
Pernikahan Si Mungil
Bab 3
"Ma, kamu mau pergi ke mana?" Sesampainya di rumah, keranjang yang dibawa Rachel tadi langsung diletakkan di atas meja. Tangannya lalu mengambil salah satu cangkir yang ada di meja, menuangkan air ke dalamnya, kemudian meneguknya.
Lantaran baru saja selesai adu mulut dengan Hiram, tenggorokannya pun sampai kering, hausnya bukan main!
Fannie berdiri di depan cermin. Dia memerhatikan bayangannya di kaca lalu merapikan pakaiannya. Mendengar pertanyaan Rachel, Fannie menanggapinya dengan tersenyum dan berkata, "Rachel, kuil leluhur tua itu memang benar-benar tempat yang sakti. Kuil itu memang tempat terbaik untuk memperoleh berkah dari para dewa. Saat kita ke kuil itu tadi, sewaktu keluar dari sana, Mama bertemu dengan Keluarga Setiawan."
Mendengar mamanya menyebut nama Keluarga Setiawan, Rachel tersedak. Hampir saja air yang sedang diteguknya itu masuk ke dalam rongga yang salah. Dia lekas menyeka sudut mulutnya lalu bertanya, "Keluarga Setiawan? Apakah kamu bertemu dengan tante Joanna? Apa yang kalian bicarakan?"
Pertanyaan yang dilontarkan bertubi-tubi itu membuat Fannie tersenyum. 'Putriku tampaknya bersemangat sekali, ' pikirnya. Dia lalu menoleh ke arah Rachel dan berkata, "Apa lagi kalau bukan membicarakan pernikahanmu? Selama ini, kamu tidak pernah sekali pun berhasil dengan acara perjodohan yang kamu hadiri itu. Aku percaya bahwa nenek moyang Keluarga Rustadi dan Keluarga Setiawan meninggal dengan penyesalan yang abadi karena anggota keluarga mereka tidak terikat dalam pernikahan. Jadi tentu saja aku perlu bertemu dengan Keluarga Setiawan dan membicarakan hal ini."
"Bertemu dengan Keluarga Setiawan? Bukankah terakhir kali kamu berbicara dengan mereka sekitar dua puluh tahun yang lalu?" Tentu saja Rachel tidak mengetahui apa yang terjadi pada generasi sebelumnya dari kedua keluarga itu. Namun, dirinya tahu pasti bahwa seandainya Keluarga Setiawan memiliki seorang putra, maka laki-laki itu pasti akan dijodohkan dengannya, atau lebih tepatnya, menjadi suaminya.
"Betul, tapi saat pertemuan singkat tadi, Joanna mengajakku bertemu untuk mengobrol. Aku berkata padanya, walaupun tidak ada pria di keluarga Setiawan yang cocok denganmu. Memilih salah satu kerabatnya yang lumayan untuk menikah denganmu juga boleh!"
Setelah mengatakan itu, Fannie mengambil tas jinjingnya kemudian berjalan keluar rumah.
"Tetap di rumah dan tunggu kabar baik dariku," tambahnya tanpa menoleh sedikitpun.
Mendengar kata-kata ibunya, Rachel langsung bangkit dari posisinya di sofa. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dengan tergesa-gesa, dia berjalan ke arah mamanya.
"Ma! Tunggu sebentar …."
Sayangnya, sebelum Rachel sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah itu sudah ditutup dengan kencang.
Rachel berdiri di depan pintu dengan gelisah. Tidak tahu kenapa, perasaannya menjadi semakin tidak tenang.
Ada sebuah paviliun berbentuk persegi yang cukup bersejarah di Desa Suka Maju. Fannie sering bermain ke sana ketika dirinya masih muda. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, jumlah anak muda yang tinggal di desa itu semakin berkurang. Akhirnya, paviliun itu berubah menjadi tempat yang sepi. Jarang sekali ada orang yang mengunjungi tempat itu sekarang.
"Joanna, aku senang bisa bertemu denganmu di sini. Aku tidak menyangka kamu akan mengundangku datang kemari." Fannie terkejut saat mendengar Joanna mengajaknya untuk bertemu di paviliun ini. Dia berpikir bahwa sepertinya dirinya sama sekali tidak mengenal Joanna di masa lalu.
"Fannie, kemari dan duduklah di sampingku. Aku memang bukan penduduk setempat daerah ini, tapi aku telah menjadi bagian dari keluarga Setiawan selama tiga puluh tahun lamanya. Aku selalu datang ke sini untuk berjalan-jalan setiap kali aku pulang ke rumah."
Joanna Firmanda memerhatikan pemandangan di sekeliling itu sekilas. Dia menyadari bahwa tempat itu masih sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Bahkan jalan menuju desa itu, tanahnya masih tidak rata dan penuh dengan bebatuan. Penduduk setempat memang tidak pernah membangun jalan utama yang lebar. Alasannya, mereka tidak ingin ada pendatang yang masuk ke desa dengan mengendarai mobil-mobil mereka. Mereka ingin menjaga kelestarian lingkungan desa itu agar tidak tercemar.
Fannie merasa agak terkejut ketika bertemu dengan Joanna. Dia merasa kalau Joanna adalah seorang wanita terhormat dari keluarga elit. Namun, dia tidak arogan ataupun sombong.
Sebaliknya, wanita itu sangatlah santai dan juga ramah.
"Joanna, aku juga senang tinggal disini. Aku suka sekali bermain di tempat ini ketika masih muda. Walaupun aku telah pindah ke kota, aku masih sangat menyukai pemandangan desa ini." Mendengar perkataan Joanna, Fannie seketika mengerti bahwa Joanna adalah orang yang baik. Dirinya yakin dapat membicarakan pernikahan putrinya dengan wanita itu dengan mudah.
Joanna mendengarkan Fannie dengan sabar. Sesekali wanita itu mengangguk, menunjukkan bahwa dia masih memperhatikan ucapannya. Namun, dia seketika mengerutkan keningnya begitu mendengar Fannie membicarakan tentang pernikahan.
"Fannie, karena kamu telah membicarakannya, aku tidak akan menyembunyikannya lagi. Sebenarnya … Aku memiliki seorang anak laki-laki. Usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Rachel, hanya saja, hanya saja …"
Fannie tiba-tiba berdiri memotong perkataan Joanna. Dia bertanya dengan suara yang gemetar, "Apa katamu? Kamu memiliki seorang anak laki-laki? Selama ini, aku selalu menduga bahwa tidak mungkin kamu tidak memiliki seorang putra untuk mengambil alih bisnis keluarga Setiawan!
Tapi... Tapi kenapa kamu tidak pernah memberitahuku kalau putramu juga telah cukup umur dan layak untuk menikahi Rachel?" Fannie menambahkan.
Fannie tidak menyangka Joanna baru memberitahunya mengenai hal ini sekarang. Itu artinya, Joanna telah menyembunyikan fakta ini darinya selama lebih dari dua puluh tahun.
Dia lantas berpikir, seandainya dia mengetahui hal itu sejak dulu, dia tidak akan pernah meminta putrinya untuk menghadiri begitu banyak acara perjodohan!
"Fannie, tidak mudah bagiku dan suamiku untuk membujuk Hiram. Putra kami itu seorang anak yang mandiri dan tegas. Dia selalu mengurusi segala sesuatu sendirian tanpa bantuan kami. Dia sudah seperti itu sejak kecil. Dia tidak suka kami ikut campur dalam urusan pribadinya. Kami sempat mencoba berbicara pernikahan dengannya beberapa kali, tapi dia selalu tidak menghiraukannya. Di matanya, jangankan membahas perjodohan yang direncanakan oleh nenek moyangnya, bahkan kami pun tidak dapat membuatnya setuju!" Joanna mengeluh sambil menghembuskan napas berat.
Fannie adalah orang yang lugas dan tidak suka basa-basi. Mendengar jawaban Joanna, tangannya spontan menepuk meja kemudian berkata, "Joanna, apakah kamu tahu kenapa Rachel tidak pernah menemukan calon suami yang cocok melalui acara perjodohan itu?"
"Sampai saat ini, Rachel telah bertemu sekitar tujuh atau delapan pria, tapi setiap kali Rachel ingin memulai hubungan dengan pria-pria itu, masing-masing dari mereka akan mengalami nasib buruk. Beberapa dari mereka mengalami kecelakaan lalu lintas dan tabrakan mobil di jalan raya. Sementara yang lain menemukan bahwa ban mobil mereka tiba-tiba kempes. Sekarang, tidak ada pria yang berani berkencan ataupun menikahi Rachel." Fannie berkata dengan penuh semangat.
Dia melanjutkan perkataannya, "Aku rasa aku telah menemukan alasan mengapa hal-hal buruk itu terjadi. Aku percaya bahwa nenek moyang dari kedua belah pihak meninggal dengan membawa sedikit penyesalan. Mereka tidak bisa bersatu dalam ikatan perkawinan ketika mereka masih hidup. Kini, mereka sengaja menghalangi putriku berkencan dengan pria lain supaya dia bisa bersama dengan putramu selamanya."
Mendengar itu, Joanna menghela napas lagi. Dia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tapi Hiram punya jalan pikirannya sendiri, Dia selalu mengambil keputusan sendiri. Kami sebagai orangtuanya, tidak berhak membuat keputusan untuknya terutama mengenai masalah ini."
"Tidak! Joanna, jangan katakan itu. Kamu adalah mamanya Hiram. Jadi sebagai orang tua, kamu dan suamimu tentu saja bisa membuat keputusan terhadap pernikahannya. Kalau kamu tidak setuju denganku sekarang, aku khawatir nantinya kamu akan menghadapi hukuman dari para dewa." Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, tangan Fannie spontan bergerak menutup mulutnya.
Dia menyadari barusan dia mengatakan sesuatu yang tidak baik, tapi terkadang hal-hal mistis seperti itu memang benar-benar terjadi. Untuk ini, dia perlu berusaha sebaik mungkin untuk memperjuangkan kesempatan menikahkan putrinya dengan putra Joanna itu.
"Kamu…" Joanna memalingkan wajahnya dan mengepalkan tangannya. Dia merasa sangat emosi mendengar kata-kata Fannie itu.
Melihat respon Joanna, Fannie segera duduk kembali dan berkata dengan lembut, "Joanna, jangan marah. Aku adalah orang yang ceplas-ceplos. Aku minta maaf kalau ucapanku membuatmu tersinggung. Kita berdua adalah orang tua. Simon dan aku hanya memiliki seorang putri. Suamiku itu juga telah lama meninggal. Rachel telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa sekarang dan harus segera menikah, tetapi sampai saat ini dia masih belum bisa menemukan pria yang tepat untuknya. Aku percaya bahwa para leluhur tahu apa yang telah dialami oleh kedua keluarga kita dan sedang berusaha untuk membantu kita meskipun mereka sudah meninggal."
Papa Rachel dan papa Hiram sama-sama tidak memiliki saudara perempuan. Sebenarnya di generasi sebelumnya dalam Keluarga Setiawan dan Keluarga Rustadi, masing-masing memiliki seorang putra dan seorang putri. Akan tetapi, keduanya tidak bisa menikah lantaran sang anak gadis berusia lima belas tahun lebih tua daripada si anak laki-laki. Jadi ketika anak laki-laki itu akhirnya tumbuh dewasa, gadis itu tentu saja telah menjadi tua.…
Karena itulah hingga saat ini, nenek moyang dari kedua keluarga tersebut masih belum bisa mewujudkan keinginan mereka.
Setelah mendengar penjelasan Fannie itu, Joanna menghela napas kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, "Fannie, sejujurnya aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Di zaman sekarang, bisnis keluarga Setiawan sebetulnya sudah tidak perlu dipertahankan melalui ikatan perkawinan. Jika Hiram bersedia menikahi Rachel, maka keinginan nenek moyang kita bisa terpenuhi. Kita semua pasti akan senang apabila hal itu terjadi."
Joanna menambahkan, "Pada tahun Rachel dilahirkan, suamiku terus-menerus memimpikan hal yang sama selama beberapa hari. Dalam mimpinya, nenek moyang kami mengatakan padanya bahwa mereka ingin putra kami dan putrimu menikah untuk memenuhi keinginan kekal mereka."
Fannie mendengarkan Joanna sambil terus mengangguk. "Nah, karena sekarang kita sudah sama-sama tahu bahwa nenek moyang kita memiliki keinginan yang sama, mengapa kamu tidak mencoba membicarakannya dengan Hiram?"
Joanna Fang mengangguk kemudian berkata dengan bangga, "Hiram adalah seorang pekerja keras. Dia selalu melakukan seluruh pekerjaannya dengan sangat baik. Dia belum pernah mengecewakan kami sejauh ini. Meskipun dia tidak ingin kami ikut campur dengan urusan pribadinya, dia tetaplah anak yang berbakti pada kami."
Joanna berkata, "Aku rasa pertemuan kita berdua hari ini adalah pertanda bahwa putraku dan putrimu mungkin memang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan yang sempurna antara satu sama lain. Aku harus mencoba lagi. Jika aku bersikukuh membujuk Hiram untuk menikahi Rachel, dia mungkin akan…"
Fannie tersenyum mendengar itu lalu berkata, "Syukurlah kalau kamu mau mencobanya lagi. Tolong diskusikan hal ini dengan Hiram secepatnya. Lalu segera kabari aku mengenai apa pun itu yang terjadi setelahnya."
Sepulangnya dari paviliun itu, Fannie tidak berhenti tersenyum. Dia menyalakan beberapa dupa dan meletakkannya di depan altar leluhurnya. Dirinya percaya bahwa Simon turut memberkati mereka dari tempatnya di surga.
Rachel sedang duduk di ruang tamu. Salah satu tangannya menggenggam remot kontrol. Gadis itu sedang melahap apel segar pemberian tante dari tetangga sebelah rumah. Matanya terus menatap Fannie.
'Mama terlihat bahagia sekali hari ini. Apakah dia diam-diam memenangkan lotere?' pikir Rachel.
"Ma, apakah kamu memenangkan lotere? Jika benar begitu, aku siap untuk berbagi kebahagiaan denganmu. Bisakah kamu memberikanku uang juga?" Sambil mengunyah apel, Rachel mengucapkan kata-kata ini pada Fannie yang tengah merapikan pakaian. Dirinya tanpa sadar ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang tampak begitu jelas pada wajah mamanya.
Fannie melipat sebuah gaun, sambil tetap tersenyum, dia lalu menatap putrinya. "Aku tidak tertarik dengan lotere," jawabnya.
"Hmm, kalau begitu, apakah kamu menemukan tambang emas?" tanya Rachel lagi sambil mengangkat alisnya. Dirinya benar-benar penasaran sekarang.
Fannie melanjutkan melipat pakaian dan meletakkannya di lemari. Setelah selesai, dia menatap putrinya dengan wajah yang berseri-seri penuh kebahagian kemudian menjawab, "Jangan menganggapku sebagai orang yang hanya peduli dengan uang. Aku akan memberitahumu nanti ketika semuanya sudah terlaksana dengan sempurna. Aku khawatir kamu akan kecewa nantinya jika ibu memberitahumu tentang hal ini sekarang dan semuanya ternyata tidak berjalan seperti yang direncanakan."
Mendengar hal itu, Rachel tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali menggigit apelnya yang hampir habis itu. Kata-kata Fannie membuatnya sangat bingung.
Keesokan paginya.
Rachel masih tertidur pulas ketika Fannie berlari ke dalam kamar putrinya itu dengan penuh semangat.
Anda Mungkin Juga Suka





