
Pernikahan Kilat dengan CEO Galak!
Bab 2
Sudah sebulan berlalu setelah kejadian malam itu, Laura awalnya melakukan aktivitas seperti biasa. Bekerja dari pagi sampai malam, dan melakukan kegiatannya yang lain. Tapi semua itu berubah menjadi kekhawatiran saat dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, Laura selalu merasa pusing dan mual terus terusan selama beberapa hari.
Tidak ada pilihan lain, Laura harus mengeceknya dengan alat mengetes kehamilan yang baru dia beli. Helaan napas terdengar dari Laura yang sedang berada di depan kamar mandi, keraguan menghinggapi dirinya. Laura takut jika kekhawatirannya akan benar benar terjadi.
"Okey, kamu harus cek. Belum tentu kamu hamil," ucap Laura pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau beneran hamil gimana? Jack mau tanggung jawab apa nggak ya?" sambungnya menggigit ujung kukunya.
Laura menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran buruk yang terngiang di kepalanya. Dengan berat dia melangkah masuk kedalam kamar mandi, matanya menatap sebuah alat tes kehamilan ditangannya. Beberapa menit Laura meyakinkan diri, akhirnya dia berani memeriksa dirinya hamil atau tidak dengan alat itu.
Beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Laura akan keluar dari sana. Sampai sebuah teriakan menggemparkan seisi rumah.
"Arghh!" Teriakan itu tentunya bersumber dari wanita dalam kamar mandi itu.
Brak..
"Laura! Kamu kenapa sayang?" Monica-bibi Laura membuka pintu kamar dengan kasar, terlihat raut wajahnya khawatir dengan Laura.
"Nggak! Nggak mungkin!" Di dalam kamar mandi, Laura menatap alat tes kehamilan yang baru saja dia gunakan. Air mata sudah menumpuk dalam pelupuk matanya, semburat kesedihan dan penyesalan menyelimuti Laura. Alat yang ada ditangannya menunjukkan dua garis biru, menandakan jika Laura hamil.
"Sayang, aku mohon keluar. Kamu kenapa? Apa yang nggak mungkin?" Monica semakin panik, menggedor pintu kamar mandi dan berteriak lantang.
Ceklek...
Monica terkejut, saat melihat keponakannya terlihat berantakan dengan mata sembab dan hidung yang memerah. Sontak Monica langsung memeluk Laura erat.
"Sayang, cerita sama Tante. Kamu kenapa?"
Laura hanya mematung ditempatnya, pandangannya kosong ke depan tanpa mau menatap sang bibi. Karena tidak berdaya, Laura tidak sengaja menjatuhkan alat yang dia pegang. Saat itu pula Monica menyadarinya, lalu berjongkok mengambil alat itu.
Mata Monica membulat saat melihat benda itu, air matanya tidak bisa ditahan lagi. Bayangkan saja, dia juga wanita dan juga merasakan kesedihan Laura. Apalagi Monica tau jika ayah Laura sangat keras mendidik Laura, dia tidak bisa menyalahkan keponakannya. Bahkan Monica sama hancurnya dengan Laura saat melihat itu.
"Laura! Lihat aku. Ini apa? Ini bukan punya kamu kan? Kamu nggak mungkin melakukan hal itu kan? Jawab Laura!" Monica terus bertanya pada Laura.
Sementara Laura membeku, untuk menjawab saja dia rasa tidak sanggup. Laura sudah mengecewakan orang tuanya yang sudah mengingatkan dari awal, agar Laura menjaga keperawanannya sebelum menikah. Namun Laura mengingkari semua janjinya pada ayahnya, dia bahkan sudah kehilangan keperawanan dari awal menjalin hubungan dengan Jack.
"Jawab Laura!" bentak Monica yang sudah tersulut emosi. Tentu saja dia tidak mau keluarganya melakukan hal seperti itu.
Laura yang awalnya menunduk dalam diam, akhirnya mendongak menatap tantenya. "Iya tante! Itu punya aku, aku hamil! Aku sudah mengingkari janjiku pada ayah," jawabnya dengan nada tinggi, tetapi tetap diakhiri dengan tangisan pilu.
Monica langsung menjatuhkan benda itu, dia tidak menyangka keponakan tersayangnya sudah terjerumus sedalam itu. Monica merasa gagal menjadi seorang tante, yang lebih dia pikirkan adalah bagaiman jika Adnan-ayah Lauda tau.
"Laura, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?"
"Jack, tante."
"Jack bos kamu?"
"Iya tante, dia pacar Laura. Tapi kamu tenang aja, Jack bilang dia akan tanggung jawab kok kalo Laura hamil." Laura menghapus air matanya kasar, mencoba menarik sudut bibirnya walaupun terpaksa.
"Dan kamu percaya itu?"
Laura kembali menundukkan kepalanya, dia juga tidak yakin akan hal itu. Yang ingin Laura lakukan sekarang adalah bertemu dengan Jack, meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi. Laura segera beranjak dari tempatnya, menyambar tas serta ponselnya.
"Kamu mau kemana Laura?"
"Aku mau ketemu Jack, aku mau minta dia tanggung jawab," jawab Laura tersenyum tipis seolah memberitahu jika dia baik-baik saja.
"Tapi Laura, kamu--" Belum sempat Monica melanjutkan perkataannya, Laura sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya.
***
Di hari yang cukup terik, Laura duduk di bangku taman dekat komplek rumahnya. Menunggu kedatangan sang kekasih, karena Laura sudah lebih dulu menghubunginya tadi untuk menemuinya sekarang.
Yang Laura lakukan hanyalah berdiam diri sambil mengamati keindahan bunga berjejer cantik didepannya, pikirannya asik bergulat memikirkan reaksi Jack dengan berita ini.
"Apa Jack bakalan mau tanggung jawab?" tanya Laura entah pada siapa.
"Hai sayang, kamu sudah lama? Maaf ya, tadi macet."
Laura menoleh menatap seseorang yang baru saja tiba, akhirnya orang yang dia tunggu datang. Pria berjas abu-abu itu duduk disebelah Laura, membelai lembut pucuk kepala Laura dengan sayang.
Jack mulai sadar dengan perubahan sikap Laura, hari ini penampilan wanita itu bisa dibilang berantakan. Dia memutar tubuh Laura agar menghadapnya, matanya menatap lekat kedua manik mata hazel Laura.
"Kamu kenapa, hm? Ada masalah? Biasanya nggak diem gini."
"Aku hamil." Hanya dua kata itu yang bisa dikatakan Laura.
Terlihat sekali raut muka terkejut dari Jack, dia menggeleng kuat. "Nggak mungkin Laura, kamu nggak minum pil itu?" tanyanya mengintimidasi.
Laura baru ingat setelah adegan panas malam itu, paginya dia lupa meminum pil itu. Laura merutuki kebodohannya sendiri. "Aku nggak bohong, Jack. Aku hamil!" pekiknya dengan mata yang berlinang air mata. Laura merogoh tasnya, mengambil sebuah benda yang tadi dia pakai.
Betapa terkejutnya Jack saat menatap benda ditangannya, mata memanas. Bukan karena ingin menangis melainkan emosinya kembali tersulut, dia menggeram marah meremas benda ditangannya dengan kuat. Rahangnya mengeras dengan tatapan mata tajam menusuk menatap Laura.
Jack membuang benda itu ke sembarang arah, memalingkan wajahnya menahan emosi. "Gugurkan saja," ucapnya dengan enteng.
Hal itu membuat Laura tercengang, dia tidak percaya Jack bisa mengatakan hal kejam seperti itu dengan mudah. Laura semakin menangis dibuatnya, menarik lengan Jack kasar agar menghadapnya. Mata sayu Laura bertemu dengan tatapan tajam Jack.
"Kamu gila! Aku nggak mungkin melakukan hal yang rendah seperti itu, Jack," sarkas Laura tidak terima dengan keputusan Jack.
Rahang Jack semakin mengeras, karena ini pertama kalinya Laura menaikkan volume bicara saat berhadapan dengannya. Dia menghempaskan tangan Laura, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan berlagak suci Laura! Kamu itu udah ternodai sejak lama."
Ucapan Jack begitu menohok sampai hati, Laura menunduk diam menahan sesak dalam dadanya. Kata kata itu sangat menyakitkan bagi Laura, seolah ribuan belati menusuk secara bersamaan. Jack orang yang sangat dia cintai, telah mengatakan hal yang paling menyakitkan. Walaupun yang dikatakan Jack itu adalah sebuah fakta.
Melihat Laura diam, Jack kembali bersuara. "Aku nggak mau tau, Laura. Gugurkan bayi itu atau kita selesai disini!" ucapnya penuh penekanan sambil mengangkat dagu Laura.
"Kamu jahat, Jack! Mana janji kamu dulu? Kamu bilang bakalan tanggung jawab. Lalu apa ini? Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku?" Laura mulai histeris menahan Jack agar tidak pergi.
"Aku cinta sama kamu Laura, tapi aku belum siap buat menikah. Masalah kantor belum selesai, papa dan mama pasti marah besar kalau tau semua ini. Aku nggak siap," jelas Jack melemah, itu memang alasan yang sesungguhnya dari dalam hatinya.
Anda Mungkin Juga Suka





