Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Si Mungil

Pernikahan Si Mungil

Hiram dan Rachel terikat perjodohan kuno dari kakek mereka, namun sang CEO tampan berniat menceraikan Rachel dalam sebulan karena menganggapnya kasar. Hiram memiliki masalah gairah dengan wanita, sementara Rachel dikenal membawa sial bagi pria yang ia kencani. Meski awalnya saling menolak dan penuh keraguan, takdir justru menyatukan dua pribadi unik ini dalam ikatan pernikahan yang tidak terduga di tengah segala perbedaan kepribadian mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Rachel Rustadi menopang dagunya sambil memerhatikan Fannie Rustadi mengemasi setumpuk barang di meja. Rachel hanya bisa menghela napas tanpa bisa melakukan apa-apa.

Fannie bertanya, "Kenapa kamu menghela napas? Mama melakukan semua ini demi kebaikanmu."

Dengan hati-hati, Fannie memasukkan dupa, lilin dan kertas bakar* yang telah dipersiapkannya ke dalam tas, kemudian tak lupa dia menoleh untuk menatap putrinya sebentar.

(*Ket: Kertas bakar adalah lembaran kertas yang biasanya dibakar sebagai persembahan dalam upacara keagamaan tradisional etnis Tionghoa. Contohnya: upacara pemujaan dewa atau penghormatan pada leluhur saat Festival Cheng beng. Kertas ini melambangkan mata uang di dunia akhirat.)

Melihat mamanya sudah hampir selesai membereskan barang-barang, dia baru menundukkan kepala, dengan berat hati dia memasukkan ponsel dan charger ke dalam tas cokelat kesayangannya. Perjalanan kembali ke kampung halaman kali ini, setidaknya mereka akan menginap selama dua hari. Walaupun sebenarnya Rachel tidak terlalu berniat untuk ikut mamanya pulang ke kampung halaman mereka, tapi Rachel tetap mengambil tas dari tangan mamanya sembari merangkul lengan wanita paruh baya itu.

Tak lama kemudian, kedua ibu dan anak itu pun menumpang bus pariwisata menuju ke kampung halaman mereka. Hujan yang turun kemarin malam membuat jalan desa itu terlihat basah dan licin.

Di dalam bus, Rachel memilih tempat duduk di sebelah jendela. Dia menatap pemandangan di luar jendela bus dengan tatapan melankolis, sedangkan mamanya terus mengoceh.

Fannie berkata, "Rachel, maafkan mama, nak! Mama juga tidak ada cara lain. Kamu sendiri juga tahu, baik itu perjodohan maupun kisah asmaramu di kampus, tidak ada satu pun yang berjalan lancar dan berakhir dengan normal. Kamu membuat mama kehilangan muka di depan tetangga dan keluarga kita di kampung halaman!"

Kelihatannya Fannie tidak berniat untuk berhenti berbicara. Setiap kali Fannie mengungkit kisah cinta putri semata wayangnya ini, dia selalu menghela napas panjang. Selalu ada orang yang bergosip di belakangnya, "Lihat, dia adalah ibu si pembawa sial itu!"

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Rachel telah menghadiri puluhan acara perjodohan.

Di antara para kandidat, ada beberapa pria yang terlihat tidak bermasalah, tapi setiap kali Rachel mencoba menjalin hubungan dengan pria-pria tersebut, mereka tiba-tiba mengalami hal buruk. Yang mengalami kecelakaan lalu lintas saja sudah ada dua orang, ada dua orang yang pupus di tengah jalan, dan dua orang lainnya terdiagnosa menderita penyakit mematikan saat pemeriksaan kesehatan menjelang pernikahan.

Walaupun di dunia ini ada banyak hal yang kebetulan terjadi, tapi persentase kejadian serupa tampaknya terlalu sering terjadi pada Rachel. Ini juga agak terlalu berlebihan, 'kan?

Sampai sekarang, sama sekali tidak ada pria yang berani mendekati Rachel, mereka takut malapetaka yang sama akan menimpa diri mereka!

Rachel berkata, "Ma, bisakah kamu berhenti mengatakannya lagi? Zaman sekarang, sudah berapa kali ikut acara perjodohan pun bukan masalah serius. Itu hal yang sangat sering terjadi. Apalagi, di dunia ini, setiap saat juga mungkin terjadi kecelakaan, juga ada orang yang bisa tiba-tiba sakit. Bagaimana itu bisa hanya menyalahkan aku sih?"

Namun, kejadian yang begitu kebetulan seperti ini di mata Rachel, bukan karena nasibnya yang kurang beruntung, melainkan berat jodoh, tapi bagaimanapun juga dia pasti bisa menemukan seseorang yang tepat nantinya.

Fannie hanya bisa mengelus dada setelah mendengarkan perkataan putrinya, dia merenggut tas dari tangan Rachel dan berkata, "Kamu ini memang keras kepala, jika kamu tidak cepat-cepat membuang sial, mungkin saja mama juga akan celaka, ketimpa nasib buruk!"

Setelah melewati tikungan, mereka bergegas menuju ke rumah mereka yang di kampung. Rachel mengangkat bahu, kemudian berjalan menyusul di belakang mamanya.

Saat di tikungan, dia mendengar suara mobil yang mengarah ke mereka. Tanpa berpikir panjang, Rachel menoleh dan melihat, sekilas sebuah mobil mewah Maybach berwarna hitam sedang melaju menuju ke arah rumah tua yang berada di barisan belakang.

Dia bergumam sambil melirik kakinya sendiri, 'Dasar orang kaya!, mengemudi mobil mewah ini ke tempat seperti ini, apakah dia tidak takut mobilnya itu terjebak di lumpur, tidak bisa keluar? Apa dia tidak takut mobilnya itu menjadi kotor!'

Sejak tadi sepatunya penuh dengan lumpur, kemudian dengan langkah santai dia berbalik badan dan berjalan menuju ke rumah mereka.

Desa Suka Maju adalah desa kuno yang memiliki sejarah lebih dari tiga ratus tahun lalu. Ada banyak bangunan tua peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh, terutama sebuah kuil tua.

Kuil tua itu adalah rumah ibadah etnis Tionghoa yang masih terpelihara dengan sangat baik sehingga banyak peziarah dari luar kota yang datang sembayang dan berdoa. Dupa yang ada di atas altar kuil, selalu dijaga agar tetap menyala setiap hari.

"Tuan Muda Hiram, mohon Anda dapat bergerak lebih cepat, Nyonya Besar sudah lama menunggu di luar. Beliau berpesan, waktu terbaik untuk mempersembahkan dupa adalah pukul 09.00 pagi." kata kepala pengurus rumah.

Di depan sebuah cermin tua berukuran setinggi badan, seorang pria merapikan kemejanya. Dengan kesal dia mengerutkan kening, menoleh ke belakang menatap kepala pengurus rumah dengan dingin.

Bola matanya yang gelap menyerupai langit malam penuh bintang dan aura penuh wibawa membuat orang di sekitarnya merasakan tekanan bagaikan tembok yang tak terlihat. Tatapan mematikan ini membuat kepala pengurus rumah langsung terdiam, tidak berani menguber-uber lagi.

"Aku tidak suka corak dasi ini. Berikan yang lain." Pria itu berkata dengan dingin, lalu melempar dasi yang ada di tangannya.

Sang kepala pengurus rumah bereaksi cepat, dengan secepat kilat dia mengulurkan tangan, membungkuk badannya untuk mengambil dasi itu. Kemudian sang pengurus rumah itu kembali dengan dasi lain untuk dipilih tuan muda Hiram.

"Model sabuk pinggang ini tidak cocok dengan pakaianku. Berikan aku sabuk pinggang yang lain." sambil berkata, Hiram menarik sabuk pinggang berwarna hitam dari pinggang dan melemparnya ke belakang.

Sang pengurus rumah bergegas mengulurkan tangannya untuk meraih sabuk pinggang itu. Kemudian dia kembali dengan sabuk pinggang yang lain untuk dipilih tuan muda Hiram.

Sang Tuan Muda ini, Hiram Setiawan, memiliki sebuah kebiasaan, bisa dibilang itu adalah hobinya. Dia suka melempar barang.

Semua yang tidak dia sukai, yang tidak nyaman di matanya, dia akan membuang semuanya tanpa berpikir dua kali. Semua sekretaris dan asistennya memiliki badan yang kuat dan gesit karena kebiasaan uniknya ini. Dengan kemampuan yang mereka miliki, bahkan jika ada lalat yang melintas di depan mata mereka sekali pun, mereka sanggup menangkapnya dengan tangan kosong!

Di balik pintu, terlihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan, raut mukanya menunjukkan rasa ketidaksabaran. Wanita ini adalah ibunya Hiram. Dia mengetuk pintu dengan tidak sabar dan mendesak putranya untuk segera keluar dari ruangan.

"Hiram, upacara penghormatan leluhur ini berkaitan dengan keberuntungan Keluarga Setiawan sepanjang tahun. Tolong kamu serius sedikit! Waktunya hampir tiba, cepatlah keluar."

Melihat bayangan dirinya di cermin perunggu, Hiram Setiawan mengangguk dengan puas. Hiram mengambil ponselnya dari meja antik yang dibuat dari kayu jati dan berjalan menuju ke arah pintu.

Sang pengurus rumah menghela napas lega dan bergegas membukakan pintu untuk Hiram. Joanna Firmanda, ibu Hiram, dengan tidak sabar menunggu putranya di luar.

Di sisi lain, Fannie dan Rachel melangkah keluar dari rumah mereka. Kebetulan rumah keluarga Rustadi terletak di depan rumah Keluarga Setiawan yang mewah. Ibu dan anak itu berjalan berdampingan menuju arah kuil tua.

Sepanjang perjalanan, Fannie memberitahu putrinya mengenai tata cara melakukan ritual dan peraturan di dalam kuil tua dekat rumah mereka. Fannie merasa sangat khawatir dengan Rachel, dia cemas Rachel mungkin akan melakukan kesalahan dan menyinggung para leluhur yang ada di kuil, sehingga dia tetap melajang sepanjang hidupnya.

Rachel merasa kesal dan membuang pandangannya, dia merasakan kesabarannya mulai menipis. Setiap kali mereka mendatangi kuil untuk berdoa, ibunya selalu mengocehi dirinya terus menerus di sepanjang perjalanan dengan hal yang sama.

"Fannie-ku tersayang, apakah tidak salah? Aku ini putrimu, bukan nenek yang sudah tua dan pikun. Aku sudah menghafal semua yang mama katakan!"

Fannie sudah terbiasa dengan kelakuan putrinya yang agak kurang ajar itu. Dia memandang putrinya sambil tersenyum, kemudian membantu Rachel merapikan pakaiannya sambil berkata, "Mama hanya mengingatkan saja, siapa tahu kamu sudah lupa."

Mereka berdua berjalan memasuki kuil tua dan langsung menuju ke aula yang terletak di bagian belakang kuil. Warga desa Suka Maju yang berkunjung ke kuil itu memiliki aturan khusus yang sedikit berbeda dengan daerah lain.

"Bawa lilin dan kertas bakar ini bersamamu, Sayang. Dengar kata Mama, setelah kamu memasuki ruangan, matamu jangan sembarangan melirik ke sekeliling. Ingat semua hal yang telah Mama beri tahukan padamu." Fannie menasihati Rachel sembari menyerahkan beberapa barang.

Ini adalah tradisi warga Desa Suka Maju. Orang-orang harus membawa persembahan dan lilin ke kuil itu dan berdoa dengan tulus, agar keinginan mereka dapat terwujud.

"Rachel mengerti, Ma! Jangan khawatir!" Setelah menerima barang-barang dari ibunya, Rachel bergegas berjalan menuju pintu Ruang Berdoa Buddhis. Begitu sampai di dalam ruangan itu, Rachel akhirnya bisa merasa sedikit lebih tenang, tanpa harus mendengar ceramah dari ibunya.

Di ruangan lain, di kuil yang sama ....

Keluarga Setiawan merupakan keluarga pertama yang berhasil menjadi keluarga kaya raya di Desa Suka Maju. Mereka juga banyak menyumbang uang dan materi untuk merenovasi dan meremajakan kuil tua itu. Hal ini membuat Keluarga Setiawan menikmati banyak perlakuan khusus di Desa Suka Maju.

Papan nama para leluhur Keluarga Setiawan ditempatkan dengan terhormat di aula yang terletak di sebelah Ruang Doa Buddhis. Papan-papan nama para leluhur tersebut mendapat limpahan berkah dari doa pada sang Buddha.

"Hiram, sekarang kamu adalah kepala Keluarga Setiawan. Kamu harus memimpin upacara secara langsung." kata Joanna Firmanda dengan lembut. Mata sang Ibu menatap putranya yang berprestasi besar itu dengan bangga.

Sejak kecil, hal yang paling tidak suka dilakukan Hiram adalah sembahyang di kuil.

Dia hanya memercayai kemampuan dirinya sendiri.

Meskipun tidak suka, Hiram tetap mengikuti nasihat ibunya. Pendidikan tata krama yang diterima Hiram sejak kecil tidak memungkinkan dia untuk menunjukkan rasa tidak puasnya di depan sang ibunda. Hiram mengambil keranjang dari ibunya, membalikkan badan dan berjalan menuju ke aula leluhur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO yang Penyayang Ingin Go Public
9.6
Elia dikenal publik sebagai pria sopan yang tertutup, namun aslinya dia sosok kejam yang menjerat Ashley dalam gairah. Hubungan rahasia mereka membuat Ashley aman dari gangguan siapapun. Keadaan berubah saat Ashley mual di depan umum. Elia yang biasanya dingin justru berlutut dan membelai perutnya dengan lembut. Sang CEO pun meminta Ashley untuk meresmikan hubungan mereka di depan semua orang, serta berjanji akan memberikan segalanya demi dirinya.
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya setelah sebuah insiden fatal merenggut kesucian gadis itu. Tiga tahun berlalu tanpa cinta, Rio justru memilih menikahi mantan kekasihnya, Clara. Ia membenci Sintia yang dianggapnya licik karena memanfaatkan hartanya demi biaya medis sang ibu. Rio bahkan menolak mengakui Dika sebagai putra kandungnya. Namun, dinamika rumah tangga mereka mulai bergejolak saat istri keduanya datang membawa sebuah perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Diselingkuhi Tunangan Dinikahi CEO Tampan
9.2
Hidup Dea hancur setelah dikhianati papa, sahabat, dan tunangannya. Ia pun mengungsi ke rumah sang mama, namun hampir dilecehkan ayah tirinya. Beruntung, Bian sang kakak angkat sekaligus CEO tampan menyelamatkannya. Meski trauma dan enggan mencintai lagi, sebuah kesalahpahaman memaksa Dea menikah dengan Bian. Mampukah Dea menjalani rumah tangga tanpa rasa cinta? Akankah ia menyadari perasaan tulus yang telah lama Bian pendam untuk dirinya?
Sampul Novel Don Juan
8.9
Don Juan adalah pria asal Italia yang memiliki segalanya, mulai dari paras tampan hingga kesuksesan finansial yang luar biasa. Baginya, wanita hanyalah objek sementara yang bisa dibuang setelah digunakan. Namun, hidup sang miliarder ini berubah total saat ia bertemu dengan seorang gadis misterius. Sosok ini berhasil menaklukkan hatinya yang dingin dan membuatnya berlutut dalam cinta. Siapakah perempuan yang mampu mengubah prinsip hidup Don Juan selamanya?
Sampul Novel Dua Istri CEO
9.0
Pasca momen intim yang hangat, Brian dikejutkan oleh permintaan Azzura agar dirinya menikah lagi. Meski memiliki kekayaan dan rupa menawan, Brian tak pernah berniat mendua karena cintanya sudah utuh untuk sang istri. Namun, Azzura bersikeras tanpa alasan yang jelas, hingga membuat Brian merasa geram sekaligus tidak percaya diri. Di tengah ketegangan itu, Azzura justru mendekap Brian erat demi meyakinkan bahwa rasa cintanya tidak pernah pudar sedikit pun.