Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Permainan gila suami dan adikku

Permainan gila suami dan adikku

Hati Wulan hancur saat mengetahui pengkhianatan terbesar dalam hidupnya: suaminya sendiri berselingkuh dengan adik tirinya. Rasa sakit itu berubah menjadi tekad membara untuk menuntut keadilan. Tanpa ragu, Wulan menyusun rencana balas dendam yang sistematis demi menghancurkan mereka. Ia memastikan sang suami dan saudaranya merasakan konsekuensi pahit atas perbuatan keji tersebut. Kini, Wulan siap melihat keduanya hancur dalam jeratan mereka sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi harinya di mana Wulan sedang sibuk pembeli sayuran untuk makan hari ini tiba-tiba Lela berdiri di sampingnya dan juga ditemani oleh Dewi. Semua orang di sana tentu langsung lihat ke arah ketiga perempuan itu.

"Selamat siang Bu Lela, sudah lama ya tidak kelihatan, ke mana saja selama ini?" Tanya tetangga Wulan.

"Oh iya, saya sibuk di rumah biasalah Ibu-ibu, ini saya ke sini buat bicara sama anak saya, karena besok adalah pertunangan anaknya, supaya kalian bisa datang besok."

"Ya ampun Ibu Lela akan mengadakan acara, yang pasti acaranya besar-besaran kan?" Lela tersenyum.

"Ia Tentu dong, acaranya besar-besaran, karena tunangan anak kesayangan saya."

"Iya meskipun pakai uang anak tirinya." celetuk Wulan, tentu saja Lela langsung melihat ke arah Wulan.

Ibu-ibu yang ada di manapun ikut melihat ke arah Wulan.

"Maksudnya gimana ya neng Wulan? Bukankah yang tunangan itu adiknya Kamu? Kenapa harus pakai uang kamu? Kamu kan saudara tirinya. Adik kamu tidak punya keluarga lagi. Pasti yang di maksud anak tirinya Buk Lela kan kamu?"

"Iya Bu, ibu dan adik saya itu memaksa saya untuk mengeluarkan uang untuk acara pertunangannya. Padahal kemarin saya baru saja kecopetan uang sebesar 60 juta pun hilang, tapi mereka malah terus mendesak saya, mungkin saja saat ini mereka pagi-pagi buta datang ke sini untuk berbicara kepada saya untuk menyediakan uang lagi, bukan begitu Bu?" tanya Wulan melihat ke arah Lela dan juga Dewi. Tentu mereka berdua langsung membulatkan matanya dan juga terlihat begitu malu.

Pasalnya selama ini Lela selalu bergaya seperti orang punya, dia memang selama ini adalah hidup dari warisan ayahnya Wulan, memang dulu ayahnya Wulan terkenal memiliki tanah banyak dan juga uang banyak, makanya tak heran jika Lela dulu berani merebut Ayah Wulan dari ibunya Wulan.

"Apa benar yang diucapkan oleh Neng Wulan Bu Lela? Kenapa Bu Lela malah melimpahkan semuanya kepada Neng Wulan? Bahkan kemarin Neng Wulan baru saja kecelakaan, tapi kenapa kalian malah mendesaknya untuk mengeluarkan uang lagi, harusnya kalian itu bersimpati kepada dia."

"Tidak, bukan seperti itu, Wulan itu mengada-ngada, kami tidak memakai uang kamu sepeserpun, untuk apa saya memakai uangnya. Toh saya selama ini banyak uang." ucap Lela sambil melirik ke arah anak tirinya dengan tajam.

"Oh benarkah Bu. Alhamdulillah kalau memang benar, aku takutnya ibu datang ke sini pagi-pagi menyuruh aku untuk menjual barang-barang dan mau minta uang kepadaku untuk keperluan besok. Karena aku sudah tidak punya bu, untuk makan saja tinggal ini, ibu tahu kan kalau aku sudah tidak bekerja di saat setelah melahirkan Maya dan juga Ibu tahu kan nafkah yang diberikan oleh Rio berapa, jadi aku rasam Aku tidak sanggup jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu lagi." Lela dan Dewi langsung mendelitkam matanya.

"Ya udahlah Bu. Ayo kita pulang, tadinya kan kita datang ke sini untuk beli sayur. Ayolah Bu kita pergi dari sini, sepertinya niat kita malah diartikan salah sama kakak, mungkin Kakak begitu benci sama aku." Dewi langsung menarik Lela dari sana.

Mulan tersenyum melihat ibu dan juga adik tirinya pergi dari sana.

"Si Wulan itu kenapa sih Hah, kok di akhir-akhir ini berani sekali sama kita dan dia kenapa tega sekali mempermalukan kita di hadapan ibu-ibu Komplek ini, ibu-ibu di komplek ini kan mulutnya tajam sekali." tanya Lela kepada anaknya.

"Entahlah Bu! aku juga tidak tahu, aku juga merasa heran kenapa Kakak bisa seperti itu, biasanya dia hanya menurut saja kepada kita, padahal kan selama ini dia bilang kalau dia akan melakukan apapun untuk kita, karena kita adalah keluarganya satu-satunya. Tapi saat ini dia begitu berubah,"

"Siang kita harus datang ke rumahnya, mumpung tidak ada suaminya, kita harus mendesak Wulan. Ibu tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun meskipun Ibu memiliki uang banyak dari warisan bapak kamu."

Saat ini di pabrik tempat Rio bekerja Rio sejak tadi hanya melamun, dia melamun karena memikirkan Wulan yang mulai curiga tentang hubungannya dan juga Dewi.

Sampai di mana tiba-tiba ia malah menjatuhkan barang yang harusnya ia packing dengan rapi, hal itu tentu saja membuat Rio terkejut dan ia langsung bangkit. Pengawas di sana tentu membulatkan matanya dan berjalan menghampirinya.

"Aduh bagaimana sih kamu? Kenapa kamu kerjanya malah melamun? Ini bagaimana? Barang ini mahal tau nggak sih? Hah. Kenapa malah dijatuhkan? Kamu mampu membayarnya tidak?' beliau hanya menundukkan kepalanya.

"Maaf Pak, saya tidak sengaja. Tadi saya memang teledor, saya janji saya akan membayarnya."

"Kamu mau bayar pakai apa? Barang ini harganya sekitar 5 juta, gaji kamu saya tidak cukup untuk membayar ini."

"Saya mohon Pak. Jangan pecat saya, saya akan membayarnya dengan dicicil, saya mampu kok pak."

"Baiklah kita nanti bicara lagi setelah kamu pulang kerja, bereskan ini dan jangan pernah kamu ceroboh lagi." dia menganggukkan kepalanya. Ia bernafas dengan lega, karena ia tidak dipecat, namun ia harus memutar otak bagaimana caranya agar cicilan untuk membayar denda di pabriknya tidak terlalu berat.

Di saat jam makan siang, Rio sudah duduk dengan tenang di warung makan yang biasa ia singgahi, namun tiba-tiba ada seseorang wanita menghampirinya dengan tersenyum manis dan juga membawakan makanan untuk Rio. Wanita itu memakai pakaian yang begitu seksi dan juga bergaya sok cantik.

Rio kembali dari kerjaannya dengan wajah kusut. Wulan biasanya langsung menyambut Rio dan menyuguhkan minuman di hadapan Rio, saat ini Wulan berpura-pura tidak peduli kepada suaminya itu.

"Wulan di mana kamu? Cepat ambilkan aku minum! Kepalaku hampir pecah memikirkan masalah yang ada. Wulan di mana kamu? Kenapa kamu jadi istri durhaka sekali, suami datang tapi tidak disambut." Teriaknya dari ruang tamu. Wulan yang sedang menidurkan anaknya tentu langsung keluar dari kamar anaknya "Ada apa sih Mas? Kenapa kamu teriak seperti itu, anak kita sedang tidur, kalau dia bangun bagaimana?"

"Biarkan saja dia bangun, lagian juga ini udah sore, kebiasaan kamu sore begini selalu di buat tidur anak kamu itu."

"Lalu harus bagaimana Mas? Memang kan harusnya Maya tidur jam segini, nanti mau magrib dia bangun. Kamu kenapa sih pulang-pulang kerja kok marah-marah?" tanya Wulan sambil menyerahkan segelas air putih di hadapan suaminya.

"Semua ini gara-gara kamu. Coba saja kamu enggak membuat masalah pasti aku akan baik-baik saja di pabrik." Wulan tentu mengurutkan kening.

"Maksud kamu apa? Kenapa kamu menyalahkanku?"

"Iya, semuanya gara-gara kamu. Karena kamu menghilangkan uang sebesar 60 juta yang selama ini kita tabung semuanya hilang sirna dan aku jadi bermasalah di pabrik, karena menjatuhkan barang dan saat ini mulai bulan ini dan seterusnya bagiku akan dipotong 10% puas kamu." Wulan yang mendengar itu langsung terdiam.

"Lah kamu kok malah nyalahin aku, kamu itu lebih penting uang itu daripada nyawa aku? Apa kamu jangan-jangan begitu tidak pedulinya kepadaku?"

tanya Wulan dengan wajah penuh tekanan

Rio langsung menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya, ia langsung bangkit dan meninggalkan Wulan begitu saja, tiba-tiba di saat Wulan hendak meletakkan gelas kotor yang tadi digunakan suaminya pintunya di ketuk tentu saja Wulan langsung berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut, ia terkejut pasalnya ia tidak mengenal orang yang ada di hadapannya saat ini.

"Maaf anda cari siapa y" tanya Wulan dengan sopan kepada laki-laki di hadapannya itu.

"Maaf apakah ini benar kediaman Mbak Wulan?"

"Iya saya sendiri. Memangnya ada apa?" 'Saya datang ke sini hanya ingin menyerahkan ini." ujar laki-laki itu sambil menyerahkan selembar kertas berwarna putih, tentu saja Wulan langsung mengurutkan keningnya dan mengambil kertas itu, "Maksudnya apa ini pak?"

"Ini, ini adalah total biaya semua keperluan pertunangan besok." Wulan tentu langsung mengurutkan keningnya. "Maksudnya apa? Kenapa malah dikasih kepada saya? Saya tidak ada campur pautnya dengan semua ini."

"Tapi Mbak Dewi tadi bilang, saya harus datang ke sini untuk meminta semua biaya ini, semua Dekor sudah kami selesaikan." Wulan menggelengkan kepalanya dan menyerahkan kertas Itu kembali kepada pemiliknya.

"Maaf Pak, saya tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Jadi tolong bawa kertas ini dan bilang kepada mereka bahwa saya tidak mau membayarnya, mereka yang akan berpesta. Kenapa saya yang harus membayarnya, pergi dari sini!" Wulan langsung menutup pintu rumahnya, ia tersenyum dan membayangkan nanti Bagaimana reaksi adik dan juga ibu tirinya itu, "Enak aja, mereka yang mau bersenang-senang dan mereka juga yang melimpahkan semuanya kepadaku, mereka tidak punya otak atau bagaimana?" Wulan langsung masuk ke dalam dan menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Sedangkan di kediaman Lela saat ini semua dekorasi sudah terpasang dan kue pun sudah tersedia, karena besok hari akan dilaksanakan pertunangan Dewi dan juga pacarnya. Dewi dan juga pacarnya sudah menjalani hubungan 1 tahun, awalnya Dewi tidak mau Jika ia memiliki ikatan yang jelas dengan pacarnya itu, tapi karena pacarnya terus mendesak akhirnya Dewi mau. Dewi tidak mau terburu-buru melangkah ke jenjang yang lebih serius karena Dewi sudah memiliki perasaan kepada kakak iparnya. Bahkan mereka sudah terlampau jauh berhubungan.

Sejak tadi Lela terus ditanya oleh teman-temannya. Kenapa anak sulungnya tidak ada di sana untuk membantu dirinya dan juga Dewi untuk menyiapkan acara tunangan esok hari? Namun Lela bilang kepada mereka semua jika Wulan tidak peduli bahkan tidak mau membantu mereka. Lela terus saja menjelek-jelekkan nama Wulan di hadapan semua orang.

Lela sengaja melakukan itu karena ia kesal karena Wulan terlebih dahulu membuat namanya jelek dihadapan ibu-ibu Komplek tempat tinggal Wulan.

Dewi yang melihat pemilik dekorasi itu kembali lagi ke rumahnya tentu langsung menghampirinya.

"Bagaimana Pak. Apakah wanita itu sudah membayar semuanya?" tanya Dewi dengan senyuman kepada pemilik dekorasi itu "Maaf Mbak, kata Mbak Wulan dia tidak mau membayar semua ini, katanya semua ini kalian yang menanggung." Dewi yang mendengar itu tentu langsung membulatkan matanya.

"Loh kok bisa? Kenapa Wulan tidak mau membayarnya? Gimana sih? Harusnya kalian tegas dan minta bayaran dari wanita itu."

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Mbak Wulan bilang kalian yang berpesta. Kenapa dia yang harus membayarnya." Dewi yang mendengar itu langsung marah, dia marah dan langsung memanggil ibunya yang sedang tersenyum dan bahkan tertawa bersama teman-temannya itu.

"Bu, Bu sini!" Teriak Dewi dengan penuh emosi. Lela langsung berpamitan kepada teman-temannya yang memang sore itu sudah ada di kediamannya.

"Ada apa sih? Kenapa kamu teriak seperti itu, malu di sini banyak orang." Tanya Lela sambil berbisik

"Ini lho Bu, tadi tukang dekorasi bilang kalau kau Wulan nggak mau bayar semua ini, kalau seperti ini kita harus bagaimana?" Lela terkejut Mendengar hal itu.

"Loh kok bisa? Kenapa bisa sih? Kenapa wanita itu tidak mau membayar semuanya, Ibu nggak mau ya kalau misalkan harus mengeluarkan uang."

"Maaf Pak. Nanti bayarnya bisa besok kan Toh acaranya juga belum dimulai, nanti besok kami akan membayarnya dengan Lunas." Ucap Dewi

"Oh kalau seperti itu. Baiklah kami permisi dulu. Semoga acaranya berjalan dengan lancar." ujar pemilik dekorasi itu dan langsung meninggalkan kedua wanita yang saat ini sedang jengkel kepada Wulan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DUNIA MAYA
9.2
Aruni Maya adalah wanita tangguh yang hancur setelah kehilangan ibu dan anak angkatnya. Di tengah duka, dia harus menghadapi kekejaman Toni, suaminya yang ternyata hanya mendekati Maya demi membalas dendam masa lalu. Namun, sebuah rahasia besar terungkap bahwa Maya bukanlah anak kandung dari orang tua yang dibenci Toni. Penyesalan datang terlambat saat Maya berjuang bangkit dari pengkhianatan, menemukan jati diri aslinya, dan menghadapi ujian hidup baru yang mendewasakan.
Sampul Novel Game Maya
9.6
Purple adalah wanita panggilan menawan yang hidupnya berubah total setelah menerima tawaran dari pelanggan setianya, Gery. Alih-alih menjadi kekasih, Gery justru memanfaatkan Purple untuk menjebak sepupunya yang bernama Logan. Namun, misi penggoda itu malah membawa Purple terjebak dalam pusaran emosi yang rumit. Di tengah bayang-bayang kebohongan dan ketakutan akan kehilangan, permainan cinta yang awalnya tampak sederhana kini berubah menjadi konflik hati yang menyiksa.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Nayra Adeline, dokter ortopedi yang gila kerja, tewas akibat kelelahan usai operasi 48 jam. Keajaiban membawanya terbangun di Bandung tahun 1975 sebagai Ratri Larasati, wanita pemalas bertubuh tambun yang dibenci lingkungan asrama militer. Nayra harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, sangat dingin dan enggan menyentuhnya karena reputasi buruk Ratri. Di tengah keterbatasan zaman, Nayra berjuang memperbaiki hidup barunya.
Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya memikul kutukan maut: siapa pun yang tulus mencintainya akan ditimpa petaka hingga tewas. Setelah kehilangan orang tua, ia hidup terasing demi melindungi sesama. Saat neneknya sekarat dan ingin kutukan itu sirna, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang membencinya. Kesepakatan ini diambil demi ketenangan sang nenek. Akankah Viona mampu menjaga hatinya tetap dingin, atau ia justru akan menjadi korban cinta berikutnya?
Sampul Novel Less Than Evil
9.6
Dalam realitas yang keras, kemampuan menjilat dan mencari muka menjadi kunci utama untuk meraih posisi strategis. Dunia ini tak ubahnya medan perang bagi mereka yang mahir mengganti topeng demi ambisi pribadi. Tak ada kebaikan murni yang tersisa; setiap interaksi hanyalah upaya untuk saling memanfaatkan satu sama lain. Hanya individu yang paling licik dan pandai bersandiwara yang mampu bertahan hingga akhir dalam persaingan hidup yang penuh dengan kepalsuan ini.
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita terjebak dalam romansa indah bersama Raka, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hubungan mereka awalnya terasa sempurna dan penuh kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit mulai muncul saat Sita menyadari jurang status sosial di antara mereka. Sebagai gadis dari keluarga sederhana, ia merasa terancam oleh posisi Raka sebagai putra pengusaha ternama. Akankah restu berpihak pada mereka, ataukah perbedaan kasta ini mengakhiri segalanya?