Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Bukan Pilihanku

Pernikahan Bukan Pilihanku

Mahardika Satria Wibowo terdesak tekanan sang ayah untuk mencari pewaris baru setelah putri tunggalnya wafat. Di sisi lain, Kirana Ayunda Putri yang baru berusia 19 tahun dipaksa menikah demi membiayai pengobatan ibunya yang terancam dihentikan oleh pamannya. Meski mencintai Bima Senjaya, Kirana terjebak dalam rumah tangga dingin. Ia harus menghadapi kebencian istri pertama Mahardika tanpa perlindungan sang suami. Sanggupkah Kirana bertahan di tengah penderitaan ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bulan-bulan berlalu, dan perut Kirana semakin membesar. Kehamilannya membawa perubahan yang signifikan dalam dinamika kediaman Wibowo. Tekanan dari Raden Mas Surya kepada Mahardika sedikit mereda, digantikan oleh antisipasi akan kelahiran cucu baru. Namun, di sisi lain, kebencian Rengganis terhadap Kirana kian membara.

Rengganis, yang selama ini merasa terancam, kini melihat kehamilan Kirana sebagai invasi langsung terhadap posisinya. Ia seringkali melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. "Kau pikir kehamilan itu akan mengubah apa pun? Kau tetaplah orang luar. Dan ingat, anak itu akan tumbuh sebagai pewaris Wibowo, bukan anakmu seutuhnya," ejek Rengganis suatu sore saat Kirana sedang memijat kakinya yang bengkak.

Kirana hanya bisa menunduk, menahan perih. Ia tahu, Rengganis ingin menghancurkan mentalnya. Namun, setiap kali ia mendengar kalimat-kalimat pedas itu, ia akan mengusap perutnya dan berbicara pada bayinya dalam hati. "Tidak, sayang. Kamu adalah anak Ibu. Dan Ibu akan selalu melindungimu."

Mahardika sendiri menunjukkan perhatian yang lebih. Ia mulai menanyakan kondisi Kirana secara lebih rutin, memastikan Kirana makan dengan baik, dan terkadang ia akan menyentuh perut Kirana saat Kirana sedang tidur, seolah ingin merasakan kehadiran calon anaknya. Sentuhan itu seringkali membuat Kirana terkejut, namun ia tidak pernah menolaknya. Ia tahu, di balik sikap dingin Mahardika, ada secercah harapan yang sama besar dengannya untuk kehadiran bayi ini.

Suatu malam, Kirana terbangun karena perutnya terasa kram. Ia merintih pelan. Mahardika yang sedang membaca buku di sisi ranjangnya segera menoleh.

"Ada apa, Kirana? Sakit?" tanya Mahardika, bangkit dari tempat tidur.

Kirana mengangguk, menahan nyeri. "Sedikit kram."

Mahardika segera memanggil dokter. Dalam waktu singkat, Dr. Karina sudah tiba di kediaman Wibowo. Setelah memeriksa Kirana, Dr. Karina menenangkan mereka.

"Tidak apa-apa, ini hanya kontraksi Braxton Hicks, umum terjadi di trimester ketiga. Tapi sebaiknya Kirana lebih banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran," jelas Dr. Karina. Ia melirik Rengganis yang berdiri di ambang pintu, tatapannya menyiratkan pengertian.

Setelah Dr. Karina pergi, Mahardika menatap Rengganis. "Rengganis, tolong jangan terlalu menekan Kirana. Ini demi calon anak kita. Kondisi mentalnya juga berpengaruh pada bayi."

Rengganis mendengus. "Aku tidak melakukan apa-apa! Dia saja yang terlalu lemah!"

Meski Rengganis membantah, Mahardika tahu ada benarnya perkataan Dr. Karina. Sejak saat itu, Mahardika sesekali akan menegur Rengganis jika ia melihat perlakuan Rengganis terlalu keterlaluan pada Kirana, terutama di depan umum atau jika Raden Mas Surya ada di dekatnya. Ia masih belum bisa membela Kirana secara penuh, namun setidaknya, Kirana merasa ada sedikit perlindungan yang ia dapatkan.

Seiring waktu, Anindya, yang semakin besar, menunjukkan kasih sayang yang luar biasa pada Kirana. Ia seringkali memeluk kaki Kirana, meminta Kirana membacakan cerita, atau bahkan hanya ingin duduk di samping Kirana saat Kirana mengusap perutnya.

"Tante Kirana, ada bayi di perut Tante?" tanya Anindya dengan mata berbinar suatu sore.

Kirana tersenyum, mengangguk. "Iya, sayang. Sebentar lagi bayinya lahir."

"Bayinya adik aku?" tanya Anindya polos.

Hati Kirana teriris mendengar pertanyaan itu. Ia tidak bisa menjawab. Anindya adalah cucu dari Mahardika dan Rengganis, dan bayi yang dikandungnya juga akan menjadi cucu bagi mereka. Status Anindya adalah anak dari Paramita, putri Mahardika dan Rengganis. Hubungan antara Anindya dan bayi yang dikandung Kirana akan menjadi saudara tiri, namun dalam konteks keluarga Wibowo, bayi Kirana akan dipersiapkan sebagai pewaris utama, sementara Anindya tetaplah cucu kesayangan. Ini adalah kompleksitas yang tak bisa dijelaskan kepada anak sekecil Anindya.

Namun, kedekatan Anindya dengan Kirana juga membuat Rengganis semakin cemburu. Ia seringkali memisahkan Anindya dari Kirana, atau melarang Kirana bermain dengan Anindya. "Jangan terlalu dekat dengan Kirana! Dia bukan bagian dari keluarga kita yang sesungguhnya!" bisik Rengganis pada Anindya, tanpa menyadari dampak kata-kata itu pada anak sekecil itu.

Kirana hanya bisa menghela napas. Ia tahu, Rengganis tidak akan pernah menerimanya.

Memasuki bulan kesembilan, persiapan menyambut kelahiran bayi semakin intensif. Kamar bayi mewah telah disiapkan, pernak-pernik bayi dari merek-merek ternama telah memenuhi ruangan. Raden Mas Surya tampak sangat bersemangat, ia bahkan sudah memesan berbagai barang antik untuk diberikan sebagai hadiah kepada cucu laki-lakinya. Tekanan untuk melahirkan anak laki-laki terasa semakin memuncak.

Kirana sendiri merasa campur aduk. Ia takut, namun juga sangat menantikan kehadiran bayinya. Ia seringkali memimpikan Bima, kekasihnya. Dalam mimpinya, Bima akan memeluknya erat, menemaninya melalui proses persalinan, dan menyambut bayi mereka dengan senyum bahagia. Namun, ia tahu itu hanya mimpi. Realitanya, ia akan melalui ini bersama Mahardika, pria yang ia nikahi tanpa cinta, demi kelangsungan hidup ibunya.

Suatu malam, Kirana merasakan kontraksi yang lebih kuat dan teratur. Ia mencoba menahan, berharap itu hanya kontraksi palsu seperti sebelumnya. Namun, rasa sakitnya semakin intens. Ia membangunkan Mahardika dengan gemetar.

"Mahardika... sakit sekali," bisik Kirana, napasnya tersengal.

Mahardika langsung terbangun, melihat wajah Kirana yang pucat pasi. Ia segera menghubungi Dr. Karina dan mempersiapkan keberangkatan ke rumah sakit. Selama perjalanan, Mahardika menggenggam tangan Kirana. Genggaman itu terasa hangat, memberikan sedikit kekuatan pada Kirana. Kirana melihat ada kekhawatiran di mata Mahardika, bukan hanya khawatir pada calon pewarisnya, tapi juga pada Kirana sendiri.

Di rumah sakit, proses persalinan berjalan panjang dan melelahkan. Kirana mengerahkan seluruh tenaganya. Mahardika setia mendampingi di sampingnya, memegang tangannya, sesekali menyeka keringat di dahinya. Ia bahkan membisikkan kata-kata penyemangat, sesuatu yang tidak pernah Kirana duga akan ia dengar dari pria itu.

"Ayolah, Kirana. Kau bisa. Sedikit lagi," bisik Mahardika, suaranya sedikit tegang.

Kehadiran Mahardika, meskipun tidak dilandasi cinta, memberikan kekuatan tersendiri bagi Kirana. Ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Setelah perjuangan panjang, sebuah tangisan bayi memecah keheningan ruang bersalin. Suara itu adalah suara paling indah yang pernah didengar Kirana. Air mata kebahagiaan dan kelegaan membanjiri wajahnya.

"Laki-laki, Tuan Mahardika! Selamat!" seru Dr. Karina dengan wajah gembira.

Mahardika terkesiap. Wajahnya langsung memancarkan kelegaan yang luar biasa. Ia menatap Kirana, senyum tipis, namun tulus, tersungging di bibirnya. "Kita berhasil, Kirana. Laki-laki."

Bayi mungil itu segera dibersihkan dan diletakkan di dada Kirana. Kirana memeluknya erat, merasakan kehangatan tubuh mungil itu, mencium aroma khas bayi yang baru lahir. Ini adalah buah hatinya, putra yang akan menjadi pewaris keluarga Wibowo. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan melindunginya dengan segenap jiwa.

Tak lama kemudian, Raden Mas Surya dan Rengganis tiba di rumah sakit. Raden Mas Surya langsung menghambur ke arah cucu laki-lakinya, matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.

"Pewaris! Akhirnya pewaris laki-laki!" seru Raden Mas Surya, menggendong cucunya dengan bangga. "Siapa namanya, Mahardika?"

Mahardika menatap Kirana. "Aku belum memikirkannya, Ayah."

Kirana menatap bayinya. Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya, nama yang ia impikan sejak lama. "Saya... saya ingin memberinya nama Arjuna," bisik Kirana, suaranya lemah.

Raden Mas Surya mengernyit. "Arjuna? Mengapa Arjuna?"

"Nama itu... indah," jawab Kirana, menatap mata Mahardika. "Dan saya ingin dia menjadi seperti Arjuna, ksatria yang kuat."

Mahardika menatap Kirana, lalu mengangguk pelan. "Arjuna. Ya, nama yang bagus."

Rengganis hanya berdiri di sudut ruangan, wajahnya masam. Ia melihat bagaimana Mahardika menatap Kirana, dan bagaimana Raden Mas Surya terlihat sangat bahagia dengan bayi itu. Rasa iri dan benci merayapi hatinya. Ia memang mengharapkan pewaris laki-laki, tapi tidak dari rahim Kirana.

Kelahiran Arjuna Narendra Wibowo membawa perubahan besar. Rumah besar Wibowo yang dulu terasa sepi kini dipenuhi tangisan bayi dan gelak tawa Anindya yang senang memiliki 'adik' baru. Raden Mas Surya sangat bangga pada Arjuna, seringkali menggendongnya dan memperkenalkannya kepada tamu-tamu penting.

Posisi Kirana di rumah itu menjadi lebih kuat. Ia bukan lagi sekadar istri kedua yang tak diinginkan, melainkan ibu dari pewaris utama. Meskipun Rengganis masih sering melontarkan komentar sinis atau mencoba mencari kesalahan, ia tidak lagi bisa bertindak semena-mena. Raden Mas Surya secara terang-terangan mengatakan kepada Rengganis untuk tidak mengganggu Kirana.

"Jaga sikapmu, Rengganis! Kirana adalah ibu dari pewaris kita. Hormati dia!" kata Raden Mas Surya dengan tegas suatu kali saat Rengganis mencoba menghalangi Kirana menyusui Arjuna.

Mahardika juga semakin sering berada di dekat Kirana dan Arjuna. Ia mengagumi putranya, seringkali menggendong Arjuna, mengajaknya bermain, dan bahkan membantu Kirana mengganti popok. Kirana melihat sisi lain dari Mahardika, sisi seorang ayah yang penuh kasih sayang. Melihat Mahardika tersenyum tulus pada Arjuna, hati Kirana merasakan kehangatan yang aneh. Bukan cinta seperti pada Bima, tapi semacam rasa nyaman dan kebersamaan.

Suatu malam, saat Kirana sedang menyusui Arjuna, Mahardika masuk ke kamar dan duduk di sampingnya. Ia memandang Arjuna dengan tatapan lembut.

"Terima kasih, Kirana," kata Mahardika tiba-tiba, suaranya pelan.

Kirana terkejut. Ia menatap Mahardika. "Untuk apa, Mahardika?"

"Untuk Arjuna. Untuk memberikan pewaris yang Ayahku impikan. Kau telah menyelamatkan nama keluarga Wibowo," jawab Mahardika. Ada ketulusan dalam suaranya.

Kirana tersenyum tipis. "Dia adalah anak kita, Mahardika."

Mahardika mengangguk. "Ya, anak kita." Ia mengulurkan tangan, mengusap kepala Arjuna lembut. "Dia sangat mirip denganmu, Kirana."

Pujian itu membuat pipi Kirana sedikit merona. Ia tidak menyangka Mahardika akan mengatakan hal seperti itu. Hening menyelimuti mereka. Kirana merasakan sebuah ikatan baru terbentuk, ikatan yang dibangun bukan di atas cinta romantis, melainkan di atas tanggung jawab bersama terhadap putra mereka.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah Arjuna lahir, masalah baru muncul. Biaya pengobatan ibu Saraswati melonjak drastis. Kondisi ibu Kirana memburuk, membutuhkan perawatan intensif dan obat-obatan yang jauh lebih mahal.

Prawira, paman Kirana, kembali menunjukkan wujud aslinya. Ia menghubungi Kirana, bukan untuk menanyakan kabar ibu atau Arjuna, melainkan untuk menagih janji.

"Kirana, kau sudah punya anak laki-laki, kan? Sekarang saatnya kau memenuhi janjimu," kata Prawira dengan nada menuntut. "Kau harus memastikan keluarga Wibowo tetap membiayai ibumu. Bahkan, kau harus meminta lebih!"

Kirana terkejut. "Janji apa, Paman? Aku sudah melakukan tugasku. Aku sudah melahirkan pewaris."

"Kau lupa? Kau berjanji akan melakukan apa saja agar ibumu sembuh! Dan sekarang, kau adalah ibu dari pewaris Wibowo. Kau punya posisi kuat! Gunakan itu untuk mendapatkan uang lebih banyak!" desak Prawira. "Jika tidak, aku akan bilang pada keluarga Wibowo tentang semua perjanjian kita. Aku akan bilang kau menikah hanya demi uang pengobatan ibumu!"

Ancaman Prawira membuat Kirana ketakutan. Ia tahu, jika Mahardika atau Raden Mas Surya tahu bahwa pernikahannya didasari oleh ancaman Prawira untuk biaya pengobatan ibunya, mereka mungkin akan marah besar. Prawira bisa saja membuat skandal, dan itu akan mencoreng nama baik keluarga Wibowo.

Ia mencoba menghubungi Bima lagi, berharap mendapatkan saran atau sekadar penghiburan. Namun, nomor Bima sudah tidak aktif. Kirana merasa putus asa. Ia tahu Bima sengaja mengganti nomornya, mungkin untuk menjauhi masa lalu yang menyakitkan.

Penderitaan Kirana semakin bertambah. Di satu sisi, ia harus menghadapi kebencian Rengganis dan kecanggungan dengan Mahardika. Di sisi lain, ia kini diancam oleh pamannya sendiri. Ia merasa terjebak di antara dua dunia: kemewahan yang dingin dan ancaman yang tak berujung.

Suatu siang, saat Arjuna sedang tidur, Kirana duduk di tepi ranjangnya, memandangi wajah damai putranya. Air matanya menetes. Ia merasa begitu lelah, begitu sendirian. Ia merindukan pelukan ibunya, bahkan di tengah penyakitnya, ibunya adalah satu-satunya yang bisa memahami Kirana tanpa syarat.

Ia merindukan masa-masa bersama Bima, tawa lepas mereka, janji-janji masa depan yang kini terasa begitu jauh. Cinta mereka yang tulus, kini hanya menjadi kenangan yang menyakitkan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Mahardika masuk. Ia melihat Kirana yang menangis. Ekspresi wajahnya berubah menjadi khawatir.

"Ada apa, Kirana? Kenapa kau menangis?" tanya Mahardika, mendekat.

Kirana buru-buru menghapus air matanya. "Tidak ada apa-apa, Mahardika. Hanya... sedikit lelah."

Mahardika duduk di sampingnya. "Kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu kau punya masalah. Apa ini tentang ibumu? Prawira?"

Kirana terkejut. Mahardika tahu tentang Prawira?

"Aku tahu Prawira sering menghubungimu. Aku sudah menyuruh orangku untuk mencari tahu tentang dia. Apa yang dia lakukan padamu?" suara Mahardika terdengar serius, bahkan sedikit marah.

Kirana merasa sedikit lega, namun juga takut. Ia tahu ia harus jujur pada Mahardika. Ia menarik napas dalam-dalam. "Dia... dia mengancam akan memberitahu tentang perjanjian kita. Bahwa saya menikah karena... biaya pengobatan Ibu."

Mahardika terdiam sejenak. Wajahnya mengeras. "Jadi, dia memaksamu?"

Kirana mengangguk, air mata kembali mengalir. "Iya. Dia bilang jika saya menolak, dia tidak akan membiayai pengobatan Ibu lagi. Ibu saya... Ibu saya sudah sangat sakit, Mahardika. Saya tidak punya pilihan lain."

Mahardika menghela napas panjang. Ia menatap Kirana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada penyesalan, ada kemarahan, dan juga... sedikit rasa iba. Ia tahu Kirana tidak pernah menginginkan pernikahan ini, dan ia juga korban.

"Aku akan membereskan Prawira," kata Mahardika akhirnya, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Dia tidak akan mengganggumu lagi. Dan masalah biaya pengobatan ibumu, itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu. Tidak perlu khawatir."

Kata-kata Mahardika bagaikan embun penyejuk di tengah gurun. Kirana menatapnya tak percaya. "Kau... kau akan membantuku?"

"Tentu saja. Kau adalah istriku, dan ibu dari anakku," jawab Mahardika. "Aku memang menikahi denganmu karena desakan, tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu menderita. Apalagi kau sudah memberikan Arjuna untuk keluarga ini. Kau punya hak untuk hidup tenang."

Ini adalah pertama kalinya Mahardika secara eksplisit mengatakan bahwa ia akan melindungi Kirana. Hati Kirana merasakan secercah harapan. Mungkin, di balik semua kesepakatan dan tekanan ini, Mahardika memang memiliki sisi baik. Mungkin, mereka bisa menemukan cara untuk hidup berdampingan, meskipun tanpa cinta.

"Terima kasih, Mahardika," bisik Kirana, suaranya bergetar.

Mahardika mengangguk. Ia mengulurkan tangannya, dan kali ini, ia mengusap kepala Kirana lembut, sentuhan yang penuh kehati-hatian. "Istirahatlah. Aku akan mengurus ini."

Mahardika keluar dari kamar, meninggalkan Kirana dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sedikit lega, namun juga takut. Apa yang akan Mahardika lakukan pada Prawira? Apakah ini berarti ia akan mendapatkan sedikit kebebasan? Atau justru ini adalah awal dari masalah baru?

Meskipun Mahardika sudah mengatakan akan melindunginya, Kirana tahu perjalanannya masih panjang. Kebencian Rengganis tidak akan hilang begitu saja. Dan ia sendiri, meskipun kini memiliki Arjuna, masih merindukan kehidupan lamanya, merindukan Bima. Harapan memang ada, namun badai belum sepenuhnya reda.

Ia memandang Arjuna yang tertidur pulas. Senyum tipis terukir di bibirnya. Demi putranya, ia akan berjuang. Demi ibunya, ia akan bertahan. Dan mungkin, hanya mungkin, di tengah badai ini, ia bisa menemukan sedikit kebahagiaan yang tulus. Kirana tahu, ini adalah awal dari babak baru, dan ia harus siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali
8.9
Selena dianggap parasit oleh suaminya, Kenneth. Setelah lelah disakiti, ia menuntut cerai dan pembagian harta. Kenneth setuju karena ingin bebas, namun Selena justru bangkit menjadi pengusaha sukses yang dikelilingi pria. Terkejut melihat transformasi mantan istrinya yang mandiri, Kenneth mulai mengejarnya kembali. Saat Selena meluapkan kemarahannya, Kenneth justru mengakui kegilaannya dan memohon untuk rujuk demi menyatukan kekayaan serta masa depan mereka.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Gairah Liar Sang CEO
9.7
Rafael Aditya Syahreza, CEO yang kerap bergonta-ganti pasangan, menjerat Vanessa setelah sebuah ketidaksengajaan di ranjang. Ternyata, Vanessa adalah kekasih Adrian, adik kandungnya sendiri. Rafael memanfaatkan situasi ini demi kepuasan nafsu sekaligus menuntaskan dendam masa lalu. Akankah ia berhasil merebut Vanessa dari adiknya? Bagaimana nasib Vanessa saat menyadari dirinya hanya alat balas dendam, dan mampukah ia menerima kenyataan pahit tersebut?
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua Leon Castello demi melunasi utang keluarganya. Meski dicap sebagai perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak dalam perjanjian lama yang diatur sang taipan. Di balik status rahasia itu, Raine harus menghadapi kebencian istri pertama serta cercaan publik. Konflik batin kian memuncak saat ia mulai mencintai Leon. Di tengah intrik dan rahasia besar, Raine berjuang memahami siapa yang benar-benar bersalah dalam pernikahan ini.