
PERNIKAHAN DINI
Bab 2
Dika bersandar pada dinding tepat disamping pintu kamar mandi. Hatinya tak tenang sejak Anara masuk ke sana. Sudah lima belas menit lamanya Anara belum keluar sama sekali.
Mereka berada di apartemen Dika. Apartemen dengan tipe studio tapi sangat mewah.
"Nara," panggil Dika.
Suhu Ac di kamar itu dingin, tapi rasanya tidak mempan bagi Dika yang hatinya tidak tenang sejak tadi. Ia memilih membuka kemeja sekolah dan menyisahkan kaos hitam dan celana abunya.
Ceklek ....
Pintu kamar mandi baru saja terbuka. Dika beranjak dari bibir ranjang dan mendatangi gadis itu. Mata Anara terlihat sembab, dan Dika sudah mengetahui apa yang sudah terjadi sekarang.
Di rahim Anara tumbuh janin miliknya.
"Nara, are you ok?" Dika mengusap lengan Anara, menuntun gadis itu duduk di bibir ranjang.
"Menurut kamu, aku harus senang saat hamil diluar nikah dengan umur yang masih dini?"
Anara menunduk, tangannya bergetar melihat kembali hasil tespack miliknya. Dika meraih benda kecil itu, menatap dua garis merah disana.
"You pregnant my child."
"Anak ini nggak boleh dilahirin," cicit Anara. "Ayah pasti hancur banget dengar kabar ini. Ayah mau lihat aku masuk universitas terbaik dan juga mengambil kedokteran."
Dika bergeming. Pikirannya saling beradu. Mendengar curahan hati Anara, membuatnya langsung teringat Papa dan Mamanya. Mereka pun akan sangat kecewa. Dika adalah penerus perusahaan keluarga, karena dia adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga Gutama.
Dan pada akhirnya, dua anak manusia itu akan mematahkan hati orang tua mereka. Mengubur masa depan mereka.
Dika meraih tangan Anara, menautkan jemari mereka. Terlihat sebulir air mata gadis tersebut yang jatuh ke tangannya.
"Gue bakal pegang tangan lo terus, Anara. Apapun itu kita hadapi sama-sama," ujar Dika.
"Nggak segampang ucapan kamu, Dika," sela Anara. Ia menatap lekat lensa hitam Ayah dari janin yang ia kandung. "Aku juga takut nggak bisa jadi orang tua yang baik buat dia."
"Secara mental dan finansial, aku belum siap," imbuh Anara.
"Usia kita masih terlalu dini. Emosi kita masih terlalu labil untuk hadapi semua ini, Andika."
Tangisan Anara kembali pecah, seandaikan Dika bisa memahami ini semua dan mau mengalah untuk masa depan mereka yang baik.
Apa yang Dika lakukan sudah benar. Sudah cukup dosa dari perzinaan tak sengaja itu, membiarkan bayi tersebut hidup adalah bentuk sebuah penebusan dosa itu sendiri. Dika mau⸺Dika mau bertanggung jawab untuk itu semua.
"Anara, lo percaya takdir?" Posisi duduk Dika sudah berubah. Ia berjongkok dihadapan Anara, membiarkan gadis itu duduk pada bibir ranjang.
Jempolnya mengusap pipi Anara dari air mata.
"Bukan tanpa sengaja kita di beri ujian sehebat ini. Semua sudah ada garisnya," ucap Dika.
***
Hari minggu. Pagi sekali Anara terbangun karena ia mengalami morning sickness. Wajah kantuknya ia basuh dengan air dari keran wastafel, lalu disusul dengan menggosok gigi.
Anara keluar dari kamar mandi. Tidak menemukan keberadaan Ayahnya. Biasanya Ayahnya akan membaca koran di kursi depan rumah, dan berceloteh persoalan berita di negeri ini.
"Anara...,"
Anara mengurungkan niatnya ketika suara Ayahnya terdengar dari halaman.
"Ayah dari mana saja?" tanya Alana.
"Tebak Ayah bawakan apa untuk kamu?"
"Apa Ayah?" Anara semakin penasaran.
"Jrenggg.... piyama teddy bear untuk anak Ayah," seru Keano.
"Ayah, lucu banget. Anara suka," imbuh Anara.
"Ayah juga belikan kamu ini. Jangan malu, ini Ayah kamu. Ayah nggak sengaja lihat-lihat meja bedak-bedakan kamu, dan laci."
Anara terdiam. Ayahnya membelikan pembalut untuknya dan juga beberapa keperluan Anara yang sudah hampir habis.
Hidup serba berkecukupan tidak membuat Anara merasa kurang. Keano selalu mendahului kepentingan dan kebahagiaan Anara.
Ting ....
Sebuah pesan masuk dari ponsel Anara, gadis itu segera pergi ke kamarnya.
Dari notifikasi itu, tercantum nama Dika. Cowok itu memanyakan apakah dirinya sudah sarapan.
Anara tidak membalasnya. Kemudian memperhatikan tingkah Ayahnya diluar sana. Keano terlihat sangat bahagia. Bagaimana bisa Anara mmberitahui kondisinya saat ini?
Berbeda dengan Anara, saat ini Dika sedang menunggu pesan darinya. Sejak tadi, ia menjadi pusat perhatian orang tua dan adiknya-Leora.
"Bang, nunggu balesan chat siapa, sih?" tanya Leora yang mulai kesal.
"Mau tau aja," balas Dika. Ia mengambil dua sendok nasi goreng dan melahapnya.
Vika menatap pergerakan anak sulungnya.
"Abang kok Mama perhatiin badannya naik banget," celetuk Vika.
Uhukk...
Dika meminum air putihnya hingga tandas. Tentu saja ia terkejut dengan celetukan itu, karena memang ia sendiri sadar bahwa sejak Anara hamil, postur tubuhnya banyak berubah.
Sejak beberapa detik yang lalu saat Vika menyinggung postur tubuhnya, Megan tak lepas menatap anak sulungnya.
"Pelan-pelan makannya, Bang," tegur Vika.
"Udah nggak ngegym lagi?" tanya Megan tiba-tiba saja.
"Hm, iya. Baru sebulan ini, Pah," jawab Dika.
Memang sudah satu bulan ini Dika tidak kembali ke rumah, bahkan di hari minggu seperti biasanya. Dika terlalu kacau.
***
Dika : Gue di depan rumah lo.
Anara terperanjat mendapat pesan singkat itu, ada Keano yang duduk disampingnya. Keano sangat serius menonton tinju siang itu.
"Ayah, Nara ke depan sebentar."
"Ok, Sayang."
Anara segera keluar, mendatangi Dika yang benar sedang menunggunya di bawah pohon jambu. Cowok itu masih duduk diatas jok motor. Kali ini Dika tidak memakai motor sport seperti biasanya, dia memakai motor matic.
"Kamu ngapain?"
"Anterin ini," jawab Dika, seraya megambil sebuah tas belanja yang besar. Ia menaruh tas itu di teras rumah. Tidak ingin membebani Anara.
"Itu semua keperluan buat lo selama dua minggu. Kalau butuh sesuatu bilang sama gue," terang Dika.
Anara melihat isi tas belanjaan tersebut. Susu Ibu hamil dengan tiga rasa, pereda mual, dan juga beberapa camilan yang aman untuk Ibu hamil. Dika juga membeli beberapa buah untuk Anara.
"Dika, ini terlalu berlebihan."
"Nggak ada yang berlebihan. Anak gue harus tumbuh dengan baik," sela Dika.
Dika sangat perhatian pada Anara, tapi itu semua hanya karena anaknya saja menurut gadis tersebut.
"Nara, besok kita harus ke dokter," ujar Dika, "Lo harus minum obat dari dokter kandungan langsung. Kita juga belum tahu 'kan usianya sekarang udah berapa minggu."
Anara terdiam.
"Nara, lo nggak budek 'kan?"
"Gimana kalau mereka banyak nanya, Dika? Kita harus menjawab apa?" Hati Anara risau, ada banyak beban di pikirannya.
"Itu semua tanggung jawab gue."
Lalu pintu rumah terbuka. Keano keluar, dan melihat dua remaja itu sedang berbincang serius.
"Ayah," lirih Anara, matanya menangkap tas belanjaan itu.
"Loh, ada tamu. Kenapa nggak disuruh masuk?"
"Ayah mau kemana sudah rapih?" tanya Anara. Ya, Keano terlihat rapih.
"Ayah mau ke rumah Pak Darwin, ada urusan. Mungkin malam baliknya," sahut Keano, tatapannya langsung tertuju pada Dika. "Tamunya dibuatkan minum, Anara. Masa dilihatin doang."
Anara tersenyum. "Iya."
"Ayah pamit ya. Kalau mau bepergian, pintu sama jendelanya dilihat lagi."
Anara dan Dika memandang kepergian Keano. Pria itu menggunakan motor honda bututnya.
"Aku nggak bisa lihat Ayah nangis," sebut Anara.
Anda Mungkin Juga Suka





