Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Bukan Pilihanku

Pernikahan Bukan Pilihanku

Mahardika Satria Wibowo terdesak tekanan sang ayah untuk mencari pewaris baru setelah putri tunggalnya wafat. Di sisi lain, Kirana Ayunda Putri yang baru berusia 19 tahun dipaksa menikah demi membiayai pengobatan ibunya yang terancam dihentikan oleh pamannya. Meski mencintai Bima Senjaya, Kirana terjebak dalam rumah tangga dingin. Ia harus menghadapi kebencian istri pertama Mahardika tanpa perlindungan sang suami. Sanggupkah Kirana bertahan di tengah penderitaan ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Minggu-minggu berubah menjadi bulan, dan kehidupan Kirana di kediaman Wibowo terasa bagai pusaran air yang menariknya makin dalam. Rutinitasnya monoton: bangun pagi, sarapan dalam keheningan yang menyesakkan, sesekali diminta Rengganis melakukan ini itu-seringkali tugas yang seolah sengaja diciptakan untuk merendahkannya-lalu kembali mengurung diri di kamar. Satu-satunya cahaya di hari-harinya adalah waktu yang ia habiskan bersama Anindya, cucu Mahardika yang kini genap berusia tiga tahun. Anindya adalah sosok yang polos, ceria, dan tanpa prasangka. Tawa riangnya, pelukan hangatnya, dan ocehan khas anak-anak adalah oasis bagi jiwa Kirana yang kering.

Setiap kali Anindya berlari menghampirinya dengan tangan terentang, memanggil "Tante Kirana! Main lagi!", hati Kirana menghangat. Ia akan duduk di lantai, membangun menara balok bersama Anindya, atau membacakan buku cerita bergambar. Di momen-momen itu, Kirana bisa melupakan sejenak statusnya sebagai istri kedua yang tak diinginkan, melupakan tatapan tajam Rengganis, dan kedinginan Mahardika. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, seorang gadis muda yang merindukan kebahagiaan sederhana.

Namun, momen-momen kebahagiaan itu selalu berumur pendek. Rengganis memiliki mata di mana-mana. Ia tidak suka melihat Kirana terlalu dekat dengan Anindya. "Jangan terlalu memanjakan cucuku!" seringkali Rengganis menegur dengan nada tinggi. "Dia bukan anakmu! Jangan buat dia bingung!" Kirana hanya bisa menunduk, menahan perih. Ia tahu, Rengganis tidak ingin Kirana mengambil alih peran seorang ibu atau bahkan bibi bagi Anindya, seolah Kirana adalah ancaman bagi kedudukannya.

Hubungan Kirana dengan Mahardika sendiri tetap dingin dan berjarak. Mereka tinggal di bawah satu atap, berbagi status suami istri, namun hidup seolah di dimensi yang berbeda. Mahardika sibuk dengan pekerjaannya, seringkali pulang larut atau pergi ke luar kota. Ketika ia di rumah, ia lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerjanya atau bersama Raden Mas Surya, sang ayah, untuk membicarakan bisnis keluarga. Percakapan mereka nyaris tidak ada, hanya sebatas sapaan formal atau pertanyaan seperlunya. Kirana sering menangkap sorot mata Mahardika yang penuh penyesalan atau bahkan kesepian, namun pria itu terlalu tertutup untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak pernah membela Kirana saat Rengganis memperlakukannya semena-mena. Ini yang paling melukai Kirana. Bukan hanya perlakuan Rengganis, tapi juga ketiadaan pembelaan dari Mahardika yang seharusnya menjadi pelindungnya. Ia merasa tak terlihat, tak berharga.

Pernah suatu pagi, Kirana hendak mengambil minuman di dapur, dan secara tak sengaja menjatuhkan sebuah piring keramik antik yang dipajang di dinding. Piring itu pecah menjadi beberapa bagian. Suara pecahan itu menggelegar di dapur yang hening. Seketika, Rengganis muncul, matanya membelalak marah.

"Apa yang kau lakukan lagi, Kirana?!" teriak Rengganis, suaranya memenuhi ruangan. "Kau sengaja merusak barang-barang berharga di rumah ini, kan?! Dasar perempuan tak tahu diri!"

Kirana panik. "Maaf, Nyonya! Saya tidak sengaja! Tangan saya licin."

Rengganis tidak peduli. Ia menghampiri Kirana, tangannya terangkat hendak menampar. Namun, sebelum tangannya mendarat di pipi Kirana, sebuah tangan lain menahan pergelangannya. Mahardika berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya tegang.

"Cukup, Rengganis!" suara Mahardika sedikit lebih keras dari biasanya. "Jangan sampai bertindak sejauh itu."

Rengganis menarik tangannya dengan kasar. "Kau membelanya, Mas? Dia merusak barang lagi! Dia tidak pantas berada di rumah ini!"

Mahardika menatap Kirana, lalu beralih menatap Rengganis. Ia menghela napas panjang. "Ini hanya piring, Gannis. Tidak perlu dibesar-besarkan. Biar nanti diganti."

Bukan pembelaan yang tulus. Kirana tahu itu. Mahardika hanya ingin meredakan ketegangan, bukan benar-benar membelanya. Namun, setidaknya, kali ini ia menghentikan Rengganis. Kirana menunduk, mengucapkan terima kasih dalam hati pada Mahardika, meskipun ia tahu ia takkan mengatakannya.

Peristiwa itu membuat Rengganis semakin membenci Kirana. Ia mulai sengaja mencari-cari kesalahan Kirana, memberikan tugas-tugas remeh, atau bahkan mengurung Kirana di kamar dengan alasan tidak jelas. Hidup Kirana terasa seperti penjara, mewah tapi tanpa kebebasan.

Satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah tekadnya untuk memastikan ibu Saraswati mendapatkan pengobatan terbaik. Setiap kali ia merasa putus asa, ia teringat wajah ibunya yang lemah, dan ancaman Prawira. Ia tahu, pengorbanannya ini tidak sia-sia. Dari waktu ke waktu, Prawira akan menghubunginya, mengabarkan kondisi ibunya, dan selalu menekankan bahwa biaya pengobatan terus mengalir berkat pernikahan Kirana. Ironisnya, Prawira tak pernah sekalipun datang menjenguk ibunya. Hanya Kirana yang tahu betapa kesepian dan menderitanya sang ibu, meskipun berada di rumah sakit yang bagus.

Bima, kekasihnya, sudah tidak bisa lagi ia temui. Setelah pernikahan itu, ia tahu hubungan mereka harus berakhir. Namun, terkadang ia nekat meneleponnya dari telepon rumah secara sembunyi-sembunyi, hanya untuk mendengar suaranya sebentar. Obrolan mereka selalu singkat, dipenuhi keheningan canggung, dan diakhiri dengan Kirana yang harus buru-buru menutup telepon karena takut ketahuan. Bima selalu bertanya, "Kamu baik-baik saja, Kirana? Apa yang mereka lakukan padamu?" Kirana selalu menjawab, "Aku baik-baik saja, Bim. Jangan khawatirkan aku." Sebuah kebohongan yang menyakitkan.

Suatu siang, saat Kirana sedang membantu di dapur, salah satu koki senior, seorang wanita paruh baya bernama Bi Jum, menatapnya dengan iba. Bi Jum adalah salah satu dari sedikit orang di rumah itu yang bersikap baik padanya.

"Non Kirana kenapa melamun terus?" tanya Bi Jum lembut. "Apa ada yang mengganggu pikiran Non?"

Kirana tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Bi. Hanya sedikit lelah."

Bi Jum menghela napas. "Saya tahu, Non. Saya sering melihat bagaimana Nyonya Rengganis memperlakukan Non. Saya juga melihat Tuan Mahardika... dia sepertinya juga tidak bisa berbuat banyak."

Kirana terkejut Bi Jum tahu. Ia merasa sedikit lega ada orang yang menyadarinya. "Tidak apa-apa, Bi. Saya sudah terbiasa."

"Non harus kuat," kata Bi Jum, menepuk pundak Kirana. "Saya tahu Non menikah kemari bukan karena keinginan sendiri. Tapi ingat, di setiap kesulitan pasti ada hikmahnya. Dan ada Anindya. Cucu Nyonya Rengganis dan Tuan Mahardika itu sangat sayang pada Non. Itu artinya, ada kebaikan dalam diri Non."

Kata-kata Bi Jum sedikit menguatkan Kirana. Ia mengangguk, berterima kasih pada wanita tua itu.

Beberapa bulan kemudian, Kirana mulai merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya. Ia sering mual di pagi hari, mudah lelah, dan nafsu makannya berubah. Awalnya ia mengira hanya masuk angin atau kelelahan biasa, mengingat tekanan yang ia rasakan. Namun, setelah beberapa minggu, ia mulai menyadari kemungkinan lain yang mengguncang jiwanya.

Jantungnya berdebar kencang saat ia memberanikan diri menggunakan alat tes kehamilan yang ia pinjam dari salah satu pelayan. Dua garis merah muncul, jelas dan tak terbantahkan.

Hamil.

Kata itu terngiang-ngiang di benaknya, membawa gelombang emosi yang campur aduk: takut, cemas, bingung, namun juga secercah kebahagiaan yang tak terduga. Ia akan memiliki bayi. Bayi Mahardika. Bayi yang diharapkan oleh keluarga Wibowo.

Berita ini, ia tahu, akan mengubah segalanya. Ia akan memiliki pewaris yang sangat ditunggu-tunggu. Namun, apakah ini akan membawa kebahagiaan atau justru lebih banyak penderitaan?

Dengan gemetar, Kirana memutuskan untuk memberitahu Mahardika terlebih dahulu. Ia menunggu Mahardika pulang dari kantor, jantungnya berdebar tak karuan. Ketika Mahardika masuk ke kamar malam itu, Kirana berdiri di hadapannya, memegang alat tes kehamilan itu erat-erat.

"Mahardika," panggil Kirana, suaranya nyaris berbisik.

Mahardika menoleh, menatapnya dengan sedikit keheranan. "Ada apa, Kirana?"

Kirana mengangkat alat tes itu, tangannya sedikit gemetar. "Aku... aku hamil."

Mahardika terdiam. Matanya membelalak, ekspresinya berubah dari lelah menjadi terkejut, lalu perlahan, secercah harapan dan kelegaan melintas di sana. Ia melangkah mendekat, mengambil alat tes itu dari tangan Kirana, dan menatapnya lekat-lekat.

"Kau yakin?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

Kirana mengangguk, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku sudah memeriksakannya. Ini positif."

Mahardika tidak segera berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menatap Kirana, seolah mencoba mencerna berita itu. Akhirnya, sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum yang belum pernah Kirana lihat selama ini.

"Ini... ini kabar baik, Kirana," katanya pelan. "Ayah pasti akan sangat senang."

Bukan ucapan selamat, bukan pelukan, tapi Kirana tidak mengharapkannya. Ia tahu, bagi Mahardika, ini adalah pembebasan dari tekanan ayahnya.

"Aku akan memberitahu ayah besok pagi. Dan Rengganis," tambah Mahardika.

Nama Rengganis membuat Kirana kembali cemas. "Bagaimana dengan Nyonya Rengganis?"

Mahardika menghela napas. "Dia pasti akan terkejut. Tapi dia harus menerimanya. Ini adalah yang terbaik untuk keluarga Wibowo."

Malam itu, Mahardika tidak tidur di sofa. Ia tetap di ranjang, namun tetap menjaga jarak dari Kirana. Ia memang tidak menyentuhnya, namun kehadirannya terasa sedikit berbeda. Ada suasana yang sedikit lebih tenang, lebih "lengkap" di ruangan itu. Kirana tahu, kehadirannya di rumah itu kini memiliki tujuan yang jelas: melahirkan seorang pewaris.

Keesokan paginya, berita kehamilan Kirana menyebar cepat di kediaman Wibowo. Reaksi Raden Mas Surya adalah yang paling kentara. Pria tua itu, yang biasanya terlihat kaku dan dingin, tersenyum lebar. Ia memeluk Mahardika, mengucapkan selamat berulang kali. "Akhirnya! Akhirnya garis keturunan Wibowo akan berlanjut! Kau telah memenuhi tugasmu, Mahardika!"

Namun, reaksi Rengganis jauh berbeda. Ia marah besar. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar. Ketika Mahardika memberitahunya, Rengganis melemparkan vas bunga yang ada di mejanya.

"Tidak mungkin!" teriak Rengganis. "Kau pasti bohong! Kau melakukan ini untuk menyakitiku, kan, Mas?! Kau membiarkan pelayan itu mengandung anakmu!"

"Rengganis, tenanglah!" bentak Mahardika, berusaha menenangkan istrinya. "Ini adalah kenyataan. Kirana sedang mengandung anakku, calon pewaris keluarga Wibowo. Kau harus menerimanya."

Rengganis menangis histeris. Ia menatap Kirana dengan pandangan penuh kebencian. "Kau! Kau mengambil kebahagiaanku! Kau mengambil suamiku! Aku tidak akan memaafkanmu!"

Kirana hanya bisa diam, menunduk, menahan semua makian dan tuduhan itu. Ia merasa seperti duri dalam daging bagi Rengganis. Kebencian Rengganis kini berlipat ganda, dan itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

Raden Mas Surya, melihat keributan itu, melangkah maju. "Rengganis, cukup! Hormati Kirana. Dia sedang mengandung cucuku. Kau harus bersikap dewasa. Ingat, kelangsungan nama Wibowo adalah yang utama!"

Kata-kata Raden Mas Surya memang menghentikan amukan Rengganis, namun tidak meredakan kebencian di matanya. Sejak saat itu, Rengganis memperlakukan Kirana semakin buruk. Ia tidak lagi hanya memberikan tugas-tugas remeh, tapi juga sengaja mempermalukan Kirana di depan para pelayan, menyinggung latar belakang Kirana yang miskin, dan bahkan meremehkan kehamilannya.

"Kau pikir dengan hamil kau akan menjadi nyonya di sini?" Rengganis seringkali berbisik sinis di telinga Kirana saat tak ada orang lain. "Kau hanya rahim berjalan. Setelah anak itu lahir, kau tidak ada gunanya lagi!"

Kirana seringkali menangis di kamar sendirian, memeluk perutnya yang perlahan membesar. Ia berbicara pada bayinya, "Sayang, maafkan Ibu. Maafkan Ibu harus melewati ini. Tapi Ibu akan melindungimu. Ibu akan kuat demi kamu."

Dokter kandungan pribadi keluarga Wibowo datang secara teratur untuk memeriksa Kirana. Ia adalah wanita paruh baya yang ramah, Dr. Karina. Setiap kali Dr. Karina datang, ia akan memberikan nasihat-nasihat lembut dan menenangkan. Kirana merasa sedikit nyaman bersamanya, karena Dr. Karina adalah satu-satunya orang di rumah itu yang memperlakukannya seperti manusia biasa, bukan hanya sebagai wadah pewaris.

"Bagaimana perasaanmu, Kirana?" Dr. Karina bertanya suatu hari, memeriksa tekanan darah Kirana.

"Baik, Dokter," jawab Kirana, meski ia tahu itu bohong.

Dr. Karina tersenyum maklum. "Aku tahu ini tidak mudah. Tapi ingat, kesehatanmu dan bayimu adalah yang utama. Jangan terlalu banyak pikiran. Abaikan saja hal-hal yang membuatmu stres."

Nasihat itu memang mudah diucapkan, namun sulit dilakukan. Bagaimana Kirana bisa mengabaikan tatapan membunuh dari Rengganis, atau sikap acuh tak acuh Mahardika?

Mahardika sendiri, sejak Kirana hamil, menunjukkan sedikit perubahan. Ia tidak lagi sepenuhnya menghindari Kirana. Terkadang, ia akan menanyakan bagaimana kondisi Kirana atau apakah ia membutuhkan sesuatu. Namun, ini lebih kepada tanggung jawab terhadap calon anaknya, bukan karena perhatian terhadap Kirana sebagai istrinya. Ia masih tidak membela Kirana secara terang-terangan di hadapan Rengganis, tapi ia akan menegur Rengganis jika perbuatannya sudah keterlaluan, terutama jika Raden Mas Surya ada di dekatnya.

Suatu malam, Kirana terbangun karena mual yang luar biasa. Ia bergegas ke kamar mandi, muntah-muntah hebat. Mahardika yang tidur di ranjang terbangun mendengar suara itu. Ia segera menyusul Kirana, membantunya memegangi rambut dan memberikan segelas air.

"Kau baik-baik saja?" tanya Mahardika, nada suaranya sedikit cemas.

Kirana mengangguk lemah. "Mual sekali."

Mahardika menghela napas. Ia mengusap punggung Kirana perlahan. Sentuhan itu, meskipun sederhana, terasa begitu asing dan mendebarkan bagi Kirana. Ini adalah sentuhan pertama Mahardika yang terasa "peduli" dalam waktu yang lama.

"Kau harus istirahat lebih banyak," kata Mahardika. "Jika ada apa-apa, panggil saja pelayan."

Ia membantu Kirana kembali ke ranjang, dan kali ini, ia tidak langsung memunggungi Kirana. Ia berbaring miring, menatap Kirana dalam diam. Kirana merasa sedikit nyaman dengan kehadiran Mahardika di dekatnya, meski ia tahu, ini semua demi bayi mereka.

Kehamilan Kirana adalah topik utama di keluarga Wibowo. Raden Mas Surya sudah mulai mempersiapkan nama-nama untuk cucu laki-lakinya, meski belum diketahui jenis kelaminnya. Kirana tahu, tekanan untuk melahirkan anak laki-laki sangat besar. Jika ia melahirkan anak perempuan lagi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ketakutan itu terus menghantuinya.

Dalam hati, Kirana terus berbicara pada bayinya. "Anakku, entah kau laki-laki atau perempuan, Ibu akan selalu mencintaimu. Ibu hanya berharap kau bisa lahir dengan selamat, dan membawa sedikit kebahagiaan bagi kita."

Kirana mulai merasa bahwa hidupnya di rumah ini, meskipun penuh penderitaan, telah menemukan tujuan baru. Tujuan itu adalah bayi yang tumbuh di dalam rahimnya. Bayi ini adalah harapannya, alasannya untuk terus berjuang. Ia tahu, ia harus melindungi bayinya dari semua kebencian dan tekanan di sekitarnya.

Perutnya mulai membuncit, dan gerakan-gerakan kecil di dalam perutnya menjadi hiburan tersendiri bagi Kirana. Ia seringkali duduk di tepi jendela, mengusap perutnya, dan berbicara pada bayinya. Ia membayangkan bagaimana wajah bayinya nanti, apakah akan mirip dengannya, atau mirip Mahardika.

Meskipun kehamilan seharusnya membawa kebahagiaan, bagi Kirana, itu juga berarti ia semakin terikat pada kehidupan yang tidak ia inginkan. Ia tahu, setelah bayi ini lahir, posisinya di rumah itu akan semakin jelas: ibu dari pewaris, bukan istri yang dicintai. Dan ia masih harus menghadapi Rengganis, yang semakin hari semakin menunjukkan kebenciannya. Ia juga tidak bisa melupakan Bima, cinta sejatinya, yang kini terasa begitu jauh. Kenangan akan Bima adalah satu-satunya pelipur lara, sekaligus penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Di tengah semua itu, Kirana tahu ia harus tetap kuat. Ia harus menghadapi takdir ini, demi ibu dan bayinya. Ia hanya berharap, ada secercah harapan bahwa kelak, ia bisa menemukan sedikit kedamaian dan kebahagiaan. Apakah kelahiran sang bayi akan membawa kebaikan atau justru memperkeruh keadaan? Kirana hanya bisa pasrah, dan berdoa. Perjalanan masih panjang, dan ia harus terus berjalan, melangkah di atas beling-beling penderitaan yang tak kunjung usai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali
8.9
Selena dianggap parasit oleh suaminya, Kenneth. Setelah lelah disakiti, ia menuntut cerai dan pembagian harta. Kenneth setuju karena ingin bebas, namun Selena justru bangkit menjadi pengusaha sukses yang dikelilingi pria. Terkejut melihat transformasi mantan istrinya yang mandiri, Kenneth mulai mengejarnya kembali. Saat Selena meluapkan kemarahannya, Kenneth justru mengakui kegilaannya dan memohon untuk rujuk demi menyatukan kekayaan serta masa depan mereka.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Gairah Liar Sang CEO
9.7
Rafael Aditya Syahreza, CEO yang kerap bergonta-ganti pasangan, menjerat Vanessa setelah sebuah ketidaksengajaan di ranjang. Ternyata, Vanessa adalah kekasih Adrian, adik kandungnya sendiri. Rafael memanfaatkan situasi ini demi kepuasan nafsu sekaligus menuntaskan dendam masa lalu. Akankah ia berhasil merebut Vanessa dari adiknya? Bagaimana nasib Vanessa saat menyadari dirinya hanya alat balas dendam, dan mampukah ia menerima kenyataan pahit tersebut?
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua Leon Castello demi melunasi utang keluarganya. Meski dicap sebagai perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak dalam perjanjian lama yang diatur sang taipan. Di balik status rahasia itu, Raine harus menghadapi kebencian istri pertama serta cercaan publik. Konflik batin kian memuncak saat ia mulai mencintai Leon. Di tengah intrik dan rahasia besar, Raine berjuang memahami siapa yang benar-benar bersalah dalam pernikahan ini.