Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Di Atas Dendam

Pernikahan Di Atas Dendam

Alesya tumbuh dewasa dengan ambisi membara untuk membalas kematian ayahnya. Ia mencurigai Barra sebagai pelaku utama, namun minimnya bukti membuat Alesya nekat menikahi Edward, putra dari targetnya tersebut, demi melancarkan aksi balas dendam. Di tengah pernikahan yang didasari kebencian ini, akankah benih cinta tumbuh secara tak terduga? Ataukah nyawa Alesya justru berakhir tragis di tangan Barra sebelum kebenaran terungkap sepenuhnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Aku tidak mau memberi tahu orang asing!" ketus Alesya. Bertepatan dengan kalimatnya, handphone milik Edward berdering, panggilan dari Barra mengudara maka dirinya segera berpamitan, tetapi gadis ini menahannya, memaksanya untuk membantu mengeluarkannya dari sini.

"Maaf, Nona. Aku akan menyelamatkan kamu, tapi tidak sekarang." Grasah-grusuh Edward berlalu. 'Ada apa antara gadis itu dan ayah?' Pria berusia dua puluh tujuh tahun ini kembali ke sisi ayahnya dan para kolega bisnis sang ayah hingga waktunya habis di tempat ini. Satu jam kemudian, kapal menepi. Dirinya mengingat Alesya hanya saja tidak dapat melakukan apapun, sang ayah tidak membiarkannya pergi.

Maka, kini Alesya mendapatkan masalah besar, dirinya tidak dapat terlepas begitu saja dari masalahnya di kapal ini. "Pria menyebalkan itu sama brengseknya dengan si brengsek itu!" Jadi, tidak ada pilihan lain selain menghubungi kakek dan neneknya untuk menyelesaikan masalah.

Tiga jam berlalu, Alesya baru saja menepi di sebuah apartemen. "Jadi setiap hari aku harus mengunjungi perkebunan sekalian bertemu seorang pria yang kakek bilang akan membeli sebagian lahan. Hm ..., kenapa kakek jual sebagian lahan perkebunan, apa kakek bangkrut?" Ini adalah pulau yang kaya akan penghijauan, terdapat banyak sekali sumber daya alam di atas tanah ini, hanya saja hamparan tanah subur ini jarang dijamah oleh pria tua bernama lengkap Wijaya kusuma.

Alesya membersihkan diri di bawah shower yang hangat, tanpa memikirkan apapun lagi karena masalahnya telah ditangani oleh sang kakek termasuk masalah keuangan, seorang utusan yang tinggal tidak jauh dari sini sudah menjadi pelantara sebagai penyalur dana. "Semoga aku tidak bertemu pria menyebalkan itu lagi dan semoga aku berhasil menangkap si pembunuh!”

Alesya tidak mengatakan kecurigaannya pada sang kakek bahwa baru saja dirinya melihat pria yang mirip dengan pembunuh ayahnya karena Wijaya memiliki penyakit jantung, pun neneknya tidak dapat mendengar kabar mengerikan seperti ini karena mungkin akan menimbulkan hal buruk berkepanjangan, sedangkan sang ibu adalah seorang biasa saja, tetapi kali ini wanita itu tidak tinggal bersama keluarga mendiang suaminya karena menjadi objek bersalah atas tiadanya pewaris satu-satunya Wijaya.

Di sisi lain, Barra sedang menitipkan pesan pada sang putra, "Besok kamu harus melakukannya sebaik mungkin. Jangan sampai salah. Dua orang kepercayaan Papa akan mendampingi.”

"Harus ya, Edward yang melakukannya. Kenapa bukan Papa?”

"Karena nantinya perkebunan itu milik kamu, kamu yang harus mengelola semuanya.”

"Tapi Edward tidak betah tinggal di pulau ini.”

"Tidak perlu tinggal, kelola saja, pekerjakan beberapa orang pribumi saja sudah cukup." Tatapan Barra mulai menginterograsi, "apa kamu tidak siap menjadi penerus semua usaha Papa?”

"Bukan begitu, Pa.”

"Lakukan yang terbaik, Nak. Papa memercayakan semuanya padamu." Barra segera berlalu, dirinya tidak dapat tinggal lama di kota ini. Sore ini si pria hebat harus mengunjungi kota lain untuk memeriksa bisnisnya yang berhubungan dengan pertambangan.

Ingin menanyakan perihal tindakan sang ayah pada gadis bernama Alesya, tetapi Edward tidak memiliki waktu untuk itu karena Barra telah berlalu bagaikan angin.

Hari berganti. "Kamu!" Bagaimana bisa Alesya tidak terperanjat saat bertatap muka dengan Edward yang adalah pembeli setengah dari lahan milik sang kakek.

"Ternyata kita bertemu lagi. Ini sangat tidak terduga," kekeh Edward yang juga ingin kaget seperti Alesya, tetapi mana mungkin, dirinya harus menjaga image sebagai seorang pria berwibawa apalagi di hadapan wanita walau yang ada kini hanya wanita kecil, belum cukup matang di matanya.

"Siapa kamu, berani-beraninya datang ke perkebunan!" omelan Alesya alih-alih menyambut si pembeli hingga Edward menggaruk kepala tidak gatal.

"Apa kamu yakin tidak menyukai kehadiran aku?”

"Katakan dulu tujuan kamu!" lantang Alesya yang seolah sedang memperebutkan wilayah kekuasaan hingga Edward tertawa singkat, kemudian memerintahkan salah satu bawahannya untuk menunjukan surat perjanjian jual beli lahan perkebunan ini. Seketika, mulut Alesya menganga lebar.

"Ja-jadi kamu yang akan membeli sebagian perkebunan kakek!”

"Kurang lebih begitu.” Senyuman teduh dan bersahabat Edward.

"Ya Tuhan ..., apakah dunia ini cuma selebar daun pisang. Apa tidak ada manusia yang lebih baik yang siap membelinya!”

"Hei, apa maksud kamu lebih baik, hm?" Lembut Edward saat bersuara selaras dengan tatapannya.

Alesya mengibaskan satu tangannya. "Lupakan, percuma aku jelaskan, paling kamu tidak akan mengerti!”

Edward hanya tersenyum tipis nan hambar saat menanggapi kalimat gadis minim berpikir sebelum berbicara. Maka, proses jual beli segera berlangsung di atas materai serta tanda tangan kedua belah pihak. "Untuk pembayaran sudah ditransfer ke nomor rekening ini, kamu bisa memeriksanya," tunjuk si pria. Bukti transfer itu sangat transfaran dan gamblang.

"Iya, aku tahu!" Wijaya sudah menjelaskan tentang keuangan serta memberitahukan jika pembelinya sudah melakukan pembayaran pukul tujuh pagi, jadi gadis ini hanya tinggal menandantangi saja sekitar pukul sembilan pagi.

Edward hanya tersenyum kecil menyaksikan sikap datar Alesya. "Apa hari ini kamu punya banyak waktu?”

"Kalau punya kenapa dan kalau tidak kenapa?”

"Kalau punya, ayo kita sarapan bersama," ajakan lembut Edward. Awalnya Alesya ingin menolak, tapi perutnya berbunyi maka tidak ada alasan untu menolak. Maka, keduanya makan di restoran tidak jauh dari perkebunan.

"Aku tinggal di apartemen tidak jauh dari sini," ceplos Edward yang tidak merasa formal sama sekali saat menatap Alesya yang berwajah baby face seolah anak sekolah.

"Aku juga tinggal tidak jauh dari perkebunan.”

"Baguslah, jadi kita bisa sering bertemu. Lagipula perkebunan kita bersebelahan." Senyuman teduh Edward di sela-sela menyuap.

"Aku tidak mau sering datang ke perkebunan, panas. Kulitku akan terbakar dan rambutku akan lepek. Biarkan saja para pekerja yang melakukannya!" pengakuan polos Alesya hingga membuat Edward menggelengkan kepalanya bersama tawa kegelian.

"Bisa-bisanya kamu dipercaya memegang perkebunan!" celetuk Edward karena Alesya seperti bocah di matanya.

"Apa maksud kamu bicara seperti itu. Memangnya aku kenapa? Aku juga mampu kok mengelola perkebunan seperti itu. Huft!" kesal Alesya yang tidak benar-benar merasa sanggup menggeluti bidang pekerjaan pertamanya ini. Lagipula kuliahnya belum selesai, tetapi sang kakek memaksanya belajar terjun ke dunia bisnis.

"Iya, kamu mampu." Senyuman kecil Erdward yang tidak merasa yakin pada kemampuan Alesya. Tidak sampai tiga puluh menit, sarapan keduanya berakhir. "Aku tidak punya teman di sini, kamu mau jadi temanku?”

"Tidak!" tolak mentah-mentah Alesya seiring meninggalkan duduknya, "aku punya banyak urusan. Sudah ya!" Gadis ini berpamitan dengan sikap dingin karena dirinya harus kembali mencari si pembunuh.

"Tunggu!" cegah Edward, "biar aku antar kamu. Tadi aku yang membawa kamu kesini, sekarang izinkan aku mengantar kamu.”

Alesya memutar bola mata malas, tetapi menerima tawaran Edward karena di luar sana tidak ada taxi nongkrong satu pun, dirinya tidak ingin menunggu. Namun, saat gadis ini duduk di sisi jok pengemudi, Edward memasang sebuah foto.

"Sorry, aku kira fotonya kemana, ternyata jatuh di bawah jokku." Senyuman teduh Edward, tetapi ekspresi Alesya tidak seteduh itu karena di dalam gambar terdapat Edward dan pria yang diduga membunuh ayahnya hingga kedua mata si gadis membelalak lebar.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berakhir Menjadi Tawanan
9.5
Hidup di ibu kota memaksa Liana bekerja keras demi menghidupi adik-adiknya. Dari berpindah kontrakan hingga menjadi pacar kontrak, semua ia lakoni demi uang. Namun, rencana hidupnya berantakan saat bertemu Arsen, pemilik kos barunya. Pria misterius ini tidak hanya mengusik ketenangan Liana, tetapi juga menyeretnya ke dalam situasi pelik yang tak terbayangkan. Kini, kehadiran Arsen menjadi badai besar yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan masa depan Liana.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Istri Pengganti
9.5
Liburan semester yang seharusnya tenang berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang gadis muda. Ia dipaksa oleh orang tuanya, Sabda Ahmad dan istri, untuk menjadi pengantin pengganti bagi kakaknya, Asma, yang kabur secara misterius menjelang hari pernikahan. Meski penuh keraguan, ia terpaksa menikahi Adam Kusuma Wardana, cucu tunggal Juragan Zein. Mampukah pernikahan yang didasari keterpaksaan ini bertahan di tengah tanda tanya besar tentang alasan kepergian sang kakak?
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan milyarder ini memuncak setelah menikahi akhwat impiannya. Namun, baru seminggu membina rumah tangga, sang istri mulai kewalahan menghadapi gairah suaminya yang tak terbendung. Sang suami terus meminta jatah di berbagai situasi, mulai dari ruang tamu hingga saat istrinya memasak di dapur. Meski sempat menolak karena sedang sibuk, sang istri akhirnya menyerah pada desakan suaminya. Keperkasaan sang suami yang luar biasa membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Jerat Cinta Tunangan Kejam
8.7
Nayla tetap bertahan meski Elvan bersikap kasar dan lebih mementingkan Emma, sahabat perempuannya. Ketulusan hati Nayla diuji saat Emma secara mengejutkan menyatakan cinta kepada Elvan. Situasi ini memicu kecemasan mendalam bagi Nayla hingga ia mulai meragukan masa depan hubungan mereka. Kini, Nayla dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan cintanya atau mengakhiri pertunangan demi ketenangan jiwanya sendiri.
Sampul Novel MENGGODA DOSEN GALAK
8.1
Bagi Darris, mencintai Netanya adalah dosa yang ingin ia ulangi terus-menerus. Enam tahun berpisah demi pendidikan tak mampu menghapus pesona wanita yang ia anggap sebagai hadiah Tuhan tersebut. Kini, takdir memberikan kejutan besar saat Neta kembali muncul sebagai dosen pembimbingnya di kampus. Meski panggilannya sering membuat Neta kesal, Darris tetap bertekad meluluhkan hati sang dosen galak agar hubungan mereka bisa berakhir di pelaminan.
Sampul Novel Penyesalan Raja Mafia
8.5
Kehidupan Luna Hayes berubah drastis setelah menolong Liam Moretti, pewaris takhta mafia paling ditakuti di Ravenwood. Meski dikenal sebagai sosok kejam tanpa ampun, Liam justru memperlakukan Luna dengan kelembutan yang tak terduga. Di balik kemewahan itu, Luna hanyalah pendamping rahasia demi memuaskan hasrat sang raja mafia. Namun, dinamika hubungan mereka bergeser saat Liam memutuskan bahwa Luna harus mengandung dan melahirkan darah dagingnya.