
Pernikahan Kilat dengan CEO Galak!
Bab 3
Laura menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran Jack. "Terus aku gimana? Kamu mikirin nggak sih kehidupan aku kedepannya gimana? Bunda aku udah tau semuanya, aku mohon sama kamu tanggung jawab," balas Laura dengan tangis tak terkendali.
"Aku tidak peduli! Itu urusan kamu, aku sudah bilang kan tinggal gugurkan saja. Lagipula itu belum tentu anak aku kan? Aku harus pergi sekarang, banyak urusan." Setelah mengatakan itu Jack segera pergi meninggalkan Laura yang masih menangis sesenggukan di taman.
"Apa maksud kamu Jack!"
"Aku mohon berhenti!"
Tidak ada jawaban dari Jack, pria itu pergi tanpa memperdulikan keadaan Laura saat ini. Hari ini adalah awal mula kehancuran seorang wanita yang sedang tertunduk dalam, dia terlalu bodoh dengan mempercayai seorang pria. Kaki Laura melemas, dia terduduk di atas rumput hijau taman. Tak lama kemudian rintikan air hujan turun dari langit, seolah langit tau jika ada seseorang yang sedang menangis sendirian.
"Kamu jahat Jack! Aku harus gimana?" Laura menangis dibawah guyuran air hujan, merasakan sesak dalam dadanya seorang diri. Rasa menyesal, takut dan benci pada dirinya sendiri, hujan menjadi saksi bisu kehancuran hidup seorang Laura Stefhanie.
Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan tidak akan membuat semuanya kembali seperti semula.
Wanita yang baru saja merasakan penyesalan kini sedang berjalan di pinggir jalan, Laura melangkah tanpa tau arah. Memikirkan kedua orang tuanya yang mungkin harus menahan malu atas perbuatannya, Laura terlalu termakan omong kosong Jack.
'Ayah. Maafin aku,' ucap Laura dalam hati.
Tinn...
"Laura!"
Terdengar teriakan dari seseorang yang familiar ditelinga Laura, dia pun menghentikan langkahnya. Menoleh kearah mobil yang baru saja berhenti. Pemilik mobil itu turun, seorang wanita seumuran dengan Laura.
"Hey! Lo kenapa? Kok nangis?" Wanita itu sontak memeluk Laura yang terlihat sangat berantakan.
"Flo, gue.. Gue--"
"Apa? Ngomong sama gue? Ada yang nyakitin lo? Gue sahabat lo, cerita aja."
"Gue hamil, Flo. Jack nggak mau tanggung jawab." Tangisan Laura kembali, memeluk erat Floren-sahabatnya.
Floren terpaku di tempatnya, menggeleng tidak percaya apa yang dikatakan sahabatnya. Air matanya ikut menggenang dalam pelupuk mata. "Jangan bercanda, Laura!" pekiknya heboh.
"Gue nggak bercanda, Flo," balas Laura lirih.
Floren hanya membeku, tidak menanggapinya lagi. Dia memeluk kembali Laura, seolah merasakan apa yang Laura rasakan. Floren sudah bersahabat dengan Laura dari kecil, jadi apapun penderitaan sahabatnya, pasti Flo ikut merasakannya.
"Sudahlah, semuanya pasti baik-baik saja kok. Kalo perlu gue bakal bakar rumah Jack setelah ini, biar dia mati sekalian," tukas Flo menggebu, berusaha menenangkan Laura.
Drrrrttt..
Tak lama kemudian, dering ponsel milik Laura terdengar. Keduanya mengurai pelukan hangat itu, Laura segera menggeser ikon hijau saat melihat nama ayahnya di layar ponsel. Laura mengambil napas dalam, sebelum menempelkan ponsel ke telinga.
"H-halo, papa. Ada apa?"
[Pulang sekarang!]
Tuttt...
Laura terkejut saat ayahnya tiba-tiba memutuskan sambungannya, nada bicara Adnan-ayahnya juga tidak seperti biasanya. Terdengar dingin dan mungkin emosi.
"Kenapa? Siapa yang telepon? Jangan-jangan Jack ya? Atau orang salah sambung?" Floren dengan jiwa penasarannya menyahut dengan berbagai pertanyaan.
Laura menghela napasnya jengah, sahabatnya sangat cerewet dan heboh. Laura menggeleng pelan lalu berkata, "Ayah yang menelpon, gue disuruh pulang."
"Yasudah, ayo pulang!"
"Tapi gue takut, Flo."
Floren tersenyum simpul, melingkarkan tangannya pada bahu Laura. Mendorong paksa sahabatnya masuk ke mobil. "Sudah nggak usah takut, gue ikut sama lo. Kalo paman Adnan ngamuk biar gue yang hadapin," ucapnya menyombongkan diri.
Alis Laura saling berkerut, menunjukkan pandangan pada Flo dengan tatapan yang tak biasa. "Emang lo berani?" tanya Laura.
Flo tersenyum memperlihatkan deretan giginya, menggeleng pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mana mungkin Flo berani melawan Adnan yang sangat buas ketika marah. Sementara Laura tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, walaupun hatinya sedang gelisah memikirkan reaksi ayahnya jika tau semuanya.
Sepuluh menit menembus jalanan, akhirnya keduanya sampai di rumah Laura. Flo benar-benar ikut masuk kedalam bersama Laura, dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya sendiri menghadapi ayahnya.
Plakk...
Baru saja membuka pintu rumah, Laura sudah disambut sebuah tamparan keras dari sang ayah. Adnan menatapnya dengan penuh amarah, rahangnya mengeras.
"Apa ini yang aku ajarkan sama kamu, Laura! Apa kamu mau mempermalukan keluarga kamu ini? Dimana janji kamu waktu itu?" sentak Adnan dengan napas menggebu, Adnan memang tipe orang yang keras terutama pada anaknya.
Bentakan itu membuat nyali Laura menciut, air mata Laura kembali turun disertai tangis yang memilukan. Dia menatap Monica yang kini tengah menangis juga, seolah mengatakan jika Adnan sudah tau semuanya. Flo sendiri terkejut dengan apa yang dia lihat, amarah Adnan sangat menakutkan. Bahkan Flo tidak berani mendekat.
"Daddy, aku minta maaf." Laura menunduk dalam, dia tidak punya keberanian untuk menatap sang ayah.
"Maaf kamu bilang? Kalau semua rekan bisnis ayah tau, apa kata mereka? Kamu itu memalukan Laura!" Adnan kembali bersuara dengan tegas, tidak lagi bisa menyaring kata-katanya.
"Kenapa paman malah mikirin bisnis dari pada anak kamu? Laura nggak sepenuhnya salah!" Flo yang merasa kasihan dengan Laura, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
"Diam kamu! Pasti kamu juga yang sudah membuat Laura jadi berani seperti ini!"
"Papa cukup! Ini salah aku. Flo nggak ada hubungannya sama sekali!" Laura mengangkat dagunya, memekik tidak terima.
"Diam Laura! Katakan sama aku. Siapa yang sudah membuat kamu hamil!" bentak Adnan dengan tegas.
Laura membeku ditempatnya, matanya menatap Monica dan Flo bergantian. Mereka berdua hanya mengangguk mengisyaratkan Laura agar memberitahu yang sebenarnya, Laura memejamkan matanya erat. "P-pacarku, papa," jawabnya lirih.
"Siapa?!"
"Bos Laura di kantor."
Tak lama setelah mengucapkan itu, Laura merasakan tangannya ditarik paksa. Siapa lagi pelakunya jika bukan Adnan, tidak tahu kemana Laura akan dibawa. Adnan dengan paksa mendorong Laura masuk mobil tanpa mengatakan sepatah kata apapun, sedangkan Laura hanya bisa pasrah dan menurut. Laura tidak punya banyak nyali untuk memberontak.
Monica dan Flo yang khawatir dengan Laura, mengikuti Adnan dengan mobil Flo.
"Flo! Laura mau dibawa kemana? Tante khawatir," tanya Monica panik.
"Tante tenang aja, duduk diam. Biar aku fokus ngejar paman Adnan, oke!"
Kembali pada Adnan yang sudah berhenti didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi, nama Gantara Group terpampang di gedung itu. Adnan segera turun, kembali menarik Laura masuk kedalam secara paksa.
"Papa! Kenapa bawa aku kesini?"
"Kamu bilang bos kamu yang sudah membuat kamu hamil, dan sekarang ayah mau bertemu dengan dia. Meminta pertanggungjawaban atas dosa kalian," jawab Adnan penuh penekanan, terus menyeret Laura layaknya peliharaan. Tidak peduli dengan semua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan heran.
Laura diam, tidak bisa berkata-kata lagi. Memilih menangis dalam diam, entah kenapa saat ayahnya mengatakan itu hatinya terasa nyeri. Tapi Laura tidak memperdulikan itu, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana jika ayahnya mengamuk ketika Jack menolak pertanggungjawaban.
"Beritahu saya dimana bos kalian?" tanya Adnan pada resepsionis.
"Maaf apa ada janji sebelumnya?"
"Saya nggak perlu janji! Cepat katakan!atau saya pastikan perusahaan ini hancur!" Adnan tidak bisa mengendalikan emosinya, membuat seluruh karyawan disekitar menjadikan mereka berdua pusat perhatian.
"Di ruangan sana pak."
Tanpa berkata sepatah kata apapun, Adnan membawa putrinya menuju ruangan itu. Di satu sisi Laura terus berdoa, agar Jack tidak ada di sana. Laura tidak mau keributan kembali terjadi.
Brakk...
Anda Mungkin Juga Suka





