Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta

Mila Prameswari terpaksa masuk ke dunia Rafin Adi Wijaya setelah pamannya menjualnya seharga lima ratus juta. Sang pengusaha kaya itu kemudian mengajukan kontrak pernikahan demi menguasai perusahaan. Syaratnya, Mila harus melahirkan pewaris laki-laki untuknya. Sebagai imbalan, Rafin berjanji akan melacak ayah Mila yang sudah lama hilang. Mampukah Mila menjaga hatinya di tengah ambisi Rafin? Akankah misi pencarian sang ayah berujung sesuai harapan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Di toko itu, Mila merupakan waitress favorit pelanggan, tidak hanya oleh kaum lelaki muda saja, bahkan banyak ibu-ibu yang menginginkan untuk dilayani olehnya. Sikap yang ramah serta wajah ayu, membuatnya banyak disukai. Termasuk Pram, pemuda pemilik bakery itu. Ia adalah satu-satunya anak dari Ny. Hanum. Jadi dialah pewaris tunggal usaha dari ibunya.

***

Mila sedang mengelap etalase besar toko saat dirasa ada seseorang yang memandangnya. Namun saat ia mengedarkan pandangannya, ia tidak menemukan siapapun yang memperhatikannya.

Sementara itu, Pram yang berada di ruangannya memang sedang memperhatikan setiap gerak gerik gadis yang disukainya. Kaca gelap satu arah membuat orang yang berada diluar sama sekali tidak mengetahui aktifitas dibalik kaca. Ini sangat menguntungkan bagi Pram. Ia dapat memandangi gadis itu sepuasnya tanpa harus takut ketahuan.

Tapi mendadak senyumnya hilang, berganti dengan kernyitan keheranan saat ia mendapati lebam di pipi kanan gadis pujaannya itu. Bahkan ia berusaha untuk menajamkan pandangannya,dan benar ... , lebam itu terlihat, meskipun Mila sudah menutupnya dengan kerudung.

"Apa yang terjadi dengannya?" bathin Pram bertanya-tanya.

***

Di sekolahan, Riska terlihat tidak tenang. Bagaimanapun juga, pamannya telah menorehkan luka yang begitu dalam dihatinya. Luka karena ditinggalkan oleh ayah, disusul dengan kematian ibunya yang berjarak hanya tiga bulan setelah kepergian ayah, membuatnya harus tinggal dengan paman Kasto, satu-satunya kerabat yang ia ketahui. Namun naas, pamannya malah memperlakukan mereka dengan sangat tidak baik. Bahkan seringkali mereka mendapatkan perlakuan fisik yang menyakitkan, dengan meninggalkan luka yang membekas di tubuh, saat mereka tak memberikan sejumlah uang yang disebut oleh pamannya.

Kasto tak memiliki pekerjaan tetap. Dia akan bekerja apapun yang diminta untuk mengerjakannya. Kadang buruh bangunan, kadang jasa kurir ataupun jasa angkut-angkut barang. Tapi kini, sejak wabah corona melanda, hampir tak ada orang yang membutuhkan tenaganya. Pekerjaannya kini hanyalah bermain judi. Beberapa kali menang, tapi lebih sering kalah. Jika sudah begitu, dua gadis bersaudara itu yang menjadi korbannya.

Sebenarnya Riska pernah mengusulkan ide untuk pindah tempat tinggal, namun Mila menolaknya. Satu-satunya yang membuat mereka bertahan adalah ayahnya. Ayah yang sudah lama pergi, tanpa ada kabar berita. Mila yakin, bahwa suatu saat ayahnya akan datang kembali untuk menemui mereka. Dan karena Paman Kasto adalah satu-satunya kerabat, jadi kemungkinan besar ayahnya pasti akan datang ke rumah itu.

***

"Nona Mila, bapak pimpinan ingin bertemu!" ucap Shella yang terdengar sangat menggelikan di telinganya. Tampak Shella yang tersenyum jahil ke arahnya, sedangkan gagang telepon masih menempel di telinganya. Sepertinya panggilan dari Pram. Suara Shella yang keras cukup terdengar oleh seluruh karyawan Hanum Bakery. Ada yang menyoraki Mila, namun ada juga yang mencibir.

"Tuh ... , karyawan kesayangan di panggil bos," celetuk seorang gadis berkulit kuning langsat sambil melirik Mila tak suka. Meskipun hanya berupa gumaman, namun tak urung kalimat bernada pedas itu terdengar juga di telinganya. Membuatnya merasa tak enak hati untuk langsung mengiyakan panggilan dari Pram.

"Mil! Buruan!" celetuk Shella yang hanya dibalas anggukan oleh Mila.

"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Shella pada karyawan yang mencibir tadi. Sementara orang yang dimaksud langsung menundukkan wajah, tak berani untuk menjawab pertanyaan Shella, pasalnya, seluruh karyawan juga tahu, siapa Shella sebenarnya. Bisa-bisa SP keluar jika berurusan dengannya.

***

Tok Tok Tok

Mila sengaja mengetuk pintu ruangan atasannya sebelum ia membuka pintu.

"Masuk ... " sebuah suara seorang pria mempersilahkannya memasuki ruangan.

Mila dengan ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan pimpinan.

"Duduk dulu, tunggu sebentar," ujar pria itu sambil pandangannya tak lepas dari laptop di hadapannya. Jarinya masih menari-nari dengan lincah diatas tombol keyboard, sementara gadis dihadapannya terlihat bingung harus berbuat apa. Duduk sambil menundukkan wajah, mencoba untuk meminimalisir kontak wajah dengan orang lain. Diremas-remasnya jari tangannya, sambil sesekali ia mencuri pandang pada atasannya itu.

Tidak dipungkiri, ia adalah seorang gadis normal yang juga memiliki rasa tertarik kepada lawan jenisnya. Apalagi di usianya yang saat ini. Sebenarnya ia menaruh hati pada Pram, tapi ia sangat tau diri. Siapalah ia yang dengan lancangnya menaruh hati pada pria yang menurutnya sangatlah sempurna. Punya jabatan tinggi, kaya, dari keluarga terhormat, dan ditambah lagi ia memiliki wajah tampan. Sungguh tanpa cela menurutnya. Belum lagi tutur kata dan perilaku sang bos yang terkesan sopan dan lemah lembut kepada semua orang.

"Kenapa lagi?" sebuah suara sukses menginterupsi lamunan Mila tentang pria di depannya.

"Eh ... , apa? maksudku ... , aku tak mengerti dengan maksud pertanyaanmu," kata gadis itu tergagap.

Sedangkan pria itu hanya tersenyum mendapati Mila terlihat gugup, bahkan pipinya yang putih langsung bersemu merah.

Pram berdehem, kemudian bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.

"Tentang apa?" tanya Mila yang menghindari tatapan tajam dari atasannya itu.

"Wajahmu," kata Pram singkat.

Mila hanya menghela nafas dalam, tak ingin jujur pada semua orang bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Sementara sang penanya masih setia menunggu jawaban dari sosok yang berada di seberang mejanya. Kini terlihat sangat kentara, pelipis dan pipi yang memar, bahkan sedikit terlihat membiru.

"Tadi pagi jatuh dari sepeda," jawab Mila mencoba untuk meyakinkan pria dihadapannya.

Alis Pram mengernyit, mencoba untuk mencari kejujuran pada wajah gadis itu. Namun Mila segera menundukkan kembali wajahnya.

Pram membuang nafasnya dengan berat, sungguh penglihatannya tidak mudah dibohongi. Ia mendapati kenyataan bahwa gadis yang disukainya terlihat tak nyaman dengan pertanyaan yang diajukannya, terlihat sekali bahwa Mila menyembunyikan sesuatu darinya.

"Baiklah ... , lain kali berhati-hatilah." Pram akhirnya berniat untuk berhenti mencecar Mila kali ini.

"Apa kau ingin memiliki waktu untuk beristirahat? tiga atau empat hari mungkin?" tawar Pram pada karyawan favoritnya itu.

"Tidak ... , ijinkan aku untuk tetap bekerja hari ini, maafkan aku jika wajahku membuat semua orang merasa tidak nyaman. Aku kan bekerja di bagian kitchen saja. Agar para pelanggan tidak jijik melihatku," ucap Mila yang langsung memotong tawaran atasannya itu.

Sementara Pram malah sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu akan salah paham dengan maksud tawarannya tadi. Feelingnya mengatakan bahwa gadis itu sedang berada dalam posisi tidak baik. Maka ia menawarkan waktu untuk beristirahat. Tentunya tanpa potongan gaji, seperti yang mungkin saja dikhawatirkan oleh karyawannya itu.

"Mila ... , jika kau khawatir tentang gaji, jangan risaukan hal itu. Aku tak akan memotong gajimu atas waktumu untuk beristirahat. Ini murni tawaranku," ucap Pram dengan lugas.

"Bukan ... , bukan itu, tolong ijinkan aku tetap bekerja hari ini, aku akan sangat stres jika tidak melakukan apapun di rumah. Maaf jika aku memaksa. Maafkan aku," kali ini Mila bahkan mengiba dengan bayang-bayang kaca di netranya.

Pram terkesiap, merasa sedikit bersalah, mencoba mengoreksi kalimat yang ia lontarkan barusan. Tetapi nihil, seberat itukah beban yang sedang dihadapi gadis dihadapannya ini, sehingga harus mencari kegiatan agar tak merasa sendirian di rumah? Bukankah disana ia bisa merilekskan tubuhnya yang lebam akibat terjatuh dari sepeda? Tunggu! Jelas bukan karena terjatuh. Pasti ada alasan lain sehingga gadis ini memilih untuk menyibukkan diri padahal tubuhnya kesakitan. Sangat dipaksakan.

"Baiklah, jika itu permintaanmu. Di sana ada kotak P3K, obati luka-lukamu. Dan kembalilah bekerja," perintah Pram.

"Tak perlu ... "

"Pulang, atau obati lukamu. Hanya itu saja pilihanmu," kata Pram tegas.

Mila hanya mengangguk. Sementara Pram mengerti dengan ketidaknyamanan gadis itu berada di ruangan itu.

"Obati lukamu," kata Pram sambil beranjak berdiri, menutup laptop dan pergi meninggalkan Mila sendirian di sana. Sebelumnya ia menepuk pundak gadis itu. Menutup pintu dari luar dengan perlahan.

Hufftt ...

Mila membuang nafasnya dengan lega. Berada di dekat lelaki itu membuat kemampuan menghirup oksigen nya menjadi hilang. Sesak. Padahal Pram tidak setiap hari melakukan kunjungan di cabang ini. Harusnya ini menjadi momen yang menyenangkan bagi Mila, karena memandang pria itu seperti mood booster baginya. Namun sial, ia harus menemui atasannya itu dengan keadaan yang sangat buruk.

Tak lama kemudian, ia meninggalkan ruangan itu dengan sebuah plaster kecil yang menempel pada sudut keningnya. Sedangkan untuk luka memar di pipinya, ia memilih untuk mengompresnya saja dengan es batu. Nanti saat istirahat tentunya.

Tatapan bertanya ia dapat saat keluar dari ruangan bosnya. Ia mencoba untuk mengacuhkannya, dan memilih untuk meneruskan pekerjaannya yang tadi tertunda.

- TBC

By. Rinto Amicha

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos, Istri Anda Minta Cerai
9.1
Enam tahun Sella Wisara terjebak dalam pernikahan pilu sebelum Wildan Bramantio mengusirnya demi kembalinya Aisha. Tanpa ragu, Sella menyetujui perceraian itu dan pergi tanpa air mata. Namun, Wildan justru murka saat melihat mantan istrinya bahagia di pelukan pria lain tak lama kemudian. Meski dihina, Sella dengan tegas menolak campur tangan Wildan atas hidupnya. Melihat tatapan lembut Sella untuk pria baru, akal sehat Wildan pun seketika runtuh terbakar cemburu.
Sampul Novel Darling Enemy
8.7
Vanilla Putri Mahameru sangat membenci Altan Wijaya Kesuma, putra dari mantan kekasih ibunya yang sering menghinanya tidak berotak. Altan, seorang konglomerat angkuh, menganggap Vanilla hanya mengandalkan nama besar keluarganya. Konflik memuncak saat Vanilla harus magang di kantor Altan selama empat bulan. Sejak sesi wawancara yang penuh drama dan jawaban nyeleneh, Vanilla harus berjuang menghadapi tekanan kerja di bawah pengawasan ketat pria yang ia juluki Setan Borjuis tersebut.
Sampul Novel Dilema Sang Sekretaris
9.2
Grace adalah sekretaris berdedikasi yang dunianya jungkir balik saat kakak sang bos mulai mendekatinya secara intens. Meski semula bersikap acuh, satu malam tak terduga mengubah segalanya hingga ia sulit menampik pesona pria itu. Kini, Grace terjebak dalam dilema besar antara menjaga profesionalisme atau mengikuti kata hati yang membara. Di balik kemewahan hidup penuh rahasia, ia harus memilih arah masa depannya dalam pusaran cinta yang rumit.
Sampul Novel Menikahi Pria Angkuh
8.3
CEO Steve Willson yang dingin terjebak obat perangsang dalam sebuah pesta. Ia akhirnya menghabiskan malam panas bersama gadis misterius yang tak sempat ia kenali wajahnya. Meski terobsesi mencari wanita itu, Steve justru dipaksa sang ibu untuk segera menikah. Demi menunda tekanan tersebut, ia menjadikan Zira, gadis yang terlilit utang, sebagai istri kontraknya. Akankah Steve menyadari identitas asli Zira, atau tetap mengejar bayangan wanita dari masa lalunya?
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur saat menyadari pernikahannya dengan Daza, sang CEO angkuh, hanyalah alat demi warisan sang kakek. Luka hatinya kian dalam karena Daza masih mencintai kekasihnya, Lora. Meski begitu, Lavendra sempat bertekad berjuang memenangkan hati suaminya demi impian pernikahan bahagia. Namun, gangguan Lora dan sikap dingin Daza menguras tenaga serta batinnya. Kini, Lavendra terjebak dalam keputusasaan dan merasa naif telah mengharapkan cinta sejati.
Sampul Novel My Possessive Family
8.5
Amelia hidup dalam kemewahan sebagai anggota keluarga konglomerat, namun harta melimpah tak mampu menghapus duka di hatinya. Di balik citra sempurna itu, ia memendam trauma mendalam serta rasa bersalah yang menghantui selama tujuh tahun terakhir. Meski dikelilingi kasih sayang keluarga, luka lama tetap menganga. Mampukah Amelia mengungkap rahasia masa lalu dan berdamai dengan dirinya sendiri? Ikuti perjuangan emosionalnya dalam My Possessive Family.