Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Si Mungil

Pernikahan Si Mungil

Hiram dan Rachel terikat perjodohan kuno dari kakek mereka, namun sang CEO tampan berniat menceraikan Rachel dalam sebulan karena menganggapnya kasar. Hiram memiliki masalah gairah dengan wanita, sementara Rachel dikenal membawa sial bagi pria yang ia kencani. Meski awalnya saling menolak dan penuh keraguan, takdir justru menyatukan dua pribadi unik ini dalam ikatan pernikahan yang tidak terduga di tengah segala perbedaan kepribadian mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kuil itu terlihat sangat sepi, hanya terdengar suara lonceng kayu berbentuk ikan yang dipukuli oleh para wanita penjaga kuil itu. Aroma dupa yang menyengat tercium di seluruh penjuru kuil, begitu juga dengan lilin-lilin yang menyala memenuhi seluruh ruangan kuil

Kuil itu tidak seperti kuil tradisional lainnya, karena tidak ada biarawan maupun biarawati yang menetap di sana. Sebagian besar orang yang menetap dan menjaga kuil itu adalah para penduduk setempat yang sudah berusia lanjut.

Rachel sangat mengenal kuil itu, bahkan dia tidak asing dengan setiap patung Buddha yang berada di sana. Karena sejak kecil, dia sudah sering mengunjungi kuil itu bersama mamanya.

Setelah selesai meletakkan semua persembahan di atas meja altar, kemudian dia berlutut secara perlahan di atas bantal bundar yang lembut, lalu dia bersujud dan mulai berdoa.

Di mata orang luar, semua hal yang dia lakukan terlihat seperti pemujaan yang luar biasa.

Di ruangan lainnya, Hiram juga telah selesai meletakkan persembahannya di atas meja altar. Namun, pakaian yang dia kenakan saat itu terlihat sangat tidak sesuai untuk berkunjung ke tempat seperti itu.

Bukan masalah bagi dia untuk bersujud dan menyembah leluhurnya sendiri, tapi untuk bersujud dan menyembah patung-patung yang hanya terbuat dari tanah liat itu, dia tidak sudi melakukannya.

Kemudian dia duduk bersila, berencana untuk berdiam diri di sana hingga waktunya untuk pergi. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Hiram mengeluarkan ponselnya dan mulai memeriksa dokumen-dokumen yang tersimpan di ponselnya.

Dia sangat terobsesi dengan data-data yang ada di ponselnya itu.

Namun, belum sampai satu menit dia menikmati keheningan di ruangan tempat dia melakukan sembahyang itu, dia sudah mulai mendengar suara ocehan yang berasal dari ruangan yang lain.

Suara ocehan itu cukup berisik dan mengganggu konsentrasinya dalam membaca. Dia mengerutkan alis hitamnya, tatapan matanya yang semula tenang dan terlihat cerah perlahan berubah menjadi penuh dengan amarah. Wajahnya yang tampan tiba-tiba terlihat sangat marah.

"Bukankah kuil seharusnya menjadi tempat yang paling tenang?"

"Dari mana datangnya suara yang berisik itu?" gumamnya.

Di ruangan lain, Rachel menggeser bantalan duduknya sehingga lebih mendekat dengan penjaga kuil. Dia sangat cerewet sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengobrol dengan penjaga kuil.

Wanita yang menjaga kuil itu adalah penduduk setempat yang telah kenal baik dengan Rachel. Awalnya, wanita itu menolak untuk mengobrol dengan Rachel, karena dia takut akan mengganggu ketenangan kuil. Namun, Rachel tak henti-hentinya mengoceh dan memaksanya, jadi dia tidak punya pilihan lain.

"Bibi, tadi saat datang, aku melihat seorang wanita tua yang menyumbang begitu banyak uang. Dengan uang sebanyak itu," kata Rachel sambil mengangkat tangannya untuk membuat gerakan isyarat, "aku heran, jika dia begitu kaya, kenapa dia tidak melakukan kegiatan amal saja? Bukankah jauh lebih baik jika dia bisa membantu anak-anak fakir miskin untuk bisa bersekolah ....".

Rachel tahu kalau kuil itu secara finansial, mereka tidak kekurangan uang. Selain itu persembahan dari umat pun berjalan dengan lancar. Jadi dia merasa orang-orang yang menyumbangkan uang itu, tujuannya hanya untuk membeli keselamatan mereka, itu adalah suatu bentuk pemborosan.

Namun bagi sang bibi, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang baru, dia sudah sering melihatnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan tidak menanggapi apa yang dikatakan Rachel. Dia tahu kalau di dalam hati orang-orang itu, umumnya mereka merasa bersalah dan berdosa. Mereka ingin mendapatkan ketenangan batin, jadi mereka mengira dengan menyumbangkan sebagian uangnya dapat membuat hidupnya lebih tenang. Ini bukanlah sesuatu yang tabu, semua orang mengetahuinya.

"Ada lagi, Bibi. Aku juga melihat ...." lanjut Rachel.

Di sisi lain, Hiram sudah tidak bisa duduk dan berdiam diri lebih lama lagi. Hal yang ingin dia lakukan adalah mengambil kain dan menyumpal ke mulut Rachel yang menyebalkan itu.

Ruangan-ruangan di kuil hanya disekat dengan dinding gypsum dan dua potong tirai berwarna kuning. Oleh karena itu, suaranya bisa terdengar dengan mudah hingga ke ruangan yang lain.

Rachel keasyikan mengobrol dengan sang bibi. Dia sama sekali tidak menyadari bahaya yang akan datang mengusiknya.

Rachel tiba-tiba merasakan ada hembusan angin dingin yang meniup wajahnya. Selain itu, tercium aroma parfum yang lembut di sekitarnya.

Untuk pertama kalinya, Rachel merasa nyaman dengan wangi parfum seorang pria.

"Bisakah kamu menutup mulutmu?" Tiba-tiba dia mendengar suara rendah dan jengkel dari atas kepalanya.

Semua kesan baik Rachel langsung menghilang. Dia mendongak dan tertegun melihat wajah penuh amarah, pria itu juga tampak sangat tampan. Dia bahkan lebih tampan dibanding para bintang populer.

Di sisi lain, Hiram juga terkejut saat dia melihat Rachel. Wajahnya tidak kelihatan seperti wanita yang suka bergosip. Namun sebaliknya, wajah Rachel terlihat sangat imut dan cantik dengan mata hitamnya yang cerah. Rachel menatap Hiram dengan heran, bulu matanya yang panjang bergetar tampak seperti kupu-kupu yang terkesima.

Setelah mundur beberapa langkah, Rachel melihat tempat di mana Hiram tadi keluar. Akhirnya dia menyadari dan bertanya, "Apakah kamu dari Keluarga Setiawan? Maaf! Aku tidak tahu kalau di ruangan itu ada seseorang," tambahnya.

Semua orang di Desa Suka Maju tahu status Keluarga Setiawan.

Bahkan kuil ini pun, dibangun dari dana yang disumbang mereka. Jadi, wajar saja kalau mereka memiliki ruangan khusus untuk beribadah.

Kemarahan Hiram sedikit mereda saat Rachel meminta maaf. Namun kemudian dia mendengar ....

"Apakah semua orang dari Keluarga Setiawan tidak tahu sopan santun? Meskipun tadi aku mungkin terlalu berisik, tapi kamu juga tidak perlu sampai mengancamku, 'kan?" Rachel mengangkat alisnya, dia mengatakannya dengan nada jengkel.

Betapa beraninya Hiram memintanya untuk diam?!

Keluarga Setiawan sama sekali bukan hal yang baru bagi Rachel.

Rachel sudah sering mendengar apa yang para tetua katakan sebagai "kesepakatan" antara Keluarga Rustadi dan Keluarga Setiawan sejak dirinya masih muda. Dia bahkan sudah mendengarnya lebih dari seribu kali.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar tidak mempunyai kesan yang baik terhadap Keluarga Setiawan.

Eskpresi wajah Hiram yang sudah terlihat dingin langsung berubah menjadi lebih dingin ketika dia mendengar apa yang dikatakan Rachel. "Mengancam?" dia mengatakannya dengan nada yang sangat dingin. Seluruh ruangan pun terasa dingin membeku seperti tertutup lapisan es, "Maksudmu aku telah mengacammu? Jika demikian, aku dengan senang hati akan membuat apa yang kamu sebut 'mengancam' itu menjadi kenyataan."

Hiram berjalan mendekati Rachel bahkan sebelum dia menyelesaikan perkataannya. Dia mengulurkan lengannya dan meletakkannya di pinggang Rachel. "Aku benci wanita yang suka bergosip. Karena kamu suka bergosip, bagaimana kalau aku memberimu pengeras suara agar semua orang bisa mendengar kata-katamu?" tanyanya serius namun mengejek.

Semuanya terjadi dengan tiba-tiba sehingga Rachel tidak sempat bertindak sebelum Hiram memeluknya dengan kasar.

"Oh! Anak-anakku tersayang ... kalian sedang berada di dalam kuil. Rachel Rustadi, bisakah kamu berhenti bertengkar dengannya?" pinta sang wanita penjaga kuil. Tampaknya mereka berdua siap bertengkar kapan saja. Wanita penjaga kuil itu segera berdiri dan meminta mereka untuk berhenti, tapi dia mengatakannya dalam dialek setempat.

Setelah wanita tersebut selesai bicara, Hiram Setiawan semakin mengerutkan alisnya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja wanita itu katakan karena dia tidak dibesarkan di Desa Suka Maju. Namun ada satu kata yang bisa dia dengar dengan jelas, yaitu "Rustadi".

'Dia dari Keluarga Rustadi?' Hiram bergumam sendiri.

Ini sungguh sebuah kebetulan. Keluarga Rustadi juga bukan hal baru bagi Hiram.

Di matanya, Keluarga Rustadi juga tidak memiliki kesan yang baik, sama seperti pandangan Rachel terhadap keluarganya.

'Tunggu, tunggu ... Keluarga Rustadi?' batinnya.

"Katakan padaku! Apa hubunganmu dengan Simon Rustadi?" tanyanya penasaran.

Hiram ingat, ketika dia masih sangat kecil, kakeknya hendak duduk di kursi goyangnya dan berkata, "Hiram, aku telah menemukan calon istri yang sangat cantik untukmu. Gadis ini sangat lembut, dia juga berbudi luhur. Kakek yakin kamu akan berterima kasih pada Kakek karena telah melakukan ini. Kamu sangat beruntung, cucuku."

"Mulai sekarang, sebaiknya kamu bersikap lebih baik padanya. Omong-omong, nama gadis itu ... biarkan aku berpikir ...." kata kakek.

"Namaku Rachel, dan Simon Rustadi adalah ayahku. Bagaimana kamu bisa mengenal ayahku?" tanya Rachel. Rachel menatap pria di depannya itu dengan penuh penasaran. Kedua orang tua meraka berasal dari Desa Suka Maju, dan hanya ada dua nama keluarga besar di desa itu, yaitu Rustadi dan Setiawan.

Ayahnya sudah lama meninggal. tapi kenapa dia bisa menyebutkan nama ayahnya?

Hiram menurunkan kembali alisnya, kemudian memasang senyuman dingin di wajahnya lagi. Sungguh tidak masuk akal, kakeknya bisa mengatakan kalau Rachel adalah wanita "lembut dan berbudi luhur".

'Aku rasa penglihatan kakek sudah kabur sejak saat itu, ' batin Hiram.

Rachel langsung mundur selangkah setelah Hiram melonggarkan lengan di pinggangnya. Kekesalan terlihat di wajahnya. Pasalnya pria itu mencengkeram pinggangnya dengan sangat kasar dan erat, karena itu dia merasa kesakitan.

"Sepertinya kamu tidak menyukaiku dan Keluarga Setiawan," jawab Hiram, tapi itu bukan jawaban atas pertanyaannya. Dari matanya yang terlihat lebih gelap, tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan saat itu.

"Tentu saja tidak suka, brutal, kejam, dan suka mengancam orang! Aku dengar kalau Keluarga Setiawan memulai bisnis sebagai perusahaan pengangkutan barang. Tidaklah mengherankan, kalau orang-orang dari tempat itu sangat kasar," ucapnya, rasa tidak suka bisa terdengar dari nada bicaranya. Rachel sendiri bekerja di bidang pemasaran, dan dia adalah pemimpin tim pemasaran terbaik di perusahaannya. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi kalau dia sangat pandai berbicara.

Keluarga Setiawan sudah banyak mengirimkan hadiah kepada Keluarga Rustadi selama bertahun-tahun, meskipun mereka tidak pernah muncul secara pribadi. Itu sangat jelas kalau mereka memandang rendah Keluarga Rustadi, tapi masih berpura-pura murah hati. Jauh di lubuk hatinya, Rachel sangat membenci hal itu.

Hiram pura-pura menepuk-nepukan debu dari tubuhnya, bertingkah seolah-olah dia tidak ingin ada sehelai rambut dari wanita yang dangkal itu yang menempel pada dirinya. Lalu dia berkata, "Wanita murahan. Karena kamu sudah memandang rendah keluargaku, Keluarga Setiawan, akan lebih baik jika kamu tidak menentang hati nuranimu dengan menikah dan bergabung dengan keluarga kami."

"Aku bersumpah! Aku tidak akan pernah menikah dan bergabung dengan keluargamu," ucap Rachel. "Omong-omong, kenapa kamu bisa berpikiran ke arah itu? Menikah dan bergabung dengan keluargamu? Apa kamu sedang bercanda? Bahkan jika kamu yang memohon sendiri padaku, aku tetap tidak akan sudi melakukannya!" tambahnya. Ia tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak karena ucapan konyol Hiram. 'Pria ini sangat aneh, ' batinnya. Bagaimana pria itu bisa berpikir kalau dirinya akan menikah dan bergabung dengan Keluarga Setiawan?

"Sangat Bagus. Sebaiknya kamu tidak pernah lupa dengan apa yang barusan kamu katakan itu," ucap Hiram.

Hiram menyunggingkan senyuman sebagai respon dari apa yang dikatakan Rachel, tampaknya dia tidak terintimidasi olehnya. Dia kemudian menatap wajah Rachel, kemudian dengan perlahan dan jelas dia berkata, "Jangan lupakan apa yang barusan kamu katakan! Aku akan terus mengawasimu!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Memaafkanmu
9.1
Alea diadopsi oleh pasangan konglomerat, Reynald dan Marina, sejak kecil. Namun di usia dewasa, ketenangan rumah mereka terusik saat Reynald mulai menaruh perasaan terlarang pada putri angkatnya itu. Di tengah ketidaktahuan Marina yang fokus pada terapinya, Alea merasa tertekan oleh obsesi sang ayah. Segalanya berubah saat rekaman rahasia mengungkap skandal yang mengancam keutuhan keluarga mereka. Haruskah Alea bicara atau tetap diam demi membalas budi?
Sampul Novel Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen)
8.2
Tanpa perkenalan mendalam, Asoka nekat melamar Riri meski restu orang tua menjadi penghalang besar. Di tengah perjuangannya, Asoka terpaksa pergi ke London dalam waktu lama. Saat ia kembali untuk meraih cinta Riri, kenyataan pahit menantinya: Riri telah resmi dipersunting oleh Kris. Kini, Asoka terjebak dalam dilema asmara yang rumit, sementara kehadiran Kris menjadi penengah tak terduga dalam drama cinta yang penuh rintangan dan pengorbanan ini.
Sampul Novel Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby
8.0
Arina merupakan sosok gadis cerdas dan ambisius yang terjebak dalam pusaran dunia mafia setelah bertemu Alvaro. Sebagai pemimpin jaringan bisnis ilegal berpengaruh di kota, pria berusia awal 40-an tersebut terobsesi menjadikan Arina miliknya. Alvaro tidak ragu memanfaatkan kekayaan serta kekuasaannya demi mendapatkan apa yang diinginkan. Kini, kehidupan Arina berubah total saat dirinya dianggap sebagai permata berharga oleh sang penguasa gelap tersebut.
Sampul Novel Istri Kontrak Mr Billionaire
8.6
Demi membiayai pengobatan sang ibu, Claudya terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan miliarder ternama asal Eropa. Namun, kehidupan barunya justru penuh penderitaan karena sang suami menjadikannya pelampiasan rasa sakit hati akibat ditinggalkan mantan kekasih. Meski raga dan jiwanya sempat terpikat, Claudya akhirnya memilih menyerah. Ia memutuskan untuk pergi menjauh demi mengakhiri segala kepedihan dalam hubungan yang tidak berlandaskan cinta tersebut.
Sampul Novel Lelaki Asing Yang Menodaiku
9.1
Alana melarikan diri dari rencana pernikahan karena merasa ternoda oleh pria misterius yang tidak ia kenali. Tragedi masa lalu sebagai TKW itu meninggalkan trauma mendalam hingga ia menutup diri. Sementara itu, Lars adalah CEO sukses yang merasa hidupnya hampa setelah kehilangan sebagian ingatan akibat kecelakaan. Saat takdir mempertemukan mereka, Lars merasa terobsesi pada Alana. Rasa rindu dan perih yang muncul mulai mengusik rahasia masa lalu mereka yang kelam.
Sampul Novel Mendadak Dinikahi CEO
9.7
Niat Chayana mendatangi pesta pernikahan Ray, CEO di kantornya, hanyalah untuk membuktikan perselingkuhan Damian. Namun, hatinya hancur saat melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita hamil. Di tengah kekacauan itu, Ray justru menarik paksa Chayana ke altar untuk menikahinya. Kehidupan Chayana berubah total dalam sekejap setelah ijab kabul selesai. Kini ia terikat dengan suami yang tak pernah ia duga, tanpa menyadari sisi gila yang tersembunyi di balik sosok Ray.