
Pernikahan kontrak (cinta)
Bab 3
Keesokan harinya, Tamara tidak tahu harus melakukan apa di rumah sebesar ini. Yang tertulis di kertas itu hanyalah menjadi istri di luar sana ketika Adam membutuhkannya saja, dan selain itu ia bebas melakukan apapun yang ia inginkan.
Tidak ada tugas untuk menyambut kepulangan Adam, menyiapkan pakai kerja atau pun menyiapkan makanan. Itu tidak ada di surat perjanjian itu, ia hanya bertugas menjadi istri yang baik ketika Adam membutuhkannya.
Tamara mengira ini akan menyenangkan tapi nyatanya tidak, bentakan dan hinaan yang tidak pernah ia dengar selama ini dan sekarang ia merasakan sakitnya di bentak dan juga di hina setelah menikah kontrak dengan Adam.
Tapi jika ia mengakhiri ini semua, ia harus membayar denda itu dengan apa? Dari mana ia mendapatkan uang sebesar itu. Apa lagi dia hanya seorang penjaga toko kue, tidak ada jalan selain menikmati keputusan yang sudah ia ambil.
" Mungkin ada yang bisa aku bantu" ucap tamara berjalan ke arah dapur, tapi di sana sangat sepi tidak ada pekerja di sana. kemana pelayanan yang ada di rumah ini?.
Tidak tahu harus melakukan apa, Tamara lebih memilih berjalan ke arah taman belakang siapa tahu ia bisa membantu tukang kebun yang ada disana.
" permisi" Ucap Tamara melihat bapak-bapak seusia pamannya sedang merapikan rumput disana..
" Iya ada yang bisa saya bantu?" tanya bapak itu sopan, ia seluruh perkerja sini tahu siapa Tamara kerena Yuda sudah memberikan semua informasi tentang Tamara.
" Gak ada, tapi saya mau bantu bapak" ucap Tamara membuat bapak-bapak itu mengkerut kan keningnya. " Saya tamara" Kata Tamara mengulurkan tangannya mengajak bapak ini berkenalan..
" saya Yanto, nyonya bisa panggil saya Yanto." Kata bapak Yanto menyatukan kedua tangannya.
" Jangan panggil saya nyonya pak, panggil nama saja. " kata Tamara tak enak mendengar pak Yanto memanggilnya dengan sebutan nyonya, apa lagi pak Yatno seusia pamannya..
" maaf tapi saya tidak bisa nyonya, itu sudah peraturan disini. Nanti kalau tuan dengar bisa menjadi masalah besar"
" dia tidak akan mendengarnya, panggil saya nama kalau kita sedang berdua seperti ini, tapi kalau ada taun bapak bisa panggil saya nyonya" kata Tamara cari aman, dia aman pak Yanto juga aman.
" baiklah kalau gitu" kata pak Yanto nurut.
" Jadi apa nih yang bisa saya bantu pak?" tanya tamara, melihat-lihat apa yang bisa ia kerjakan.
" saya sedang rapikan rumput, kalau nak Amara tidak keberatan bisa bantu bapak mengumpulkan ini semua" Kata pak Yanto, Tamara mengambil sapu untuk mengumpulkan rumput itu, dan bergegas membantu pak Yanto.
Setelah beberapa lama membantu pak Yanto, akhirnya pekerjaan pak Yanto selesai. Tamara duduk bersandar di pohon besar itu menikmati angin segar..
" Disini sangat sejuk" Kata Tamara ketika angin meniup tubuhnya.
" ini di minum dulu, biar hausnya hilang" Kata pak Yanto datang membawa minuman segar dan juga makanan ringan.
" terimakasih pak, sangat segar" Kata tamara setelah meminum air es itu " oiya pak, pekerja di sini pada kemana ya pak, kok sepi ya?" tanya tamara.
" Bapak juga kurang tahu, tapi Kalau sudah waktunya makan siang atau waktu tertentu mereka semua entah tadang dari mana. Bapak kadang bingung, walaupun sudah lama berkerja disini tapi bapak sama sekali tidak pernah masuk ke dalam rumah, bapak hanya berkerja di luar saja. " Jelas pak Yanto panjang lebar. Tamara hanya menganggukkan kepalanya.
***
Di tempat Adam, seperti biasa rutinitas setiap harinya hanya di sibukkan dengan perkejaan kantor, menemui Klein, meeting dan mengurus yang lainnya.
Tidak pernah ada hari libur tercantum di dalam otak Adam, ia hanya liburan di hari minggu saja dan itu hanya bedanya ia tidak pergi berkerja di kantor.
" Periksa semua ini, dan panggilkan staf yang terkait di bidang pemasaran!!" Perintah Adam, terus seperti itu. Entah kapan dan siapa yang akan bisa menjadi nomer satu setelah pekerjaannya.
" Yuda, tolong kirimkan dokumen kontrak atara perusahaan xxx"
" Baik tuan"
Hingga menjelang malam, Adam baru menginjakkan kakinya di rumah ini. " siapakah makan malam " Ucap Adam ketika tidak sengaja berpapasan dengan Tamara, Tamara menganggukkan kepalanya.
" Mbak, makanan kesukaan taun Adam apa ya?" Tanya tamara pada pelayanan yang ada di sana..
" tuan akan makan malam di sini?" Tanyanya, Tamara menganggukkan kepalanya. Kepala pelayanan yang mendengar itu langsung bergegas menyiapkan makanan untuk tuanya.
" Mbak, kenapa panik. Tenang saja tuan Adam hanya ingin makan malam, jadi jangan sepanik itu" Tamara mencoba menenangkan semua pelayan itu.
" maaf nyonya, kami harus cepat menyajikan makanan untuk tuan. " Jawab mereka..Tamara masih belum hapal betul tentang peraturan di rumah ini, ia hanya melihat apa yang mereka hidangkan.
Tidak butuh waktu lama, hidangan yang di masak koki itu sudah siap untuk di nikmati, Tamara hanya bisa tercengang melihat deretan makanan yang ada di sana.
" bukan kah aku menyuruhmu untuk menyiapkan makanan?" tanya Adam melihat Tamara yang berdiri mematung di sana.
" tapi tuan, bukan kah semua hidangannya sudah ada di atas meja. " Jawab Tamara heran.
" Singkirkan semua hidangan yang ada di atas meja ini!!" perintah Adam dan langsung di kerjakan dengan cepat oleh semua pelayan disini tanpa kesalahan apapun.
" Sekarang buatkan aku makan malam" kata Adam melihat ke arah Tamara.
" tapi saya harus masak apa tuan?" tanya tamara, ia tidak tahu apa yang di sukai dan yang di sukai suami kontrak nya ini.
" Buat apa saja terserah. Aku tunggu tiga puluh menit dari sekarang!!" mau tidak mau Tamara harus memasak, ia melihat di kulkas ada cumi segar, dan ia langsung mendapatkan ide untuk membuat oseng-oseng cumi.
Tidak butuh waktu lama, Tamara menyelesaikan acara masak-memasak nya dan langsung menghidangkannya di depan Adam.
" ini akan lebih enak di makan dengan nasi taun. " Kata Tamara, ia mengambil nasi putih dan menuangkannya oseng-oseng cumi itu di atas piring Adam.
Dengan penuh keraguan Adam mencoba memakan buatan istri kontraknya ini. Satu lai kunyah dua kali kunyah tenyata rasanya tidak terlalu buruk dan cocok di lidah adam.
Adam mengabiskan oseng-oseng cumi itu, ia seperti tidak pernah makan dari pagi hingga malam..
" besok pagi, kamu harus membuat kan aku sarapan. Ini tugas tambahan mu, jangan sampai telat!!" Ucap Adam lalu pergi meninggalkan meja makan. Tamara hanya bisa tersenyum menyetujui permintaan tuannya.
" Kenapa dia sangat rakus, aku sendiri belum merasakan cumi-cumi ini, tapi ia sudah menghabiskannya., " Tamara menghela nafasnya.
Para pelayan yang melihat taunya makan selahap itu hanya bisa tercengang dan terpukau, tapi tidak ada yang berani membuka suara.
" oiya, makanan yang tadi kalian taruh dimana?" Tanya Tamara pada pelayan yang masih berjejer rapi di sana.
"Di belakang nyonya " Jawab kepala pelayan.
" Dari pada makanannya mubajir, lebih baik kita makan bersama. Kebetulan saya belum makan." kata tamara, semua pelayan itu tersenyum ternyata istri tuanya tidak seperti yang mereka perkirakan.
Terdengar dari belakang, suara gelak tertawa mereka terdengar. Tamara menghabiskan waktu untuk berbincang dan berkenalan dengan pelayan yang di rumah ini.
" hari ini cukup melelahkan, aku harus tidur sekarang. Besok pagi harus menyiapkan sarapan pagi untuk tuan Adam. " Ucap Tamara merebahkan tubuhnya.
" bibi dan paman apa kabar, kenapa mereka tidak pernah menghubungi ku akhir-akhir ini." Tamara langsung menghubungi paman dan bibinya tapi tidak di angkat. " mungkin mereka sudah tidur, aku coba besok saja lagi" Ucap Tamara menaruh ponsel kembali di atas meja di samping tempat tidurnya.
Anda Mungkin Juga Suka





