Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Kilat dengan CEO Galak!

Pernikahan Kilat dengan CEO Galak!

Laura harus menelan pil pahit saat Jack menolak bertanggung jawab atas kehamilannya. Situasi kian rumit ketika ayah Laura salah paham dan menuduh Liam, bos Laura sekaligus kakak Jack, sebagai pelakunya. Demi menanggung beban kesalahan adiknya, Liam terpaksa menikahi Laura. Namun, pernikahan ini justru membuka tabir rahasia yang mengejutkan. Di saat Jack mulai menyesal, Laura terjebak dalam dilema antara bertahan dengan Liam atau kembali pada masa lalunya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Laura menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran Jack. "Terus aku gimana? Kamu mikirin nggak sih kehidupan aku kedepannya gimana? Bunda aku udah tau semuanya, aku mohon sama kamu tanggung jawab," balas Laura dengan tangis tak terkendali.

"Aku tidak peduli! Itu urusan kamu, aku sudah bilang kan tinggal gugurkan saja. Lagipula itu belum tentu anak aku kan? Aku harus pergi sekarang, banyak urusan." Setelah mengatakan itu Jack segera pergi meninggalkan Laura yang masih menangis sesenggukan di taman.

"Apa maksud kamu Jack!"

"Aku mohon berhenti!"

Tidak ada jawaban dari Jack, pria itu pergi tanpa memperdulikan keadaan Laura saat ini. Hari ini adalah awal mula kehancuran seorang wanita yang sedang tertunduk dalam, dia terlalu bodoh dengan mempercayai seorang pria. Kaki Laura melemas, dia terduduk di atas rumput hijau taman. Tak lama kemudian rintikan air hujan turun dari langit, seolah langit tau jika ada seseorang yang sedang menangis sendirian.

"Kamu jahat Jack! Aku harus gimana?" Laura menangis dibawah guyuran air hujan, merasakan sesak dalam dadanya seorang diri. Rasa menyesal, takut dan benci pada dirinya sendiri, hujan menjadi saksi bisu kehancuran hidup seorang Laura Stefhanie.

Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan tidak akan membuat semuanya kembali seperti semula.

Wanita yang baru saja merasakan penyesalan kini sedang berjalan di pinggir jalan, Laura melangkah tanpa tau arah. Memikirkan kedua orang tuanya yang mungkin harus menahan malu atas perbuatannya, Laura terlalu termakan omong kosong Jack.

'Ayah. Maafin aku,' ucap Laura dalam hati.

Tinn...

"Laura!"

Terdengar teriakan dari seseorang yang familiar ditelinga Laura, dia pun menghentikan langkahnya. Menoleh kearah mobil yang baru saja berhenti. Pemilik mobil itu turun, seorang wanita seumuran dengan Laura.

"Hey! Lo kenapa? Kok nangis?" Wanita itu sontak memeluk Laura yang terlihat sangat berantakan.

"Flo, gue.. Gue--"

"Apa? Ngomong sama gue? Ada yang nyakitin lo? Gue sahabat lo, cerita aja."

"Gue hamil, Flo. Jack nggak mau tanggung jawab." Tangisan Laura kembali, memeluk erat Floren-sahabatnya.

Floren terpaku di tempatnya, menggeleng tidak percaya apa yang dikatakan sahabatnya. Air matanya ikut menggenang dalam pelupuk mata. "Jangan bercanda, Laura!" pekiknya heboh.

"Gue nggak bercanda, Flo," balas Laura lirih.

Floren hanya membeku, tidak menanggapinya lagi. Dia memeluk kembali Laura, seolah merasakan apa yang Laura rasakan. Floren sudah bersahabat dengan Laura dari kecil, jadi apapun penderitaan sahabatnya, pasti Flo ikut merasakannya.

"Sudahlah, semuanya pasti baik-baik saja kok. Kalo perlu gue bakal bakar rumah Jack setelah ini, biar dia mati sekalian," tukas Flo menggebu, berusaha menenangkan Laura.

Drrrrttt..

Tak lama kemudian, dering ponsel milik Laura terdengar. Keduanya mengurai pelukan hangat itu, Laura segera menggeser ikon hijau saat melihat nama ayahnya di layar ponsel. Laura mengambil napas dalam, sebelum menempelkan ponsel ke telinga.

"H-halo, papa. Ada apa?"

[Pulang sekarang!]

Tuttt...

Laura terkejut saat ayahnya tiba-tiba memutuskan sambungannya, nada bicara Adnan-ayahnya juga tidak seperti biasanya. Terdengar dingin dan mungkin emosi.

"Kenapa? Siapa yang telepon? Jangan-jangan Jack ya? Atau orang salah sambung?" Floren dengan jiwa penasarannya menyahut dengan berbagai pertanyaan.

Laura menghela napasnya jengah, sahabatnya sangat cerewet dan heboh. Laura menggeleng pelan lalu berkata, "Ayah yang menelpon, gue disuruh pulang."

"Yasudah, ayo pulang!"

"Tapi gue takut, Flo."

Floren tersenyum simpul, melingkarkan tangannya pada bahu Laura. Mendorong paksa sahabatnya masuk ke mobil. "Sudah nggak usah takut, gue ikut sama lo. Kalo paman Adnan ngamuk biar gue yang hadapin," ucapnya menyombongkan diri.

Alis Laura saling berkerut, menunjukkan pandangan pada Flo dengan tatapan yang tak biasa. "Emang lo berani?" tanya Laura.

Flo tersenyum memperlihatkan deretan giginya, menggeleng pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mana mungkin Flo berani melawan Adnan yang sangat buas ketika marah. Sementara Laura tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, walaupun hatinya sedang gelisah memikirkan reaksi ayahnya jika tau semuanya.

Sepuluh menit menembus jalanan, akhirnya keduanya sampai di rumah Laura. Flo benar-benar ikut masuk kedalam bersama Laura, dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya sendiri menghadapi ayahnya.

Plakk...

Baru saja membuka pintu rumah, Laura sudah disambut sebuah tamparan keras dari sang ayah. Adnan menatapnya dengan penuh amarah, rahangnya mengeras.

"Apa ini yang aku ajarkan sama kamu, Laura! Apa kamu mau mempermalukan keluarga kamu ini? Dimana janji kamu waktu itu?" sentak Adnan dengan napas menggebu, Adnan memang tipe orang yang keras terutama pada anaknya.

Bentakan itu membuat nyali Laura menciut, air mata Laura kembali turun disertai tangis yang memilukan. Dia menatap Monica yang kini tengah menangis juga, seolah mengatakan jika Adnan sudah tau semuanya. Flo sendiri terkejut dengan apa yang dia lihat, amarah Adnan sangat menakutkan. Bahkan Flo tidak berani mendekat.

"Daddy, aku minta maaf." Laura menunduk dalam, dia tidak punya keberanian untuk menatap sang ayah.

"Maaf kamu bilang? Kalau semua rekan bisnis ayah tau, apa kata mereka? Kamu itu memalukan Laura!" Adnan kembali bersuara dengan tegas, tidak lagi bisa menyaring kata-katanya.

"Kenapa paman malah mikirin bisnis dari pada anak kamu? Laura nggak sepenuhnya salah!" Flo yang merasa kasihan dengan Laura, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.

"Diam kamu! Pasti kamu juga yang sudah membuat Laura jadi berani seperti ini!"

"Papa cukup! Ini salah aku. Flo nggak ada hubungannya sama sekali!" Laura mengangkat dagunya, memekik tidak terima.

"Diam Laura! Katakan sama aku. Siapa yang sudah membuat kamu hamil!" bentak Adnan dengan tegas.

Laura membeku ditempatnya, matanya menatap Monica dan Flo bergantian. Mereka berdua hanya mengangguk mengisyaratkan Laura agar memberitahu yang sebenarnya, Laura memejamkan matanya erat. "P-pacarku, papa," jawabnya lirih.

"Siapa?!"

"Bos Laura di kantor."

Tak lama setelah mengucapkan itu, Laura merasakan tangannya ditarik paksa. Siapa lagi pelakunya jika bukan Adnan, tidak tahu kemana Laura akan dibawa. Adnan dengan paksa mendorong Laura masuk mobil tanpa mengatakan sepatah kata apapun, sedangkan Laura hanya bisa pasrah dan menurut. Laura tidak punya banyak nyali untuk memberontak.

Monica dan Flo yang khawatir dengan Laura, mengikuti Adnan dengan mobil Flo.

"Flo! Laura mau dibawa kemana? Tante khawatir," tanya Monica panik.

"Tante tenang aja, duduk diam. Biar aku fokus ngejar paman Adnan, oke!"

Kembali pada Adnan yang sudah berhenti didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi, nama Gantara Group terpampang di gedung itu. Adnan segera turun, kembali menarik Laura masuk kedalam secara paksa.

"Papa! Kenapa bawa aku kesini?"

"Kamu bilang bos kamu yang sudah membuat kamu hamil, dan sekarang ayah mau bertemu dengan dia. Meminta pertanggungjawaban atas dosa kalian," jawab Adnan penuh penekanan, terus menyeret Laura layaknya peliharaan. Tidak peduli dengan semua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan heran.

Laura diam, tidak bisa berkata-kata lagi. Memilih menangis dalam diam, entah kenapa saat ayahnya mengatakan itu hatinya terasa nyeri. Tapi Laura tidak memperdulikan itu, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana jika ayahnya mengamuk ketika Jack menolak pertanggungjawaban.

"Beritahu saya dimana bos kalian?" tanya Adnan pada resepsionis.

"Maaf apa ada janji sebelumnya?"

"Saya nggak perlu janji! Cepat katakan!atau saya pastikan perusahaan ini hancur!" Adnan tidak bisa mengendalikan emosinya, membuat seluruh karyawan disekitar menjadikan mereka berdua pusat perhatian.

"Di ruangan sana pak."

Tanpa berkata sepatah kata apapun, Adnan membawa putrinya menuju ruangan itu. Di satu sisi Laura terus berdoa, agar Jack tidak ada di sana. Laura tidak mau keributan kembali terjadi.

Brakk...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
9.6
Cinta adalah mahasiswi pekerja keras yang berjuang demi kesembuhan neneknya. Tanpa disadari, kepolosannya dimanfaatkan oleh sang paman yang tega menjualnya demi uang. Di tengah kemalangan, ia bertemu pengusaha kaya yang jatuh hati dan melindunginya. Namun, hubungan mereka penuh rintangan, mulai dari persaingan bisnis yang kejam hingga gangguan keluarga besar sang nenek yang terus menyudutkan Cinta atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Kado Dari Masa Lalu
8.5
Ulang tahun ke-35 Declan Montereau berubah drastis saat Elio, bocah empat tahun bermata abu-abu, muncul di depan pintunya dan mengaku sebagai putranya. Sebagai pebisnis sukses yang skeptis terhadap komitmen, Declan kini terpaksa menghadapi kenyataan yang mengguncang logika. Kemiripan fisik Elio tak terbantahkan, memicu pencarian mendalam tentang siapa wanita dari masa lalunya yang tega menyimpan rahasia sebesar ini sekaligus meninggalkannya tanpa kata.
Sampul Novel Mutiara Istri Yang Dijual
8.5
Kebahagiaan Tiara hancur saat Andre, suaminya sendiri, menjualnya kepada pengusaha bernama Dewa demi melunasi utang. Meski awalnya pahit, benih cinta mulai tumbuh di hati Tiara saat hidup bersama Dewa. Namun, Dewa justru mengusir Tiara yang tengah hamil saat mantan kekasihnya kembali. Bertekad membesarkan bayinya sendirian, Tiara menata hidup baru. Saat kandungannya berusia tujuh bulan, Dewa datang memohon kembali, namun Tiara tak akan menyerah semudah itu.
Sampul Novel Pelayan Dinikahi Tuan Muda
9.4
Demi biaya pengobatan orang tua, Attaya terpaksa menikahi Leon. Namun, Leon merahasiakan status mereka hingga memicu kecemburuan saat melihat Attaya melayani pria lain. Konflik memanas ketika Attaya menyadari adik Leon adalah mantan kekasihnya. Meski ditentang keluarga karena status sosial, Leon memilih membuang harta demi Attaya. Saat sang adik terbukti tak bisa memberi pewaris, keluarga besar memohon Leon kembali, yang ia penuhi dengan syarat Attaya harus diterima.