Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PERNIKAHAN DINI

PERNIKAHAN DINI

Anara Quinzy Prayoga dan Andika Surya Gutama terpaksa menikah di usia muda setelah terjebak cinta satu malam. Perbedaan kasta menjadi penghalang besar, di mana Anara hanya putri buruh pabrik sementara Dika berasal dari keluarga kaya. Demi mempertanggungjawabkan kehamilan Anara, Dika rela kehilangan seluruh fasilitas mewahnya. Kini, ia harus berjuang keras menghidupi istrinya sendirian tanpa bantuan orang tua setelah diusir oleh ayahnya yang murka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kantin SMA Kencana di jam istirahat pertama terlihat padat, meskipun ada empat kantin di sekolah tersebut. Dari mejanya, pandangan Dika tidak lepas dari pintu kantin. Menunggu kedatangan seorang perempuan yang membawa anaknya kemana-mana.

“Dika, woi…., lo nggak makan?” sentak Diaz. Sejak tadi Kevin, Diaz, dan juga Gerald memperhatikannya.

“Lo lagi nyari siapa?” tanya Gerald.

“Nggak lagi nyari siapa-siapa,” jawabnya, namun dengan lensa hitam legam yang tidak lepas dari objeknya.

Gerald menyikut lengan Diaz, memberi kode agar Diaz mau bertanya pada Dika.

“Dik, soal minuman soda malam itu, lo minum?”

Dika menatap malas ketiga sahabatnya. “Nggak gue minum,” decaknya.

“Beneran lo nggak minum?” tanya Kevin.

“Hm.” Dika malas meladeni mereka, lalu matanya menangkap Disa dan Ketrin yang baru saja masuk kantin, tanpa Anara.

Diaz lega mendapat jawaban itu, meskipun dia belum yakin sama sekali.

“Gue cabut duluan,” pamit Dika.

Ketrin dan Disa melirik Dika yang melewati mereka begitu saja, lalu mereka duduk bersama tiga cowok tadi.

“Nggak ikut Dika?” tanya Ketrin.

“Lo nggak lihat kita lagi makan ini?”

“Akhir-akhir ini Dika beda banget, ya?” Disa menyinggung. Memang benar adanya.

“Biasa aja tuh,” sahut Diaz.

Disa melengos, sejak beberapa hari ini mereka tidak bicara. Diaz dengan tidak tau malunya mengatakan bahwa Disa menyukainya. Padahal dia sendiri yang sering mengatakan suka pada Disa.

“Lo berdua udahan marahnya. Nggak capek ngambekan terus?”

“Eh, tapi benar sih kata Disa. Dika udah jarang banget main,” kata Kevin.

“Tanya lah, teman lo,” balas Ketrin.

“Nanti, kalau gue udah muak.”

***

Langit siang itu mendung. Dika berjalan sepanjang lorong kelas dua belas. Tatapannya lurus, sesekali ia memperhatikan siswa-siswi berlari sepanjang lorong ini sambil tertawa, membaca buku di depan pintu kelas, dan juga taman sekolah, ada juga yang berbincang dengan gurunya.

Masa sekolah memang seindah itu.

Dika teringat akan Anara. Gadis itu sudah satu minggu menghilang darinya. Padahal Dika sudah mengatakan bahwa mereka harus segera check kandungannya 

Langkah tegap cowok itu memasuki kelas dua belas Bahasa Satu. Disana hanya ada dua orang murid yang akhirnya keluar karena diminta olehnya.

Dika masih berdiri di depan sana, tatapannya jatuh pada seorang gadis yang juga menatapnya.

Dika menghampiri Anara. Gadis itu terlihat gelagapan menghadapi Dika.

“Boleh gue lihat isi tas lo apa aja?”

Anara menggeleng. “Jangan.”

“Kenapa jangan?” Dika mengambil tas berwarna hitam tersebut, dan dengan tegahnya ia mengeluarkan semua isi tas secara brutal.

Anara menelan ludahnya susah paya.

Dika mengambil kaleng minum sprite, cocacola, dan juga beberapa obat tanpa nama yang jatuh dari dalam tas Anara.

Cowok itu menatap Anara dan benda-benda tersebut bergantian.

Dika melempar dua kaleng tersebut ke lantai dengan kesal. Lalu menginjak minuman bersoda itu.

“Ikut gue!” desak Dika, menarik tangan Anara dengan penuh emosi.

Sepanjang lorong semua memandang mereka. Tidak pernah terlihat Dika seperti itu pada perempuan.

Dika membawa Anara ke parkiran. “Masuk!”

“Kita mau kemana?” tanya Anara ketakutan.

“Masuk, Anara!” hardik Dika, hingga akhirnya Anara masuk ke mobil.

Sudah beberapa hari ini Dika memang membawa mobil ke sekolah. Setelah memastikan Anara duduk, Dika kemudian menyusul.

Anara bisa melihat wajah Dika yang menahan amarah. Anara pikir, mereka akan pergi, namun ia salah. Mereka hanya saling diam di mobil, dengan Dika yang sudah menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Dika…,” panggil Anara takut-takut.

“Udah berapa kaleng yang lo minum?” Dika masih menutup mata dengan lengannya.

Anara tertegun. Matanya memanas, cairan bening kembali membendungi pelupuk matanya dan berhasil meluruh. Anara sudah banyak menangis.

Bersamaan dengan itu, hujan jatuh  membasahi bumi, langit seolah turut merasakan apa yang sedang dirasakan Anara maupun Dika.

“Nara,” panggil Dika, posisinya masih sama.

Anara tidak menyahutinya. Anara takut pada Dika.

“Lo tahu nggak, Nara. Gue selalu minta sama Tuhan. Dosa ini milik gue, bukan milik lo. Gue selalu minta hukum gue, jangan lo.”

“Nara …,” Dika memanggilnya sekali lagi. “Gue udah jatuh cinta sama anak itu, Nara.”

Dika menatap Anara. Tatapan itu teramat sendu. Tersirat harapan dari pancaran mata itu.

Yang harus Dika lakukan sekarang adalah meyakinkan Anara bahwa semua akan baik-baik saja. Anara tidak perlu khawatir, ia akan selalu bersama mereka.

***

“Anara?”

Tangan Keano bergetar hebat tatkala mendapatkan beberapa alat tespack pada laci nakas. Lima alat tersebut dengan garis dua merah.

Keano mengatup rapat bibirnya.

Anara-nya hamil.

“Anara…,” lirih Keano. “Ayah harus apa, Anara?”

Sedangkan di tempat yang berbeda, Anara dan Dika sudah berada di ruangan bercat putih. Seorang asisten dokter kandungan baru saja memanggil nama Anara.

Sejak memasuki ruangan tersebut, Dika tak lepas menggenggam tangan gadis tersebut. Mereka pulang lebih awal, Dika membawa Anara ke dokter kandungan untuk kali pertama.

“Ayo berbaring,” kata dokter tersebut.

Anara menoleh pada Dika, dan cowok itu mengangguk. Dika dan juga dokter itu membantu Anara naik ke brankar.

“Ini pertama kali, ya, check kandungannya?” tanya dokter tersebut.

“Iya.” Dika menyahuti.

“Nggak apa-apa. Jangan tegang gitu mukanya. Saya mengerti dan saya salut kamu mau bertanggung jawab,” jawab dokter tersebut.

Dokter perempuan itu mulai memeriksa kandungan Anara. Alat pendeteksi janin sudah menjamah bagian bawah perut Alana.

“Janinnya sehat. Usianya enam minggu,” terang wanita itu.

“Kalian nggak ada niat buat gugurin, ‘kan?”

“Janin kuat seperti ini, mau gimana cara untuk menggurkannya nggak akan bisa kalau udah ditakdirkan buat kalian.”

Anara memejamkan mata. Dika masih terus memandang layar monitor. Benar kata dokter itu, janin itu mungkin sudah ditakdirkan untuk menyatukan mereka.

“Kami akan menikah,” pungkas Dika.

***

Selepas dari klinik tadi, Dika langsung mengantar Anara pulang. Tiba di rumah pukul tujuh malam. Ketika baru turun mobil, Anara melihat Ayahnya sedang duduk di teras rumah.

Ia tersenyum pada Keano.

“Ayah, Anara pulang,” sapa Anara.

Keano bergeming. Lalu beberapa saat kemudian memasuki rumah. Anara menyusul Ayahnya, sedangkan Dika yang merasa ada yang janggal pun mengurung niat untuk pulang.

“Anara sudah bosan tinggal sama Ayah?” tanya Keano. “Ayah sudah siapkan semuanya, Anara bisa langsung pergi.”

“Maksud Ayah, apa? Anara nggak ngerti. Kenapa koper ini ada diluar?”

Keano menghampirinya. Pri itu memeluk Anara sangat erat. Dia menangis.

“Anara pasti bosan, ‘kan hidup sama Ayah?  Maaf Ayah nggak bisa buat Nara bahagia.”

“Ayah, Nara minta maaf.” Anara membalas pelukan Keano, menangis dalam pelukan Ayahnya.

Akhirnya Anara paham dengan semua itu. Keano sudah mengetahui kehamilannya.

“Anara bahagia sama Ayah. Anara bahagia walau semua ini sederhana,” ungkap Anara.

Dibalik pintu, Dika mendengar semua percakapan mereka. Ia memberanikan diri untuk mendatangi Keano.

“Om, saya bertanggung jawab atas kehamilan Anara. Saya adalah Ayah dari bayi yang di kandung Anara.”

Anara sangat terkejut karena Dika belum pulang. Belum lagi cowok itu membongkar semuanya disini.

“Dika…,”

Dika menghampiri mereka. Ia berlutut di hadapan Keano, meminta ampun pada Ayah Anara.

“Anara tidak salah. Pukul saya, Om. Anara nggak pernah salah disini.”

Dika mendongak, melihat wajah Keano yang enggan melihat padanya. “Bujuk Anara, Om. Bujuk Anara supaya bisa menikah dengan saya. Anara selalu mikirin Om. Saya tahu minta maaf tidak bisa mengembalikan semuanya.”

“… saya akan bertanggung jawab. Saya akan penuhi kehidupan Anara.”

***

“Apa kamu bilang, Dika?” teriak  Megan di ruang kerjanya.

“Kamu menghamili anak orang?”

Megan baru saja kembali dari kantor, bahkan pria tersebut belum mengganti pakaian.

“Gampang banget kamu ngomongnya! Kamu pikir, menikah itu perkara mudah, hah?”

Megan menarik kerah  kemeja sekolah Dika, menatap tajam anak sulungnya. Lalu beberapa saat kemudian pria itu  menghempaskan tubuh Dika. Main fisik pun tidak ada gunanya, gadis itu sudah hamil.

“Bawah perempuan itu ke rumah. Papa ingin bertemu dengan dia.”

Megan keluar dari ruangannya, menyisahkan Vika yang masih menangis, dan juga Dika yang masih diam.

“Mah, Abang minta maaf. Abang salah,” ucap Dika.

Vika masih menangis tersedu-sedu. Tidak pernah membayangkan Andika Surya Gutama akan mengakhiri masa mudanya dengan cara seperti ini.

“Sudah berapa minggu?”

“Sudah enam minggu,” jawab Dika.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FEG" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FEG
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aksara Cinta Antara Harta dan Pilihan
8.2
Amora Carolline terjepit dalam dilema besar antara ambisi karier dan asmara. Kehadiran Arka Christian, pebisnis sukses yang menawarkan kemewahan, membawa Amora ke dunia gemerlap. Namun, muncul Vano Elbar, pria pilihan ibunya yang menawarkan kehangatan serta ketulusan dalam kesederhanaan. Kini, Amora harus menentukan arah hidupnya: mengejar harta bersama Arka yang penuh tekanan, atau memilih cinta tulus Vano meski hidup terbatas. Sebuah pencarian makna cinta sejati.
Sampul Novel Asmara Cinta Dan Benci
9.3
Hubungan Adelia dan Edwin terancam runtuh akibat campur tangan sang ayah yang ingin memisahkan mereka. Di tengah perjuangan tersebut, pengkhianatan dan salah paham besar mengubah kasih sayang menjadi kebencian mendalam. Edwin yang sempat dikira tewas tiba-tiba muncul kembali sebagai pria asing yang hanya didorong oleh dendam. Kini, Adelia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok yang ia cintai berbalik menjadi musuh yang ingin menghancurkannya.
Sampul Novel Cinta Romantis Bagaikan Buih
7.8
Keputusan bulat diambil oleh Chinta Luna untuk menanggalkan nama lamanya. Di hadapan petugas, ia menegaskan niat berganti nama menjadi Cahya Arjuna, yang berarti cahaya dalam perjalanan jauh. Meski diperingatkan tentang rumitnya mengurus ulang ijazah, kartu identitas, hingga paspor, Chinta tidak goyah sedikit pun. Kisah modern dalam novel romantis Cinta Romantis Bagaikan Buih ini menyoroti langkah berani sang tokoh utama.
Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Rizal, seorang duda yang berprofesi sebagai operator data di sekolah swasta, mendambakan sosok istri yang tulus menerima dirinya beserta kedua buah hatinya. Saat ini, ia tengah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita yang usianya empat tahun lebih tua. Namun, perjalanan asmara mereka tidaklah mudah karena berbagai rintangan besar terus menghadang. Akankah Rizal mampu mempertahankan komitmennya dan memperjuangkan cinta sejatinya hingga akhir?
Sampul Novel Janda Lugu
8.4
Terlilit hutang akibat ditipu, Arka melarikan diri ke kampung halaman untuk menghindari kejaran rentenir. Di sana, ibunya justru menjodohkannya dengan Nilam, janda kaya raya. Arka pun berniat menikahi Nilam demi menguras hartanya. Namun, ketulusan Nilam perlahan meluluhkan hati Arka hingga ia menyesali niat busuknya. Saat rahasia terbongkar, Nilam yang kecewa justru meminta pernikahan formalitas belaka. Mengapa sosok yang semula lugu itu berubah drastis?
Sampul Novel MINE
8.9
MINE
Hidup Ana berubah drastis setelah berselisih dengan pengusaha dingin yang menjadi pembicara di kampusnya. Meski kesal, Ana terpaksa terus berurusan dengan pria menyebalkan itu. Tanpa disadari, sosok tersebut adalah pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Perubahan sifat sang pria membuat Ana bimbang antara benci dan puja. Di tengah perasaan yang berkecamuk, hubungan mereka justru dihantam berbagai teror berbahaya. Mampukah mereka bertahan menghadapi ujian?