
Pernikahan Yang Dikhianati
Bab 3
Kabar tentang pernikahan mendadak antara Aruna dan Reza menyebar cepat di kalangan orang-orang terdekat mereka, menciptakan gelombang kejutan dan spekulasi. Tidak sedikit yang menganggap bahwa pernikahan ini hanyalah upaya Aruna untuk membalas dendam atas penghinaan yang diterimanya dari keluarga Adrian. Namun, Aruna tidak peduli. Keputusan ini adalah jalannya untuk kembali berdiri tegak, bukan hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Di sebuah ruang tamu rumah Reza yang mewah, Aruna duduk bersama Reza, menghadapi wedding planner yang tampak sibuk mencatat segala permintaan mereka.
"Tema apa yang ingin kalian pilih, Pak Reza, Bu Aruna?" tanya wanita itu sambil menatap mereka bergantian.
Aruna melirik Reza, berharap pria itu yang akan menjawab. Namun, Reza hanya tersenyum dan memberikan keputusan sepenuhnya padanya.
"Putih dan emas," kata Aruna akhirnya. Suaranya tegas, meskipun hatinya masih sedikit ragu.
Wedding planner itu mengangguk. "Baik. Kami akan menyiapkan semuanya. Mengingat waktu yang sangat singkat, kami akan bekerja ekstra keras agar semuanya sempurna."
Aruna menghela napas dalam. Semuanya terasa seperti mimpi, terlalu cepat dan mendadak. Namun, setiap kali ia menatap Reza, ada rasa tenang yang perlahan menguatkan dirinya.
Hari pernikahan tiba lebih cepat dari yang Aruna bayangkan. Aula mewah yang dipenuhi dekorasi putih dan emas tampak memukau. Lilin-lilin kecil yang menghiasi meja memberikan suasana hangat, sementara bunga-bunga segar menambahkan sentuhan romantis pada ruangan itu.
Aruna berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul dengan rapi, dihiasi mahkota kecil yang membuatnya tampak seperti ratu.
Namun, di balik penampilannya yang sempurna, Aruna merasa gelisah. Ia menatap bayangannya di cermin, bertanya-tanya apakah keputusan ini benar.
"Kamu cantik sekali," suara Reza tiba-tiba terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Aruna menoleh, menatap Reza yang sudah mengenakan setelan jas hitam yang elegan. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan mata yang penuh kekaguman.
"Terima kasih," jawab Aruna pelan.
Reza melangkah masuk, mendekatinya dengan hati-hati. "Kamu masih ragu?"
Aruna terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Ini semua terjadi begitu cepat. Aku takut aku membuat keputusan yang salah."
Reza meraih tangan Aruna, menggenggamnya erat. "Aku tahu ini tidak mudah untukmu, Aruna. Tapi aku berjanji, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia."
Aruna menatap mata Reza, mencari kejujuran dalam kata-katanya. Dan ia menemukannya. Reza benar-benar tulus.
"Aku percaya padamu, Reza," kata Aruna akhirnya.
Upacara pernikahan berlangsung dengan lancar. Janji suci diucapkan di depan para tamu undangan, diiringi tepuk tangan meriah. Namun, di antara keramaian itu, Aruna menyadari kehadiran seseorang yang tidak ia duga-Adrian dan keluarganya.
Adrian berdiri di sudut ruangan, matanya tidak pernah lepas dari Aruna. Ia tampak terpukul, seolah menyesali keputusan yang telah dibuat keluarganya. Namun, Aruna tidak peduli. Ia tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalunya menghancurkan kebahagiaannya yang baru.
Setelah upacara selesai, Aruna dan Reza menyapa para tamu. Ketika mereka sampai pada giliran Adrian, suasana mendadak tegang.
"Selamat, Aruna," kata Adrian pelan, suaranya terdengar berat.
"Terima kasih," jawab Aruna singkat, berusaha menjaga sikapnya.
Adrian menatap Reza, yang berdiri dengan penuh percaya diri di samping Aruna. "Kamu pria yang beruntung, Reza."
Reza tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Aruna merasakan genggaman tangan Reza semakin erat, seolah ingin menunjukkan bahwa ia akan selalu melindunginya.
Setelah Adrian dan keluarganya pergi, Aruna merasa lega. Ia menatap Reza dengan senyuman kecil.
"Terima kasih," bisiknya.
"Untuk apa?" tanya Reza.
"Untuk selalu ada di sisiku," jawab Aruna.
Reza mengangguk, lalu mengecup kening Aruna dengan lembut. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Malam itu, setelah pesta usai, Aruna dan Reza berada di kamar pengantin mereka. Aruna duduk di tepi tempat tidur, sementara Reza berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aruna akhirnya.
Reza menoleh, menatap Aruna dengan senyum kecil. "Aku hanya memikirkan betapa beruntungnya aku hari ini."
Aruna tertawa kecil. "Beruntung? Aku pikir aku adalah beban untukmu."
Reza berjalan mendekatinya, lalu duduk di sampingnya. "Kamu bukan beban, Aruna. Kamu adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima."
Air mata mulai mengalir di pipi Aruna. Ia merasa tersentuh oleh kata-kata Reza. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dicintai dan dihargai.
"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, Reza," bisik Aruna.
Reza mengangguk, lalu memeluknya erat. "Dan aku akan selalu menjadi suami yang melindungimu."
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, Aruna merasa bahwa hidupnya akhirnya mendapatkan awal yang baru. Namun, ia tahu perjalanan mereka masih panjang, dan masa lalu mereka akan kembali menghantui. Tapi bersama Reza, ia merasa yakin bahwa mereka bisa menghadapinya bersama.
Anda Mungkin Juga Suka





