
Perjuangan Cinta Terlarang Majikan
Bab 2
Keira terjaga di tengah malam, tubuhnya terbaring gelisah di kamar sempit yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa minggu terakhir. Suara-suara kota yang hiruk pikuk terasa begitu jauh, sementara pikirannya terus berputar, tak bisa menenangkan diri. Semua yang terjadi sejak ia datang ke kota ini seperti terjalin menjadi satu benang kusut yang tak bisa ia uraikan.
Hari-hari bekerja di rumah itu semakin berat, tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Keira merasakan perubahan yang tidak bisa ia jelaskan. Reinhard, meskipun tetap bersikap dingin, tidak lagi begitu menghindarinya. Sesekali, tatapan matanya akan menahan pandangannya lebih lama dari yang seharusnya. Keira merasa jantungnya berpacu lebih cepat setiap kali itu terjadi.
Pagi itu, ia sedang membersihkan ruang kerja di lantai atas, seperti biasa. Tangan Keira gemetar saat ia mengelap permukaan meja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen. Suara pintu terbuka membuatnya menoleh, dan di sana, berdiri Reinhard, mengenakan jas hitam yang tampak sempurna di tubuhnya.
Keira segera membungkukkan tubuh, berusaha untuk tidak bertemu pandangannya. "Maaf, Tuan Reinhard," ujarnya, suara terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya.
Reinhard tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat, hingga jarak antara mereka terasa sangat sempit. Keira menahan napas, berusaha tidak menunjukkan rasa cemas yang mulai menguasai dirinya.
"Keira," suara Reinhard terdengar lebih rendah, hampir seperti sebuah perintah. "Kamu tidak perlu selalu menghindar dariku."
Keira terkejut. Tidak tahu bagaimana harus merespon, ia hanya menunduk lebih dalam, tubuhnya tegang. Setiap kata yang keluar dari mulut Reinhard seakan memiliki bobot yang lebih besar dari yang seharusnya.
Reinhard menarik napas panjang dan akhirnya berjalan melewatinya, menuju kursi di sudut ruangan. Keira bisa merasakan perubahannya, meskipun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Entah bagaimana, dia merasa seperti tak bisa lagi mengabaikan perasaan yang mulai tumbuh. Namun, Keira juga tahu dengan jelas bahwa ini adalah jalan berbahaya-jalan yang tak akan pernah bisa ia menangkan.
Hari-hari berikutnya, semuanya mulai terasa semakin pelik. Di satu sisi, Keira tahu bahwa ia hanya seorang pembantu, dan perasaannya terhadap Reinhard hanyalah perasaan bodoh yang seharusnya segera dilupakan. Namun, di sisi lain, dirinya tidak bisa menahan diri. Setiap kali mereka berada di ruang yang sama, ada tarikan yang tidak bisa dijelaskan.
Namun, perubahan tidak berhenti hanya pada hubungan mereka. Keira mulai mendengar bisikan-bisikan dari pembantu lain, rumor yang mulai tersebar tentang ketegangan dalam pernikahan Reinhard. Ada cerita tentang istrinya yang selalu menghabiskan waktu di luar negeri, meninggalkan Reinhard sendirian, terjebak dalam rutinitas yang semakin kosong.
Meskipun Keira tidak ingin percaya begitu saja, ada sesuatu dalam cerita-cerita itu yang membuatnya merasa bingung. Istrinya, seorang wanita cantik yang tampaknya memiliki semuanya, tiba-tiba saja lenyap dari kehidupan Reinhard. Dan meskipun ia tidak pernah berbicara tentang istrinya, Keira bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam diri pria itu.
Satu malam, saat Keira sedang membersihkan ruang makan, ia melihat Reinhard sedang duduk di meja makan besar, menatap sebuah foto keluarga di depan dirinya. Ekspresi wajahnya datar, namun Keira bisa melihat sedikit kesedihan yang tersirat.
Tanpa sadar, Keira terdiam sejenak, dan tak sengaja membuat suara yang menarik perhatian Reinhard. Pria itu menoleh cepat, dan Keira merasa seakan-akan waktu berhenti sejenak.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Keira berusaha bersikap biasa, meskipun hatinya berdegup kencang.
Reinhard tidak menjawab segera. Ia hanya menatap Keira dengan tatapan yang sulit diartikan. Seolah-olah ia sedang mencari sesuatu dalam diri Keira yang tidak bisa ia temukan. Keira tidak tahu apa yang terjadi di dalam kepala pria itu, tapi yang jelas, ada ketegangan yang semakin tak bisa disembunyikan.
"Keira..." suara Reinhard kembali terdengar, kali ini lebih dalam. "Kamu tahu, kamu lebih dari sekadar seorang pembantu di sini."
Keira terkejut, dan untuk sesaat, ia tidak tahu bagaimana harus merespon. Kata-kata itu menggantung di udara, membekas di dalam hatinya seperti luka yang belum sembuh.
"Jangan katakan itu," jawabnya pelan, mencoba menahan perasaan yang mulai meluap. "Saya hanya ingin bekerja."
"Tapi itu bukan yang sebenarnya, bukan?" Reinhard mendekat, suara langkahnya terdengar jelas di telinga Keira. "Aku tahu kamu lebih dari itu."
Keira tidak bisa menahan diri lagi. Suasana di sekitar mereka terasa semakin menyesakkan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima kenyataan yang mulai terungkap-bahwa ia terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Perasaan yang terlarang ini, yang seharusnya tidak pernah ada, perlahan mulai menelan Keira. Dan Reinhard, meskipun masih terikat pada kehidupannya yang kelam, mulai menunjukkan sisi-sisi dirinya yang tak pernah ia duga ada.
Keira tahu satu hal dengan pasti-perasaan ini, meskipun salah, tidak bisa ia hindari lagi. Ia terjebak dalam permainan yang lebih besar, di mana batas antara benar dan salah semakin kabur, dan perasaan yang tumbuh semakin sulit diatur.
Anda Mungkin Juga Suka





