Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Paksa Dosen Killer

Pernikahan Paksa Dosen Killer

Aurelia Safira, gadis 19 tahun yang asing dengan cinta, nekat mendatangi tempat misterius demi sebuah tantangan. Di sana, ia terlibat insiden tak terduga dengan pria asing. Hidupnya makin kacau saat ia dipaksa menikah dengan Darius Aksara, dosen killer yang sangat ia takuti. Setelah menikah, Lia baru menyadari bahwa suaminya menyimpan rahasia kelam dan profesi yang membahayakan nyawa. Kini, ia terjebak dalam rumah tangga penuh ancaman dan rahasia besar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sejak hari itu, hidup Aurelia Safira mendadak berubah jadi film dokumenter yang dikontrol penuh sama sutradara paling killer: Darius Aksara.

Nggak ada istilah pacaran, nggak ada kencan romantis. Yang ada cuma rapat. Rapat pernikahan.

"Kita mau konsep garden party yang santai, Kak. Nggak usah terlalu formal," Lia mencoba memberikan pendapat saat mereka bertemu dengan wedding organizer (WO) di sebuah hotel mewah minggu depannya. Lia masih nggak nyaman manggil Darius dengan sebutan lain selain 'Profesor' di dalam hati, tapi di depan umum dia harus terlihat sebagai calon istri yang patuh dan sedikit manja.

Darius, yang duduk di sampingnya, nggak peduli sama sekali dengan katalog bunga atau warna dekorasi. Dia sibak katalog itu, tatapannya datar ke arah Lia.

"Nggak. Aku mau konsepnya classic indoor. Undangan terbatas, hanya keluarga dan kolega penting. Nggak ada garden party, Aurelia. Itu terlalu... berisik."

Lia menahan napas. Berisik? Ini pernikahan, bukan pertemuan dewan direksi!

"Tapi, Kak Darius..." Lia mencoba bernegosiasi, nadanya dibuat semanis mungkin di depan WO. "Aku pengen yang intimate aja, Kak. Biar bisa lebih santai."

"Santai?" Darius menyeringai tipis, senyum yang sama persis kayak di Elysium, senyum yang cuma Lia yang tahu artinya. "Pernikahan ini bukan tentang kesenangan, Aurelia. Ini tentang kemitraan dan citra publik. WO, catat. Lokasi di Grand Ballroom Harsa. Warna: monochrome. Nggak ada bunga mencolok. Dan pastikan daftar tamu yang hadir sudah melewati screening dari asisten saya."

Lia langsung melotot ke arah Darius, tapi Darius pura-pura nggak lihat. Screening? Kayak mau seleksi agen rahasia aja.

Darius kemudian mencondongkan tubuh ke arah Lia, sedikit berbisik di telinganya. "Kita sudah sepakat, kan? Ini adalah tantangan. Dan di tantangan ini, aku yang pegang aturannya. Jangan buang waktu dengan bunga-bunga nggak penting."

Lia mengepalkan tangan di bawah meja. Nggak adil banget! Dia bahkan nggak bisa milih kue pengantin. Tapi Lia tahu, kalau dia melawan di sini, Darius pasti akan mencari cara lain yang lebih menyebalkan, mungkin dengan mengungkit lagi kejadian Kamar 305.

Sejak hari itu, Lia memilih pasrah, setidaknya di depan umum. Dia membiarkan Darius mengatur segalanya, mulai dari gaun yang super elegan dan tertutup, sampai souvenir pernikahan yang ternyata adalah bookmark berlapis perak yang sangat kaku.

Teman-temannya, Rina, Shasa, dan Dara, nggak berhenti terkejut.

"Lo yakin lo nikah sama manusia, Lia?" tanya Rina, nggak percaya saat mereka mencoba gaun pengantin. "Masa first dance lo mau dihapus dari rundown? Alasannya apa? 'Nggak efisien?' Gila, dia Malaikat Maut beneran, ya."

"Dia bilang itu nggak perlu. Dia nggak suka jadi pusat perhatian," jawab Lia lesu, sambil menatap gaunnya di cermin. Gaun itu indah, sangat mewah, tapi Lia merasa itu bukan gaunnya. Itu gaun milik Nyonya Aksara, yang perannya harus dia jalani.

"Tapi, lo... udah mulai ada rasa, nggak?" Shasa bertanya hati-hati.

Lia terdiam lama. Dia memikirkan Darius. Dosennya, suaminya, pria asingnya.

"Gue nggak tahu, Sha," kata Lia jujur. "Gue nggak ngerasain cinta. Nggak ada deg-degan kayak di film-film. Yang gue rasain cuma... penasaran. Rasa penasaran yang gila. Gue pengen tahu, kenapa dia jadi kayak gini? Kenapa dia seaneh ini? Dan... kenapa dia yang ada di Elysium malam itu?"

Rina menyentuh bahu Lia. "Hati-hati, Lia. Rasa penasaran itu sering banget disalahartikan jadi cinta. Apalagi kalau orangnya sekeren Darius. Tampangnya emang kayak Dewa Yunani yang turun jadi dosen."

Lia nggak menanggapi pujian Rina. Tapi Rina benar. Darius Aksara itu tampan, sangat tampan. Tapi ketampanannya itu dingin, seperti patung marmer yang mahal. Semakin Lia mengenalnya, semakin Lia yakin ada jurang misteri yang sangat dalam di balik mata hitamnya.

Hari pernikahan tiba.

Acaranya mewah, formal, dan sedingin kutub utara, persis seperti yang Darius mau. Lia berjalan di atas karpet beludru, tangannya menggenggam tangan Papanya. Matanya mencari Darius di ujung altar.

Darius sudah berdiri di sana, mengenakan jas tuxedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Dia terlihat seperti model sampul majalah bisnis-sempurna, tanpa cela, dan... tanpa emosi.

Saat Papa menyerahkan Lia ke Darius, tangan Darius menggenggam tangannya erat. Genggaman yang terasa seperti rantai, bukan janji.

Upacara itu berjalan cepat dan sangat khidmat. Saat mengucapkan janji, suara Darius terdengar tegas, jelas, dan profesional. Sama sekali nggak ada getaran kasih sayang di sana. Lia menirukan janji itu, bibirnya terasa mati rasa.

Puncak kedinginan itu terjadi saat sesi ciuman. Darius hanya membungkuk sedikit, menempelkan bibirnya ke dahi Lia. Hanya sentuhan singkat dan dingin, nggak lebih intim daripada ciuman yang diberikan ke anak kecil. Tapi di momen itu, saat dahi mereka bersentuhan, Darius membisikkan sesuatu, lagi-lagi hanya untuk didengar Lia.

"Selamat datang, Nyonya Aksara. Permainan baru saja dimulai."

Lia membalas bisikannya, bibirnya tetap tersenyum untuk kamera. "Profesor Aksara, semoga kamu menikmati tantangan ini."

Malam itu, mereka sudah berada di rumah baru mereka. Rumah itu nggak bisa dibilang rumah. Itu lebih mirip mansion mewah dengan desain minimalis, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Dingin, steril, dan besar sekali. Lia yakin, kalau dia teriak di lantai dua, suaranya nggak akan kedengaran sampai dapur.

Di kamar utama-yang ukurannya sebesar apartemen studio Lia-Darius sudah duduk di sofa tunggal, masih dengan kemeja tuxedo-nya, sedang memegang tablet dan membaca sesuatu.

Lia baru saja selesai membersihkan make up tebalnya. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan kimono sutra. Canggung. Sangat canggung. Ini malam pertama mereka sebagai suami istri.

"Kamu nggak tidur?" tanya Lia, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Darius mendongak, matanya nggak menunjukkan kejutan sedikit pun. Seolah Lia adalah perabot yang tiba-tiba bersuara.

"Belum. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan," jawabnya datar.

"Pekerjaan apa yang harus kamu selesaikan di malam pernikahan?" Lia memberanikan diri.

Darius menutup tabletnya dengan bunyi klik yang keras. Dia berdiri. Langkahnya ke arah Lia terasa sangat mengancam, bahkan tanpa dia melakukan apa-apa.

"Dengar, Aurelia," katanya, berdiri kurang dari satu jengkal di depan Lia. Lia harus mendongak untuk menatapnya. "Pernikahan ini punya tujuan. Kamu tahu itu. Kita sudah sepakat. Tapi ada beberapa aturan yang harus kamu camkan."

Privasi: "Area kerjaku di lantai dasar, dan ruanganku di ruang bawah tanah, out of limits. Jangan pernah masuk tanpa izin. Kalau kamu melanggar, aku anggap kamu melanggar kontrak."

Hubungan Publik: "Di depan umum, kamu adalah istri yang ideal. Kamu harus tahu semua tentang bisnis keluargaku, tersenyum, dan berinteraksi dengan kolega. Kamu akan kupersiapkan untuk itu."

Hubungan Pribadi: "Di sini," dia menunjuk ke lantai kamar, "kita adalah dua orang asing yang dipaksa tinggal di bawah satu atap. Kita nggak punya kewajiban untuk menjadi suami istri yang romantis. Kita tidur di kamar yang sama, ya. Tapi jangan pernah berharap lebih, kecuali aku yang memintanya."

Lia merasa pipinya memanas. Rasa malu, marah, dan penasaran itu bercampur jadi satu.

"Aku nggak sebodoh itu, Profesor Aksara," kata Lia, menekankan gelar itu. "Aku tahu di mana tempatku. Aku nggak akan pernah mencintai kamu. Kamu terlalu kaku dan... mengerikan."

Darius tersenyum lagi. Senyum yang membuat darah Lia berdesir. "Bagus. Pertahankan itu. Aku nggak butuh cinta dari kamu. Aku butuh kepatuhan. Dan satu hal lagi, kamu masih harus kuliah. Kalau nilaimu turun, atau kamu bikin onar di kampus, aku sendiri yang akan mengurusmu. Kamu tahu aku nggak segan-segan."

"Aku tahu."

Darius kemudian mengangguk, seolah obrolan itu sudah selesai. Dia berbalik, menuju lemari besar. Dia membuka lemari itu, dan Lia kaget melihat isinya. Nggak cuma pakaian formal, tapi juga ada banyak peralatan aneh, termasuk sebuah tas hitam besar yang kelihatannya berat banget.

Darius melepas kemejanya, memperlihatkan punggungnya yang bidang dan terbentuk sempurna. Di bahu kirinya, Lia melihatnya. Sebuah bekas luka yang panjang dan sedikit bergelombang, seolah itu adalah luka tembak atau tebasan pisau yang dalam.

Lia tercekat. Itu bukan bekas luka jatuh dari sepeda. Itu bekas luka yang berbahaya.

"Darius..." panggil Lia tanpa sadar.

Darius membeku, punggungnya menghadap Lia. "Jangan panggil aku Darius kalau nggak ada orang lain di dekat kita. Panggil aku Profesor, atau... bos kamu, kalau kamu mau."

"Bekas luka di bahu kamu itu... kenapa?" tanya Lia, mengabaikan instruksinya.

Darius nggak menjawab. Dia mengambil kaus hitam polos dari lemari, memakainya dengan gerakan cepat, menutupi bekas luka itu lagi.

"Itu bukan urusan kamu," jawab Darius dingin. Dia kemudian berjalan ke sisi kasur, menyingkap selimut. "Aku mau tidur. Dan besok pagi, kamu harus sudah di dapur jam enam. Ada jadwal lari pagi dan sarapan bersama."

Lia nggak bisa tidur malam itu. Dia berbaring di sisi kasur yang besar, jaraknya terasa jauh sekali dari Darius yang tidur tenang di sisi lain, seolah nggak terjadi apa-apa. Tapi pikiran Lia nggak tenang.

Dosen killer yang dia nikahi ini punya bekas luka seperti itu? Apa yang dia sembunyikan? Obrolan di Elysium, tatapan yang menguliti, screening tamu pernikahan, bekas luka, dan ruangan bawah tanah yang out of limits. Semua itu menjeritkan satu hal: Darius Aksara bukan cuma dosen atau pengusaha. Dia punya pekerjaan lain. Pekerjaan yang berbahaya.

Seminggu pertama pernikahan mereka berjalan seperti drama opera sabun yang sangat kaku.

Pagi hari, Lia harus bangun jam enam, lari pagi di sekitar kompleks perumahan yang super elit itu (ditemani bodyguard yang dia sebut "Asisten D" yang nggak pernah bicara), sarapan mewah yang dingin, lalu berangkat kuliah. Darius juga sibuk dengan pekerjaannya, kadang di rumah, kadang di kantor, dan kadang-kadang... dia menghilang.

Darius tetap bersikap profesional di kampus. Di kelasnya, Lia diperlakukan persis kayak mahasiswa lainnya, bahkan cenderung lebih keras.

"Aurelia Safira, jawaban kamu itu terlalu ambigu. Aku nggak mau opini. Aku mau fakta dan dasar hukumnya," kata Darius saat Lia mencoba menjawab pertanyaannya di kelas.

Semua mahasiswa lain, termasuk Rina dan Shasa, nggak tahu kalau dua orang itu sudah menikah. Mereka hanya tahu Lia adalah keponakan jauh yang baru ketemu lagi sama Darius-alasan yang sengaja Darius buat untuk menjelaskan kemunculan Lia di rumahnya.

Yang paling membuat Lia frustasi adalah bagaimana Darius bisa berubah. Di kampus, dia Dosen Killer yang nggak bisa disentuh. Di depan orang tuanya, dia suami yang tenang dan berwibawa. Tapi di malam hari, di rumah itu, dia adalah sosok misterius yang membuat Lia penasaran setengah mati.

Lia sering banget diam-diam mencoba mendekati ruang kerja Darius di lantai dasar. Pintu itu selalu tertutup dan dikunci elektronik. Di ruangan itu, Lia sering mendengar suara-suara aneh. Bukan suara orang bicara, tapi suara yang lebih... mekanis. Suara ketikan cepat, suara scanning, atau kadang, keheningan total yang terasa lebih mencekam daripada kebisingan apa pun.

Suatu malam, sekitar jam dua pagi, Lia terbangun karena suara yang sangat pelan dari kamar mandi. Dia melihat ke samping, Darius nggak ada di kasur.

Lia bangkit diam-diam, berjalan pelan ke arah kamar mandi. Pintu itu sedikit terbuka.

Dia mengintip.

Darius sedang bicara di telepon. Bukan telepon biasa. Itu adalah satellite phone yang aneh, dengan banyak antena yang menempel. Wajah Darius gelap, matanya tajam, dan bahasanya... bukan bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Itu bahasa yang Lia nggak kenal, terdengar seperti Eropa Timur, dengan aksen yang berat dan cepat.

Lia bersembunyi di balik lemari pakaian, jantungnya berdebar kencang.

"Ya, target sudah dieliminasi." Itu kalimat yang Lia tangkap. Walaupun pakai bahasa asing, kata 'eliminasi' (atau yang setara) dan nada bicara Darius yang dingin dan kejam itu nggak mungkin salah.

"Tidak ada saksi. Lacak data dan hilangkan jejaknya sekarang juga."

Setelah kalimat itu, Darius bicara lagi dalam bahasa asing itu, yang Lia pahami hanya satu kata: "Selesai."

Lia langsung merayap kembali ke kasur, pura-pura tidur, seluruh tubuhnya gemetar. Dia menarik selimut sampai ke leher, matanya menatap langit-langit.

Eliminasi? Target? Lacak data? Hilangkan jejak? Ini bukan bahasa dosen, bukan bahasa pengusaha properti. Ini bahasa... agen rahasia. Atau, lebih buruk lagi, pembunuh bayaran.

Saat Darius keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke kasur, dan Lia bisa mencium bau cologne yang tajam, tapi juga bau samar-samar yang aneh, seperti bau tembaga atau-darah.

Lia menahan napas sampai Darius mematikan lampu dan berbaring. Lia menunggu sampai napas Darius teratur, memastikan dia sudah tidur pulas.

Saat sudah yakin Darius tidur, Lia membuka matanya lagi. Rasa takutnya kini berganti jadi tekad.

Aku akan bongkar rahasia ini.

Darius Aksara bilang pernikahan ini adalah tantangan? Lia akan menerima tantangan itu. Dia nggak akan jadi istri bodoh yang cuma patuh dan diam. Dia akan mencari tahu siapa sebenarnya 'Malaikat Maut' yang dia nikahi ini, dan apa yang dia lakukan dengan bekas luka di bahunya dan satellite phone-nya.

Esok harinya, Lia memutuskan untuk mengambil risiko. Dia harus masuk ke ruang kerja Darius.

Darius sudah berangkat pagi-pagi sekali. Lia tahu karena dia dengar suara mobil sport-nya meninggalkan rumah. Lia berpakaian santai, lalu berjalan santai ke ruang kerja Darius di lantai dasar.

Tepat seperti yang Lia duga, pintu itu dikunci elektronik. Lia menyentuh sensor sidik jari di samping pintu. Tentu saja, pintu itu nggak terbuka.

"Cih, ketat banget," gumam Lia.

Dia kemudian berjalan ke dapur, menemui Bi Minah, asisten rumah tangga yang sudah tua dan baik hati.

"Bi, apa Bi Minah tahu password atau kunci ruang kerja Bapak?" tanya Lia dengan senyum paling manis.

Bi Minah menggeleng. "Aduh, Nyonya. Bibi nggak tahu. Ruangan itu nggak boleh dimasuki siapa-siapa, katanya buat dokumen penting. Bapak sendiri yang bersih-bersih di sana, Nyonya."

Lia menghela napas. Jalan buntu.

Tapi Lia bukan Aurelia yang menyerah pada tantangan lagi. Dia sudah menang melawan Rina di Elysium. Dia harus menang melawan Darius di rumahnya sendiri.

Dia kembali ke ruang kerja itu, mengamati dengan teliti. Dinding ruangan itu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di sudut ruangan, ada sedikit celah kecil di dekat lantai, tempat kabel AC masuk.

Lia tiba-tiba ingat sesuatu. Darius sangat disiplin soal kebersihan. Dia nggak suka debu. Tapi kenapa ada celah sekecil itu?

Lia berlutut, mencoba mengintip. Gelap. Tapi dia bisa mencium bau yang aneh dari sana. Bau logam dan bahan kimia.

Lia kemudian teringat pada ucapan Rina soal Malaikat Maut ini: Darius itu sangat perfeksionis. Kalau dia super perfeksionis, dia pasti akan memastikan nggak ada celah sekecil apa pun di rumahnya. Kecuali... celah itu memang sengaja ada.

Lia mengambil kunci cadangan lemari pakaian (yang untungnya nggak dikunci elektronik), lalu menusuk-nusuk celah itu pelan. Kunci itu menyentuh sesuatu yang keras di dalamnya.

Dia menghela napas, frustasi. Lia kemudian bersandar ke dinding, mencoba mendengarkan lagi. Nggak ada suara.

Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di rak buku besar yang terletak di samping pintu ruang kerja. Rak buku itu penuh dengan buku-buku tebal tentang hukum, ekonomi, dan sejarah kuno.

Lia menyentuh salah satu buku yang terlihat lebih tua dan lebih berat dari yang lain: 'The Art of War'. Lia ingat Darius pernah bilang buku ini adalah bacaan wajib untuk kelasnya.

Lia meraih buku itu, berniat membawanya ke kamarnya. Tapi saat dia menarik buku itu, buku itu nggak bergerak. Seolah direkatkan. Lia menariknya lebih keras.

Klik!

Lia membeku. Buku itu nggak lepas, tapi terdengar bunyi klik yang sangat pelan dari dinding di sebelahnya.

Lia menoleh cepat ke pintu ruang kerja. Lampu hijau di atas sensor sidik jari itu menyala sekejap, lalu mati lagi.

Mata Lia membesar. Kode rahasia.

Dia mengembalikan buku 'The Art of War' ke tempatnya, lalu mencoba buku lain yang terlihat sama tebalnya: 'Constitutional Law'. Dia menariknya.

Klik! Lampu hijau menyala lagi.

Lia mulai bersemangat. Dia sekarang tahu rahasia Darius yang kaku itu: dia menggunakan kombinasi buku di rak buku sebagai password mekanis untuk membuka pintu rahasia.

Lia mulai mencoba semua buku tebal secara acak, menarik dan mendorongnya. Satu. Dua. Tiga. Dia mencoba sampai dia menemukan kombinasi yang tepat.

Lia berkeringat dingin, dia menghabiskan waktu hampir setengah jam. Dia mencoba kombinasi teraneh, dari buku tentang Hukum Romawi kuno, lalu buku tentang Analisis Pasar Saham, dan yang terakhir, buku tentang Criminal Psychology.

Saat buku ketiga itu dia dorong kembali ke tempatnya, dia mendengar suara blessing yang keras. Pintu ruang kerja itu nggak terbuka, tapi panel dinding yang ditutupi kayu jati di samping rak buku itu bergeser ke samping, menampakkan lorong gelap dan tangga yang menurun ke bawah.

Lia terperanjat. Ruang kerja Darius bukan di lantai dasar. Itu adalah ruang bawah tanah rahasia!

Rasa takut Lia kini sudah lenyap, digantikan euforia kemenangan. Dia berhasil! Dia berhasil membongkar salah satu rahasia Darius.

Dia melihat ke sekeliling. Rumah kosong. Bi Minah lagi di pasar. Ini kesempatan satu-satunya.

Lia menghela napas panjang, menguatkan diri. Dia harus turun. Dia harus tahu. Dia harus tahu kenapa suaminya yang bergelar Malaikat Maut ini punya bunker rahasia di rumahnya.

Dia melangkah masuk ke lorong gelap itu. Di dalamnya, ada bau yang lebih kuat: bau minyak mesin, kulit baru, dan sedikit bau tembakau.

Tangga itu curam, dengan penerangan otomatis yang menyala redup saat Lia turun. Begitu kakinya menyentuh lantai beton di bawah, dia langsung tahu: ini bukan ruang kerja. Ini semacam markas rahasia.

Di tengah ruangan yang sangat luas itu, ada meja besar dengan delapan monitor komputer yang menyala semua, menampilkan peta, grafik aneh, dan deretan kode yang Lia nggak mengerti. Di sudut, ada papan besar berisi foto-foto dan benang merah yang menghubungkan titik-titik-papan penyelidikan.

Dan yang paling membuat Lia lemas... di sepanjang dinding, tergantung berbagai jenis senjata. Senapan serbu, pistol otomatis, dan pisau tempur dengan sarung kulit yang terawat sempurna. Itu semua asli, bukan pajangan.

Lia berjalan pelan, kakinya terasa berat. Dia menyentuh meja kerja Darius. Di sana ada headset militer, beberapa paspor dengan nama dan foto yang berbeda-beda, dan sebuah lencana yang nggak Lia kenal, dengan simbol elang yang mencengkeram petir.

Ya Tuhan. Dia bukan dosen.

Dia berjalan ke papan penyelidikan. Dia melihat foto-foto yang tertempel di sana. Foto-foto politisi, pengusaha, bahkan beberapa tokoh militer. Ada benang merah yang menghubungkan foto-foto itu, dan di samping setiap foto, ada tulisan tangan Darius yang dingin: 'Target Teridentifikasi', 'Ancaman Tinggi', 'Eliminasi Diperlukan'.

Tiba-tiba, mata Lia menangkap satu foto. Foto seorang pria paruh baya yang terpotong dan dicoret silang dengan spidol merah tebal. Di bawah foto itu, ada catatan singkat dalam bahasa Inggris: "Confirmed. Completed 02:30 hours. Status: Clean."

Lia langsung ingat obrolan telepon Darius di kamar mandi tadi malam, pukul 02.30.

"Ya, target sudah dieliminasi."

Keringat dingin membanjiri Lia. Dia nggak salah dengar. Suaminya, Darius Aksara, si dosen killer yang dia nikahi, adalah... seorang eksekutor? Pembunuh bayaran? Atau agen rahasia yang kerjanya di luar hukum?

Lia menutup mulutnya, menahan jeritan ngeri yang hampir lolos. Dia mau kabur. Dia mau lari sejauh mungkin dari pria gila ini.

Tiba-tiba, salah satu monitor di meja itu berkedip. Ada notifikasi yang muncul di layar utama: 'ACCESS VIOLATION. Perimeter breached. Security protocol initiated.'

Lampu di ruang bawah tanah itu langsung berubah menjadi merah, sirine kecil berbunyi pelan.

Lia panik. Dia nggak tahu harus ke mana. Dia berlari ke tangga, mencoba naik, tapi suara pintu rahasia di atasnya sudah berbunyi.

Gedebum!

Pintu itu tertutup dengan sangat cepat, mengunci Lia di dalam markas rahasia itu.

Lia membenturkan diri ke pintu yang tertutup. "Buka! Tolong! Buka!"

Percuma. Pintu itu tebal dan tertutup rapat.

Lia kembali menatap monitor yang tadi berbunyi. Di sana, muncul pop up besar berwarna merah.

'DARIUS AKSA RA. Incoming call from primary handler.'

Jantung Lia hampir copot. Darius akan tahu. Dia akan tahu Lia masuk ke sini.

Lia berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi senjata, peta target, dan kegelapan, menyadari sepenuhnya: dia bukan cuma menikah dengan dosen yang kaku. Dia menikahi bahaya. Dia menikahi Malaikat Maut yang sebenarnya. Dan sekarang, dia terjebak di dalam nerakanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Sampul Novel Kronik Kenikmatan Abadi
9.6
Di balik harapan tinggi dan persahabatan baru, ia menyembunyikan sisi manipulatif yang luar biasa. Meski terlihat mendukung orang-orang di sekitarnya, ia sebenarnya mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka melalui rangkaian pesta mewah dan perjalanan panjang. Dengan mendominasi festival serta hari libur di kotanya, ia mengubah tatanan dunia demi kepentingan pribadi. Bagi para mantan penjahat, ia adalah mimpi buruk nyata yang mengatur takdir mereka dalam kendali absolut.
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda dari Qingchang, tak sengaja bertemu The Flame, Phoenix legendaris milik Sage Putih Alaric yang gugur melawan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, Phoenix yang sekarat itu melakukan ritual penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan tersebut dikunci hingga Kiran dewasa dan dikenal sebagai jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, rahasia besar terungkap saat ia dituduh sebagai pengkhianat dan penerus Klan Phoenix Merah, memicu pengejaran maut oleh Kekaisaran Hersen.
Sampul Novel Mahkota Pewaris yang Dikhianati
9.0
Emilia, pewaris sah Keluarga Hewitt, nyaris tewas akibat pengkhianatan orang tua dan keempat kakaknya demi seorang penipu. Kini, dia bangkit tanpa rasa takut untuk melawan siapa pun yang menindasnya. Sebagai dokter ternama dan penilai harta karun, ia membungkam setiap ejekan dengan kemampuannya. Saat dikucilkan karena tidak dicintai keluarganya, klan paling terpandang di kota justru muncul melindunginya dan menganggap Emilia sebagai permata yang sangat berharga.
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik adalah hidupku, namun saat putraku tewas, sistem justru melindungi pembunuhnya. Jaksa Budi Santoso menolak bukti pembunuhan dariku dan menyebutnya bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksa gadis itu secara live di depan publik. Meski Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memanipulasi mentalku dengan surat wasiat palsu, aku menemukan kode rahasia di sana. Putraku minta tolong. Kini, dendamku takkan berhenti meski aparat mengepungku.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Jiu Cien nekat menikahi bibi gurunya meski ditentang keras oleh dunia. Namun, kebahagiaan mereka hancur saat sang istri yang tengah hamil dibantai oleh orang-orang iri. Terpukul oleh tragedi itu, Jiu Cien harus bangkit untuk membalas dendam pada para penghancur hidupnya. Ikuti perjuangan hebat Jiu Cien dalam menapaki jalan kependekaran hingga ia berhasil mencapai puncak tertinggi dan diakui sebagai sosok nomor satu dengan julukan Pendekar Dataran Tengah.