
Perjuangan Cinta Terlarang Majikan
Bab 3
Malam itu, Keira duduk di ranjang sempitnya, memeluk kedua lututnya erat. Pikirannya penuh dengan suara Reinhard yang terus terngiang. "Kamu lebih dari sekadar pembantu di sini."
Apa maksudnya? Mengapa pria itu mulai memperlakukannya dengan cara yang berbeda? Apakah ini hanya permainan, atau ada sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu belaka?
Keira menggigit bibirnya, frustrasi. Ia tidak boleh berpikir terlalu jauh. Reinhard adalah pria beristri, seorang CEO yang berdiri jauh di atas dirinya. Ia tidak boleh membiarkan dirinya hanyut dalam ilusi.
Namun, sekeras apa pun ia mencoba mengabaikan perasaan itu, kenyataan tetap sama: Reinhard semakin mendekatinya.
Keesokan harinya, saat Keira sedang menyusun piring di ruang makan, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Ia menegakkan punggungnya, hanya untuk menemukan Reinhard berdiri di ambang pintu.
Tatapannya tajam, penuh sesuatu yang sulit dijelaskan. Keira langsung menundukkan kepala, berusaha fokus pada pekerjaannya. Namun, Reinhard tetap di sana, tidak bergerak, seakan menimbang sesuatu dalam pikirannya.
"Keira," panggilnya akhirnya.
Keira menahan napas sebelum berbalik perlahan. "Ya, Tuan?"
"Aku butuh kopi. Bawa ke ruang kerjaku."
Keira mengangguk, berusaha mengabaikan sensasi aneh di dadanya. Dengan cepat, ia menyiapkan kopi hitam dan membawanya ke ruang kerja Reinhard. Saat ia masuk, pria itu sudah duduk di belakang meja, tapi bukannya fokus pada pekerjaannya, ia justru menatap lurus ke arahnya.
Keira berjalan mendekat, meletakkan cangkir kopi di atas meja. Namun, ketika ia hendak mundur, suara Reinhard menghentikannya.
"Keira," suaranya terdengar lebih lembut kali ini, hampir... intim.
Keira menegang. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Apa kamu bahagia di sini?" tanyanya tiba-tiba.
Keira mengerjap, tidak menyangka pertanyaan seperti itu keluar dari mulutnya. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati. "Saya di sini untuk bekerja, Tuan. Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa saya pikirkan sekarang."
Reinhard tersenyum tipis, tapi ada sesuatu di balik senyum itu yang membuat Keira merasakan ketidaknyamanan yang aneh.
"Jujur sekali," gumamnya. Ia bersandar di kursinya, menatap Keira dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Keira tahu ia harus segera pergi. Atmosfer di ruangan itu terlalu berbahaya baginya. Ia membungkukkan badan sedikit. "Kalau tidak ada yang lain, saya permisi, Tuan."
Namun, saat ia berbalik, Reinhard memanggilnya lagi. "Keira."
Jantungnya berdegup kencang.
"Jangan terlalu jauh dariku," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Keira menahan napas, lalu tanpa berkata apa-apa, ia segera keluar dari ruangan itu.
Hari-hari berikutnya semakin aneh. Reinhard tidak lagi menjaga jarak seperti sebelumnya. Ia sering muncul di tempat Keira bekerja, memperhatikannya dengan cara yang semakin sulit diabaikan.
Dan yang lebih buruk lagi, para pegawai lain mulai memperhatikan.
"Kamu sadar, kan, kalau Tuan Reinhard sering mencari alasan untuk bicara denganmu?" bisik salah satu pelayan senior, Elena, saat mereka berdua sedang membersihkan ruang tamu.
Keira pura-pura tidak mendengar, tapi Elena hanya tertawa pelan.
"Berhati-hatilah," lanjutnya. "Istri Tuan Reinhard mungkin tidak ada di sini sekarang, tapi dia masih ada di dalam hidupnya. Kamu tidak mau menjadi masalah berikutnya, bukan?"
Keira terdiam. Itu adalah peringatan yang jelas.
Tapi bagaimana jika semuanya sudah terlambat?
Malam itu, Keira berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Namun, saat ia melewati ruang tamu, matanya menangkap sosok Reinhard yang berdiri di dekat jendela besar, menatap keluar dengan ekspresi kosong.
Keira ragu-ragu, tapi entah kenapa kakinya tetap melangkah mendekat. "Tuan?"
Reinhard menoleh, seolah baru menyadari keberadaannya. "Keira," ucapnya pelan.
Keira tidak tahu harus berkata apa. Namun, saat ia hendak mundur, Reinhard tiba-tiba mengulurkan tangannya dan meraih pergelangan tangannya.
Keira terkejut. "Tuan?"
"Diamlah sebentar," gumam Reinhard.
Keira bisa merasakan kehangatan dari genggaman itu. Tidak seharusnya ini terjadi. Tidak seharusnya ia berada di sini, merasakan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Namun, Reinhard hanya menatapnya dengan mata yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia artikan.
"Kamu tidak tahu, kan?" Reinhard berbisik.
"Tidak tahu apa?" Keira bertanya, bingung.
Reinhard tersenyum tipis, tapi ada kepedihan di balik senyum itu. "Bahwa aku sudah tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang suami. Bahwa aku bahkan tidak tahu apakah aku masih memiliki pernikahan."
Keira membeku. Kata-kata itu berbahaya, terlalu dalam, terlalu menggoda untuk dipercaya.
Dan yang lebih parah lagi, ia bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya yang perlahan mulai menyerah.
Ia seharusnya pergi. Ia seharusnya tidak terjebak di sini.
Tapi Reinhard tidak melepaskan tangannya.
Dan Keira, untuk pertama kalinya, tidak yakin apakah ia benar-benar ingin lari.
Anda Mungkin Juga Suka





