
Pernikahan Dingin yang Membara
Bab 2
Keesokan paginya, Aria terbangun dengan perasaan cemas yang masih menggelayuti hatinya. Malam gala yang seharusnya menyenangkan malah berakhir dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dia menghela napas panjang, berusaha untuk mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari baru. Meskipun perasaannya kacau, dia tahu bahwa dia harus tetap profesional dan fokus pada pekerjaan.
Aria menyiapkan diri untuk hari terakhir konferensi. Dia mengenakan setelan bisnis biru tua yang elegan dan memutuskan untuk tampil sesempurna mungkin. Setelah sarapan cepat di kamar, dia bergegas menuju ruang konferensi.
***
Saat tiba di aula, Aria melihat bahwa sesi sudah dimulai. Pembicara utama hari itu adalah seorang eksekutif senior dari perusahaan teknologi ternama. Aria berusaha fokus pada presentasi, meskipun pikirannya masih sibuk memikirkan Raka.
Di tengah sesi, Aria menerima pesan dari Raka yang membuat hatinya berdebar.
“Aria, bisakah kita bertemu sebentar setelah sesi ini? Ada sesuatu yang penting yang perlu aku bicarakan denganmu.”
Aria menjawab singkat, “Tentu, aku akan menunggumu di luar aula.”
Setelah sesi berakhir, Aria berjalan keluar aula dan menunggu Raka di lobi. Tak lama kemudian, Raka muncul dengan wajah serius.
“Aria, mari kita bicara di tempat yang lebih tenang,” katanya sambil mengarahkan Aria ke sudut ruangan yang sepi.
Aria merasa gugup namun tetap tenang. “Apa yang ingin kamu bicarakan, Raka?”
Raka menghela napas panjang sebelum mulai berbicara. “Aria, aku ingin meminta maaf atas sikapku kemarin. Aku tahu itu membuatmu bingung dan cemas. Sebenarnya, ada masalah besar di perusahaan yang harus segera aku tangani.”
Aria merasa sedikit lega namun masih penasaran. “Masalah apa, Raka? Kenapa kamu tidak bisa memberitahuku kemarin?”
Raka menunduk sejenak sebelum menjawab. “Perusahaan sedang menghadapi krisis internal yang melibatkan beberapa eksekutif senior. Kami menemukan indikasi adanya penggelapan dana, dan aku harus segera menanganinya.”
Aria terkejut mendengar penjelasan itu. “Aku mengerti, Raka. Tapi kenapa kamu tidak bisa memberitahuku sebelumnya? Aku bisa membantumu atau setidaknya memberikan dukungan.”
Raka menatap Aria dengan penuh penyesalan. “Aku tidak ingin membebanimu dengan masalahku, Aria. Aku tahu kamu juga punya banyak tanggung jawab di tempat kerja.”
Aria merasakan campuran emosi di hatinya. Di satu sisi, dia merasa lega bahwa Raka akhirnya terbuka. Di sisi lain, dia merasa kecewa karena Raka tidak mempercayainya sepenuhnya. “Aku menghargai keterusteranganmu, Raka. Tapi aku berharap kita bisa lebih saling mendukung.”
Raka mengangguk. “Kamu benar, Aria. Aku akan berusaha lebih terbuka ke depannya.”
Mereka berdua berdiri dalam keheningan sejenak, merasakan ketegangan yang perlahan mencair. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama nanti? Kita bisa bicara lebih banyak dan mencoba mencari solusi bersama,” usul Aria.
Raka tersenyum tipis. “Aku akan sangat senang, Aria. Terima kasih telah mengerti.”
***
Mereka akhirnya makan siang di restoran hotel yang tenang, duduk di meja dekat jendela dengan pemandangan taman. Makanan lezat dan suasana yang nyaman membantu meredakan ketegangan di antara mereka.
“Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan menghadapi masalah seperti ini,” kata Raka sambil menyantap hidangannya.
“Ya, hidup memang penuh dengan kejutan. Tapi yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya,” jawab Aria dengan bijak.
Percakapan mereka mengalir lebih lancar, membicarakan strategi untuk menangani krisis di perusahaan Raka. Aria memberikan beberapa saran berdasarkan pengalamannya sebagai manajer proyek, dan Raka merasa terbantu dengan perspektif baru itu.
Namun, meskipun suasana semakin membaik, Aria tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh Raka. Dia memutuskan untuk memberi waktu dan ruang bagi Raka untuk membuka diri lebih lanjut.
Setelah makan siang, mereka kembali ke ruang konferensi untuk menghadiri sesi terakhir. Aria merasa sedikit lebih tenang, meskipun masih ada perasaan cemas yang mengintai di balik pikirannya.
***
Hari berakhir dengan sesi penutupan yang meriah, di mana para peserta berbagi pengalaman dan belajar dari konferensi. Aria berusaha untuk tetap fokus, tetapi pikirannya terus kembali pada Raka dan masalah yang sedang dihadapinya.
Setelah sesi berakhir, Raka mendekati Aria dengan senyum lelah. “Aria, aku harus kembali ke kantor segera untuk menangani masalah ini. Terima kasih atas dukunganmu.”
Aria mengangguk dan tersenyum. “Tentu, Raka. Semoga semuanya berjalan lancar. Jangan ragu untuk menghubungiku jika membutuhkan bantuan.”
Raka menggenggam tangan Aria sejenak sebelum berbalik pergi. Aria menatap punggungnya yang semakin menjauh, merasa ada banyak hal yang belum terselesaikan di antara mereka.
***
Minggu berikutnya, Aria kembali ke rutinitasnya di kantor. Dia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya terus terganggu oleh perasaan tidak nyaman tentang Raka. Setiap kali dia menerima pesan atau panggilan, dia berharap itu dari Raka, tetapi harapan itu sering kali berujung kecewa.
Suatu hari, saat Aria sedang bekerja di meja kerjanya, dia menerima panggilan dari atasan langsungnya, Pak Budi.
“Aria, bisa datang ke ruangan saya sebentar?” suara Pak Budi terdengar serius.
“Tentu, Pak. Saya segera ke sana,” jawab Aria sambil merasa sedikit cemas.
Aria berjalan ke ruangan Pak Budi dan mengetuk pintu sebelum masuk. “Silakan masuk, Aria,” kata Pak Budi sambil menunjukkan kursi di depannya.
Aria duduk dan menatap Pak Budi dengan penuh perhatian. “Ada apa, Pak?”
Pak Budi mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Aria, saya baru saja menerima informasi bahwa kita akan bekerja sama dengan perusahaan baru dalam proyek besar ini. CEO mereka, Raka, akan datang untuk berdiskusi langsung dengan kita.”
Aria terkejut mendengar nama Raka disebut. “Raka? CEO dari perusahaan mana, Pak?”
“Perusahaan Teknologi Cakrawala. Mereka adalah salah satu pemain besar di industri ini, dan kerja sama ini bisa membawa banyak keuntungan bagi kita,” jelas Pak Budi.
Aria merasa jantungnya berdebar. Dia tidak menyangka bahwa Raka adalah CEO dari perusahaan besar yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. “Baik, Pak. Kapan kita akan bertemu dengan Raka?”
“Besok pagi. Saya berharap kamu bisa mempersiapkan presentasi dan strategi yang akan kita bahas dengan mereka,” kata Pak Budi.
Aria mengangguk. “Tentu, Pak. Saya akan mempersiapkannya.”
***
Keesokan paginya, Aria merasa gugup saat bersiap-siap untuk presentasi. Dia tidak bisa berhenti memikirkan pertemuan dengan Raka yang akan terjadi dalam beberapa jam. Dia berharap bahwa semua akan berjalan lancar dan mereka bisa menyelesaikan proyek ini tanpa ada masalah pribadi yang mengganggu.
Saat Aria tiba di kantor, dia langsung menuju ruang rapat untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dia memeriksa slide presentasi, memastikan semuanya dalam keadaan sempurna.
Tak lama kemudian, Raka dan timnya tiba. Raka tampak lebih serius daripada yang pernah dilihat Aria sebelumnya, tapi dia tetap profesional dan ramah saat mereka berjabat tangan.
“Selamat pagi, Aria,” sapa Raka dengan senyum tipis.
“Selamat pagi, Raka. Senang bertemu lagi,” jawab Aria dengan senyum yang agak dipaksakan.
Mereka duduk dan mulai membahas proyek besar yang akan mereka kerjakan bersama. Aria mempresentasikan rencana dan strategi mereka dengan lancar, dan Raka serta timnya terlihat terkesan.
Namun, di tengah-tengah diskusi, Aria merasa ada ketegangan yang tidak bisa dijelaskan antara dia dan Raka. Meskipun mereka berbicara tentang bisnis, ada perasaan bahwa mereka berdua sedang mencoba untuk menghindari topik pribadi yang menggantung di udara.
Setelah pertemuan berakhir, Pak Budi memuji Aria atas presentasi yang bagus. “Kerja bagus, Aria. Saya yakin kerja sama ini akan berjalan dengan baik.”
Aria tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Pak. Saya akan memastikan semuanya berjalan lancar.”
Saat Aria kembali ke mejanya, Raka menghampirinya. “Aria, bisakah kita bicara sebentar?”
Aria merasa jantungnya berdebar lagi. “Tentu, Raka. Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Raka mengajak Aria ke ruangan yang lebih tenang. “Aria, aku ingin meminta maaf lagi atas semua kebingungan yang terjadi. Aku tahu ini sulit, terutama dengan situasi profesional kita sekarang.”
Aria menatap Raka dengan serius
. “Raka, aku hanya ingin kejelasan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu selalu terlihat canggung dan ada banyak hal yang tidak kamu katakan?”
Raka menghela napas panjang. “Aria, ada banyak tekanan dari keluargaku dan perusahaan. Aku harus memastikan semuanya berjalan dengan baik, dan itu membuatku sulit untuk terbuka sepenuhnya. Tapi aku tidak ingin kamu merasa diabaikan.”
Aria merasa sedikit lega mendengar penjelasan itu. “Aku mengerti, Raka. Tapi aku berharap kita bisa lebih jujur satu sama lain. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita.”
Raka mengangguk. “Aku berjanji akan lebih terbuka, Aria. Terima kasih telah mengerti.”
Mereka berdua berdiri dalam keheningan sejenak, merasa bahwa mereka telah mencapai pemahaman yang lebih baik. Meskipun masih ada banyak hal yang perlu diselesaikan, mereka berdua merasa lebih tenang.
***
Hari-hari berikutnya, Aria dan Raka bekerja sama dengan lebih baik. Mereka berhasil menyelesaikan berbagai tugas dan mencapai kemajuan yang signifikan dalam proyek mereka. Meskipun ada momen-momen canggung, mereka berusaha untuk tetap profesional dan fokus pada pekerjaan.
Namun, meskipun semuanya berjalan dengan baik di permukaan, Aria tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa masih ada sesuatu yang disembunyikan oleh Raka. Dia memutuskan untuk memberi waktu dan ruang bagi Raka untuk membuka diri lebih lanjut, berharap bahwa semua akan menjadi lebih jelas seiring berjalannya waktu.
Di satu sisi, Aria merasa senang dengan kemajuan yang mereka capai dalam proyek. Namun, di sisi lain, dia merasa bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan tantangan. Dia berharap bahwa mereka bisa mengatasi semua rintangan dan menemukan jalan menuju hubungan yang lebih baik dan lebih jujur.
Aria bertekad untuk tetap kuat dan tegar, siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dia tahu bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh dengan liku-liku, tapi dia percaya bahwa dengan keberanian dan ketekunan, mereka bisa mencapai kebahagiaan yang sejati.
Anda Mungkin Juga Suka





