
Pernikahan Yang Dikhianati
Bab 2
Langit malam di kota itu tampak mendung, seolah mencerminkan perasaan Aruna yang masih kusut. Setelah kejadian di restoran malam itu, ia mengurung diri di apartemennya selama beberapa hari. Pesan-pesan dari Adrian yang penuh permintaan maaf ia abaikan. Kata-katanya terasa kosong dan tidak lagi berarti.
Aruna hanya menatap keluar jendela apartemennya yang kecil, melihat kendaraan berlalu lalang di jalanan. Pikirannya berputar-putar, mencoba mencari cara untuk membebaskan dirinya dari rasa malu dan penghinaan yang ia terima.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuatnya tertegun. Reza, cinta pertamanya, yang terakhir kali ia temui lima tahun lalu. Aruna ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab telepon itu.
"Aruna," suara Reza terdengar berat namun hangat di ujung telepon. "Aku dengar apa yang terjadi. Kamu baik-baik saja?"
"Bagaimana kamu tahu?" Aruna bertanya, meskipun nada suaranya lelah dan datar.
"Berita seperti itu cepat menyebar, apalagi di lingkaran bisnis. Aku menyesal mengetahuinya dari orang lain, bukan darimu."
Aruna menghela napas panjang. "Kalau kamu menelepon hanya untuk merasa kasihan padaku, Reza, aku tidak membutuhkannya."
"Bukan itu," jawab Reza tegas. "Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Apa itu tidak bisa dibicarakan di telepon?" Aruna bertanya, sedikit skeptis.
"Tidak. Ini terlalu penting."
Dua jam kemudian, Aruna mendapati dirinya duduk di dalam sebuah restoran bintang lima yang terasa jauh lebih megah dibandingkan restoran tempat ia dihina beberapa malam sebelumnya. Reza duduk di hadapannya, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna melekat di tubuhnya. Ia tampak lebih dewasa, lebih berwibawa, namun tatapan matanya masih sama-hangat dan penuh perhatian.
"Terima kasih sudah datang," kata Reza, tersenyum kecil.
Aruna mengangkat bahu. "Aku tidak tahu kenapa aku setuju, tapi aku di sini. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"
Reza memperhatikan wajah Aruna dengan saksama. "Aruna, aku tahu kamu sedang terluka. Tapi aku ingin memberikanmu kesempatan untuk bangkit. Aku ingin kita menikah."
Mata Aruna membelalak. Kata-kata itu tidak ia duga sama sekali. "Apa? Ini semacam lelucon?"
"Tidak," Reza menjawab dengan serius. "Aku tahu ini terdengar tiba-tiba, tapi dengarkan aku. Kita pernah mencintai satu sama lain dulu. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu sejak saat itu. Dan sekarang, aku ingin memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi."
Aruna memandangnya dengan penuh kecurigaan. "Ini tentang balas dendam, kan? Kamu tahu apa yang Adrian dan keluarganya lakukan padaku, dan kamu ingin memanfaatkan situasi ini untuk mempermalukan mereka."
Reza menggeleng. "Tidak, ini bukan tentang mereka. Ini tentang kita. Aku tidak peduli dengan Adrian atau keluarganya. Aku hanya peduli padamu."
Aruna tertawa kecil, penuh kepahitan. "Reza, kamu tidak mengerti. Hidupku hancur sekarang. Tidak ada yang akan melihatku sebagai apa pun selain wanita yang ditolak di depan umum."
"Itulah mengapa aku ada di sini," kata Reza sambil bersandar sedikit ke depan. "Aku ingin membantumu membuktikan pada dunia bahwa kamu lebih dari itu. Bersamaku, kamu bisa bangkit dan menunjukkan pada mereka bahwa kamu tidak bisa diremehkan."
Aruna terdiam. Kata-kata Reza menyentuh hatinya, tetapi ia tidak yakin apakah itu cukup untuk mengobati luka yang ia rasakan.
"Kenapa sekarang?" tanyanya akhirnya. "Kenapa tidak lima tahun lalu, ketika aku membutuhkanmu?"
Reza terdiam sejenak, menatap meja sebelum akhirnya kembali menatap Aruna. "Karena aku pengecut. Aku tidak cukup berani untuk memperjuangkanmu waktu itu. Tapi aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi."
Air mata mulai menggenang di mata Aruna, tetapi ia menahannya. "Reza, aku butuh waktu untuk memikirkan ini."
"Aku akan menunggu," kata Reza dengan senyum kecil. "Berapa lama pun yang kamu butuhkan."
Malam itu, Aruna pulang dengan perasaan campur aduk. Tawaran Reza terus terngiang di kepalanya. Ia tahu ini adalah kesempatan untuk membuktikan pada Adrian dan keluarganya bahwa ia tidak selemah yang mereka pikirkan. Tapi di sisi lain, ia takut mengambil keputusan yang didasari oleh kemarahan dan rasa sakit.
Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, Aruna berbisik pada dirinya sendiri, "Kamu tidak boleh membiarkan mereka menang. Kamu harus bangkit."
Di dalam hatinya, perlahan mulai tumbuh tekad baru. Jika ia harus menikahi Reza untuk membuktikan sesuatu pada dunia, maka ia akan melakukannya-bukan karena dendam, tetapi karena ia pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik.
Anda Mungkin Juga Suka





