wajah Ayahnya saat marah.
"Dan akhirnya kau berujung di mansion-nya."
Devian mengangguk membenarkan tebakan Saudara kembarnya. Bahkan pria setengah baya itu tak mau menunggu lama, hingga membuat Devian memakai pakaiannya terburu-buru dengan jantung berdetak tak karuan.
Untungnya dia tak berakhir menjadi daging cincang.
Devian mengusap kasar wajahnya. Entah apa yang akan dia dengar besok pagi.
"Persiapkan dirimu." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Demian sebelum meninggalkan Adiknya di kamar sendirian.
Sesaat Devian menatap nanar daun pintu kamar tamu tempatnya berada. Kemudian menyandarkan punggung pada sofa dengan kepala mendongak menatap langit-langit kamar.
Bayangan kehidupan yang penuh dengan KDRT mulai terngiang dalam benak Devian, membuat helaan napas pasrah kembali keluar dari bibirnya.
Jika benar dirinya menikah dengan Louisa, maka kemungkinan KDRT pada dirinya akan terjadi.
'Apa suami bisa menggugat cerai jika mendapatkan KDRT dari istri?' Batin Devian bertanya hingga berakhir mengusap kasar wajahnya.
'Hidupku....' lirih Devian dalam hati meringkuk di sofa.
Sementara di kamar lain. Seorang wanita duduk merenung di kursi pada balkon kamarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tetapi matanya enggan untuk terpejam.
Louisa menghela napas pelan, memandang langit di mana bulan bersinar begitu terang tanpa ada awan yang menutupi.
Ia yakin keputusan tercepat akan diambil oleh dua keluarga. Dan pastinya itu berujung dirinya terikat dengan sosok yang sangat ia benci.
Louisa tak pernah benar-benar membenci Devian seperti apa yang orang lain lihat. Dia hanya kesal saja, kesal dengan tingkah bar-bar pria itu yang begitu cerewet mengalahkan dirinya.
Setiap kali bertemu Devian, emosinya pasti tersulut tanpa bisa Louisa hentikan. Pria itu adalah pemicu amarahnya.
Namun, bayangan kemarin malam membuat sisi hatinya diam tak bisa berkata-kata.
Walau dalam pengaruh obat perangsang, Louisa masih memiliki sedikit kesadarannya. Bahkan rasa sakit saat ia kehilangan keperawanannya pun masih dapat ia rasakan.
"Aku akan pelan-pelan."
Ucapan lirih penuh kasih sayang itu kembali terngiang tanpa permisi di benak Louisa, membuat wajahnya merona merah karena malu.
Awalnya lembut, tapi lama kelamaan berubah kasar. Namun, hal itu tak membuat rasa nikmat yang ia rasakan hilang.
"Damt it!" Louisa menekuk kedua kakinya. Menutup wajahnya yang merona hingga ke telinga.
"Jika benar berakhir menikah dengannya, aku akan bersamanya seumur hidup." Lirih Louisa sedikit mendongak dan menatap lurus ke depan.
"Apa bisa?" Keraguan mulai mengisi hatinya.
***
Pagi menjelang, tepat pukul setengah delapan pagi beberapa orang kini telah terlihat duduk di kursi di ruang makan. Bersiap untuk sarapan pagi bersama.
Tapi, suasana yang mencekam tak bisa menutupi kegugupan seorang pria yang kini menunduk dengan tubuh gemetar.
Devian takut mendongak, menatap wajah Ayah dan Ibunya.
Para pelayan mulai meletakkan sarapan di meja makan dengan begitu hati-hati, agar tak membuat kesalahan.
"Baiklah, kita akan langsung membahas ke inti pembicaraan yang membuat Dua keluarga berkumpul di sini hari ini." Ucap Louis membuka suara setelah para pelayan menjauh dari meja makan.
Devian tetap diam. Ia pasrah pada keputusan yang telah dirundingkan oleh Orang tuanya dan orang tua Louisa.
"Devian dan Louisa akan menikah." Ucap Louis mutlak.
Sudah Devian duga. Perlahan pria itu mengulurkan tangannya meraih roti dan selai kacang di atas meja, memilih makan meski tahu akan sulit untuk ia cerna.
"Pernikahan akan dilangsungkan dua hari lagi."
Devian melahap gigitan pertamanya dalam diam. Sudah ia duga hal itu. Lebih cepat lebih baik, mungkin hal itulah yang Louis pikirkan.
Logan dan Zara hanya diam. Menikmati sarapan dengan sesekali melirik Putra kedua mereka.
Pasangan setengah baya itu yakin jika saat ini Putranya itu tertekan. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya.
"Daddy."
Suara itu terdengar, hingga membuat dua pasangan paruh baya itu menoleh dan menatap Louisa yang berniat membuka suara.
Devian ikut melirik ke arah Louisa, menanti wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin pernikahan digelar secara sederhana saja, tanpa mengundang banyak orang. Hanya orang penting dan juga keluarga di Indonesia," lirih Louisa menatap takut ke arah Ayahnya.
Seketika kunyahan Devian terhenti, mengalihkan pandangan ke arah Louis yang hanya diam dengan tatapan sulit diartikan.
"Aku hanya ingin pernikahan sederhana untuk saat ini." Sendu Louisa menundukkan kepala menatap lantai.
Zara memandang sedih keponakannya yang memang duduk di sampingnya. Ia mengulurkan tangan mengusap punggung wanita muda itu, lalu menatap putra keduanya yang diam dengan bibir sedikit terbuka.
Sepertinya, Putra keduanya juga terkejut mendengar pengakuan itu.
Louis menghela napas pelan, "baiklah. Hanya akan ada orang penting yang hadir dan juga keluarga di Indonesia. Hal ini tidak akan diketahui oleh publik," ucapnya pasrah.
Louisa tersenyum tipis memandang wajah lelah Ayahnya, "terima kasih, Daddy."
"Aku ingin menggunakan kebaya saat mengucapkan sumpah."
"Baiklah." Ucap Louis menyetujui. Tak ada alasan baginya melarang hal itu.
"Sekali lagi terima kasih, Daddy." Ucap Louisa tersenyum tulus.
Sarapan kembali berlanjut dalam keadaan hening. Sedang Devian berusaha untuk mencerna semua hal yang baru saja terjadi.
Ya, bisa dibilang ada sedikit rasa senang di hatinya karena pernikahan digelar sederhana tanpa harus menyalami ratusan orang.
Jika mengingat rekan bisnis orang tuanya dan Uncle-nya itu, sepertinya tamu yang datang akan ribuan jika pernikahan digelar mewah.
Membayangkannya, membuat Devian bergidik.
Devian mengedikkan bahu pasrah, menatap lurus ke depan hingga tanpa sengaja bertatapan dengan Ayahnya.
Glek!
Devian menelan kasar ludahnya mendapati tatapan itu. Tatapan yang sulit diartikan, antara kecewa, marah dan tak percaya.
'Aku hampir lupa, jika masih ada Ayah selain Demian.' batin Devian mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak ingin bertatapan lama dengan Ayahnya.
Tepat tengah hari, Devian melangkahkan kakinya memasuki kamar kedua orang tuanya. Setelah melihat keberadaan Sang Ibu di ruang tamu, Devian yakin jika hanya Ayahnya di dalam kamar.
Tok! Tok! Tok!
Devian mengetuk pintu tiga kali, "ini Devian." Ucapnya sedikit lesu.
"Masuklah."
Perlahan Devian mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, menampakkan punggung Sang Ayah yang berdiri membelakanginya memandang keluar jendela.
"Dad." Panggil Devian lirih yang masih didengar oleh pria setengah baya itu.
Perlahan Logan membalikkan tubuhnya. Menatap Putranya dengan tatapan yang serupa seperti di meja makan tadi, membuat Devian menunduk takut.
"Kok bisa?"
Anda Mungkin Juga Suka





